ALGEA

ALGEA
BAB 24 (Masalah Baru)


__ADS_3

Clarissa Wiratmadja (Part 9)


Hari ini sekolah kembali beroperasi, setelah beberapa hari meliburkan seluruh siswanya. Sejujurnya, aku merasa belum siap untuk kembali ke sekolah. Jangankan kembali bersekolah, untuk melangkah keluar dari kamarku yang aman dan nyaman ini saja, aku merasa sangat berat.


"Clara ... Clara ..." Mommy memanggil namaku dari balik pintu kamar.


"Wait, Mom!" jawabku sambil berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"Rana dan Dora udah ada di bawah, mereka tadi ngetok-ngetok pintu kamar kamu, tapi katanya kamu gak merespon sama sekali. Mereka langsung panik trus lari mencari Mommy," ucap Mommy sambil mengelus rambutku.


"Eh? Kok aku gak dengar Mom? Padahal tadi aku cuman ngaca-ngaca sambil sisir rambut aja di depan cermin."


"Mungkin kamu melamun tadi. Yaudah, kamu buruan siap-siap trus turun untuk sarapan. Mommy lima menit lagi udah harus ke kantor bareng Daddy. Ingat yah Nak, kamu harus sempetin sarapan. Mommy liat, akhir-akhir ini kamu makin kurus, jangan sampai sakit yah Nak!" ucap Mommy lalu beliau mencium keningku.


"Yes, Mom! Hati-hati yah, Mommy juga jaga kesehatan jangan begadang terus," balasku.


"Iya Nak. Oke, Mommy ke kamar dulu yah."


Aku tersenyum sambil mengangguk.


*_*ALGEA*_*


Setelah bersiap-siap selama 10 menit, akhirnya aku turun ke lantai bawah. Saat berada di pertengahan tangga, aku melihat Rana dan Aldora sedang asyik berbincang di meja makan.


"Good Morning, girls!" sapaku.


"Hai ... Morning too, Sisy! Gimana tidur lo? Nyeyak?" Tanya Aldora.


Aku hanya menangguk.


"Kok tumben kalian berdua pagi-pagi udah ada dirumah gue? Biasanya, kalau hari sekolah, apalagi di jam-jam seperti ini kalian pasti udah ada di sekolah."


Mereka berdua saling bertatapan.


"Hari ini kami berdua sengaja jemput lo. Sejujurnya, gue dan Dora benar-benar masih khawatir sama lo," ujar Rana.


"Khawatir? Kenapa kalian khawatir? Toh, gue dalam kondisi baik-baik aja."


"Gak! Lo gak dalam kondisi baik-baik aja! Sekarang, lo sarapan trus kita cus ke sekolah," ucap Dora, sambil menyodorkan roti selai cokelat kesukaanku.


"Btw, tadi kita berdua ngetok pintu kamar lo, tau!" ucap Rana, sambil mengunyah rot selai stroberi favoritnya.


"Iya, Sisy! Gue ampe gedor-gedor pintu pakai setengah kekuatan gue. Untung aja gue gak kerahin seluruh tenaga gue. Kalau ia, udah pasti pintu itu bakalan roboh karena ulah gue," ujar Aldora.


"Sory, guys! Tadi sepertinya gue lagi di kamar mandi deh," jawabku.


"Um ... kirain lo kenapa-napa, tau!" Ucap Rana.


"Bener! Kita berdua ampe manggil Mommy sangking paniknya," ucap Dora. Aldora melirik jam tangannya, "girls, yuk buruan sarapan entar kita telat bisa bahaya," ucap Dora lagi.


Aku dan Rana mengangguk setuju.


Selesai sarapan, kami bertiga langsung berangkat ke sekolah.


*_*ALGEA*_*


Setelah menempuh perjalan selama 15 menit, akhirnya kami sampai di sekolah. Aldora memarkirkan kendaraannya persis dekat dengan pohon tempat Om Gen tinggal. Bagi kalian yang lupa, aku akan mengingatkan kembali. Om Gen itu adalah sesosok Gunderowo yang menempati salah-satu pohon di sekolah ini.


"Guys ... sejujurnya, gue masih belum siap untuk menginjakkan kaki di sekolah ini," ucap Rana.


Well, aku mengerti apa yang dirasakan Rana.


"Kamu gak usah takut. Mulai sekarang, kita bertiga gak boleh berpisah. Kita harus sama-sama ke mana pun selama kita masih di dalam sekolah ini," ujar Dora.


"Janji yah! Gue takut banget soalnya. Untung baik gue gak sampe gila setelah menyaksikan adegan yang- ugh! Gak-gak, gue gak boleh mengingatnya kembali," ucap Rana sambil memukul pelan jidatnya.

__ADS_1


"Gue janji!" ujar Dora mantap.


"Bagaimana dengan ekskul kalian?" tanyaku.


"Hm ... itu bisa diatur," jawab Dora santai. "Bagaimana, kalau kita turun dari mobil dulu? Kita mau berapa lama duduk di sini terus? Entar lagi bel masuk bakalan bunyi, loh!" ujar Aldora.


Rana masih terdiam, dia melirik ke arahku. Karena tidak ingin mengkhawatirkan kedua sahabatku itu, terpaksa aku harus memberanikan diri. Aku tersenyum sambil mengangguk penuh keyakinan ke arah Rana, setelah melihatku tersenyum Rana pun langsung membalas dengan senyuman.


"Kaja!" ujar Rana semangat!


"Kaca? Lo lupa bawa kaca?" ujar Dora.


Rana menghela napaas, "maksud gue, ayo!"


Akhirnya, kami semua keluar dari mobil miliki Aldora. Setelah itu, kami langsung jalan menuju kelas. Namun, ketika kami baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Ariana melintas di hadapan kami bertiga. Dia memamerkan senyumannya yang manis, namun menakutkan.


Deg!


Perasaanku langsung berubah menjadi tidak enak.


"Ariana!" mendengar Rana memanggil Ariana, aku dan Aldora langsung terkejut.


"Iya, Rana ada apa?" jawab Ariana dengan nada lembut.


"Kemarin, waktu kita ketemu di Trans lo beneran pergi sama Kakak-kakak The Tiger?" Tanya Rana penasaran.


"Hm ... gak! Gue cuman asal ngomong aja itu. Sebenarnya, gue pergi bareng teman-teman les gue," ucap Ariana dengan wajah tak berdosa.


Rana tersenyum, "oh gitu, yaudah gue cuman mau nanya itu kok. Sory, lo jadi tertahan gara-gara gue," ucap Rana lagi.


"Gak apa-apa kok. Kalau gitu, gue duluan ke kelas yah! Atau bagaimana kalau kita barengan aja?" saran Ariana sontak membuat Dora menjadi kesal.


"Gak sudi! Lo duluan aja, gak usah bareng kita!" ujar Dora.


Ariana pun berlalu.


"Doweees ..." tiba-tiba dari arah belakang datang tiga orang cowok yang memakai setelan baju sekolah yang sama dengan kami.


"Merinding gue! Kenapa sih lo? Pagi-pagi udah bikin darah gue tinggi alias darting?"


"Hahaha ... kamu kenapa bisa darting? Lagi haid yah?" jawab cowok yang memanggil Dora dengan sebutan yang aneh.


Aku ingat ketiga cowok ini, mereka adalah Kakak kelas kami. Terlebih lagi, mereka adalah para pangeran sekolah yang sangat di sukai dan dihormati. Sebenarnya, aku baru tahu kalau mereka itu popular, tipe macam aku mana peduli dengan predikat atau apa pun yang menjadi gelarnya.


Saat Rana dan Dora sibuk berbincang dengan para Kakak kelas itu, entah mengapa seperti ada magnet yang membuatku ingin berbalik ke arah jalan menuju kelas itu.


Karena tarikan itu sangat kuat, akhirnya aku mengikutinya.


Aku mendapati Ariana berbalik dan dia seperti mengatakan sesuatu.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ariana langsung tersenyum sinis. Yah, senyuman yang mampu membuat buluk kudukku bergidik sangking seramnya.


Deg!


Apa aku tidak salah liat? Ariana seperti mengatakan 'Dia akan mati'.


Ya Tuhan! Sepertinya, aku harus segera mengabari Bina tentang apa yang baru saja ku lihat. Bina sebenarnya adalah seorang Dewa bernama Arete yang di utus untuk menyelidiki salah satu dewa yang menjadi penyebab kekacauan di dunia ini.


Dan nama Dewa yang menyebabkan seluruh kekacauan di sekolah ini adalah Dewa Algea. Dia adalah Dewa yang melambangkan rasa sakit dan penderitaan.


Tuhan! Semoga rencana kami berjalan dengan baik.


"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Kakak kelas itu secara tiba-tiba sambil memegang kepalaku, yang sontak membuatku terkejut.


Karena merasa risih, aku langsung menjaga beberapa jarak darinya. "gu-- maksdnya aku baik-baik saja, Kak" jawabku.

__ADS_1


"Lo lihat siapa tadi?" tanyanya lagi.


"Bukan siapa-siapa Kak," jawabku cepat.


Mendengar ucapanku, Kakak kelas yang bernama Alfandi ini tiba-tiba langsung menundukkan sedikit badannya sampai membuat kami saling bertatapan.


Dia kenapa deket banget sih?


"Kalau begitu kenapa wajah lo jadi pucat seperti ini?" tanyanya lagi.


"Ah, itu-- aku juga gak tahu Kak," jawabku.


"Lo --"


Kriiinggg ....


Ucapan Kak Alfandi terhenti, itu karena bel masuk telah berbunyi. Aldora dan Rana langsung menyambar kedua lenganku.


"Yuk, Cla kita masuk! Kesel gue lama-lama berhadapan sama mereka," ucap Rana.


"Bener! Yuk, Sisy ! Gue juga muak dengan si Bram," ujar Aldora juga.


"Kak, kami duluan," ucapku pada para Kakak kelas itu.


Aku, Rana, dan Aldora langsung berjalan. Namun, belum beberapa langkah kami berjalan tiba-tiba terdengar suara jeritan yang sumbernya berasal dari ruang OSIS yang terletak tidak jauh dari parkiran.


"Akkkhhhhh ..."


Kami sontak berlari ke arah sumber suara. Karena Aldora memiliki badan yang atletis, dia berlari lebih kencang dari kami berdua.


Deg!


Ketika sampai di dalam ruang OSIS, semua orang yang melihatnya seketika menutup hidung. Bau bangkai yang sangat menusuk membuat kami tidak tahan menciumnya.


"Akhhh!! Kenapa jadi banyak bangkai burung gagak di dalam ruangan ini?" jerit Gea.


Saat ini, di dalam ruangan OSIS terkapar puluhan bangkai burung gagak yang berserakan di bawah lantai. Darah bangkai itu ada yang sudah mengering dan ada pula yang masih segar.


Aku melihat Bina juga ada di dalam ruangan ini.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanyaku dalam hati untuk bisa berkomunikasi dengan Bina.


Bina menatapku, lalu menggelekan kepalanya.


"Kita akan bicarakan ini nanti," ucapnya kemudian menghilang begitu saja.


Ada apa lagi ini?


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*


*


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2