ALGEA

ALGEA
BAB 26 (Rencana)


__ADS_3

Clarissa Wiradmadja (Part 11)


*Masih dalam dunia kegelapan


"Clarissa, bagaimana kalau aku bilang, Ariana yang dulu sudah lama mati?"


Aku melepaskan tubuh Ariana, seraya menatap erat-erat kedua matanya. "Jangan bicara seperti itu. Aku yakin, kamu masih bisa merubah semuanya menjadi lebih baik lagi. Kamu harus percaya dengan dirimu sendiri," aku mencoba untuk memberinya semangat.


"Tapi Clarissa, tubuhku sudah diambil alih oleh mahluk itu! Aku sudah tidak berdaya," ujar Ariana sambil menangis.


"Kami semua akan membantumu untuk keluar dari tempat ini dan merebut kembali tubuhmu dari Dewa Algea," aku mencoba menenangkan Ariana yang saat ini masih diselimuti rasa takut.


"Hei Nona, kenapa kamu bisa sampai ada di tempat ini?" Tanya Dewa Erubus.


"A-aku ...," Ariana melirik ke arahku. Aku mengangguk dan memasang senyum penuh keyakinan kepada Ariana. Aku berharap dengan sedikit respon itu aku bisa membuat sedikit ketakutannya hilang dan membuatnya bisa berbicara tanpa rasa takut.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Meskipun saya adalah seorang Dewa kegelapan, bukan berarti saya harus menyakiti manusia," karena menyadari Ariana dalam kondisi ketakutan, Dewa Erubus mengucapkan kalimat yang bertujuan untuk menenangkan Ariana.


"Awalnya, mahluk yang bernama Dewa Algea ini selalu saja mengikutiku di mana pun. Aku pastinya kaget melihat bayanganku yang ada di dalam cermin bisa bergerak dan berbicara sendiri. Karena sudah terbiasa dengan kemunculannya, akhirnya rasa takutku menghilang. Disekolah, aku mengalami pembully-an, dia selalu memberiku semangat untuk mencoba membalas semua orang-orang itu. Namun, karena aku adalah anak yang payah, aku tidak berani melakukannya. Singkat cerita, saat itu aku -"


"Maaf kalau aku memotong cerita kamu, bisa gak langsung ke intinya aja? Soalnya, Icha gak punya banyak waktu lagi. Kalau dia lama berada di dalam alam ini, itu bisa membahayakan jiwanya," ujar Arnold.


Aku terkejut mendengar Arnold berkata demikian. Tidak masalah kalau aku berada di alam ini lebih lama, namun apa yang di katakan Arnold benar.


"Tidak apa-apa, saya bisa menangani ini. Saya bisa memberi kamu tambahan waktu untuk bisa lebih lama di alam ini. Saya membutukanmu untuk membuat teman kamu ini bisa bercerita tanpa rasa takut," ucap Dewa Erubus.


Rasa lega langsung menyelimuti hatiku. Pada dasarnya aku memang tidak ingin meninggalkan Ariana di tempat ini. Aku ingin membawanya kembali.


"Silahkan, kamu lanjutkan cerita yang sempat terputus tadi," kali ini Dewa Arete lah yang bersuara.


Ariana mengangguk.


"Singkat cerita, saat itu aku kembali menjadi korban pembully-an oleh sekelompok siswi yang memang sering menggangguku. Aku masih mengingatnya dengan jelas kejadian itu, yah meskipun aku sempat melupakannya namun perlahan ingatan itu muncul dengan sendirinya."


"Ini masih lama gak sih? Bisa gak aku dapat popcorn?" Arnold tiba-tiba menceletuk yang seketika membuat kedua Dewa yang ada di hadapan kami seketika menatap horror ke arahnya.


"Maafkan aku, apakah aku berhenti saja?" Ariana merasa bersalah.


"Tidak! Kamu lanjutkan saja. Jangan hiraukan anak kecil ini," ucapku.


"Yang aku ingat, aku berada di dalam kelas. Setelah dipaksa meminum air kencing itu, aku langsung merasa ribuan tangan menghantam tubuhku, lalu seketika semuanya menjadi gelap. Dan ketika tersadar, aku sudah berada di alam ini. Saat itu, Dewa Algea menghampiriku, dia menawarkan diri untuk membantu agar bisa terlepas dari orang-orang yang sering menyiksaku. Karena tersulut emosi, akhirnya aku menyetujuinya," Ariana terdiam, dia menundukkan kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa Ariana?" tanyaku cemas.


"Tidak apa-apa Clarissa. Aku cuman sedih, marah, kesal sama diriku sendiri! Aku berharap, aku mati saja," ucapnya.


"Jangan berkata seperti itu Ariana!"


"Clarissa, bagaimana aku tidak mau mati kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa disaat dia membunuh orang-orang yang selama ini menyiksaku satu per satu! Bagaimana aku bisa terus hidup, kalau seperti ini! huhuhu," ucapnya sambil menangis terisak. "Aku tidak pernah membayangkan kalau Dewa itu membalasnya dengan cara yang sangat tragis seperti itu, hu ... hu ... hu ..."


"Apa?!" ujarku bersamaan dengan Bina.


"Jadi, selama ini dia adalah dalang di balik meninggalnya siswi di sekolah?!"


"Benar! Dewa Algea yang membunuh mereka semua. "


Jujur, aku langsung syok setengah mati. Yang ada di dalam pikiranku saat ini adalah seluruh siswa dan juga siswi di sekolah dalam bahaya karena Dewa Algea yang memakai tubuh Ariana masih berkeliaran di luar sana.


Semoga Dora dan Rana baik-baik saja. Aku takut kalau Ariana palsu itu melukai kedua sahabatku karena terakhir kami bertemu dengan Ariana di dalam salah satu wahana yang ingin kami masuki.


"Sepertinya, kita harus segera bertindak sebelum Dewa Algea melukai banyak manusia," ucap Dewa Arete.

__ADS_1


"Yah! Kita harus bertindak secepatnya. Aku tidak mau ada lagi korban yang berjatuhan," ujar Ariana.


"Kalau seperti itu, kita akan membutuhkan sebuah rencana!" ujar Arnold.


Kami semua menatap kagum ke arah Arnold. Di saat seperti ini, dia benar-benar seperti bukan seorang hantu anak kecil biasa.


"Benar yang di katakan hantu kecil ini, kita harus membuat rencana agar bisa menjebak Dewa Algea dan segera mengakhiri kekacauan yang dibuatnya," ucap Dewa Erubus.


Semua terdiam. Aku yakin, saat ini kepala setiap mahluk yang ada disini sedang bekerja keras untuk merancang sebuah rencana. Yah, aku akui untuk mencoba berpikir keras seperti mereka sangat mustahil dilakukan oleh otakku.


Arnold tiba-tiba maju selangkah lebih dekat dengan Ariana.


"Apakah kamu mengenali nama dan wajah orang-orang yang membully-mu?" Tanya Arnold.


"Yah! Aku hafal semuanya. Memangnya kenapa?"


"Seperti yang kamu katakan tadi, Dewa Algea membunuh orang-orang yang menyiksamu saja kan? Kemungkinan besar, dia memang sengaja melakukannya sebagai pembalasan."


"Aku tadinya juga berpikir seperti itu, namun ternyata aku salah. Benar aku mengenali dua dari mereka, tetapi yang satunya aku tidak mengenalnya," jawab Ariana.


"Ehm ..." Arnold berjalan ke sana ke mari sambil memegang dagunya.


"Berarti, Dewa Algea bukan hanya membunuh orang yang membully-mu. Dia bisa saja membunuh orang-orang yang tidak bersalah," ujar Arnold. "Clarissa, seluruh teman-teman di sekolah kalian benar-benar dalam bahaya," Arnold menoleh ke arahku dan juga Ariana.


*_*ALGEA*_*


Sejenak semuanya kembali terdiam. Arnold masih melakukan aktivitas bak seterika yang jalan ke sana ke mari.


"Sepertinya, Dewa Algea datang. Aku merasakan hawa keberadaannya." ucap Dewa Erubus.


"Benar! Aku juga merasakannya," ucap Dewa Arete juga.


"Bagaimana ini?" Ariana panik.


Kami semua terkejut mendengar suara tersebut.


"Aku akan membuat dinding pelindung, meskipun itu tidak akan bertahan lama," Dewa Erubus mulai membangun dinding pelindung.


"Karena waktu kita tidak banyak, aku punya rencana. Aku yakin, ini bisa sedikit mengurangi jatuhnya korban lagi," ucap Bina alias Dewa Arete.


"Katakan apa rencanamu?" Tanya Dewa Erubus mewakili kami semua.


Bina menatapku, "Icha, kamu harus berteman dengan Ariana yang ada di dunia manusia."


"Apa?!" pekikku.


"Yah! Hanya kamu yang bisa melakukan ini. Kamu harus pastikan kalau Dewa Algea yang memakai tubuh Ariana itu tidak kembali memakan korban. Caranya, yah ... kamu harus berada di dekatnya. Dimana pun dia berada, usahakan kamu juga ada di tempat itu," ucap Bina lagi.


"A- aku tidak bisa melakukannya!"


"Kamu harus bisa, Icha! Ini demi keselamatan Ariana dan juga teman-teman kamu di sekolah," Kali ini Arnold juga ikut berbicara.


"Aku takut dia akan curiga."


"Dia tidak akan curiga. Kamu tinggal buat alasan yang kuat aja, mengapa kamu harus berada di dekat Ariana palsu itu," ujar Arnold.


"Aku tidak bisa! Pada dasarnya aku tidak tau bagaimana caranya berbohong."


Yah, ini memang fakta. Aku benar-benar tidak bisa berbohong sama sekali. Hatiku selalu menang untuk urusan bohong-berbohong . Ibaratnya seperti yang ada di dalam film kartun, ketika kita ingin melakukan hal yang tidak benar pasti akan muncul malaikat di samping kanan, dan iblis di samping kiri. Nah, dalam kasusku malaikatlah yang selalu menang dalam perdebatannua dengan iblis. Jadinya, aku tidak bisa berbohong atau pun berbuat jahat sekali pun.


"Tenang Icha, kami akan selalu mengawasimu. Aku akan membantumu untuk urusan 'alasan' itu."

__ADS_1


"Jadi, bagaimana dengan Ariana? Aku ingin membawanya juga."


"Untuk saat ini kita tidak bisa membawanya. Bagaimana pun tubuhnya masih dikendalikan oleh Dewa Algea," jawab Bina.


"Dewa Arete, sepertinya Dewa Algea berhasil menghancurkan dindingnya. Kita harus segera pergi!" ucap Dewa Erubus.


"Mengapa kita harus pergi? Kenapa kita tidak melawannya saja? Kita terlanjur ada di disini, kenapa tidak sekalian kita bertarung saja?" Tanya Arnold bertubi-tubi.


"Untuk saat ini, kita harus mundur dulu. Untuk menang, terkadang kita harus sedikit bersabar," jawab Bina.


"Benar! Kalau kita menyerang Dewa Algea sekarang, bukannya menyelamatkan Ariana, kita akan membuatnya semakin dalam bahaya. Dewa Algea tidak boleh tahu kalau kita sudah mengetahui tempat ini," ucap Dewa Erubus.


"Baiklah!" Ucap Arnold pasrah.


"Clarissa ...," Ariana memanggilku. "Bagaimana ini? Apakah aku harus kembali dikurung seperti ini?" ucapnya sedih.


Hati langsung terasa perih mendengar Ariana berkata demikian.


"Aku akan kembali membuat dinding pelindung yang di buat oleh Dewa Algea, agar dia tidak mengetahui jejak kita," ucap Dewa Erubus.


Tidak berselang lama, setelah Dewa Erubus membuat kembali dinding penghalang itu, tiba-tiba Bina merasakan hawa keberadaan Dewa Algea mulai mendekat.


"Kita harus pergi sekarang!" Ujar Dewa Arete.


"Clarissa ... tolong aku!" Raut wajah Ariana sangat sedih.


"Tapi ... bagaimana dengan Ariana?" tanyaku lagi.


"Kita harus pergi sekarang, Icha!" Arnold mulai menarik tangaku.


Aku tidak tega meninggalkan Ariana seorang diri di tempat ini lagi. Dia pasti sangat menderita.


"Icha! Kita tidak punya waktu lagi!" Ujar Arnold lagi.


"Aku akan tinggal saja di sini bersama Ariana," perkataanku membuat ketiga mahluk ini terkejut.


"Tidak bisa! Cepat tarik Icha, Dewa Algea sudah benar-benar dekat," seketika Arnold memegang kedua tanganku erat-erat, kemudian menarikku ke arah cahaya putih yang sangat menyilaukan yang berada tepat di atas kami.


"Ariana ... aku akan menolongmu!!"


Karena aku tidak bisa menahan kecepatan kedua Dewa itu, aku menutup kedua mataku dan berteriak sangat kencang.


"Tidaaaak..."


Bug!


Seperti baru saja ditimpuki batu tepat di atas kepala, aku merasak kesakitan. Aku mencoba untuk membuka kedua mataku. Saat kornea mataku mulai mencoba memfokuskan arah pandanganku, aku melihat Rana dan Dora. Aku merasakan tubuhku sedang berbaring di sebuah ruangan dan melihat beberapa orang asing di tempat ini.


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2