
Autor Pov
Disore hari suasana sekolah menjadi lebih tenang. Para siswa dan siswi yang tidak memiliki aktivitas lain, akan segera meninggalkan sekolah.
Namun, berbeda dengan beberapa murid yang memiliki kegiatan atau pun aktivitas wajib yang harus dilakukannya setelah kelas selesai. Mereka semua harus tinggal disekolah jauh lebih lama dari yang lainnya.
Sama seperti siswi bernama Ananda. Gadis berusia tujuh belas tahun ini merupakan salah satu murid yang memiliki banyak prestasi dibidang seni. Keahliannya ialah menari. Ketika dia menggerakkan badannya, maka setiap orang yang melihatnya akan merasa terkagum-kagum
Tidak ada yang bisa menandinginya karena hampir seluruh tarian daerah di Indonesia dia ketahui. Tarian yang berasal dari Bali, tarian daerah Makassar, Jawa, Sumatra, maupun Kalimantan, semua dia kuasai.
Ananda juga memiliki banyak memikul jabatan di sekolah. Dan saat ini dia menjabuat sebagai Ketua dari sanggar seni SMA PATRICKORN INTERNATIONAL yang sangat populer.
Selain memilik banyak prestasi, Ananda juga didukung dengan paras yang cantik. Kulitnya putih bersih, tinggi semampai, rambut yang ditata dengan bagus yang semakin menambah ke indahan dari dirinya. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai selebgram. Pastilah orang-orang akan berlomba untuk bisa dekat dengan gadis ini.
Selain wajah yang cantik, dia juga berasal dari keluarga yang kaya raya.
Perfect. Itulah kata yang tepat untuk hidup Ananda saat ini.
*_*ALGEA*_*
Hari ini, seperti biasa Ananda selalu berlatih diruang ekskul-nya. Dia mulai melakukan gerakan-gerakan yang sudah dipelajari olehnya.
Seluruh anggota lain satu per satu mulai pamit untuk kembali ke rumah masing-masing.
Namun, berbeda dengan gadis yang memiliki senyum yang menawan ini.
Belakangan, dia sangat giat berlatih untuk mempersiapkan diri mengikuti kejuaraan cabang 'tari tunggal' yang diadakan oleh kementrian Jepang bulan depan. Makanya untuk saat ini, dia sangat giat latihan agar nantinya tidak akam mengecewakam sekolah.
Ananda terpilih menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia. Dia akan bersaing dengan beberapa negara lainnya.
Siapa pun yang mengetahuinya pasti akan merasa bangga dengan sosok Ananda.
Pihak sekolah bahkan sengaja memberinya ke-istimewaan karena sudah beberapa kali mengharumkan nama sekolah, dengan memberinya ruangan ekskul yang besar dengan separuh dindingnya dipenuhi dengan kaca. Tempat yang sangat tepat untuk Ananda dan para anggota sanggar untuk berlatih.
*_*
Seperti saat ini, Ananda masih terus berlatih meskipun semua teman-temannya sudah meninggalkan ruangan itu dan kembali ke rumah.
Ketika sedang latihan, entah mengapa perasaan Ananda berubah menjadi tidak enak. Gadis ini merasa seperti ada seseorang di luar sana yang sedang mengawasi dirinya.
"Kok gue ngerasa kayak ada yang merhatiin dari jauh yah?"
Karena merasa terganggu, yang tadinya pintu ruang ekskul itu terbuka lebar, kini dia menutupnya lalu mengunci dirinya diruangan tersebut.
Setelah menutup pintu, dia kembali melanjutkan latihannya. Dia kembali menggerakan badannya mengikuti alunan musik yang sangat menggemah di dalam ruangan itu.
Prak!
Tetapi, entah mengapa speaker yang sedang memutar lagu tarian itu, tiba-tiba mati dengan sendirinya.
Ananda menghampiri speaker tersebut, lalu kembali menyalakannya. Namun, kejadian tersebut terulang kembali. Speaker itu kembali mati dengan sendirinya.
"Ini kenapa sih bisa nyala mati kayak gini? Perasaan tadi baik-baik aja deh," ucapnya.
__ADS_1
Karena merasa kesal, akhirnya Ananda memutuskan untuk menyakhiri latihan hari ini.
"Kenapa feeling gue jadi gak enak yah?" ucapnya sambil mengemasi barang-barang.
"Ah, mungkin ini karena gue kecapean kali. Makanya, gue jadi kayak orang linglung gini," ucapnya lagi.
Setelah mengemasi barang, Ananda segera bersiap untuk pulang. Namun, ketika berjalan ke arah pintu, entah mengapa lampu diruangan itu tiba-tiba mati.
"Aaaaak ... ini siapa sih yang iseng? Gue udah curiga nih, pasti ada yang mau ngerjain gue. *******! keluar lo," ujar Ananda dengan penuh amarah.
Tidak lama kemudian, lampu ruangan itu kembali menyala.
"Kenapa sih, ini?"
Ketika memandang ke sekeliling ruangan tersebut. Tidak ada orang selain dirinya di dalam ruangan itu.
"Woi! Keluar lo. Jangan main kayak gini. Kalau lo mau nakut-nakutin gue itu tidak akan pernah berhasil!" ujar Ananda.
Tiba-tiba lampu diruangan itu kembali padam.
"Eh, setan! Gue gak takut yah. Awas lo sampai ketemu gue, abis lo!"
Lampu kembali menyala.
Namun, di sudut ruangan itu tiba-tiba saja muncul seorang siswi yang memakai seragam yang sama dengan Ananda.
Menyadari keberadaan siswi itu, Ananda langsung marah dan memaki-maki gadis yang tengah berdiri di sudut ruangan tersebut.
Dia langsung menghampiri gadis itu dan langsung mendorong tubuhnya ke tembok.
"Gue baru tau, kalau lo punya nyali sebesar ini buat ngebalas gue."
Gadis itu hanya menatap Ariana, tanpa melakukan perlawanan sama sekali.
Sambil menarik rambut gadis itu, "lo bisa apa, hah? Kalau lo cuman mau ngebalas gue dengan hal semacam ini. Itu gak bakalan ngaruh."
Gadis itu masih tetap diam dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
"Kenapa lo ngeliat gue kayak gitu? Lo mau marah sama gue? Marah aja. Apa, hah? Lo mau nge-balas gue? Balas aja kalau lo bisa!"
Gadis itu masih tetap diam.
"Kali ini, lo akan habis sama gue!"
Setelah berkata demikian, gadis yang rambutnya tengah ditarik itu tiba-tiba mencengkram tangan Ananda, lalu mendorongnya ke bawah lantai.
'Kenapa tenaganya kuat sekali'
Ucap Ananda dalam hati.
"Aw ... sialan lo!"
Ananda kembali berdiri lalu mencoba menghajar gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya. Tetapi, sayang setiap pukulanya selalu ditangkis oleh gadis itu. Bahkan, dia beberapa kali dibuat terpental sangat keras olehnya.
__ADS_1
Cairan kental merah mulai muncul di pelipisnya. Karena kepalanya beberapa kali terbentur keras ke bawah lantai.
Bukannya berhenti, Ananda malah mencoba bangkit kembali untuk membalas gadis itu. Dia tidak menerima kekalahan itu.
Namun, ketika mulai berdiri tiba-tiba lehernya sudah dicekik duluan oleh kedua tangan gadis itu.
Ananda sempat terkejut.
Gadis itu menyeringai. Seringainya membuat Ananda menjadi ketakutan.
"Tidak mungkin dia mau ngebunuh gue. Masa di mainin dikit aja, dia sampai tega membunuh gue?"
Ucapnya dalam hati.
"Coba tebak gue bakalan ngelakuin apa sama lo?" Tanya gadis itu.
Ananda hanya bisa terdiam. Cengkraman dilehernya sangat keras. Bahkan saat ini dia kesulitan untuk bernafas.
Sambil menyeringai gadis itu berkata "Gue bakalan ngasih pilihan buat lo," lalu dia sengaja mengangkat kedua tangannya yang saat ini mencengkram leher Ananda, sampai membuat kedua kaki gadis yang berada dalam cengkramannya itu tidak menyentuh lantai.
Gadis tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Ananda. Lalu kemudian berbisik, "Lo mau pilih yang mana? Mati dalam keadaan tergantung atau mati dalam keadaan keracunan?"
Mendengar ucapan itu, mata Ananda langsung terbelalak. Tubuhnya pun terus meronta-ronta. Namun sayang, tangan yang saat ini mencengkram lehernya memiliki kekuatan sangat besar.
"Bagaimana, kalau gue pilihin aja?" ucap gadis itu. "Hm ... kita pilih gantung aja yah?!" Tambahnya sambil menunjukkan seringainya.
Ananda menggelengkan kepala kuat-kuat. Namun lagi-lagi di sayangkan Ananda tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayo kita mulai ..."
Gadis itu mulai memperkuat cengkraman di leher Ananda yang membuatnya semakin sulit untuk bernafas.
Samar-samar terdengar suara Ananda, "Ma---af---kan a---aku."
Tetapi sayang, gadis itu tidak memperdulikan apa yang dikatakannya.
Semakin lama tubuh Ananda mulai melemah. Di karenakan sulitnya oksigen masuk ke dalam tubuhnya.
Disaat-saat terakhir, Ariana melihat sebuah cahaya yang sangat terang dan semakin lama cahaya itu makin mendekat ke arahnya. Entah mengapa, ada perasaan tenang ketika cahaya itu mulai mendekatinya.
Mata Ariana semakin berat. Dia tidak bisa menahannya lagi. Seketika seluruh pandangannya menjadi gelap.
Nyawanya sudah terputus dari raganya.
*_*ALGEA*_*
Melihat korbannya sudah tidak bernyawa, gadis itu langsung melepaskan cengkramannya.
"Satu penjahat sudah kita basmi. Saatnya kita melakukan tugas akhir kita," ucap gadis itu.
Sambil menunjukkan seringainya yang mampu membuat nyali seseorang yang melihatnya seketika menciut, dia berkata di depan sebuah cermin besar diruangan itu.
"Siapa selanjutnya?"
__ADS_1