
Clarissa Wiratmadja (Part 10)
*Dunia kegelapan
"Bina, apakah kamu tahu di mana Ariana berada?"
"Yah! Aku tahu," ucap Bina sambil tersenyum. "Tenang aja, aku benar-benar akan membawa mu bertemu dengan Ariana," ucapnya lagi.
Saat ini, aku merasa seperti sedang terbang di atas langit. Bagaimana tidak, ketika Bina menarik tanganku seketika itu juga kedua kakiku tidak lagi menyentuh permukaan.
"Aku yakin, Ariana pasti sangat tersiksa," ucap Bina.
"Yah! Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini dia mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah."
"Bagaimana kamu bisa tahu Icha, kamu kan orangnya cuek bebek. Mana suka lupa wajah orang lagi!" celetuk Arnold.
Mendengar perkataan Arnold sang hantu Belanda cilik itu, aku melihat Bina tertawa pelan.
"Kamu kenapa tertawa, Bina?"
"Gak, kok!" jawabnya cepat.
"Bohong!"
"Dia pasti tertawa karena perkataanku memang fakta," ujar Arnold sambil memasang wajah tak berdosa.
Aku menoleh ke Arnold. "Kamu kan tahu, dulunya aku tidak bisa membedakan yang mana manusia dan yang mana bangsa jin. Yah, itu karena kita menempati dunia yang sama dan memilki aktivitas yang sama pula."
"Serius?" Tanya Bina padaku.
"Aku serius! Karena tidak bisa membedakannya, akhirnya aku memilih untuk bermain bersama keduanya, tanpa memikirkan dia itu manusia atau jin. Nah, karena aku bisa melihat dua mahluk sekaligus, akhirnya aku dianggap aneh oleh orang sekelilingku, baik itu teman bahkan semua guru di sekolahku. Dan pada akhirnya, mereka semua menjauh. Semenjak saat itulah aku berusaha untuk tidak berurusan dengan manusia, aku lebih memilih berteman dengan mahluk-mahluk gaibb . Makanya, sekarang aku tuh bersyukur banget Tuhan mempertemukan aku dengan kedua sahabatku, Rana dan Dora. Berkat mereka, aku jadi sedikit bisa berinteraksi dengan manusia."
Arnold langsung terdiam.
"Sebentar lagi kita akan sampai di tempat Ariana," ucap Bina.
Sebelum kami benar-benar mendarat, Arnold tiba-tiba menyentuh tanganku.
"Icha, yang tadi, aku hanya bercanda saja," ucap Arnold dengan raut wajah sedih.
Sambil tersenyum, "aku tidak menganggapnya serius kok! Tenang saja, Arnold."
Mendengar ucapanku, Arnold langsung tersenyum.
*_*ALGEA*_*
Akhirnya, kita kembali menginjak permukaan.
"Clarissa!" panggil seseorang dari arah belakang.
Aku pun berbalik. Dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat kondisi Ariana saat ini. Wajahnya sangat kurus dan nampak berbagai lebam dihampir sekujur tubuhnya, baju sekolah yang ia kenakan sudah tidak layak pakai.
"Ariana!" aku langsung berlari seraya menghampiri Ariana yang saat ini tengah berlinang air mata.
"Icha, tunggu!" teriak Bina.
Tetapi karena terlalu senang akhirnya bisa bertemu Ariana, aku menghiraukan ucapan Bina. Ketika aku mulai mendekat, tiba-tiba tubuhku terpental ke belakang. Aku seperti menambrak sebuah dinding yang sangat kokoh dan keras. Namun, ketika dilihat ternyata tidak ada dinding sama sekali. Aku masih bisa melihat Ariana di seberang sana.
"Akhh ... Ichaaa!" teriak Ariana.
"Icha! Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bina mengahampiriku.
__ADS_1
"Icha ... lihat aku. Jari aku ada berapa?" Arnold mulai menjukkan tiga jarinya tepat di depan wajahku.
"Tiga! Tenang aja, aku gak apa-apa kok!"
"Clarissa, are you okay?" Tanya Arina.
"Yes! I'm okay."
"Are you sure?" tanyanya lagi.
"I'm sure!" jawabku sambil menunjukan wajah yang menyakinkan. Meskipun saat ini lutut dan juga lenganku sangat nyeri, aku harus menyembunyikannya. Aku takut mereka khawatir yang akhirnya membuat banyak waktu terbuang.
Bina membantuku bangkit. "Icha, sepertinya ada dinding pelindung yang tidak Nampak yang berada di sekeliling Ariana," ucap Bina.
"Dinding pelindung? Pantas saja, aku langsung terpental."
"Aku juga pernah terpental beberapa kali karena mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini," ucap Ariana.
"Dewa Arete, sepertinya dinding pelindung itu bukan dinding biasa," ucap Arnold.
Bina pun mengangguk setuju.
"Apakah kamu bisa menghancurkan dinding itu?" Tanya Arnold kepada Bina.
Bina menatap Arnold. "Aku gak bisa. Tetapi, aku tahu siapa yang bisa menghancurkan dinding itu," jawab Bina.
"Siapa?" Tanya Arnold lagi.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Bina santai.
Setelah berkata demikian, Bina langsung menaruh tangannya di depan dada lalu memejamkan kedua matanya.
"Mereka teman-temanku. Kamu tidak usah takut, mereka baik kok!"
Ariana mengangguk sambil tersenyum.
"Dia akan datang sebentar lagi," ucap Bina.
Tidak berselang lama, tiba-tiba cahaya putih datang mengahampiri kami lalu perlahan cahaya itu berubah wujud menjadi seseorang yang setelan pakaiannya persis dengan Bina, namun satu hal yang berbeda yaitu lambang dilengannya.
"Salam, saudara Khayangin," ucap Bina.
"Salam, Saudara Khayangin," balas mahluk itu.
"Ada hal penting apa sampai Saudara memanggil saya?" mahluk itu melirik ke arah aku, Arnold, dan juga Ariana. "Kenapa ada arwah anak kecil dan juga manusia di tempat ini?" tanyanya lagi.
Bina melirik kami. "Mereka adalah teman saya. Sebelumnya, saya meminta maaf karena memanggil Saudara secara tiba-tiba seperti ini," jawab Bina.
"Tidak apa-apa," ucapnya. Lalu dia berbalik ke arah kami, "salam wahai para mahluk bumi dan juga mahluk tersesat. Perkenalkan saya adalah Dewa Erubus. Dewa yang melambangkan kegelapan dan bayangan. Kami para Dewa Erubus bertugas untuk menjaga alam kegelapan ini." Setelah selesai memperkenalkan dirinya, Dewa yang bernama Erubus ini kemudian kembali menatap Bina. "Sekarang, katakan hal penting apa yang membuat Saudara memanggil saya?" ulang mahluk itu.
"Aku menemukannya," ucap Bina.
"Benarkah? Dimana dia sekarang?" Tanya Dewa itu.
"Saat ini Dewa Algea berada di alam manusia. Apakah Saudara melihat manusia di sana?" ucap Bina, lalu menunjuk ke arah Ariana. "Dewa Algea telah memanfaatkan tubuhnya."
Raut wajah Dewa Erubus terlihat sangat kesal. "Dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah dilakukannya terhadap manusia di Bumi."
"Benar! Korban dari Dewa Algea bukan hanya satu, dua orang saja. Sudah banyak manusia yang dibuat menderita. Dan yang lebih parahnya lagi, dia bisa membunuh manusia atau membuatnya terpaksa mengakhiri dirinya sendiri. Saya sudah menemukan banyak bukti," kedua tangan Bina membentuk lingkaran, lalu dalam sekejab terdapat sebuah gelembung berukuran sedang di atas tangannya. "Dan saya mengumpulkan semua bukti di dalam gelembung ingatan ini."
"Kerja bagus, Saudaraku! Tunggu apa lagi, kita harus secepatnya menangkap Dewa Algea. Terlalu bahaya kalau kita membuatnya menetap lebih lama di Bumi," ucap Dewa Erubus.
__ADS_1
"Tidak semudah itu, Saudaraku. Saya curiga, Dewa Algea telah bersekutu dengan para Iblis."
"Iblis?!" ucap kami serempak.
Dewa Erubus melirik ke arahku dan juga Arnold.
"Mohon maaf yah para Dewa yang agung, aku mau bertanya," ujar Arnold seketika yang langsung membuatku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, bisa-bisanya sesosok hantu anak kecil memotong percakapan antara Dewa seperti ini?
Bina tersenyum, "kamu mau bertanya apa, Arnold?"
"Apakah kalian melupakan sesuatu?" Tanya Arnold.
Kedua Dewa itu saling bertatapan.
"Harusnya kalian melepaskan Ariana dulu. Hancurkan dulu segelnya, setelah itu aku yakin kalian pasti bisa menemukan cara untuk menangkap Dewa Algea," ujar Arnold dengan wajah polos.
"Benar juga yang dikatakan hantu kecil ini," ucap Dewa Erubus.
Dewa Erubus langsung mendekati dinding tak terlihat yang menghalangi Ariana keluar.
"Menjauhlah sedikit," ucap Dewa Erubus pada Ariana.
Ariana mengangguk.
Dewa Erubus meniupkan angin ke arah Ariana.
"Dinding itu sudah hancur," ucapnya sambil berbalik melihat aku, Bina, dan juga Arnold.
"Benarkah? Apakah aku sudah bisa keluar?" Tanya Ariana ragu.
"Yah! Kamu bisa keluar."
Ariana berlari dan langsung memeluk tubuhku.
"Clarissa, aku takut."
Aku membalas pelukannya, "jangan takut, sekarang aku aman."
"Clarissa, bagaimana kalau aku bilang Ariana yang dulu sudah lama mati," ucap Ariana yang masih dalam pelukanku.
Deg!
Apa yang tadi dia katakan?
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1