
ALDORA WESTON (Part 1)
'Ratu Preman'. Yap! Itulah predikat yang gue dapat dari seluruh penjuru sekolah. Awalnya, gue tidak suka dengan panggilan itu. Yah, karena gue merasa panggilan itu terdengar sangat cupu. Namun, belakangan gue mulai sedikit menyukainya.
Berkat predikat tersebut, semua orang di sekolah dengan mudahnya tunduk dan menurut dengan apa saja yang gue katakan atau gue perintahkan. Dan itu termasuk para guru. Namanya juga Ratu, kan?
Sebenarnya, gue tidak tahu kenapa gue sampai bisa mendapat panggilan seperti itu. Kalau disuruh pilih, antara menjadi murid populer atau menjadi murid biasa-biasa saja. Tentu saja gue akan memilih menjadi murid biasa.
Gue tidak suka terlalu mencolok. Namun, karena wajah gue yang memiliki campuran Jerman-Indonesia terlalu menonjol, jadilah gue tidak bisa lari dari yang namanya kepopuleran.
Bukannya gue memiliki penyakit kepedean atau narsis. Tetapi, ini semua adalah fakta.
*_*ALGEA*_*
Jadilah kuat, sekuat baja.
Kalimat itu adalah penyemangat bagi gue untuk tetap menjadi seorang yang tangguh dan tidak pernah putus asa.
Didunia ini, terdapat tiga jenis manusia. Pertama, seseorang yang memilih diam namun memiliki segudang ilmu dan juga prestasi, serta selalu menjaga hubungan baik sesama manusia.
Yang kedua ialah, seseorang yang selalu berkoar-koar, namun tidak mempunyai apa-apa. Seperti kata pepatah 'tong kosong, nyaring bunyinya'. Dan pastinya orang-orang seperti mereka, selalu saja akan membuat kerugian bagi orang lain.
Dan yang terakhir adalah, seseorang yang memiliki banyak bakat dan juga prestasi yang cemerlang, namun sayangnya dibalik itu semua, orang itu tidak memiliki attitude yang baik.
Gue berharap kalian mengerti dengan apa yang gue katakan.
*_*ALGEA*_*
Apa yang akan kalian rasakan ketika mendengar kata 'pembully-an'?
Marah? Kesal? Atau malah senang?
Gue tidak tahu dengan kalian, tapi secara pribadi gue sangat membenci kata itu.
Pembully-an yang dilakukan oleh beberapa oknum yang merasa dirinya sudah hebat atau berkuasa itu membuat darah gue mendidih.
Dulu, gue mempunyai seorang adik laki-laki. Mami dan Papi mengadopsinya dari panti asuhan saat dia berumur tiga tahun. Meskipun bukan saudara kandung, gue sangat menyayanginya.
Hal yang paling gue inginkan adalah menjadi seorang Kakak. Dan kedua orangtua gue mengabulkan keinginan itu.
Adik laki-laki gue bernama Atala. Dia anak yang periang dan juga ramah. Gue sangat senang Atala bisa masuk ke dalam keluarga ini.
Waktu itu Atala menginjak usia empat belas tahun. Dia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Semua orang di sekolah itu selalu dibuat terkagum dengan Atala. Selain karena memiliki wajah yang tampan, dia juga memiliki otak yang brilian. Segudang penghargaan berhasil direbutnya dan itu membuat nama sekolahnya menjadi harum.
Kedua orangtua gue sangat bahagia dan juga bangga dengan Atala. Terutama gue sebagai Kakaknya yang selalu menjadi tempat berbagi suka dan duka bersama.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Senyum lebar dan juga bangga yang selalu terpancar di wajah gue, seketika berubah menjadi datar tanpa ekspresi sewaktu mengetahui bahwa adik yang selama ini gue bangga-banggakan terkena musibah.
__ADS_1
Adik gue meninggal. Dia tewas karena dibully oleh teman-temannya di sekolah.
Saat mengetahui hal itu, hati gue hancur berkeping-keping. Kematian Atala membuat gue seperti kehilangan setengah dari diri gue. Adik kesayangan gue sudah tidak bersama gue lagi. Membayangkan hari-hari gue tanpanya, membuat perasaan ini semakin terasa sakit.
Dan yang membuat gue semakin bertambah lemas ialah, Atala menulis surat untuk gue dihari terakhir dia hidup.
Salam hormat untuk kapten Aldora. Hai Kak. Aku gak tahu surat ini bisa sampai ditangan Kak Dora, atau tidak. Tapi aku sangat berharap Kakak bisa membaca surat ini. Aku cuman mau bilang, maaf. Maaf karena aku tidak bisa menjadi adik yang baik untuk Kak Dora. Aku tidak bisa menjadi apa yang Kakak mau. Sekali lagi maaf. Aku mau Kakak tahu kalau aku saaaaayang sekali sama Kakak. Terimakasih karena sudah menerimaku dan menyayangiku layaknya saudara kandung. Sory and thankyou so muchπβ€β€.
-Atala Wetson
*_*ALGEA*_*
Setelah insiden pembully-an yang dialami oleh Atala, gue jadi trauma dengan segala hal yang berhubungan dengan kata 'bully'. Dan saat itu gue bersumpah akan membasmi segala macam bentuk pembully-an yang terjadi dilingkungan gue.
Dengan berbekal bela diri karate, gue akan memberi pelajaran bagi para oknum-oknum yang suka menyiksa oranglain. Gue bersumpah akan membalas mereka jauh lebih menyakitkan dari apa yang mereka lakukan.
*_*ALGEA*_*
"Aldoraaaaaaaa ...."
Gue tahu suara cempreng yang menyebalkan itu. Siapa lagi orang yang berani meneriaki nama gue dengan sangat lantang, selain Rana Inzyna Logiana, sahabat gue yang memiliki tingkat kealay-an melebihi batas manusia normal.
Gue sengaja tidak berbalik.
"Woi! Congeee ..."
Akhirnya, gue berbalik, lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Apa lo bilang?"
"Lo ngapain lari-lari sih?"
"Gue gak lari. Ini namanya jalan cepat," jawabnya.
"Really? Tapi kok, dari nada bicara lo terdengar seperti habis lari gitu?"
"Gue jalan cepat, Dora. Bukan lari!"
"Serah deh!" Sambil memutar badan, lalu kembali melangkah.
"Tungguin dong!" ucap Rana sambil ikut berjalan di samping gue.
"Lo udah selesai?" Tanyanya.
"Iya, lo?"
"Gue juga. Yuk, langsung balik aja," ucapnya.
Gue hanya mengangguk.
*_*ALGEA*_*
Akhirnya, kami berdua sampai di parkiran mobil. Gue dan Rana langsung menuju ke mobil masing-masing. Kebetulan, mobil kami berseblahan.
__ADS_1
Ketika membuka pintu mobil, tiba-tiba Rana memanggil gue.
"Dora!"
"Apa?"
Rana mengarahkan telunjuknya ke arah gerbang sekolah. "Itu, bukannya Ariana? Kok dia pucat?"
Gue melirik ke arah Ariana, benar kata Rana. Ariana terlihat pucat. Karena mata gue memiliki ketajaman hampir mirip dengan burung elang, gue menangkap sesuatu yang aneh di atas pelipis dan juga lengannya.
Ada yang tidak beres dengan Ariana.
Jangan-jangan dia jadi korban bullying, lagi?
"Doraaaa!"
Gue tersentak kaget.
"Lo udah mirip Clarissa deh suka ngelamun-ngelamun," ucapnya.
"Sory sisy. Mungkin, Ariana lagi gak enak badan."
"Iya kali yah. Pasti dia juga udah ditunggu sama sopirnya," ucap Rana.
"Yuk, langsung balik aja."
"Yuk!"
Ketika melewati Ariana, gue baru menyadari bahwa Ariana tidak hanya memiliki memar dilengannya saja. Memar itu juga ada di betis dan juga wajahnya.
Sepertinya gue harus bertindak. Sebelum, semuanya terlambat.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
*
Bersambung
__ADS_1