
Rana Inzyna Logiana (Part 6)
Ariana berbohong.
Jujur, gue termasuk salah satu orang yang mudah percaya dengan perkataan orang lain. Apalagi, kalau gue memang sudah mengenalnya.
"Anyway, gimana keadaan lo?" Tiba-tiba Kak Reinan bertanya ke gue.
"Baik. Kalau gak baik, kan gak mungkin aku bisa ada di sini."
"Syukurlah. Gue kira, lo bakalan nangis-nangis kayak kemarin, sampai berhari-hari. Kayak cewek-cewek alay lainnya," ucapnya.
Awalnya, gue sempat bingung kenapa Kak Reinan tiba-tiba bertanya keadaan gue. Ternyata, gue baru menyadari bahwa yang dia tanyakan adalah keadaan gue setelah peristiwa yang menimpa gue di sekolah
"Oh, maksud Kak Reinan yang kejadian di sekolah?"
"Iyalah! Jangan-jangan, lo berpikir kalau gue menanyakam keadaan lo karena gue naksir ? Sory, lo bukan tipe gue."
Oh my God!
Kenapa lelaki satu ini selalu saja menyebalkan. Mana kepercayaan dirinya melebihi ambang batas manusia. Dia kira gue juga naksir apa?
Idih! Amit-amit. Gantengan juga Daniel Oppa daripada dia.
"Rei, perasaan si Rana gak pernah bilang kalau dia naksir sama lo," ujar Kak Bram.
"Iya! Lo-nya aja yang kepedean. Dasar manusia yang tak tahu malu," ucap Kak Alfandi.
__ADS_1
"Gue kan cuman mau ngingatin dia, siapa tahu tiba-tiba dia naksir sama gue. Istilahnya ni yah, sediakan payung sebelum hujan. Mendingan tolak sebelum menembak," ucap Kak Reinan.
Oke, sekarang gue semakin kesal.
"Maaf yah, Kak Reinan. Gue gak akan pernah suka sama lo. Lo juga bukan tipe gue kok, jadi tenang aja. Jangankan suka, deket-deket lo aja gue gak mau," ujar gue tanpa mementingkan lagi arti kata sopan santun ke yang lebih tua. Gue berbicara tanpa menggunakan kata 'aku' lagi. Orang macam dia memang tidak layak untuk di hormati.
"Hah!?" Pekik Kak Reinan, lalu kedua temannya pun langsung tertawa.
"Hahaha ... makanya Rei, lo jadi orang jangan kepedean. Belum tentu tau, semua cewek yang berbicara sama lo itu, naksir sama lo," ucap Kak Alfandi.
"Ehm!" Aldora tiba-tiba berdeham. "Maaf nih yah, Kakak-kakak yang baik hati. Sepertinya gue dan Rana harus segera pergi."
"Eh? Kenapa buru-buru mau pergi? Lo ada urusan mendadak yah, Dowes?" Tanya Kak Bram.
Mendengar dirinya kembali di panggil dengan nama 'Dowes' membuat kedua mata Aldora melotot ke arah Kak Bram.
"Hilang?!" Tanya ketiga Kakak kelas itu, bersamaan.
"Siapa yang hilang? Dia anak SPI juga?" Tanya Kak Alfandi.
"Iya, Kak. Namanya Clarissa, tadi kami ke sini bertiga. Tapi entah mengapa tiba-tiba dia menghilang. Gue dan Aldora, rencananya mau kembali mencari dia."
"Kenapa dia bisa menghilang? Bukannya area bermain ini sepi, yah? Dia bukan baru pertama kali kan, main ke sini?" Tanya Kak Bram.
"Kami sering kok main ke sini, jadi gak mungkin dia tersesat. Gue dan Rana juga bingung, kenapa dia tiba-tiba menghilang. Padahal, tadinya dia ada di belakang kami," jawab Aldora, sambil memijit pelipisnya.
"Kalau lo berdua gak keberatan, kita mau kok bantu cari Clarissa," ucap Kak Bram.
__ADS_1
Gue dan Rana saling bertatapan. Aldora menggelengkan kepalanya, pertanda dia tidak setuju kalau Kak Bram dan kedua kakak kelas kami ikit membantu mencari Clarissa.
"Sepertinya, gak usah Kak. Kami takut ngerepotin kalian," ucap gue.
"Gak kok, kami gak keberatan," ucap Kak Alfandi.
Gue kembali menatapa Aldora, sambil menganggukan kepala sebagai tanda kalau sebaiknya kita setuju. Toh, makin banyak orang yang cari, semakin besar peluang untuk menemukan Clarissa.
"Baik Kak, kami setuju."
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1