ALGEA

ALGEA
BAB 9 (Prasangka)


__ADS_3

Aldora Weston (part 2)


Ketika mengetahui bahwa Ariana mendapatkan perilaku tidak baik dari beberapa oknum di sekolah ini, gue langsung bertindak.


Dan ketika gue juga tidak sengaja melihat beberapa bekas luka ditubuhnya, saat itu juga gue berjanji pada diri gue sendiri, bahwa gue akan membantunya.


Mulai saat ini gue harus mengamati gerak-gerik Ariana.


Ariana adalah teman sekelas gue yang memiliki pribadi yang sangat tertutup. Bisa dibilang dia salah satu anak yang menderita penyakit Introvert. Well, sejenis penyakit yang berhubungan dengan interaksi antar manusia.


Excually, she is good person. Selain baik, dia juga cantik. Namun, sayangnya Ariana memiliki kemampuan otak di bawah rata-rata. Persis dengan Clarissa.


Dan seperti yang gue bilang tadi, dia itu introvert. Didalam kelas, dia hanya sendirian. Bukannya semua teman kelas gue tidak mau berteman dengannya, justru semua teman-teman ingin mengenalnya lebih baik. Namun, sayangnya dia selalu melakukan penolakan.


Gue selalu heran dengan orang-orang seperti Ariana. Apa sih yang membuatnya selalu membatasi pergaulan? Oke, gue mengerti kalau berbicara dengan orang yang belum dikenal itu terasa sangat berat dan pastinya sangat canggung. Tapi, kalau kita tidak berusaha untuk mulai berbicara atau pun hanya sekedar basa-basi, gue rasa itu akan semakin manambah rasa canggung ketika berada di tengah-tengah banyaknya orang.


Pilihlah satu atau pun dua bahkan lebih, orang-orang yang bisa mengerti diri lo. Jangan membatasi pergaulan. Berinteraksi lah dengan banyak orang, semakin banyak lo berinteraksi, semakin banyak pula teman yang akan lo dapat.


Bahkan, ketika lo harus bergaul dengan orang-orang yang tidak beres sekali pun, lo harus tetap menerimanya. Tapi ingat, ketika lo berada di lingkungan pertemanan yang tidak baik, lo jangan sampai mengikuti mereka.


Bertemanlah, namun hanya sekedar berteman saja. Jangan terpengaruh oleh sesuatu yang tidak baik.


Kenapa gue berkata demikian? Itu karena ketika lo tidak memiliki satu orang pun yang stay di sisi lo, maka dengan mudahnya lo akan menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang memiliki penyakit kelainan jiwa, yang memiliki hobby menyiksa orang lain.


Pendiam, tidak memiliki teman, dan berpenampilan cupu. Model-model seperti inilah yang selalu dicari oleh para penderita penyakit jiwa yang anehnya bisa bersekolah di tempat manusia normal.


*_*ALGEA*_*


Kriiiiing ....


Bel pulang sekolah telah berbunyi, dan itu membuat gue merasa lega. Belajar adalah salah satu hal yang tidak terlalu menyenangkan. Tetapi anehnya, gue selalu saja mendapat peringkat tertinggi seangkatan gue.


Entahlah, mungkin ini adalah karunia Tuhan. Otak gue selalu mengingat setiap pelajaran yang diserapnya. Apa pun yang berhubungan dengan pelajaran, pasti otak gue dengan mudahnya menyimpan data pelajaran itu.


Like a screenshoot. You know?


Semisal, ketika mulut gue hanya mengatakan "Algoritma," maka secara otomatis otak gue dengan cepat merespon dan mulai mencari file Algoritma, lalu mulai memperlihatkan segala yang berhubungan dengan materi tersebut.


Gue bukannya memiliki ingatan fotografis yang bisa mengingat apa yang dilihat atau pun didengar, dan bahkan tidak akan melupakan ingatan itu, seperti Erika Guruh sang tokoh di dalam sebuah novel berjudul 'OMEN' yang ditulis oleh salah satu penulis favorite gue dan juga Clarissa, yaitu Lexie Xu atau biasa disapa dengan Kalex.


Kemampuan gue hanya bisa menyerap pelajaran. Just that! Selain pelajaran, yah gue terkadang ingat atau pun tidak ingat.


Clarissa berbalik, "Aldora, habis ini lo ada kegiatan lain gak?"


"Iya ada. Why, sisy?"


"Gak, kirain jadwal lo kosong hari ini. Sebenarnya, gue mau minta tolong dibantu ngerjain PR," ucapnya sambil tersenyum.


"Gue bisa kok. Tapi, boleh gak kalau kegiatan gue udah beres? Lo tunggu gue dirumah lo aja."


"Beneran? Um ... OMG! My lovely," ucapnya lalu memasang tampang terharu.


"Tapi, ada syaratnya yah!"


Clarissa sedikit memiringkan kepalanya, "syarat?"


Gue hanya mengangguk.


"Syaratnya apa?"


"Lo harus pinjamin gue beberapa novel lo yang kemarin baru lo beli."


Bibir Clarissa membentuk huruf O


"Bi--bisa sih, tapi kan gue sendiri bahkan belum baca."


"Terserah sih, lo mau apa gak."


Sambil menggit jarinya, "ia deh, gue pinjamin."


"Oke, sepakat?" Ucap gue sambil mengulurkan tangan.


"Sepakat!" Ucap Clarissa, lalu mengulurkan tangannya. Dan kami pun sepakat.


"Kalian lebay banget sih? Persoalan novel aja, ampe pake salam-salaman segala!" Ucap Rana.


Sebelum lo semua bingung, gue akan memberitahu kalian posisi duduk gue. Rana dan gue duduk bersebelahan, berada tepat di barisan ketiga dari depan, persis berhadapan dengan papan tulis. Sedangkan, Clarissa duduk di bangku dua, tepatnya di belakang gue dan juga Rana. Clarissa duduk bersama Aliyyah sang sekertaris kelas.


"Eh, yang lebay itu elo! Kita mah anti lebay-lebay club," ucap gue.


Clarissa hanya tersenyum mendengar ucapan gue.


"Please, gue gak lebay. Ini udah keseribu kalinya gue bilang sama lo, Aldora Weston!"


"Gak usah nge-gas kali!"


"Lo sih, nyebelin!"


"Whatever!"


Clarissa tiba-tiba bangkit, "kalau gitu gue balik duluan, yah? Dora, gue tunggu lo di rumah," ucapnya.

__ADS_1


"Oke, byeee sisy," ucap gue.


"Bye, beb," ucap Rana juga.


*_*ALGEA*_*


Ketika memperhatikan sekeliling, ternyata kelas ini sudah sepi. Satu per satu teman-teman gue mulai pergi. Mata gue menangkap sosok Ariana yang masih duduk di tempatnya, dalam keadaan kebingungan.


"Dora, ayo kita cabut!"


"Ayo ..."


Setelah itu, gue dan Rana meninggalkan kelas. Namun, entah mengapa kaki gue terasa berat. Seperti ada magnet, yang memaksa gue untuk tidak meninggalkan kelas itu.


*_*ALGEA*_*


Kini gue berada di dalam ruang ekskul kebanggaan gue. Meski pun raga gue berada di dalam sini, pikiran gue masih berada di dalam kelas.


Gue selalu kepikiran tentang Ariana. Gue takut, dia kembali disiksa oleh oknum-oknum ******* itu.


Daripada gue terus kepikiran, akhirnya gue memilih untuk mengeceknya kembali di dalam kelas. Siapa tahu, dia belum pulang.


*_*ALGEA*_*


Meskipun kemungkinannya kecil, gue tetap memilih untuk mencoba mengecek keberadaan Ariana di dalam kelas.


Ketika gue semakin mendekat dengan kelas, tiba-tiba terdengar suara hantaman pintu yang sangat keras yang berasal dalam ruangan itu.


Gue mencoba melihat dari balik jendela, apa yang terjadi di dalam kelas itu.


Deg!


Gue melihat rambut Ariana dijambak. Ketika mencoba memperhatikan dengan baik, ternyata benar dugaan gue. Ariana dibully. Dan parahnya, gue mengenali semua sosok yang berada di dalam ruangan itu.


Saat ini, gue tidak boleh gegabah.


Andai saja gue bisa mendengar apa yang mereka katakan. Sayangnya, ruang kelas ini memiliki dinding yang kedap suara. Jadilah gue hanya bisa menyaksikan mereka semua dari balik jendela luar.


Entah permainan apa yang akan mereka lakukan kepada Ariana. Salah satu anggota mereka menutup mata Ariana dan beberapa anggota lainnya mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan cairan. Gue tidak tahu apa isi dari setiap gelas itu.


Setelah menyiapkannya, gue melihat Ariana berputar-putar, lalu setelah itu dia membuka penutup mata yang dikenakannya.


Gue melihat Ariana berjalan ke arah meja yang di atasnya berisi cairan aneh. Gue takut, dia diracuni.


Gue harus menghentikannya.


Ketika mulai berjalan ke arah pintu kelas dengan sangat hati-hati, tiba-tiba gue melihat Ariana sudah meminum air dari salah satu gelas itu. Gue melihat Ariana terbatuk.


Langkah gue kembali terhenti.


Gue menghitung di dalam hati. Ternyata, itu bukan racun. Ariana masih hidup.


Tidak lama kemudian, pemimpin oknum itu kembali menjambak rambut Ariana. Lalu, entah apa yang mereka katakan, tiba-tiba seluruh oknum yang berada di dalam kelas itu mulai mendekati Ariana.


Dengan brutal mereka menghajar Ariana. Dan saat itu juga gue langsung masuk ke dalam kelas.


"Hentikan!"


Ketika mendengar dan melihat siapa yang saat ini menghentikan mereka, seketika seluruh oknum itu berhenti. Wajah mereka mulai memucat dan tubuh mereka mematung.


"I--ini gak seperti yang lo bayangin, Dora," ucap pemimpin dari para oknum itu.


"Apa lo bilang?" Gue berjalan mendekati pemimpin mereka. "Lo bilang ini gak seperti yang gue bayangin? Bagaimana kalau gue ngelakuin ini sama lo," ucap gue, lalu menjambak rambutnya, kemudian menendang lutut dia.  Sampai  posisinya seperti sedang berlutut ke arah gue.


"Ampun, Dora. Gu-gue --"


Prak!


Belum sempat dia menyelesaikan bicaranya, gue dengan cepat menampar wajahnya.


"Lo pikir, lo udah jago, hah? Emangnya lo bisa apa? Lo itu manusia! Beraninya sama yang lemah."


Gue melihat wajah pimpinan oknum yang saat ini masih dalam genggaman gue, menjadi sangat merah dan tentu saja air matanya berlinang.


"Dan lo semua," ucap gue sambil mengalihkan pandangan ke seluruh pengikutnya, "lo, mau gue hajar sampai babak belur? Biar pun jumlah kalian banyak, gue tidak akan takut. Gue sanggup membuat kalian merasakan apa itu neraka yang sebenarnya."


Dengan cepat, mereka berlari meninggalkan kelas ini. Dan meninggalkan sang pimpinan yang saat ini masih dalam genggaman gue.


"Dan lo, sampai gue ngeliat lo melakukan pembully-an lagi, liat saja. Gue akan mengirim lo ke neraka, tanpa sepengetahuan siapa pun," ancam gue kepada pimpinan itu. "Sana pergi!"


Setelah berkata demikian, sang pimpinan itu, langsung berlari secepat kilat keluar dari kelas ini.


*_*ALGEA*_*


Saat ini, gue melihat Ariana terkapar dengan darah yang berlinang di pelipisnya.


Gue harus segera mencari pertolongan.


Dengan cepat, gue menelpon Aryan, selaku wakil ketua ekskul silat yang juga merupakan salah satu teman baik gue.


Gue menunggu panggilan dijawab.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Aryan mengangkat teleponnya.


"Iya Do---"


"Aryan, dalam 30 detik lo harus sudah ada di dalam kelas gue. Kalau lo gak datang sesuai waktu yang gue tetapkan, lo akan menanggung akibatnya. Bawa anak-anak yang lain juga," ujar gue, lalu mematikan telepon.


Gue mencoba memeriksa kondisi Ariana, sambil menunggu Aryan dan lainnya datang.


Ariana masih hidup. Luka-luka yang di tubuhnya sangat banyak. Gue salut dia bisa menyembunyikan luka itu tanpa dicurigai orang.


Tidak berselang lama, Aryan dan lainnya sudah tiba di dalam kelas. Dan mereka datang 5 detik lebih cepat.


"Lo kenapa, Do---" ucapnya, lalu memalingkan pandangan ke arah Ariana. "Lo apain anak orang, sampai babak belur kayak gini?"


Gue menjitak kepalanya, "lo pikir gue yang ngelakuin ini? Cemen banget gue kalau gitu. Daripada lo banyak ngomong, sekarang lo semua bawa dia ke UKS. Kalian lewat belakang aja, biar gak terlalu menarik perhatian."


Mereka semua mengangguk.


"Gue tunggu penjelasan lo," ucap Aryan sebelum meninggalkan gue.


*_*ALGEA*_*


Setelah mereka membawa Ariana, gue langsung kembali ke dalam ruang ekskul. Setelah mengurus beberapa hal, gue akhirnya bisa selesai  dan sebelum pulang,  gue harus melihat kondisi Ariana terlebih dahulu.


Ketika hendak beranjak, tiba-tiba Aryan datang. "Dora, temen lo hilang. Sesuai yang lo perintahkan, kita bawa dia ke UKS dan kami sengaja menunggu dia sadar. Gue dan yang lain semua menunggu diluar. Karena ingin mengecek keadaannya, gue sengaja masuk. Dan ketika gue masuk, teman lo udah gak ada."


"Kok bisa gitu? Kalian gak main-main kan? I mean, masa lo gak liat dia pergi?"


"Gue serius, Dora. Dia ngilang."


"Ya sudah, mungkin dia udah pulang lewat jendela. Karena mengira kalian penjahat. Thanks yah"


"Tapi di dalam ruangan itu kan tidak ada jendela besar, Dora."


Iya juga, gue baru menyadari bahwa jendela yang berada di ruangan itu  hanya berukuran kecil.


"Jadi dia lewat mana yah?"


"Nah, kan. Eh, lo juga belum cerita dia kenapa!" Ucap Aryan.


"Nanti gue cerita. Gue balik duluan yah!"


"Oke..."


*_*ALGEA*_*


"Doraaaaa ..."


Gue berbalik. "Gak usah teriak, berisik tau!"


"Biarin!" Ucapnya. "Eh, gue pulang sama lo boleh yah?"


"Mana mobil lo?"


"Kan gue gak bawa mobil hari ini."


"Oh gitu, okedeh yuk. Tapi gue mau ke rumahnya Clarissa. Lo mau ikut gak?"


"Boleh, yuk!"


Gue dan Rana berjalan menuju parkiran. Kami berdua masuk ke dalam mobil.


Gue mulai menyalakan mesin mobil, lalu perlahan berjalan menuju ke arah gerbang. Dan saat itu juga, gue menangkap sosok Ariana.


"Itu Ariana, kan?" Tanya Rana.


"Sepertinya."


Mata gue tidak bisa terlepas dari Ariana.


"Bukannya, dia babak belur, yah? Kenapa bekas luka itu sudah tidak ada? Bahkan, luka yang dipelipisnya juga menghilang."


"Apa? Lo ngomong apa barusan?" Tanya Rana.


Gue tidak menyadari bahwa perkataan itu keluar dari mulut gue.


"Gak, bukan apa-apa," jawab gue, lalu memacu mobil dengan cepat.


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2