
Rana Inzyna Logiana (Part 1)
"Satu-satunya hal yang bisa membatasi kemampuanmu adalah dirimu sendiri" --Jon Gordon
Keren tidak kata-katanya?
Gue tidak tahu dengan kalian. Tapi bagi gue kalimat itu sangat-sangat keren.
Sangking kerennya, gue sampai menyalin kalimat itu di dalam kertas yang lebih besar, lalu tulisan itu gue tempel di dalam kamar.
Kenapa?
Karena berkat sederet kalimat itulah yang mampu membawa gue menjadi salah satu siswi berprestasi disekolah.
Yah, meskipun bukan mendapat rangking pertama, namun gue juga masih termasuk siswi paling berprestasi di sekolah ini. Itu karena gue selalu menempati posisi rangking ke dua se-angkatan.
Kecewa? Pastinya! Namun, itu tidak membuat gue berkecil hati. Itu tandanya, gue harus bisa lebih meningkatkan kualitas otak ku lagi. Perbanyak belajar lagi.
Mau tahu tidak, siapa yang menempati posisi pertama disetiap semester dan selalu dijuluki 'sang ratu'?
Aldora Weston. Yah, itulah nama peraih nilai tertinggi se-angkatan.
Cewek yang memiliki paras cantik khas blasteran itu adalah rival sekaligus sahabat gue.
Oke, dia memang cantik plus ber-otak encer. Namun sayang, kelakuannya seperti preman. Makanya, dia dinobatkan sebagai 'ratu preman cantik'.
Em ... tidak juga sih! Sisi ke-premanannya akan muncul kalau saja ada yang membuat masalah dengannya. Kalau tidak yah, dia akan berlaku normal kok. Tidak usah takut.
Anyway, sebenarnya gue tidak mengerti kenapa Aldora selalu bisa merebut posisi pertama di setiap semesternya.
Kalau masalah belajar, jujur gue tidak pernah melihat sekali pun Aldora belajar di luar jam pelajaran sekolah. Kebanyakan, dia selalu memegang handphone-nya sambil bermain game. Kalau bukan bermain game, dia pasti selalu membaca komik dan juga novel.
Bahkan, ketika kami berkunjung ke rumahnya. Di dalam kamar Aldora hanya ada Play Station, PSP, serta Sederetan koleksi komik dan juga novel.
Buku pelajaran? tidak ada sama sekali!
Eh, gue tadi bilang 'kami' itu karena selain Aldora, gue juga punya satu sahabat lagi.
Namanya Adalah Clarissa Wiratmadja. Gadis cantik yang memiliki postur tubuh tinggi semampai dan juga langsing. Sebenarnya sih, bukan langsing. Dia itu kurus. Kurus banget. Mana ditambah rambutnya panjang . Untung saja di ujung rambutnya itu bergelombang. Kalau tidak, orang-orang bisa saja langsung menyamai-nya dengan sadako.
Oh yah, karena gue lagi menyinggung soal sadako gue mau nanya sama kalian.
Kalian ada yang suka nonton film horor, tidak?
Kalau ada, berarti kita se-spesies.
Eh, diantara kalian ada yang suka lagu-lagu K-pop juga, tidak?
Kalau ada, kita memang betul-betul se-hati, se-jiwa, dan se-tanah air.
Hm ... bisa dibilang gue adalah salah satu fangirl sejati.
Selain belajar, menonton film horor, gue juga memiliki hoby memburu cogan alias cowok-cowok ganteng diberbagai boyband K-pop di Korea.
Plis, entah mengapa setiap kali membahas tentang para oppa-oppa kesayangan gue. Tiba-tiba darah gue jadi mendidih, sangking excited-nya.
Oke, mungkin sekarang kalian bingung kenapa pertanyaan gue jadi ngawur dan tidak jelas sama sekali.
Maafkan yah, beib. Gue memang anaknya seperti itu, kalau tiba-tiba membahas segala sesuatu yang gue suka.
*_*ALGEA*_*
Fire .... fire ...🎵
Lagu dari salah satu boyband favorite gue tiba-tiba berbunyi. Itu tandanya seseorang sedang menelpon gue.
Nama Aldora Weston muncul di dalam ponsel gue.
Panggilan dijawab
"Halo ... kenapa beb?"
"Sisy, lo jadi kan mau nginap di rumah Clarissa?"
"Jadi kok. Ini gue lagi siap-siap."
"Oh okedeh. Eh, tapi lo gak takut kan nyetir malam-malam gini?"
Fine, yang tadinya gue memang tidak merasa takut sama sekali, entah mengapa ketika Aldora menanyakan hal demikian, rasa ketakutan itu mulai muncul secara perlahan.
"Rana? Lo masih denger gue kan?"
"Eh-- iya. Dora, boleh gak kita bareng aja? Tadinya sih, gue gak takut sama sekali. Tapi begitu lo nanya gitu ke gue, entahlah ... perasaan gue jadi gak enak gitu"
"Alasan banget sih! Iya deh, gue udah mau on the way nih. Maybe, gue bakalan sampai di rumah lo lima belas menit lagi. Kalau gak macet yah."
"Okedeh beb. Hati-hati yah!"
"Oke sisy. Bye ..."
"Bye ..."
__ADS_1
Panggilan Berakhir
Gue memang anak yang penakut. Apalagi yang berhubungan dengan hal-hal gaib semacam hantu dan se-spesiesnya.
Tetapi anehnya, salah satu hobby gue adalah menonton film horor. Ada yang sama dengan gue, tidak?
*_*ALGEA*_*
Malam ini kami berencana untuk menginap di rumah Clarissa. Acara nginap-menginap seperti ini sudah menjadi tradisi bagi kami bertiga.
Aldora menepati janjinya. Lima belas menit kemudian, dia sudah tiba di rumah.
Pip ... pip ...
Aldora membuka kaca mobil.
"Eh, ngapain lo tunggu di depan pagar? Entar lo masuk angin, gimana?"
"Gak kok beb. Gue tau kalau lo bakalan on time," sambil menunjukkan senyuman termanis andalan gue.
Gue memang sengaja menunggu Aldora di depan pagar. Alasannya, yah gue hanya terlalu excited.
"Jangan senyum-senyum kayak gitu. Serem tau! Buruan naik."
"Seram dari mana? Orang gue cantik gini!" Gue mulai berjalan menuju pintu mobil sebelah pengemudi.
Setelah masuk ke dalam mobil, Aldora pun menginjak gas mobilnya, kemudian kita berdua pun melesat menuju rumah Clarissq
*_*ALGEA*_*
Setengah jam kemudian kami sudah sampai di rumah Clarissa. Dan begitu masuk ke dalam rumah yang bergaya American Classic ini, kami langsung disambut ramah oleh mommy dan daddy-nya Clarissa.
Sambil tersenyum, Tante Nina menghampiri kami, "hai ... sayang-sayangnya Mommy."
Gue dan Dora balik menyapa beliau sambil saling cupika-cupiki.
Meski pun tidak menghampiri kami, namun suara Om Jacob terdengar dari arah dapur yang artinya beliau sedang menyiapkan sesuatu.
"Anak-anak, daddy udah nyiapin makanan yang enak buat kalian."
Ucapan beliau membuat Aldora seketika tersenyum lebar, lalu tanpa basa basi dia segera melesat ke dalam dapur.
Aldora memang seperti itu kalau tahu Om Jacob sedang menyiapkan sesuatu.
Satu alasan mengapa beliau dan Aldora sangat dekat. Itu karena mereka berdua memiliki hoby yang sama, yaitu membuat kue, menghias kue, serta mengkreasikan resep kue.
Bukannya Tante Nina tidak pintar memasak. Justru sebaliknya, masakan beliau sangat enak. Namun, untuk urusan membuat kue dan dessert beliau tidak terlalu ahli. Nah, yang ahli itu malah daddy-nya Clarissa.
"Rana, duduk dulu nak. Mommy masuk ke kamar dulu yah, soalnya kerjaan pada numpuk semua. Have fun, yah girls!"
Kedua orangtua Clarissa melarang aku dan Dora menggil mereka Om dan Tante.
Karena Clarissa merupakan anak tunggal, jadi Om Jacob dan Tante Nina meminta kami untuk memanggil mereka mommy dan daddy, sama seperti Clarissa. Kata om sih, biar berasa punya tiga anak gadis gitu.
Sebenarnya, bukan cuman Clarissa yang anak tunggal. Aldora pun sama. Cuman gue yang mempunyai satu kakak laki-laki.
Tiba-tiba Tante Nina kembali muncul "Clara, kamar kamu udah bersih belum?"
Clara adalah nama lain dari Clarissa.
"Udah, Mom."
"Oke, mommy ke kamar yah."
Kami berdua hanya mengangguk.
Tidak berselang lama, Aldora dan Om Jacob juga muncul dengan membawa makanan yang dari penampakannya saja, sudah membuat gue tergiur.
"Ini makanannya anak-anak. Eh, mana mommy?" Tanya Om Jacob.
"Mommy, udah masuk di dalam kamar, Dad. Katanya, kerjaannya banyak," jawab Clarissa.
"Oh iya Belakangan ini Mommy emang lagi banyak kerjaan. Oke kalau gitu Clara, Rana, Dora, Daddy tinggal dulu yah. Daddy mau siapin makanan juga buat mommy," ucap om Jacob, lalu meninggalkan kami bertiga.
"Kita bawa makanannya langsung ke kamar aja, yah!" Ucap Clarissa.
"Oke!" Ucap gue dan Dora serentak.
*_*ALGEA*_*
Setelah melakukan kegiatan rutin seperti makan, foto-foto, makeup, dan menonton film horor yang pastinya atas rekomendasi gue. Akhirnya, tiba waktu untuk meng-istirahatkan tubuh alias tidur.
Karena tempat tidur Clarissa sangat besar, gue jadi bisa tidur dengan tenang.
Dan untungnya lagi, saat ini posisi tidur gue tidak berada di samping Aldora. Gue menempati posisi kanan, Clarissa berada di tengah, dan Aldora di sisi kiri. Jadi gue terbebas dari adanya gangguan seperti tertubruk tangan, atau ditendangi kaki Aldora.
Terkadang gue merasa sisi brutal dari ketua ekskul karate ini bukan hanya nampak ketika seseorang mencari masalah dengannya. Bahkan, mungkin tanpa dia sadari ke-brutalannya juga muncul ketika dia sedang tertidur.
Gue sudah mulai melantur. Oke, i'ts time to sleep.
Ketika hendak menutup mata, gue mendengar Aldora dan Rana sedang berbincang, dan otomatis itu membuat gue tertarik untuk nimbrung bersama mereka.
Aku pun berbalik.
__ADS_1
"Kalian lagi ngomongin apa?"
"Ariana," ucap Aldora.
Gue melihat Clarissa mengangguk
"Eh, emang ada apa dengan Ariana?"
"Gak ada apa-apa sih. Cuman, aneh aja," jawab Aldora lagi.
"Gue juga ngerasa ada yang salah dengan Ariana," ucap Clarissa.
"Hah? Kok kalian ngerasa kayak gitu?"
"Gak tau. Feeling gue aja sih," ucap Dora.
Fine! Apakah cuman gue yang ngerasa perubahan Ariana itu bukan suatu keanehan?
Maksud gue, ayolah! Ariana pasti punya alasan kenapa dia sampai berubah seperti itu. Example, dia sedang jatuh cinta, mungkin?
Aldora bangkit. "Kalian gak ngerasa aneh gak sih, perubahan Ariana itu terkesan maksa-in banget plus mendadak. Lo ngerti lah yang gue maksud," ucapnya sambil menatap aku dan Clarissa secara bergantian.
Gue ikut bangun lalu mengambil posisi duduk, yang membuatku saling berhadapan dengan Dora.
"Lo jangan berburuk sangka Dora. Kalau menurut gue sih, gak ada yang aneh dengan Ariana. Justru, sekarang dia jauh lebih baik dari yang dulu."
"Eh, Rana. Gue bukannya berburuk sangka. Cuman apa yah, semuanya terlalu mendadak. Masa dalam satu malam dia bisa berubah seperti itu? I mean, dia tiba-tiba jadi smart, fasionable, and friendly. Padahal kan dulu dia anak yang cupu, kapasitas otaknya juga bisa dibilang biasa aja, kayak Clarissa. Dan tersekesan Introvert."
"Semua orang bisa berubah Dora," ucapku.
"Right! Kita bisa bilang dia berubah jadi lebih baik. Tapi apa lo gak ingat Ran, sebelum besoknya dia berubah. Kan sore itu kita sempat ketemu sama dia digerbang sekolah. You look, dia masih kayak Ariana yang dulu. Dan gak ada tanda sama sekali, kalau dia bakalan berubah. Lalu besoknya dia mendadak berubah seperti itu, apa lo gak ngerasa aneh?"
"Dora ... gue tahu tap---" ucapku terhenti karena tiba-tiba Clarissa yang tadinya masih dalam posisi berbaring, kini mendadak bangkit.
"Guys, dari pada Ariana. Gue lebih tertarik untuk ngebahas tentang cewek yang gantung diri disekolah kita."
Ucapan Clarissa seketika membuat seluruh tubuh gue bergetar.
Bagaimana tidak, gue bisa dibilang akrab dengan gadis yang dengan bodohnya membuang nyawa yang sudah diberikan oleh Tuhan.
Namanya adalah Ananda. Gue biasa memanggilnya dengan sebutan Nanda. Dia termasuk salah satu siswi berprestasi dibidang seni. Gue dan Aldora kenal dia pada saat rapat ketua masing-masing ekskul yang diselenggarakan oleh OSIS. Dan setahu gue, dia anak yang baik, rajin, dan juga ramah.
Apa yah, mungkin gue bisa bilang seperti ini karena gue gak tahu permasalah dia.
Tetapi, bukannya manusia memang tidak luput dari yang namanya permasalahan?
Dan menurut gue, sebesar apa pun masalah yang menghadang, kita harusnya lebih tegar untuk mengahadapinya. Bukan malah mencari jalan sesat, seperti bunuh diri.
Menurut beberapa karakter di film horor yang gue nonton mengatakan bahwa, orang yang bunuh diri, arwahnya tidak akan diterima baik itu di tanah atau pun langit. Mereka akan tergantung di antara langit dan bumi sampai hari kiamat datang.
Membayangkannya saja, gue sudah takut.
"Kenapa lo penasaran tentang Nanda? Bukannya sudah jelas bahwa alasan dia bunuh diri karena stress memikirkan turnamennya bulan depan?" Tanya Aldora.
"Hm ... gue ngerasa ada yang mengganjal dari kematian dia. Anehnya, ketika gue bertemu langsung dengan arwah gadis yang bernama Ananda itu, dia tidak memberitahu apa pun dan memilih menghilang begitu saja. Bahkan, ketika gue bertanya ke teman-teman hantu gue yang berada disekolah, mereka semua seakan-akan menghindar," ucap Clarissa yang membuat gue dan Aldora seakan-akan tidak percaya dengan apa yang kami dengar barusan.
Clarissa bertemu dengan arwah Ananda? Dan lagi, dia punya teman-teman hantu disekolah?
Oh my God!
Sepertinya aku terlalu meracuni fikiran sahabatku satu ini dengan memaksanya selalu menemaniku untuk menonton film horor.
Aldora bahkan belum bereaksi sama sekali.
Clarissa menoleh ke arah gue, lalu berganti ke arah Aldora.
"Ada apa dengan wajah kalian?" Tanyanya.
"Cla, lo gak lagi bercanda kan?" Tanyaku balik.
"Gak lah!"
"Tadi lo bilang ketemu sama arwah Ananda. Lo--- lo pasti bercanda kan?" Tanyaku lagi, sangking masih takjubnya.
"Gak! Eh, bukannya gue udah pernah bilang sama kalian, kalau gue bisa melihat mereka yang tak terlihat. Mungkin, kalian mengenalnya dengan sebutan hantu?"
"Hah?!" Pekik Gue dan Aldora secara bersamaan.
Jadi, selama ini Clarissa ...
*_*ALGEA *_*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung