ALGEA

ALGEA
BAB 21 (Gadis Di Bawah Pohon)


__ADS_3

Rana Inzyna Logiana (Part 8)


Gue sangat berharap tidak terjadi apa-apa dengan Clarissa. Clarissa sangat berarti bagi gue dan Dora, bisa di bilang kami bertiga sudah seperti saudara yang selalu saling


menjaga satu sama lain.


Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, gue tidak akan memaafkan diri gue sendiri. Dan gue berani jamin, Dora juga berpikiran yang sama seperti gue. Kami tidak becus menjaga sahabat kami, sampai dia bisa hilang tanpa jejak seperti ini.


"Rana ... lo gak apa-apa? Muka lo kok pucat banget?" Tanya Kak Alfandi.


"Oh—Hm ... gak Kak. Gue gak kenapa-napa. Gue cuman terlalu khawatir dengan Clarissa."


"Jangan khawatir, gue yakin temen lo akan baik-baik saja. Dan kita pasti akan segera menemukannya," ucap Kak Alfandi dengan senyumannya yang hangat.


Kekhawatiran gue sedikit menghilang. Untunglah, para Kakak-kakak kelas ini ikut membantu kami, kalau tidak, mungkin gue sudah panik sejadi-jadinya dan Aldora akan menghamburkan segala yang ada di wahana ini. Bagaimana menurut kalian? Malah bikin kacau, bukan?


Gue yakin, ini akan semakin rumit kalau saja hanya ada gue dan Dora. Bukannya menemukan Clarissa, kami berdua pasti malah akan membuat kerusakan dan juga kericuhanan di tempat ini.


Meskipun Aldora tidak menyukai keberadaan para Kakak kelas ini, aku tetap merasa sangat bersyukur kami bertemu dengan mereka.


Sambil tersenyum, "Oke, Kak. Makasih karena sudah mau menolong gue dan Dora."


"Gak usah berterimakasih. Kita kan satu sekolah, ditambah lagi Dora dan Bram itu teman kecil. Semua teman Bram, temen kami juga, bener gak Rei?"


Kak Rei hanya merespon dengan anggukan.


"Rei, lo kok jadi pendiam? Lo gak mules kan?" Tanya Kak Bram yang sontak membuat gue tersenyum. Sebenarnya, gue sangat ingin tertawa. Tapi, karena menjaga kenyamanan suasana, akhirnya gue harus menahannya.


Wajah Kak Reinan berubah kesal. " Ya, gak lah! Lo kalau ngomong tuh ati-ati yah! Gue gak mau image pangeran gue jadi berantakan karena beberapa kalimat yang terlontar dari mulut jahannam lo," ujarnya.


Sambil menunjuk ke arah gue, "dan lo! Jangan senyum-senyum. Gue tahu lo pasti pengen tertawa, kan?"


"Gak kok. Kak sepertinya lo mempunyai tempramen yang buruk!"


"Apa?!" pekik Kak Reinan.


"Sudahlah, Rei. Lagian, lo tiba-tiba jadi pendiam, aneh tau!" ujar Kak Alfandi.


"Gue diam, bukan berarti gue mules!" Ujarnya. "Tadi, gue melihat temen lo yang bernama Ariana itu. Dia terlihat bersama dengan beberapa temannya yang juga anak SPI," ucap Kak Reinan lagi.


"Kak Reinan, serius? "

__ADS_1


"Gue serius!" ujarnya.


Gue bukan Aldora yang memiliki taraf ke-dzuusonan yang tinggi yang hampir sama dengan para detektif yang harus memecahkan kasus pembunuhan. Tapi, entah mengapa sekarang, setelah Ariana membohongi kami gue jadi merasa memang ada yang disembunyikan olehnya.


"Kita tidak usah memperdulikan soal Ariana dulu. Sekarang, kita harus fokus mencari Clarissa," ucap Kak Alfandi.


"Baik, Kak."


"Ayo kita lanjut mencari," ajak Kak Alfandi.


Gue dan Kaka Reinan, mengangguk setuju.


*_*ALGEA*_*


Sudah hampir satu jam, kami bertiga kembali mencari Clarissa. Kami sudah mengecek semua wahana yang ada dan seperti sebelum-sebelumnya, Clarissa tidak ada.


"Gue capek. Kita istirahat sebentar," ucap Kak Reinan.


Yah! Benar kata Kak Reinan, kami semua sudah lelah.


"Bagaimana kalau lo dan Reinan istirahat aja dulu? Gue yang akan mencari temen lo yang bernama Clarissa itu," saran Kak Alfandi.


"Gak, Kak. Gue ikut sama Kak Alfandi aja. Gue khawatir banget Kak, gue gak bisa tinggal diam begitu saja."


Gue berpaling ke arah Kak Reinan. "Bukan begitu, Kak. Gue cuman tidak mau melewatkan waktu untuk mencari Clarissa."


"Lo mau tetap mencari dalam kondisi pucat dan hampir pingsan seperti itu? Bukannya malah membantu, lo akan makin menghambat pencarian kalau tau-tau lo jatuh dan tidak sadarkan diri. Lo mau?" ujarnya bertubi-tubi.


Gue hanya bisa terdiam.


Sebenarnya, gue memiliki penyakit kecemasan yang berlebihan. Kalau saja penyakit itu kabuh, gue biasanya langsung jatuh pingsan, atau lebih parahnya tubuh gue akan bergetar dengan sangat hebat. Gue gak tahu apakah itu salah satu penyakit yang berhubungan dengan Psikologis gue atau tidak. Yang jelas, gue selalu saja tersiksa karena penyakit itu.


"Tapi, Kak –"


"Kali ini, Rei benar. Kondisi kamu saat ini gak memungkinkan untuk tetap ikut mencari. Jangan cemas, gue pasti bisa menemukan temen lo. Gue janji!" ucap Kak Alfandi penuh keyakinan.


Sebenarnya gue ingin menolak dan bersikeras untuk ikut, tapi yang dikatakan Kak Reinan memang ada benarnya. Mungkin, beristirahat sejenak dapat membuat tubuh gue akan kembali membaik. Kali ini, gue harus tenang, jangan sampai gue benar-benar jatuh pingsan dan menghabat semuanya.


"Baik, Kak! Gue akan istirahat."


"Bagus! Kali ini lo harus nurut dan biarkan Alfandi yang mengurusnya," ucap Kak Reinan.

__ADS_1


"Yap! Ohiya, karena gue belum pernah bertemu dengan teman lo itu, bisa tidak gue melihat fotonya? Kan **** kalau gue terus mencari, sedangkan gue gak mengenali wajah orang yang di cari itu sama sekali," tanya Kak Alfandi.


"Gue langsung kirim fotonya di Whatsaap Kakak aja, yah?"


"Lo punya nomor Whatssap gue?" Tanya Kak Alfandi.


"Gak! Ini baru mau minta. Gue takut Kakak lupa, jadi mendingan gue kirim lewat Whatssap supaya Kak Alfandi bisa melihat fotonya di handphone Kakak. Itu pun kalau Kak Alfandi gak keberatan, tapi kalau gak boleh, juga gak apa-apa kok. Gue cuman mau mempermudah aja."


"Gak apa-apa, kok! Gue yakin, lo bukan tipe cewek yang akan sebar-sebarin nomor gue begitu aja," ucap Kak Alfandi sambil mengambil handphone, lalu menyebutkan nomornya.


"Oke, Kak. Gue udah ngirim fotonya."


"Sip, biar gue liat dulu," ucapnya. "Ini teman lo yang namanya Clarissa?" ucapnya dengan nada terkejut, lalu memperlihat handphonenya yang di dalamnya terdapat foto Clarissa ke arah gue.


"Iya, Kak. Kakak kenal?"


"Gue kenal," ucapnya kemudian berpaling ke arah Kak Reinan. "Rei, lo ingat kan gue pernah bilang, gue ketemu sama cewek aneh yang terus berdiri di bawah pohon yang menjadi TKP kasus bunuh diri itu?"


Kak Reinan mengangguk, " Trus kenapa?"


"Cewek itu adalah Clarissa," jawab Kak Alfandi.


"Benarkah?!" pekik Kak Reinan.


Apa yang sudah gue lewatkan tentang Clarissa?


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2