
Aldora Weston (Part 3)
Apa yang ada di benak kalian ketika melihat seseorang yang tadinya terlihat begitu lemah, rapuh dan selalu merasakan penderitaan, tiba-tiba hanya dalam kurun waktu semalaman, dia berubah menjadi seorang yang seperti bukan dirinya.
I mean, dia benar-benar seperti orang lain. Perubahannya terlalu drastis.
Gue masih ingat, ketika dia terkapar di bawah lantai dengan banyak memar yang ada ditubuhnya. Dan ketika teman-teman gue membawanya ke ruangan UKS, tidak bertahan lama, tiba-tiba dia menghilang begitu saja.
Lalu ketika gue hendak pulang bersama Rana, gue melihat dia sudah ada di dekat gerbang. Yang membuat gue heran adalah, wajahnya. Wajah yang tadinya babak belur, bahkan di ujung pelipisnya mengeluarkan darah, entah mengapa semua luka itu menghilang begitu saja. Benar-benar dalam waktu yang sangat singkat.
Dari cerita gue, menurut kalian adakah yang aneh dengan Ariana?
Pertama, dia menghilang di dalam ruangan yang sama sekali tidak memiliki akses untuk keluar. Yang kedua, hanya dalam beberapa menit saja, semua luka itu menghilang begitu saja.
Gue tidak tahu, tapi sepertinya ada yang aneh dengan Ariana.
Jangan salah sangka dulu. Gue bukan mencurigai Ariana memiliki benda yanh bisa menghilangkan seperti jubah Harry Potter atau bahkan bisa menyembuhkan luka hanya dalam beberapa menit saja, seperti Sakura yang merupakan salah satu tokoh dalam serial anime favorit gue, yaitu Naruto.
Jujur, gue tidak percaya dengan hal-hal yang seperti itu. Bahkan, gue adalah salah satu orang yang tidak mempercayai keberadaan hantu, jin, setan, dan segala keturunannya.
*_*ALGEA*_*
Hari ini sekolah dihebohkan dengan penemuan sesosok mayat yang tergantung di salah satu pohon yang berada di area parkiran sekolah.
Gue tidak sempat melihat apa pun. Bahkan, ketika gue tiba disekolah bersama Rana, mayat itu sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Cla, lo bener-bener ngeliat mayat itu tergantung?"
"Iya, Dora. Dan itu sangat menyeramkan."
"Untung gue gak liat. Tuhan masih melindungi gue dari segala hal-hal yang tidak diinginkan."
"Sama! Gue juga. Untung gue datang bareng Dora. Kalau aja gue juga datangnya cepat, dan melihat semua kejadian itu, bisa pingsan gue," ucap Rana.
"Hai guys ..."
Secara tiba-tiba Ariana muncul di hadapan kami.
__ADS_1
Seperti yang gue bilang tadi, Ariana berubah. Dan entah mengapa, perubahan dia membuat gue merasa tidak nyaman.
Gue bukannya kesal, atau marah, bahkan cemburu karena sekarang gue memiliki saingan.
Keanehan Ariana yang ketiga adalah, dalam sekejab dia langsung memiliki kecerdasan yang hampir menyamai kecerdasan otak gue.
Apa yah, ada hal yang membuat gue tidak ingin berlama-lama berada dekat dengan dia. Dan gue tidak tahu apa penyebabnya.
Entah karena gue sudah lama bersahabat dengan Clarissa sampai kami bisa menjalin ikatan batin, atau ini hanya sekedar kebetulan saja. Clarissa sepertinya juga tidak menyukai Ariana.
Kalau disuruh memilih, antara Ariana yang sekarang dengan Ariana yang dulu. Gue, pasti akan memilih Ariana yang dulu, sebelum dia berubah seperti ini.
Dulu, dia terlihat sangat menawan. Meski pun jarang berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Gue selalu memperhatikan seluruh teman sekelas gue.
Well, gue adalah orang yang selalu ingin mengetahui apa pun. Rana dan Clarissa memanggil gue 'si kepo akut'.
Benar, gue memang seperti itu.
Makanya, gue selalu memperhatikan setiap teman kelas gue. Baik itu yang menonjol, atau bahkan yang keberadaannya tidak terlalu mencolok seperti Ariana.
"Dora! Dora! Dora! Ci ci ci doraaaaaaaa ..."
"Lo ngelamunin apaan sih? Gak Clarissa, gak lo. Kalian sama aja. Gak denger apa, Ariana nanyain kabar lo!" Ucap Rana berapi-api.
Gue berpaling ke arah Ariana.
"Lo gak usah tanyain kabar gue. Saat ini lo melihat gue ke sekolah dan kini berada tepat dihadapan lo, itu tandanya gue sehat."
Sudut mata gue melihat mata Rana terbelalak dengan ucapan gue.
Bukan cuman Clarissa dan Rana yang terkejut, bahkan gue yang mengucapkan sederet kaliamat itu juga sama terkejutnya dengan mereka.
"Lo kesambet apaan sih, Dora? Lo kok gitu? Ariana nanya lo baik-baik yah!"
Clarissa menatap gue penuh arti.
"Kamu sehat kan, Dora?" ucapnya.
__ADS_1
Sambil menghela napas panjang, "gue sehat! Ngapain sih lo pake nanya lagi? Kesel deh gue."
"Iya deh, iya," ucap Clarissa mengalah.
Gue tidak tahu, apa yang merasuki tubuh gue saat ini. Keberadaan Ariana di tengah-tengah kami, sangat mengganggu. Gue tidak menyukai dia dekat-dekat dengan kedua sahabat gue.
"Yaudah, gue balik ke tempat gue aja. Maaf yah, Dora. Gue gak bermaksud membuat lo kesal."
"Bagus lo nyadar, cepat pergi sana!" ucap gue, lalu setelah Ariana pergi, gue mendapat semprotan panas dari Rana.
"Lo itu kenapa sih, Dora?" Rana mulai memarahi gue.
"Gue gak suka aja sama dia. Lo gak liat mukanya Clarissa? Daritadi tuh dia gelisah, Ran! Gue yakin, Clarissa pasti punya perasaan yang sama dengan gue," Clarissa menatap gue.
"Gue ngerasa ada yang gak beres dengan Ariana," jawab Clarissa.
"Tuh, kan!"
"Kalian berdua kenapa sih? Gak boleh loh dzouson sama orang!" ucap Rana.
"Sisy, kita tuh gak dzouson! Gue dan Clarissa cuman ngerasa ada yang aneh aja sama Ariana."
"Serah kalian aja deh!" Setelah berkata demikian, Rana pergi meninggalkan gue dan juga Clarissa.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
BERSAMBUNG