ALGEA

ALGEA
Prolog


__ADS_3

Prang!


Suara hantaman pintu itu seketika membuat seluruh tubuhku menegang. Suara tersebut sudah seperti pendeteksi akan adanya bahaya yang akan menghampiriku.


Ya Tuhan! Apa lagi yang akan mereka lakukan kali ini. Harusnya, aku tadi cepat-cepat meninggalkan kelas.


"Hahaha ... Kok lo tegang amat sih? Takut?" seseorang yang muncul beserta dengan dayang-dayangnya dari balik pintu, dan saat ini sedang berjalan menuju ke arahku.


Takut, katanya? Yah aku memang takut. Ingin rasanya aku berkata dihadapan mereka. Siapa yang tidak akan takut, ketika segerombolan iblis berwujud manusia seperti kalian datang menindas kaum-kaum lemah seperti aku.


Namun sayangnya, aku tidak memiliki keberanian untuk berkata seperti itu. Selain karena takut, aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan diriku yang saat ini memang sedang dalam bahaya.


"Kenapa lo gak jawab? Oh--- atau mungkin telinga lo udah gak berfungsi yah?" ucapnya lagi. Namun, kini ia beserta dengan dayang-dayangnya sudah tepat berada dihadapanku.


"Ayo jawab!" bentaknya.


"Aku---- Aaakh"


Ketika hendak memberanikan diri untuk menjawab, tiba-tiba saja rambutku ditarik kebelakang.


"Kenapa? Sakit? Hmm ... kasian! HAHAHA," ucapnya dengan nada ejekan."Gak usah takut. Kali ini lo jangan berisik. Lo gak mau kan kejadian kemarin terulang kembali?"


"Gak!" jawabku dengan cepat.


Ketika mengingat kejadian itu, entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak dan membuat jantungku seketika berdetak dengan sangat cepat. Aku tidak mau kejadian itu terulang kembali.


Hari dimana mereka menyiksaku dengan pukulan-pukulan yang sangat menyakitkan. Dan yang lebih menyakitkan dari semuanya ialah ketika satu persatu dari mereka menyiramiku dengan air kencing yang entah mereka dapat dari mana.


Marah? Tentu saja! Namun, aku tidak berdaya.


"Karena suasana hati gue sedang baik, kali ini gue gak akan berbuat jahat sama lo," ucapnya seraya melepaskan rambutku yang ditariknya. "Tapi gue punya challenge buat lo. Kalau lo sanggup menyelesaikan challenge-nya, gue janji gak bakalan ganggu lo lagi. Namun sebaliknya, kalau lo gak sanggup, yah gue bakalan menghantui lo setiap hari. Bagaimana? Lo tertarik?"


Sejujurnya, aku tidak percaya ketika dia mengatakan tidak akan mengangguku lagi. Aku yakin, mereka semua hanya ingin mempermainkan ku saja.


"Eh lo dengar gak sih? Kenapa lo malah melamun, hah?"


Prak!


Dia menamparku. Sakit!


Belum sembuh luka yang menyebabkan rasa nyeri yany sangat menyakitkan, kini luka itu makin bertambah nyeri karena tamparan keras yang lagi-lagi disebabkan oleh salah satu dari mereka.


"Ma- maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Soal challange itu, aku bersedia." Aku terpaksa setuju karena aku takut mereka akan semakin menyiksaku kalau saja aku menolaknya.


"Makanya jangan melamun! Lo jangan buat mood gue jadi gak bagus yah! Kan lo-nya juga yang bakal susah," ucapnya. "Bagus! Sekarang ambilkan semua keperluan buat challenge-nya, cepat!" perintahnya pada salah seluruh dayang-dayang yang menjadi pengikutnya.


Persiapan yang mereka lakukan telah selesai. Tepat dihadapanku saat ini terdapat sebuah meja kayu yang diatasnya terletak 4 buah gelas dengan berbagai macam air di dalamnya serta kain berwarna putih yang berada di ujung meja.


Aku tidak tahu mereka akan melakukan permainan apa lagi kali ini. Rasa takut dan cemas pun kini merasuk ke dalam jiwaku. Kemarin, mereka tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan dengan memukul ku secara membabi buta. Kali ini, mungkinkah mereka akan menghabisiku? Kalau pun mereka melakukannya, aku berharap ini tidak akan terlalu menyakitkan.


"Oke! Semua sudah siap. Nama challenge ini adalah gelas kematian. Lo nanti bakalan pilih gelas mana yang nantinya akan menentukan hidup lo. Mati? Atau tetap hidup," ucapnya. "Nah, Sekarang pakai kain putih ini buat menutup mata lo," ucapnya yang sontak membuat terkejut.


"Kenapa aku harus tutup mata?" tanyaku.


"Karena itu bagian dari challenge. Lo gak usah banyak nanya deh, ikutin aja perintah gue."


Aku hanya mengangguk, lalu kemudian menuruti perintahnya.


"Lo yakin udah gak liat apa-apa? Awas aja kalau bohong!"


"Iya, aku udah gak liat apa-apa lagi."


"Hei, lo bawa dia ke ujung tembok sana," perintahnya pada salah satu dayangnya.


"Aku mau dibawa ke mana?" tanyaku cemas.


"Kan udah gue bilang gak usah banyak tanya. Pokoknya lo ikutin aja."


Aku merasakan tanganku ditarik paksa. Mau tidak mau, aku harus mengikutnya.


"Oke! Dari sana lo bisa kan dengar kan suara gue?"


Aku hanya mengangguk.


"Sip! Sekarang putar-putar, anggap aja lo adalah penari balet. Hitung sampai sepuluh tapi hitungnya jangan dalam hati, lo harus menghitung dengan suara yang keras. Kalau udah selesai putar, lo baru bisa buka penutup mata itu. Ngertikan?"


Aku hanya mengangguk.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, depalan, sembilan, sepuluh."


"Sip! Sekarang, lo buka penutup mata lo," ucapnya.


Pusing. Itu yang kurasakan saat ini. Lalu ketika aku membuka mata, seketika seluruh pandanganku menjadi berputar-putar.


"Sekarang, lo harus pergi ke meja itu kemudian pilih salah satu dari minuman yang ada disana, terus lo minum," ucapnya.

__ADS_1


Aku berjalan sempoyongan bak orang mabuk menuju ke meja tersebut. Setelah sampai, aku harus memilih dari salah satu minuman yang kini berada dihadapanku.


"Well, lo harus pintar-pintar pilih minuman yang ada dihadapan lo. Kalau gak teliti, lo bisa-bisa mati keracunan. Karena salah satu dari minuman itu berisi racun yang mematikan. Jadi goodluck buat lo," ucapnya.


Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Tidak mungkin mereka dengan senang hati membebaskan ku begitu saja.


Kali ini aku tamat.


Aku menatap keempat gelas yang salah satu diantaranya berisika racun yang mematikan yang kini berada tepat dihadapanku. Membayangkan diriku mati dengan mulut penuh busa, entah mengapa setika membuat buluk kudukku bergidik. Itu pasti sangat mengerikan. Ya Tuhan! Tolong aku.


"Cepat! Kamu jangan kelamaan mikir. Buruan pilih!" bentaknya.


Akhirnya, aku memutuskan untuk memilih gelas nomor tiga. Alasan aku memilih gelas itu karena gelasnya berisi air tanpa warna alias bening seperti air minum biasa. Sedangkan isi gelas yang lain sepertinya mencurigakan. Seperti gelas pertama berwarna ungu, gelas kedua berwarna pink, gelas ketiga bening, dan gelas yang terakhir berwarna putih seperti susu.


"Cepetan minum! Tadi kan gue udah bilang kalau lo udah milih, ya langsung minum," ucapnya marah.


"I-iya"


Ketika melihat masuk ke dalam gelas yang ku pegang, aku melihat pantulan bayangan diriku berada didalamnya.


Saat aku ingin meminumnya, tiba-tiba aku terkejut dengan suara yang entah dari mana asalnya yang membuat tanganku terhenti.


"Woi.. kamu **** yah? Jangan minum air ini, bahaya!"


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sumber suara namun aku tidak menemukannya.


"Eh! Ngapain kamu celinguk-celinguk gak jelas. Aku ada di dalam bayangan air ini," ucapnya lagi.


Ohiya, aku lupa. Entah ini nyata atau aku memang sudah benar-benar gila, belakangan aku selalu dihantui oleh bayangan diriku sendiri. Awalnya, aku ketakutan setengah mati ketika mendapati bayanganku di dalam cermin tiba-tiba saja bisa bergerak dengan sendirinya. Selain bisa bergerak, dia juga bisa berbicara. Namun semua ketakutan yang aku rasakan lenyap, ketika bayangan tersebut mengatakan padaku bahwa dia tidak jahat dan juga mengatakan bahwa dia bisa membantuku terlepas dari pem-bully yang kualami.


Tertarik? Pastinya!


Namun aku tidak percaya begitu saja, karena aku takut bayangan itu hanya halusinasiku saja.


"Woi ... kenapa lo berhenti? Cepatan minum!" ucapnya dengan nada bentakan.


"Ba-baik"


Karena rasa takut yang menyelimuti diriku lebih besar, akhirnya aku memutuskan untuk meminumnya. Aku sudah tidak peduli dengan bahaya yang akan menghampiriku, yang jelas aku berharap penderitaan ini cepat berakhir.


Ketika air itu menyentuh indra pengecapku untuk pertama kalinya, rasa sepat menggelitik bagian pangkal lidahku. Menciptakan sensasi pahit yang membuatku ingin memuntahkannya.


"Bueeehkkk ... uhuk ... uhukk, in-- ini minuman apa? Uhukk ... kok, rasanya kayak gini?"


"Hahaha ... asal lo tau aja, yang lo minum itu air kencing," ucapnya. Lalu ia beserta dayang-dayang semua tertawa.


Aku tahu, aku tahu kalau ini semua pasti akan terjadi. Mereka semua hanyalah sekelompok iblis berwujud manusia. Sekali iblis tetap iblis.


"Apa lo bilang? Gue jahat? Bagus ya, lo udah bisa ngelawan," ucapnya sambil berjalan mendekatiku. "Kalau gue emang jahat, trus lo mau apa?" ucapnya sambil menarik kerah bajuku.


Kali ini aku harus bisa melawan. Sampai kapan aku akan ditindas seperti ini. Aku juga ingin hidup damai seperti anak-anak lain. Aku tidak ingin bermasalah lagi dengan mereka semua. Meskipun sampai sekarang aku tidak tau apa yang telah kuperbuat sampai-sampai mereka memperlakukanku seperti ini.


"Aku mau kalian semua mendapatkan ganjaran atas apa yang kalian lakukan terhadapku," ucapku lantang sambil menatap lekat-lekat ke dua matanya.


"Wow! Berani banget lo. Udah bosan hidup, hah?" ucapnya masih dengan menarik kerah bajuku. "Gengs ... karena dia udah ngerusak mood gue, semua permainan ini jadi gak seru lagi. Gimana, kalau kita beri dia sedikit pelajaran?" ucapnya.


Setelah berkata seperti itu, spontan seluruh dayang-dayangnya mulai mendekat.


"Hajar," ucapnya lalu melepesakan kerah bajuku.


Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku seperti dihantam oleh ribuan tangan.


Sakit! Sakit! Sakit!


Aku merasakan tubuhku mulai melemas, mungkin sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dari pukulan-pukulan itu.


Tuhan ... apakah ini memang adalah saat terakhirku? Kalau pun iya, izinkan aku untuk memohon kepadamu sekali lagi. Aku memohon agar tidak ada lagi orang yang bernasib sama denganku.


Tanpa kusadari, cairan berwarna merah kental mulai mengalir dari kepala dan telingaku, pandanganku juga menjadi kabur. Semakin lama, aku merasakan tubuhku makin melemah lalu tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.


*_ALGEA_*


"Hei gadis ... mau sampai kapan kamu tertidur?"


Siapa itu?


"Hei! Buka mata kamu."


Seperti mengikuti perintah dari suara itu, seketika kedua mataku terbuka dengan sendirinya.


Untuk pertama kali, yang aku lihat adalah cahaya remang-remang yang tepat berada di atasku. Aku pun bangkit, mengambil posisi duduk lalu mulai melihat ke sekeliling.


Gelap. Seluruh ruangan ini sangat gelap. Sekilas, tempat ini seperti ruangan operasi yang sangat menyeramkan.


Ini di mana? Kenapa aku bisa berada di tempat seperti ini?

__ADS_1


"Hei gadis ..."


Suara itu lagi.


"Siapa itu? Kenapa kamu terus saja memanggilku?"


"Aku adalah kamu," jawabnya.


"Hah?"


"Iya, aku adalah kamu," ulangnya lagi.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Kamu ada dimana? Kenapa kamu tidak menampakkan diri?"


"Aku ada di belakang kamu."


Sontak aku pun berbalik.


Betapa terkejutnya aku, ketika melihat mahluk yang kini berada tepat di hadapanku. Aku yakin, aku tidak mempunyai saudara kembar. Dan lagi, aku merupakan anak tunggal.


"Ka-kamu? Si-"


"Aku adalah kamu. Lebih tepatnya aku adalah bayangan kamu," ucapnya. "Apakah kamu tidak ingat denganku?" tanyanya sambil berjalan memutar, lalu berhenti tepat di hadapanku.


Apakah aku pernah bertemu dengannya? Aneh, kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali.


"Se-sepertinya tidak. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja, pernah! Oh, ini mungkin akibat cedera di kepala kamu barusan. jadilah kamu tidak mengingat apa pun," ucapnya.


"Apa? Cedera kepala?" pekikku.


"Yap! Aku yakin, kamu bahkan tidak mengingat siapa yang membuat kepala kamu sampai cedera, kan?"


"Iya! Aku tidak mengingat apa pun."


"Kamu mau ingatan kamu bisa kembali? Kalau mau, aku bakalan bantu untuk mengembalikan semua ingatan kamu," tawarnya.


Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaanku menjadi sedih. Ada apa sebenarnya dengan diriku? Kenapa aku bisa sampai cedera? Ah, mungkin lebih baik aku setuju saja. Ini menyangkut masalah pribadiku, kan? Toh, lagian daripada penasaran.


"Memangnya kamu bisa?" tanyaku memastikan.


"Tentu! Tapi sebelumnya, kamu harus berlapang dada dengan apa yang nantinya akan terekam di kepalamu. Bagaimana pun, semua ini sudah berlalu. Sekarang, kamu punya aku yang akan melindungimu. Kamu mengerti?"


Aku hanya membalasnya dengan mengangguk.


Sosok itu tersenyum."By the way, sekarang kamu berada di alam bayangan. Makanya, jangan heran kalau di sini gelap."


"Aku baru tahu kalau dunia bayangan itu benar-benar ada."


"Akan kuceritakan lebih jelas lain kali." sosok itu maju selangkah. "Kamu sudah siap?" tanyanya.


"Iya!"


"Tutup matamu," perintahnya.


Bayangan itu menyentuh kepalaku.


Sedetik kemudian, beberapa kilas balik tayangan yang menampakkan diriku tengah disiksa oleh sekelompok siswi muncul di benakku. Aku melihat diriku dipukul, diinjak, disirami air kencing bahkan dipaksa meminumnya. Aku merasakan gejolak amarah mulai melanda hatiku. Tanpa sadar, air mataku mulai menetes.


"Selesai. Sekarang, kamu bisa membuka matamu"


Aku pun menuruti perintahnya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya bayangan itu.


"Aku merasakan amarah yang sangat besar terhadap orang-orang yang mem-bully diriku," jawabku, sambil mengusap air mata. "Aku ingin mereka mendapatkan pembalasan atas apa yang mereka lakukan padaku!" tambahku lagi, lalu menatap ke arah bayangan yang kini masih berada dihadapanku.


"Aku tahu. Tapi sekarang kamu jangan takut, aku akan membantu kamu untuk bisa membalas semua orang-orang yang menyakiti mu," ucapnya.


"Membantuku?"


"Iya! Tapi itu pun kalau kamu mau,"


"Aku mau!" ujarku mantap. "Tapi bagaimana caranya?"


Bayangan itu menyeringai, "Dengan betukar posisi."


"Hah?"


"Iya. Kita akan bertukar posisi, aku akan menggantikanmu di dunia manusia. Lalu, kamu akan menggantikanku di dunia bayangan ini. Jangan khawatir, kamu dapat melihat serta mengawasiku melalui bayangan cermin, air, atau pun benda lainnya yang dapat memantulkan bayangan. Bagaimana? Kamu bersedia?" sosok itu mengulurkan tangannya.


"Aku bersedia," jawabku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang akan terjadi nanti. Yang penting saat ini aku bisa memberikan pelajaran dan membalas semua kejahatan yang pernah dilakukan kepadaku dahulu.


Aku bangkit, menerima tangan dingin yang terulur tersebut dan tersenyum sarkastik.

__ADS_1


Tunggu saja, aku akan membalas kalian semua.


__ADS_2