
Clarissa Wiramadja (part 4)
*Pengumuman ...
*Pada tanggal 2 Agustus 2019, kembali terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh dua orang siswi secara bersamaan , yang merupakan pelajar di SMA PATRICKORN INTERNATIONAL. Belum diketahui apa motif kedua korban, mengapa mereka bisa melakukan hal tersebut.
Kepala sekolah sengaja mendatangkan kepolisian untuk mengusut kasus tersebut. Menurut beliau, terjadi sesuatu yang tidak baik yang terjadi di kalangan murid-muridnya. Pasalnya, ini merupakan kasus ke dua yang terjadi di sekolah ini. Beliau beranggapan bahwa, para korban baik yang sekarang maupun yang sebelumnya, mereka semua pasti telah mendapatkan sugesti aneh dari beberapa oknum.
Jadi sehubungan dengan kasus tersebut, pihak sekolah memutuskan untuk sementara meliburkan aktivitas sekolah selama 2 hari. Diharapkan kepada seluruh siswa dan siswi untuk tidak dengan sengaja mendatangi sekolah dengan alasan apa pun. Untuk sementara, sekolah dalam proses penyelidikan. Dimohon kerjasama dari para siswa dan siswi sekalian.
Sekian informasi dari kami, Terimakasih.
*_*ALGEA*_*
Hari ini pihak sekolah meliburkan seluruh siswa dan siswinya. Insiden dua minggu lalu kembali terulang. Namun bedanya, korban yang melakukan tindakan bunuh diri tersebut, berjumlah dua orang.
Sampai saat ini, aku belum bisa menemukan petunjuk lain, selain surat itu. Kemarin, ketika aku dan Aldora datang untuk menjemput Rana, aku menemukan sesuatu yang aneh dari Ariana. Bayangan dirinya di dalam cermin, bergerak berbeda dengan dirinya yang saat itu tengah berada di belakangku.
Ketika aku mencoba mencari tahu dari beberapa mahluk astral yang menjadi temanku, seperti Bina si kunti yang selalu menetap di kelas, Arnold si hantu Belanda yang berada di rumahku, dan beberapa mahluk lain tentang kejadian yang kusaksikan tersebut, mereka kompak menjawab bahwa mahluk yang aku lihat di dalam cermin itu adalah jin yang bernama Qorin.
To be fly ...🎶🎶
ponselku berbunyi, ketika melihat ke layar, nama Rana muncul di dalamnya.
"Clarissaaaaaaaa ..."
Aku terkejut, dan secara spontan menjauhkan telingaku dari ponsel. Untuk urusan teriak-teriak, Rana memang selalu menjadi pemenangnya. Suara cempreng dengan jumlah volume yang selalu berada diangka tertinggi, yang mampu membuat telinga kita seketika berdengung.
"Iya, Ran."
"Lo mau sampai kapan sih tidur? Gue dan Dora udah ada dibawah, lebih tepatnya di depan meja makan. Kita nungguin lo bangun, sambil makan masakannya Daddy. Cepetan turun!"
"O--oke. Wait."
Aku langsung mematikan ponsel, lalu segera turun ke lantai bawah.
"Ohayou, Clarissa-sama," ucap Aldora.
"Good Morning, Princes Aurora," sapa Rana.
Aku hanya tersenyum mendengar sapaan mereka, kemudian berjalan ke meja makan, lalu duduk di hadapan mereka berdua.
"Daddy, kemana?" tanyaku.
"Daddy dan Mommy tadi udah pergi. Sepertinya beliau lagi buru-buru," jawab Dora, sambil melahap buah anggur yang ada di hadapannya.
"Iya, Mommy bilang dia ada rapat," ucap Rana juga.
__ADS_1
"Ooh ... orangtua gue memang belakangan ini lagi subuk banget. Bahkan, mereka jarang ada waktu buat gue."
"Tenang aja, Sisy. Kan masih ada kita berdua," ucap Aldora.
Rana mengangguk setuju, sambil tersenyum manis.
"Gue syukur banget punya kalian. Coba aja gak ada kalian, gue gak bisa ngebayangin betapa kesepiannya gue," ucapku dengan senyuman.
"Eh, sekolah kan libur, gimana kalau kita jalan-jalan ke Transtudio? Kan seru tuh, kita bisa main-main," ucap Rana.
"Boleh juga, tuh!" ujar Aldora setuju.
Entah perasaaan aku saja, atau memang ada yang salah dengan Rana. Bukannya dia masih trauma dengan kejadian itu? Tadi malam ketika aku dan Aldora sampai di UKS tempat Rana berada, saat itu wajahnya pucat, plus air mata yang berlinang di pipinya. Dia juga sempat bilang bahwa apa yang dilihatnya benar-benar sangat menyeramkan, dan dia berjanji akan terus berada di rumah sampai perasaannya benar-benar pulih kembali.
"Rana, gimana keadaan lo?" tanya gue hati-hati.
"Alhamdulillah, keadaan gue baik. Emang kenapa, Cla?"
"Gak-- Gak apa-apa kok. Gue cuman nanya aja. Soalnya tadi malam, keadaan lo benar-benar kacau banget. Jadi, gue cuman mastiin aja."
"Gue juga sempat kaget, Cla. Tiba-tiba nih anak nelpon gue pagi-pagi buta, trus bilang mau sarapan di rumah lo. Aneh kan? Eh Ran, lo gak kesambet setan kan?" tanya Aldora.
Rana yang sedang mengunyah roti, seketika tersedak. "Lo ngomong apaan sih? Ya gak lah!" Rana mengambil jus jeruk yang berada di sampingnya, lalu meminumnya. Setelah meminum jus itu, Rana tersenyum, "Gue udah ngelupain semua hal-hal yang terjadi tadi malam."
Kali ini aku dan Aldora yang sama-sama tersedak.
"Lo--lo kok bisa? Seorang Rana sang ratu lebay yang selalu mengingat apa pun dengan sangat baik, tiba-tiba bisa melupakan kejadian yang mengerikan yang sudah di alaminya hanya dalam waktu semalaman? Gue gak percaya!" ujar Aldora.
"Oppa?" tanyaku penasaran.
"Yap! Seperti yang lo liat tadi malam, gue bener-bener kacau. Bahkan, gue gak berani tidur sendiri. Jadi terpaksa, gue membujuk Abang Razky untuk nemenin gue tidur di kamar. But, meski pun gue tidur ditemenin Abang, perasaan gue tetap gak enak. Bayangan-bayangan mayat itu masih membekas diingatan gue. Akhirnya, gue mencoba untuk memainkan handphone, dengan harapan gue bisa melupakan kejadian itu. Tiba-tiba, gue dapat notifikasi dari google kalau MGMA lagi mengadakan siaran langsung di Youtube. Akhirnya, gue memutuskan untuk menonton acara itu. Dan alhamdulillahnya adalah para Oppa gue menang. Mereka mendapat penghargaan salah satu artis pendatang baru terpopuler. Wow, daebak banget, kan! Setelah acara itu selesai, gue jadi bisa tidur dengan nyeyak. Lalu, besoknya entah mengapa, perasaan gue jadi enak dan ingatan tentang kejadian itu pun seketika menghilang," ucap Rana panjang lebar dan dengan eskpresi wajah yang sangat excited.
Hening ...
Aku dan Aldora masih mencerna apa yang dikatakan oleh Rana.
"O--oh jadi gitu," ucapku memecahkan keheningan diantara kami bertiga.
"Iya, hebat kan kekuatan para Oppa gue!" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Gue bilang juga apa. Lo emang cocok banget jadi ratu kelebay-an," ucap Aldora. "Tapi disatu sisi bagus juga sih. Untuk kali ini, gue setuju dengan lo. Oppa lo akhirnya berguna juga," tambahnya lagi.
prang!
"AAAAKKKK... " teriak kami bertiga.
Aku, Rana, dan Aldora sontak bangkit dari tempat duduk, lalu mendatangi sumber suara tersebut.
__ADS_1
Suara itu berasal dari dapur, dan saat ini sebuah piring tengah tergetak di bawah lantai dengan kondisi yang tepecah belah
"Eh, kenapa piringnya jatuh?" ucap Rana.
"Iya, siapa yang jatuhin nih piring? Perasaan, rak piringnya ada diseberang sana. Dan waktu gue ke dapur, tadi gue gak ngeliat ada piring di atas sini atau di mana pun, selain di rak piring itu."
Aku hanya terdiam.
Mataku langsung memandang ke sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang membuat aku tahu siapa pelaku dari pecahnya piring ini.
"Hahahahah ..."
terdengar suara tawa anak kecil yang tertangkap oleh telingaku. Tetapi sayangnya tidak di dengar oleh kedua sahabatku
"Hai, Icha ..."
Ada yang memanggil namaku, aku pun langsung berbalik kebelakang.
"Aku yang memecahkan piring itu."
"Guys, aku sudah tahu siapa yang memecahkan piring ini," ucapku.
Kedua sahabatku berbalik ke arahku.
"Siapa?" tanya Aldora dan Rana bersamaan.
"Gue pernah bilang sama kalian, kalau gue adalah seorang anak indigo, kan?"
Mereka berdua mengangguk.
"Kalian mau percaya atau tidak. Saat ini di hadapan gue, ada satu sosok Hantu Belanda yang memang sudah menetap dirumah ini sejak lama, dan dia merupakan salah satu teman hantu gue. Namanya adalah Arnold. Katanya dia sengaja memecahkan piring ini, untuk membuat kalian menyadari keberadaannya. Arnold menyukai kalian berdua," ucapku.
"Hah?!" Pekik kedua sahabatku.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
BERSAMBUNG