ALGEA

ALGEA
BAB 30 (Penyelidikan)


__ADS_3

Rana Inzyna Logiana (part 11)


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya murka.


Kami semua terkejut, melihat Bapak Kepala Sekolah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini.


"Jawab bapak! Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa tidak ada yang masuk ke dalam kelas? Apakah kalian berencana untuk bolos berjamaah?" Tanya Pak Kepala Sekolah bertubi-tubi.


"Maaf, Pak. Bukannya kami semua tidak ingin mengikuti pelajaran. Cuman, bapak bisa lihat sendiri kondisi ruangan ini. Puluhan bangkai burung gagak tergeletak di bawah lantai," jawab Kak Alfandi.


Bapak Kepala Sekolah yang bernama Pak Pardi, baru menyadari bahwa ruangan ini dipenuhi dengan darah dan bangkai binatang tersebut.


"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya kepada kami.


"Kami semua tidak tahu Pak. Ketika sampai di sini, ruangan ini sudah penuh dengan bangkai gagak," jawab Kak Bram.


Liyu ... liyuu ... liyuuu


Suara sirine mobil polisi berbunyi dengan sangat keras. Seluruh siswa keluar dari kelas. Namun, karena lonceng masuk telah berbunyi, mereka tidak berani untuk beranjak dari kelasnya masing-masing.


"Ada apa ini? Kenapa bisa ada polisi?"


"Kami yang memanggilnya, Pak!" Jawab Kak Reinan.


"Kenapa kalian memanggil kepolisian? Kejadian kecil seperti ini pihak sekolah bisa menanganinya!" ujar Pak Pardi.


"Mohon maaf atas kelancangan kami, Pak! Bukannya kami tidak mempercayai pihak sekolah--" ucap Kak Bram.


Tiga orang aparat kepolisian menghampiri kami.


"Selamat pagi!"


"Pagi ... " jawab kami semua, kecuali Pak Pardi.


"Kami mendapat laporan bahwa di sekolah ini mendapatkan ancaman teror," ucap salah satu dari ketiga polisi itu. Dari penampilan, sepertinya dia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari kedua rekannya.


"Itu tidak benar!" ujar Pak Pardi.


"Itu benar, Pak!" Ujar Kak Bram. "Bapak lihat sendiri apa yang terjadi di ruangan ini!"


Ketiga polisi itu melihat ke sekeliling ruangan ini, lalu mereka saling bertatapan diiringi anggukan yang mungkin adalah kode untuk mereka. "Siapa yang pertama kali masuk ke tempat ini? Tanya polisi itu lagi.


Gea mengangkat satu tangannya, "saya Pak!"


"Ketika kamu datang, apakah tempat ini sudah seperti ini? "


"Iya, Pak!"


"Siapa yang datang setelah kamu?" Tanya Polisi itu lagi.


"Rana, Dora, dan ketiga Kakak kelas itu. Mereka tiba bersamaan, Pak!" jawabnya, lalu melirik ke arah gue dan juga Dora.


"Baiklah! Kami akan melakukan penyelidikan tentang kasus ini," ucap Polisi itu. "Untuk sementara, jangan ada yang masuk ke dalam ruangan ini dulu. Saya akan memanggil tim penyidik," ucapnya lagi.


"Tidak usah, Pak! Pihak sekolah akan menangani kasus ini," ucap Pak Pardi secara tiba-tiba.


Polisi itu sedikit memiringkan kepalanya, "kenapa Pak? Melakukan hal seperti membunuh burung gagak sebanyak ini, lalu dimasukkan ke dalam ruangan. Bukankah ini tindakan kejahatan?"

__ADS_1


"Benar! Ini memang tindakan kejahatan. Tapi, siapa tau ini hanyalah sebuah lelucon yang dilakukan oleh salah satu siswa di sekolah ini? Kita semua tahu, zaman sekarang anak-anak sering melakukan hal, seperti melakukan prank terhadap temannya," ucap kepala sekolah, dengan raut wajah yang tanpa ekspresi.


"Apakah Anda pemimpin para polisi ini? Siapa nama dan pangkat Anda?" Tanya Pak Pardi dengan nada meremehkan.


"Benar! Saya inspektur Alfi."


Setelah percakapan Pak Pardi dan juga Polisi yang bernama Inspektur Alfi ini selesai, semua kembali terdiam.


"Menurut saya, ini bukan sebuah Prank, Pak!" ucap Kak Reinan memecahkan keheningan.


Semua mata tertuju pada Kak Reinan yang saat ini. "Apakah bapak tau kasus tentang tiga murid yang bunuh diri di sekolah ini?" Tanya Kak Reina kepada Pak Inspektur itu.


"Yah! Saya tau. Kemarin, saya yang menangani kasus ini," jawabnya.


"Apakah bapak melakukan penyelidikan tentang kasus tersebut?" Tanya Kak Reinan.


Inspektur Alfi menggeleng. "Tidak! Kami hanya sebatas mengamankan korban."


"Kenapa Bapak tidak mencoba menyelidikinya? Tidak berselang lama dari kasus pertama, kejadian itu kembali terjadi. Dua orang siswi ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di atas plafon. Bukankah itu sangat mencurigakan? Dan lihat sekarang, kita perlu bukti apalagi untuk mengatakan bahwa tidak ada yang aneh dengan sekolah ini?!" ucap Kak Reinan berapi-api.


"Tentu saja secara pribadi, saya merasakan ada sesuatu yang ganjil tentang kedua kasus ini. setelah kejadian dua siswi itu, saya sempat mengutus dua anak buah saya datang ke sekolah ini untuk melakukan penyelidikan. Namun, pihak sekolah tidak mengizinkan kami. Mereka menunjukkan bukti bahwa kedua siswi itu murni melakukan bunuh diri dengan sengaja," ucap Pak inspektu Alfi.


Kami semua menatap penuh selidik ke arah Pak Pardi yang masih berdiri tegap dengan memasang wajah dingin yang biasa beliau perlihatkan kepada seluruh siswa dan siswi di sekolah ini.


"Bukti?" Tanya Kak Bram, Kak Reinan, Kak, Alfandi, dan dora secara bersamaan.


"Yah! Mereka memperlihatkan kepada anak buah saya sebuah surat yang berisi kata-kata terakhir dari kedua siswi tersebut," ujar Pak Polisi.


"Apakah bapak percaya begitu saja?" Kini Kak Alfandi yang mengajukan pertanyaan.


"Tentunya, tidak! Setelah mendapatkan informasi bahwa pihak sekolah menemukan bukti kuat untuk memastikan kedua siswi itu murni mengakhiri dirinya sendiri. Saya kembali mengutus rekan saya untuk pergi mengambil surat tersebut. Kami ingin memastikan bahwa, apakah benar mereka yang menulis surat itu?"


"Lalu, apa yang terjadi?" Tanya Kak Bram.


"Setelah melakukan identifikasi tulisan tangan dari kedua surat itu, hasil yang kami dapatkan adalah positif. Kedua surat itu, benar-benar dari hasil tulisan dari mereka," ucap Polisi itu. "Karena sudah memastikan bukti, akhirnya kasus itu kami tutup,"tambahnya lagi.


Mendengar penjelasan polisi itu, kami semua terdiam.


Clarissa beranjak dari sampingku. Dia berjalan mendekati Inspektur Alfi.


"Mohon maaf, Pak! Apakah Papak masih menyimpan salinan surat itu?" Clarissa bertanya secara tiba-tiba. Gue dan Dora saling melirik.


"Saya hanya punya fotonya!"


"Bolehkah saya melihatnya?" Tanya Clarissa lagi. Gue yakin, semua orang yang ada di ruangan ini heran dengan pertanyaan Clarissa.


Tatapan pemimpin dari tiga polisi itu menatap tajam ke arah Clarissa.


Inspektur Alfi mengambil handphone dari dalam saku celananya. Lalu, beliau mengotak-atik layar ponselnya.


"Ini dia ..."


Clarissa berjalan semakin mendekat ke Inspektur itu.


Setelah melihat apa yang ada di dalam ponsel polisi itu, mata Clarissa seketika membulat. Dari jauh, gue melihat Kak Alfandi menatap intens ke arah Clarissa.


"Te-Terimaksih, Pak!"

__ADS_1


Lalu, perlahan Clarissa mundur perlahan kembali ketempatnya, yaitu di sampingku.


Inspektur itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Untuk kasus yang ini, kami akan menyelidiki lebih lanjut. Kami juga akan mencoba mencari tau apakah ini ada hubungannya dengan kedua kasus sebelumnya. Kalau begitu, bisa kah kalian meninggalkan tempat ini?"


Kami semua mengangguk.


"Saya akan menemani Pak Polisi di sini, kalian masuk saja ke dalam kelas. Ingat! Jangan bolos!" ucap Pak Pardi.


"Baik, Pak!" ucap Kami serempak.


Kami semua keluar dari ruang Osis itu.


Gue memperhatikan Clarissa sejak dia kembali ke sampingku. Wajahnya tiba-tiba pucat, dan sejak tadi dia mengeratkan kedua tangannya.


"Lo kenapa?" Tanya Kak Alfandi.


"Aku gak apa-apa, Kak!" ucap gue.


"Rana, Alfandi gak nanya ke elo!" ucap Kak Reinan sinis.


Kak Alfandi tersenyum. "Gak apa-apa."


"Clarissa, kamu baik-baik aja?" ulang Kak Alfandi.


Clarissa terkejut, lalu menatap Kak Alfandi. "A-aku baik-baik saja," jawabnya.


Sepertinya, ada yang dipikirkan oleh Clarissa. Ekpresinya berubah sesudah melihat isi dari ponsel inspektur tadi.


"Aku ingat sesuatu!" tiba-tiba Kak Reinan menceletuk. "Bukankah waktu kita ada di trans studio, lebih tepatnya di ruang stafnya, Clarissa mengatakan sesuatu ..."


"Mengatakan apa?" Tanya Kak Alfandi


"Yah, dia bilang bahwa seluruh Siswa di sekolah ini dalam bahaya!"


Benar juga! Gue baru menyadari itu.


Pandangan kami semua jatuh kepada Clarissa yang saat ini juga memandang kami satu per satu.


Deg!


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*


*


BESAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2