
Rana Inzyna Logiana (Part 7)
Gue benar-benar tidak tahu keberadaan Clarissa. Sahabat gue itu seperti menghilang dari bumi tanpa meninggalkan sedikit jejak pun. Sudah lebih dari satu jam, kami kembali melanjutkan pencarian dan hasilnya tetap nihil.
Yang gue maksud dengan kami yah, para Kakak kelas yang sangat memaksakan dirinya untuk menemani gue dan Dora untuk mencari Clarissa. Yah ... meskipun, gue tahu kalau Dora sangat tidak setuju dengan keikutsertaan para Kakak kelas itu untuk mencari Clarissa.
"Temen lo ngumpet di mana sih? Jangan-jangan, dia cuman mau nge-prank kalian aja," ucap Kak Reinan.
"Eh, mulut belut! Clarissa tuh gak mungkin ngelakuin hal semacam itu," Dora sangat jengkel mendengar ucapannya.
"Kan gue cuman curiga aja. Nih cewek mulutnya kek mercon, yah! Kenapa lo bisa suka sama cewek macam ini sih, Bram?" balas Kak Reinan.
"Apa lo bilang?! Wah, sepertinya lo memang minta ditonjok yah!" ujar Aldora.
"Rei, jangan buat dia marah. Gue hanya memperingatkan lo aja. Buat masalah sama dia, itu sama aja lo cari mati. Yah, meski pun gue selalu tertarik dengan cewek seperti itu, tapi bukan berarti gue bersedia menjadi bantal tinjunya dia. Intinya, lo harus hati-hati," ucap Kak Bram kalem.
Gue menghela napas panjang. "Udahlah, guys! Kita kan harus fokus cari Clarissa, jadi kalian jangan ada yang berantem dulu, yah!"
Sejak kami kembali melanjutkan pencarian, Aldora dan Kak Reinan tak henti-hentinya berdebat. Bukan hanya berdebat, bahkan mereka berdua saling mengkritik satu sama lain.
Sejujurnya, gue merasa Aldora adalah versi laki-laki dari Kak Reinan. Dan begitu pun sebaliknya, Kak Reinan adalah versi perempuan dari Aldora. Mereka berdua seperti sepasang saudara yang memiliki hubungan yang tidak akur yang hobbynya berkelahi dimana pun, dan kapan pun, tanpa memperdulikan orang sekitar.
Gue dan Kak Alfandi hanya bisa menyaksikan adegan saling melempar makian itu.
"Iya, benar kata Rana. Kalian kalau mau berkelahi atau mau cari ... siapa tadi nama temen lo?" Tanya Kak Alfandi.
"Clarissa, Kak."
"Oh, Clarissa. Oke! Sekarang, bagaimana kalau kita berpencar? Kita coba cari sekali lagi. Kalau sampai kita tetap tidak menemukan temen lo, terpaksa kita harus memanggil kepolisian untuk membantu. Bagaimana kalau dia diculik? kan malah makin parah! Bukannya dengan cepat menyelamatkan dia, kita malah membuatnya tidak bisa tertolong karena terlalu sibuk untuk mencari."
Apa yang dikatakan Kak Alfandi benar.
Aku tidak bisa membayangkan kalau Clarissa benar-benar diculik. Meskipun dia anak yang lelet, dan juga sedikit ceroboh, Clarissa merupakan calon penerus perusahaan yang saat ini di kelola oleh Daddy-nya.
Perasaan gue menjadi semakin tidak karuan
Bagaimana kalau yang menculik Clarissa merupakan salah satu pesaing perusahaannya Daddy? Dia sengaja menyandra Clarissa untuk membuat Daddy menjadi lemah?
Atau para penculik itu memang sudah lama mengintai Clarissa. Karena mengetahui Clarissa adalah anak berstatus ekonomi tinggi, makanya mereka dengan sengaja merencanakan penculikan dengan tujuan untuk mendapatkan uang tebusan?
__ADS_1
Sungguh! Semakin gue berpikir kemungkinan yang terjadi, semakin pusing pula kepala ini.
Gue berpaling ke arah Dora. Ketika berpaling, mata kami saling bertemu. Sepertinya, Aldora sejak tadi memang sudah memandangi gue.
"Gue tahu apa yang saat ini ada dipikiran lo," ucap Dora.
"Memangnya apa?"
"Lo pasti berpikir yang tidak-tidak, bukan? Lo pasti berpikir kalau Clarissa bener-bener di culik? Apakah gue salah tebak?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
"Gak! Lo bener. Tapi, kok lo bisa tahu sih?"
"Iyalah! Gue bukan baru bersahabat sama lo satu, dua tahun yah! Kita bersahabat udah bertahun-tahun lamanya. Gue langsung bisa tahu semua itu dari ekspresi wajah lo. Apalagi, ditambah lo punya penyakit lebay yang tiada tanding. Yah, jadilah dengan mudah gue bisa mengetahuinya," ujar Aldora.
"Gue gak lebay, yah!"
" Bodo, ah!"
Kak Bram menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arah kami semua.
"Kita berpencar di sini. Dan seperti yang dikatakan Al barusan, kita akan mencari Clarissa satu kali lagi. Kalau kita tidak berhasil, kita meminta bantuan aparat."
"Jangan! Jangan membuat kedua orangtuanya khawatir. Biar kita yang cari dulu. Aku punya feeling, kalau kita bisa menemukan Clarissa," ucap Kak Alfandi, mantap.
"Al, tumben lo tertarik banget mencari orang seperti ini? Biasanya, juga lo ogah-ogahan," ucap Kak Reinan.
"Yang sering ogah-ogahan mah, elu! Gue mah anaknya baik hati dan suka menolong. Bener kan, Bram?"
Kak Bram menatap kedua temannya dengan tatapan pasrah. "Iya-in aja deh."
"Lo kok gitu sih, Bram? Kan gue emang anaknya rajin membantu, baik hati, tampan, tajir, plus suka menabung."
"Serah lu, lah! Saat ini kita gak usah membahas segala kenarsisan lo. Lo dan Rei sama aja, yah, sama-sama narsis," ujar Kak Bram.
"Jangan sama kan gue dengan si Rei. Dia lebih parah dari gue, tahu!"
"Maaf nih yah Kakak-kakak sekalian, bisa tidak kita fokus saja mencari Clarissa? Seperti yang dikatakan Kak Alfandi tadi, kita harus bergerak cepat. Jangan sampai Clarissa benar-benar di culik, dan kita semua malah sibuk berdebat dan mengkritik satu sama lain."
Semua langsung terdiam mendengarkan perkataan gue yang sedikit bernada tegas.
"Maaf Sissy, sepertinya gue udah kelewatan," ucap Aldora merasa bersalah.
__ADS_1
"O--okey, bagaimana kalau kita bagi sekarang aja timnya?" saran Kak Alfandi.
"Jangan sekarang, tahun depan aja!" celetuk Kak Reinan yang secara otomatis langsung mendapat tatapan horor dari kami semua. "Kalian kenapa sih? Gue kan cuman bercanda!"
"Gak usah mulai lagi deh, Rei!" Ujar Kak Bram. "Gue yang akan membagi timnya. Gue sama Dowes satu tim, sedangkan kalian bertiga di tim yang sama," ucap Kak Bram lagi
"Lo kira ini kelompok belajar, atau kelompok olahraga? Main bagi tim-tim segala!" ujar Kak Reinan lagi.
"Gak usah dengerin bebek satu ini. Kita langsung bergegas cari temen lo aja!" Ucap Kak Alfandi.
"Siapa yang lo bilang bebek?" Tanya Kak Reinan kesal.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Kak Reinan, Kak Alfandi langsung memberi kode agar kita segera pergi.
"Woi! Tungguin gue!" Ujar Kak Reinan.
Dan akhirnya, kami bertiga pun segera melesat mencari Clarissa.
Dari kejauhan, samar-samar gue mendengar suara Aldora yang memaki-maki Kak Bram karena tidak sudi menjadi rekannya dalam pencarian.
Gue berharap, kali ini Clarissa benar-benar ketemu.
Tuhan, bantu kami untuk menemukan Clarissa. Jauhkan segala bahaya darinya. Lindungilah sahabatku.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG**
__ADS_1