
Clarissa Wiradmadja (part 8)
Untuk pertama kalinya, aku bisa merasa sangat tenang dan merasa nyaman berada di tempat yang di penuhi dengan kegelapan ini. Aku juga baru mengetahu bahwa dunia kegelapan itu benar-benar nyata, bukan hanya mitos belaka. I mean, di luar dari dunia bangsa jin yang biasanya di dominasi dengan tema abu-abu atau sephia dan pastinya di penuhi dengan mahluk yang bentuknya beraneka ragam.
Ketika sukma ku di tarik ke alam bangsa jin, aku selalu saja merasa tidak nyaman. Itu karena, seluruh pusat perhatian para mahluk-mahluk itu tertuju padaku. Aku tahu, mereka pasti merasa risih dengan kedatangan manusia secara tiba-tiba.
Apakah kalian pernah menonton anime Kamisama hajimemasihta?
Adegan dimana siluman rebah bernama Tomoe masuk ke dalam alam lain. Dimana tempat berkumpulnya siluman-siluman yang bentuknya upnormal semua. Meskipun tidak spesifik, kurang lebih, seperti itulah gambaran alam jin yang bisa ku deskripsikan.
"Clarissa, sepertinya memang agak sulit untuk bisa bertemu langsung denganmu."
"Sepertinya begitu. Oke, meski pun kita tidak bisa bertatap muka secara langsung, suara kita masih bisa terdengar satu sama lain. Bagaimana, kalau kamu memberitahuku kenapa kamu bisa sampai bisa masuk ke dalam dunia ini?"
Hening.
"Ariana? Kamu masih bisa mendegar suaraku kan?"
"I-iya, Clarissa. Aku hanya sedikit gugup untuk mulai bercerita. Yang pasti ini semua berawal dari bisikan bayangan itu."
"Bayangan? Maksud kamu, mahluk yang saat ini mengambil alih tubuhmu?"
"Benar."
Aku mencoba untuk duduk seraya menyimak apa yang akan diceritakan oleh Ariana.
Yah, meski pun aku belum murni mempercayai bahwa Ariana yang berada di dunia ini merupakan yang asli atau hanya jin yang menyamar sebagai Ariana guna membuat aku kebingungan.
"Aku malu Clarissa."
"Kenapa kamu malu?"
"Aku malu karena ... aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Aku selalu saja menjadi seorang pengecut yang dengan mudahnya di tindas oleh orang-orang yang memiliki fisik sebagai manusia, namun jiwanya selevel dengan iblis jahannam."
Aku menggaruk kepala. Kalimat yang barusan Ariana katakan masih dalam mode mencerna di dalam otakku.
"Selama ini, aku selalu saja menjadi korban pembully-an yang terjadi di sekolah," setelah mengucapkan kalimat itu, dia terdiam sejenak. "Aku sama sekali tidak bisa membela diri. Apa pun yang mereka katakan, pasti selalu ku turuti. Itu karena, jika aku tidak mengikuti perintahnya, maka aku akan di hajar matia-matian. Pasti kamu sudah menganggapku manusia tidak berguna kan?"
Mendengar bahwa ternyata selama ini Ariana mengalami hal yang tidak menyenangkan, hatiku langsung terenyuh.
"Kamu tidak boleh berprasangka buruk, aku gak menganggap mu seperti itu kok. Aku bahkan tidak mengatakan apa pun."
"Dari dulu, aku selalu menganggap bahwa kamu berbeda dengan mereka, Clarissa."
"Aku memang ditakdirkan berbeda dari kebanyakan manusia pada umumya."
Ariana tertawa pelan. "Aku akan melanjutkan ceritaku."
"Baik."
"Setelah sekian lama aku menjadi korban bully, ada satu hari dimana aku benar-benar ingin mengakhiri diriku sendiri karena tidak sanggup menghadapi segala siksaan yang ada. Dan di saat aku ingin melancarkan aksi bunuh diriku, aku bertemu dengan dia. Yah, dia yang saat ini sedang berada di dalam tubuhku. Pertama kali, aku melihatnya dari pantulan cermin yang berada tidak jauh dariku. Karena mengira itu hantu, aku langsung kabur secepat kilat. Apakah kamu masih di sana Clarissa? Kamu jangan tidur yah?!
__ADS_1
"Aku masih di sini. Yah, meskipun kamu benar, saat ini aku lumayan mengantuk, aku akan tetap mendengar ceritamu sampai akhir," ucapku sungguh-sungguh.
"Baiklah. Ku kira setelah berlari, aku tidak akan bertemu dengan bayangan itu lagi. Namun sayangnya, takdir berkata lain. Bayangan itu selalu mengikutiku, dia bahkan muncul dimana pun. Baik itu saat aku bercermin, minum air, makan, dia selalu saja menampakkan wujudnya. Masalahnya adalah dia berwujud seperti aku. Manusia mana pun ketika melihat bayangannya di cermin, di air, atau di benda mana pun yang dapat memantulkan bayangan, bergerak tidak sesuai dengan tubuh aslinya, pasti akan merasa ketakutan. Apalagi, ditambah bayangan itu bisa berbicara dan selalu mengajak untuk berinteraksi. Jadilah, ketakutan itu semakin bertambah."
Ariana terdengar menghela nafas panjang. "Aku akan langsung menceritakan klimaksnya. Karena sudah terbiasa, aku akhirnya tidak takut lagi dengan bayangan itu. Hari rabu, jam empat sore, aku kembali di serang oleh para pembully yang selama ini sering menindasku. Mereka membuatku meminum air kencing."
"Apa?!" pekikku. "Apakah benar dia manusia? Kenapa mereka melakukan hal sekeji itu? Dan lagi, kenapa kamu tidak menolak?
Ada rasa sakit yang tertancap di hatiku ketika Ariana menceritakan kisahnya. Aku tidak bisa membayangkan menjadi dirinya walau hanya sebentar. Pastinya aku tidak akan bisa bertahan.
"Awalnya, aku tidak mengetahui bahwa air yang kuminum itu adalah air kencing. Setelah mereka memberitahuku, aku pastinya langsung marah. Namun, bukannya mendapatkan sesuatu yang baik, aku malah berakhir dengan babak belur. Mereka menghajarku secara membabi buta sampai aku pingsan."
"What the fu**k! Saat ini, aku benar-benar marah. Katakan, siapa nama yang membuatmu menderita? Meski pun aku tidak sekuat Aldora, atau se-sadis Rana kalau lagi marah, aku akan mencoba untuk memberi dia pelajaran." ucapku berapi-api.
"Hahaha ... " Ariana tertawa.
"Kamu kenapa? Memangnya ada yang lucu dari perkataanku?"
"Tidak, kok. Cuman, untuk pertama kalinya aku mendengar seorang Clarissa memaki orang seperti ini. Biasanya, kamu selalu cuek. Persis seperti Aldora," ucapnya.
Ups! Sepertinya memang benar apa yang di katakan Ariana. Untuk pertama kalinya aku memaki seseorang seumur hidupku. Ini juga mungkin pengaruh dari kedua sahabatku yang terkadang tidak segan-segan berbicara kasar. Namun, mereka bukan anak-anak yang nakal. Cuman, meraka akan mengumpat, kalau saja ada yang membuatnya kesal.
"Ketika tersadar, tiba-tiba aku sudah berada di alam ini. Lalu akhirnya, bayangan itu muncul. Awalnya, aku tidak mengingat apa pun tentang kejadian yang baru saja ku alami. Namun, bayangan itu, membantu mengambil kembali ingatan yang sudah terbuang di dalam otakku. Setelah ingatanku kembali, amarah itu mulai muncul. Bayangan itu menawariku untuk bertukar tubuh, dengan tujuan supaya tidak ada lagi oknum-oknum yang berani membully-ku. Karena saat itu hatiku diliputi dengan rasa murka, aku akhirnya setuju. Dan yah, seperti yang kamu lihat sekarang, aku malah terkurung di sini. Dan bayangan itu melakukan hal-hal yang di luar dugaanku."
"Pantas saja, aku selalu merasa ada aura hitam yang selalu mengikuti tubuhmu. Aku juga jadi takut ketika berdekatan, bertatapan, atau bahkan berinteraksi denganmu."
Akhirnya, aku mengetahui alasan mengapa aku selalu ketakutan ketika berada di dekat Ariana. Tapi yang menjadi pertanyaanku saat ini ialah, mahluk apakah bayangan itu? Apakah dia sejenis jin atau mahluk lain?
"Aldora pasti sangat membenciku," ucap Ariana tiba-tiba.
"Aku selalu merasa Aldora tidak menyukaiku. Meskipun berada di alam bayangan ini, aku masih bisa melihat segala aktivitas yang ada di dunia manusia," Ariana terdiam. " Yah, aku melihat semua. Termasuk semua insiden itu," ucapnya lagi.
"Insiden apa?" tanyaku.
"Ariana? Ariana? Apakah kamu masih di sana?"
Hening ...
"Arinaaa ..."
Kenapa suara Ariana lenyap begitu saja?
Pasti ada yang tidak beres dengan semua ini.
*_*ALGEA*_*
Satu jam telah berlalu ...
Aku belum bisa mendengar suara Ariana lagi.
Kepalaku mulai terasa pusing.
__ADS_1
Bruuk ...!!!
Terdengar suara dari balik punggungku.
Aku berdiri, lalu mencoba menoleh ke arah sumber suara itu.
Ketika berbalik, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Karena sangking terangnya, aku harus menutup mataku menggunakan kedua tanganku.
Perlahan cahaya itu mulai meredup, dan samar-samar aku melihat sosok Arnold dan Bina yang kini sudah berada tepat di hadapnku.
"Arnold? Bina? Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Kami datang mencari mu, Icha," ucap Bina.
"Kenapa kalian bisa tahu kalau aku berada di tempat ini?"
"Sebenarnya, aku juga tidak tahu keberadaanmu Icha. Aku mencari mu ke sana, ke mari namun kamu tidak ketemu-ketemu. Lalu tiba-tiba Bina muncul dan membawaku ke tempat ini," ucap Arnold.
"Bina?" tanyaku.
"Aku akan menjelaskannya lain waktu. Untuk sekarang, aku akan membantu mu bertemu dengan Ariana," ucap Bina dengan raut wajah yang serius.
"Tapi--"
"Icha, simpan semua pertanyaan mu ketika kita sudah meninggalkan tempat ini dan kembali pulang."
Aku hanya mengangguk.
Belum pernah aku melihat Bina se-serius ini.
"Aku akan berubah mnjadi sosok asliku. Kalian mundur sedikit," pinta Bina.
Berubah menjadi sosok yang asli? Apa maksudnya? Apakah Bina sebenarnya bukan hanya sekedar hantu penunggu sekolah biasa?
Arnold tiba-tiba menggenggam erat tanganku, "Icha, sepertinya Bina adalah seorang dewa."
Apa?!!!
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung.