
CLARISSA WIRATMADJA (2)
Hari ini menjadi sejarah bagiku selama menempuh pendidikan di sekolah ini. Itu karena untuk pertama kalinya, aku datang mendahului seluruh murid yang ada di kelas. Lebih tepatnya sih, kepagian. Penyebabnya karena aku salah menyetel alarm. Pantas saja, Mommy dan Daddy menjadi kebingungan melihat kepanikan ku di rumah tadi.
Bahkan, aku tidak sempat sarapan. Selain itu, aku juga tidak memanaskan mobil ini terlebih dahulu sebelum kugunakan.
Saat berada di sekitaran jalan Salampe, aku baru menyadari bahwa matahari baru saja ingin memunculkan dirinya. Jadilah, aku datang ke sekolah pagi- pagi buta seperti ini.
Begitu tiba di sekolah, aku mengedarkan pandangan ke sekitar, ternyata suasana sekolah begitu damai dan tenang dipagi hari.
"Ichaaa ... selamat pagi," sapa mahluk berwujud gendoruwo yang menjadi penunggu salah satu pohon yang berada diparkiran sekolah.
Kalau biasanya genderuwo terkenal akan wajahnya yang seram dengan postur tubuh yang besar dan menyeramkan serta kebiasaannya mengganggu manusia.
Entah mengapa, mahluk satu ini tidak pernah melakukan hal yang membuat manusia terusik. Yah, meski pun wajahnya masih tetap seram. Namun diantara semua mahluk sebangsanya, hanya dia yang memiliki aura positif yang pernah kujumpai.
Ohiya, aku lupa memberitahu kalian bahwa para hantu memanggilku, Icha. Mereka menganggap bahwa nama itu lebih cocok denganku.
"Pagi pak Gen," ucapku sambil tersenyum.
"Hari kamu datang pagi sekali."
"Iya nih Pak Gen. Icha salah menyetel alarm, jadinya datang sepagi ini deh," ucapku lalu mulai berjalan. "Icha masuk dulu yah, Pak," tambahku lagi.
Pak Gen alias Gendoruwo hanya mengangguk.
Setelah sampai di kelas, aku langsung masuk lalu menduduki tempatku. Sambil berharap ada yang datang lagi selain aku.
Namun begitu menduduki kursi, tiba-tiba hawa dingin menerpa punggungku yang mengakibatkan seluruh buluk kudukku bergidik dengan sendirinya.
Meskipun aku seorang indigo, terkadang aku juga bisa lari terbirit-birit karena melihat hantu yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Icha ... tumben kamu cepat datang?" aku langsung menoleh ke arah sudut kanan kelas.
Ternyata itu adalah Bina. Dia merupakan hantu yang menetap di kelasku dan juga salah satu teman hantuku di sekolah ini. Kini ia sedang berdiri di pojokan kelas dekat dengan pintu.
"Iya nih, ak-" ucapku terhenti. Aku terkejut melihat Ariana yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kelas dengan ekpresi wajah yang sedikit ... menyeramkan.
Dia hanya berdiri di depan pintu dengan mata mentap lurus ke depan.
Ada yang aneh dengan Ariana.
Aku memperhatikannya mulai dari ujung kaki sampai kepala. Entah mengapa penampilan Ariana sangat berbeda hari ini.
Baju yang tadinya dibiarkan melonggar, kini dipermak menjadi lebih ketat. Rok panjangnya juga berubah menjadi rok pendek. Rambutnya berubah. Yang dulunya dibiarkan panjang begitu saja, sekarang dia memotongnya dengan model yang sedang tren saat ini. Dan wajahnya dipoles dengan makeup ringan yang membuatnya tampak lebih cantik dari biasanya.
Aku berfikir, mungkin karena sesuatu hal terjadi padanya yang menyebakan dia sampai merubah penampilannya seperti ini.
Meskipun ingatanku buruk, namun aku belum melupakan raut wajah sedih Ariana kemarin. Mungkin karena itu.
Aku tahu zaman sekarang orang-orang memiliki kebiasaan yang sangat aneh. Misalkan ketika putus cinta. Mereka pasti akan melakukan perubahan. Baik terhadap penampilan, atau pun yang lain yang membuatnya seakan-akan mendeklarasikan bahwa dirinya sudah terlepas dari sesuatu yang mengekang, membuat sial, dan yang lain. Intinya, semacam menujukkan bahwa 'Now, I'm feel free'.
Karena menyadari aku sedang memperhatikannya, mata Ariana yang tadinya hanya menatap lurus ke depan, kini tiba-tiba beralih ke arahku.
Deg!
Entah mengapa, ketika mata kami saling bertemu, seluruh tubuhku menegang dengan sendirinya, jantungku juga berdetak sangat cepat dan perlahan aku merasa ketakutan mulai menyelimuti diriku.
Ada apa ini?
Mengapa Ariana yang tadinya selalu tersenyum ramah dan ceria, kini berubah menjadi Ariana yang sangat dingin dan menakutkan?
Masalah seberat apa yang dia alami sampai membuatnya sampai berubah drastis seperti ini?
Oke pertanyaan yang mungkin tidak bakalan terjawabkan terus bermunculan dibenakku.
Kini Ariana mulai melangkah masuk ke dalam kelas. Ketika berjalan melewatiku, entah mengapa aku melihat sekelabat aura hitam yang muncul dari balik tubuhnya. Namun, saat mencoba memperhatikannya kembali, aura hitam itu sudah menghilang.
Kursi Ariana terletak di deratan dua dari belakang, sedangkan kursiku berada di deretan dua dari depan. Tetapi, bangku kami tidak se-barisan. Kalau dari arah pintu masuk kelas, dia duduk di jejeran bangku pertama dekat dengan tembok, kemudian aku berada di jejeran bangku yang berada ditengah, persis di depan papan tulis.
Karena perasaan takut itu masih berselimut di dalam diriku, lebih baik aku meminta bantuan Bina untuk mengecek benar atau tidaknya apa yang tadi tertangkap oleh mataku.
Ketika mencoba meminta tolong kepada Bina untuk mengeceknya, dia hanya terdiam kemudian menghilang begitu saja.
Sekarang, di dalam kelas ini hanya ada aku dan Ariana. Sungguh, aku benar-benar ketakutan setengah mati. Entah mengapa, kedua kakiku ini menjadi lemas setelah bertatapan mata dengannya tadi.
Aku juga masih penasaran apa yang terjadi dengannya.
Sebenarnya aku bukan orang yang kepo seperti Dora yang bisa dengan cepat mencari informasi baik yang penting maupun yang tidak penting sekaligus. Namun, entah mengapa kali ini insting ke-kepoanku tiba-tiba on. Mungkin, ini akibat aku mempunyai sahabat seperti Aldora yang memiliki penyakit kepo akut.
Karena penasaran, aku mencoba untuk menyapanya. Tetapi, ketika aku berbalik ke belakang seketika niatku untuk menegurnya menjadi sirna. Aku mendapatinya sedang menatap lekat-lekat ke arahku dengan sorot mata yang tajam.
Dia tidak seperti Ariana yang ku kenal.
Untuk kedua kalinya, mata kami saling bertemu dan lagi-lagi membuat tubuhku mematung. Bukan karena dia mahluk tak kasat mata yang memiliki wajah seram yang menakutkan, dan bukan juga karena dia melakukan hal-hal aneh seperti tiba-tiba menari zumba.
Tak lain karena saat ini dia sedang menyeringai ke arahku. Seringai yang sangat menakutkan.
Aku langsung cepat-cepat berpaling dan kembali menghadap ke depan. Aku merasakan tanganku bergetar hebat. Aku sebaiknya pergi dari kelas ini. Perasaanku makin tidak enak ketika melihat seringainya yang menakutkan itu.
"Aaaaaaaaah ....."
Ketika aku berdiri dari kursi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat lantang dari arah luar sana.
*_*ALGEA*_*
Mendengar suara teriakan, spontan membuatku berlari mencari arah sumber suara itu.
Namun ketika menemukannya, aku melihat Viu yang merupakan teman se-kelasku sudah tergeletak di bawah tanah sambil menangis histeris. Siswa-siswi lain yang jumlahnya masih sedikit juga ikut cemas dengan Viu yang tiba-tiba berteriak histeris.
"Lo kenapa, Viu?" tanyaku.
Dia menoleh ke arahku. "Clarissa ... itu," ucapnya sambil menunjuk ke atas pohon yang berada tepat di hadapan kami.
Aku beserta para siswa lain mengikuti arah telunjuk Viu.
Dan seketika kami semua terkejut. Ada yang langsung berteriak, ada yang menangis, bahkan ada yang pingsan. Namun, aku hanya membeku melihatnya.
Aku sampai detik ini masih tidak percaya dengan apa yang kini tertangkap oleh kedua mataku.
Pemandangan ini benar-benar menakutkan.
Di atas pohon tergantung sebuah mayat yang memakai seragam sekolah yang sama dengan kami.
Wajahnya putih pucat, kedua matanya terbelalak seperti ingin keluar dari posisinya, mulutnya menganga lebar. Aku tidak yakin, namun mulut mayat ini terbuka lebar persis seperti hantu difilm horor yang berjudul 'Pulau Hantu'. Aku tahu film itu karena Rana yang memaksaku menemaninya menonton.
Mengerikan sekaligus menakutkan.
Para guru beserta staf yang juga melihat ada mayat yang tergantung di atas pohon tersebut, segera memanggil kepolisian dan petugas medis.
*_*ALGEA*_*
Lima belas menit kemudian, terdengar suara sirine dari mobil kepolisian lalu disusul pula dengan suara sirine ambulans yang sudah tiba di sekolah. Karena jarak sekolah dari rumah sakit dan juga kantor kepolisian lumayan dekat, jadi kita tidak perlu menunggu lama.
__ADS_1
Setelah tiba, para pihak berwajib dan para petugas medis tersebut berusaha menurunkan mayat itu.
Aku berusaha menerawang, apakah yang terjadi dengannya sebelum dia memutuskan untuk mengakhiri diri seperti ini?
Namun, ketika melakukannya aku tidak bisa melihat apa pun.
Ketika mencoba berinteraksi dengan mahluk halus yang berada di sekitar pohon itu, entah mengapa mereka semua hanya menggelengkan kepalanya lalu kemudian menghilang begitu saja. Termasuk juga pak Gen yang merupakan penjaga terkuat yang berada di sekolah ini. Dia juga tidak memberiku jawaban sama sekali.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Namun entah mengapa kedua mataku langsung menangkap sosok Ariana di tengah kerumunan orang.
Saat mayat itu di turunkan, aku memperhatikan ekspresi Ariana.
Dia tersenyum.
Senyuman yang bisa kuartikan sebagai 'rasa kepuasan, mungkin?'
Kenapa dia bisa tersenyum seperti itu disaat semua orang histeris menyaksikan kondisi mayat yang sangat mengenaskan tersebut?
Mata yang tadinya menatap ke arah mayat, entah mengapa kini tiba-tiba merubah haluannya. Kedua mata itu kini sedang menatap lurus ke arahku. Untuk ketiga kalinya mata kami bertemu.
Ketika saling bertatapan, aku melihat tatapan itu kosong. Aku tidak melihat seorang Ariana di dalamnya. Yang ada hanya, gelap.
Setelah menatapku, dia kembali memandang mayat yang sudah berhasil di turunkan tersebut.
Namun belum semenit, dia kembali mengarahkan kedua matanya lagi ke arahku, kemudian diiringi dengan seringainya yang menakutkan. Setelah itu, Ariana keluar dari kerumunan lalu pergi begitu saja.
Sebenarnya ada apa dengannya?
*_*ALGEA*_*
Setelah melewati serangkaian penyelidikan oleh pihak kepolisian. Akhirnya, mayat itu dibawa ke rumah sakit untuk ditindak lanjuti.
Siswi yang mengakhiri diri dengan menggantungkan tubuh ke atas pohon itu, bernama Ananda Ardiansyah. Dia duduk dikelas sebelas IPS satu.
Pastinya, nama itu sangat asing ditelingaku. Karena aku tidak mengenalinya sama sekali. Menurut cewek-cewek yang sedang bergosip tepat dihadapanku, Ananda merupakan salah satu siswi terpopuler di sekolah. Berarti status dia sama dengan kedua sahabatku. Yah, meskipun sama, aku yakin mereka berdua jauh lebih populer dari Ananda.
Ohiya, tadi aku juga sempat mendengar dari guru, kalau kemarin dia masih sempat melihat Ananda berlatih diruang ekskulnya.
Lagi-lagi aku mengatakan bahwa, aku bukan orang yang kepo. Aku bisa mengetahui semua informasi ini karena orang-orang di sekitarku lah yang berbicara dengan sendirinya. Dan lagi, aku punya telinga.
"Ih, serem banget! Gue gak bisa tidur nih entar malam," ucap seseorang disampingku.
"Duh, kenapa juga dia pake acara bunuh diri di sekolah, sih? Kenapa gak dirumah atau ditempat lain aja? Kan bikin orang jadi takut!" tambahnya lagi.
Orang-orang yang mendengarnya seketika menatap penuh arti ke arah cewek berambut ikal tersebut . Mungkin, ada yang setuju dan ada juga yang tidak.
Aku tidak suka mendengarnya. Meski pun ia meninggal dalam kondisi mengenaskan, sebaiknya kita tidak berkata demikian. Aku yakin, pasti dia memiliki alasan mengapa sampai berani melakukan hal seperti itu.
*_*ALGEA*_*
Para siswa dan siswi juga semakin banyak berdatangan. Ada yang masih sempat melihat mayat itu diturunkan lalu dibawa ke rumah sakit. Dan ada juga yang tidak sempat melihatnya sama sekali.
Meski pun mayatnya sudah dibawa pergi, namun para siswa dan siswi baik yang baru mau pun yang sudah lama datang disekolah, mereka masih tetap berkerumun di bawah pohon itu.
Aku terkejut ketika merasakan seseorang tiba-tiba merangkul bahuku.
"Good morning, bie ..."
Aku pun langsung menoleh.
Ternyata itu adalah Aldora.
"Oh, God! Aku kaget banget Dora."
"Sory cantik. Eh tapi Ini ada apa yah, Cla? Kok sampai ramai begini?" tanya Dora.
"Hm ... ta--- tadi ada mayat tergantung di atas pohon itu," ucapku terbata sambil menunjuk ke arah pohon yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) tersebut. Lalu kemudian menarik nafas dalam-dalam.
Sumpah, aku baru menyadari bahwa sedari tadi aku sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bahkan bernafas pun terasa susah. Itu karena hari ini aku menyaksikan beberapa hal yang sangat mengerikan.
Dimulai dari Ariana dengan segala keanehannya, dan yang paling mengerikan adalah penemuan mayat tadi.
"HAH?!" pekik keduanya.
"Yang bener lo?" tanya Aldora lagi.
"Eh, gue tanya sama lo. Sejak kapan sih, yang namanya Clarissa tau bohong?" ujar Rana yang membuat Aldora terkejut.
"Ohiya, yah. Aku lupa kalau anak ini gak bisa bohong," jawab Aldora sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. "Maaf, Cla."
Aku hanya mengangguk.
"Trus, sekarang mana mayatnya?" tanya Aldora.
"Sudah dibawa ke RS. Kenapa kalian datangnya lama banget, sih?"
Kedua sahabatku ini saling bertatapan, lalu kemudian menatap heran ke arahku.
"Mestinya kami yang nanya. Kok lo datangnya pagi banget? Ini padahal masih jam 7.00, loh! Yah, meskipun lima belas menit lagi bell masuk udah bunyi, sih," ujar Rana.
"Gue salah stel alarm."
"Klasik banget jawaban lo Cla," ucap Aldora yang di iringi tatapan horor dari Rana. "Bercanda kok gue," ujarnya lagi.
"Untung gue gak ngeliat. You know, I'm afraid of gosh! Takutnya, gue jadi gak bisa tidur ampe berminggu-minggu. Kalau gak bisa tidur, entar gue sakit. Kalau gue sakit, siapa yang mau ngawasin para oppa gue yang entar lagi bakalan come back," ucap Rana dengan raut wajah cemas.
"Yes, you are. But I confuse, why you always watching horror movie? "
"Biarin. Kan, suka-suka gue!" jawab Rana.
"Lebay, lo!" Ucap Aldora.
Rana hanya menjulurkan lidahnya.
Ngiiiing....
Suara fals dari alat pembesar suara yang kini dipegang oleh kepala sekolah, berbunyi dengan sangat kerasnya. Membuat kami semua seketika menutup telinga.
Ngilu banget.
"Anak-anak sebentar lagi bel masuk sudah berbunyi. Jadi, bapak harap kalian tidak usah berkumpul lagi di bawah pohon itu. Sekarang, kalian semua masuk ke kelas masing-masing."
Ucapan itu membuat seluruh siswa dan siswi seketika langsung menjadi anak yang penurut dan mengikuti perkataan bapak kepala sekolah.
Itu karena beliau terkenal dengan ketegasannya terhadap murid-murid yang tidak mau mengikuti perintah dan menuruti peraturan sekolah. Jadinya, tidak ada yang berani membantahnya.
*_*ALGEA*_*
Entah mengapa, aku merasa ada yang ganjil dari kejadian ini.
Sekolahku memiliki dua gerbang.
__ADS_1
Gerbang pertama yaitu kawasan parkiran. Dimana seluruh siswa dan siswi serta para staf sekolah memarkirkan kendaraannya.
Selain itu, di samping kanan dari gerbang pertama, kita juga dapat menjumpai deretan ruang ekskul yang beraneka ragam.
Gerbang kedua. Ketika melewati gerbang ini, kita langsung disuguhkan dengan pemandangan lapangan yang luas serta deretan ruang-ruang kelas yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Nah, pohon itu terletak di gerbang pertama. Sewaktu aku datang lalu memarkirkan kendaraan, aku tidak melihat ada mayat tergantung sebelumnya. Dan aku yakin, anak-anak yang datang kepagian sepertiku juga tidak melihat apa pun yang mencurigakan.
Jadi, sejak kapan mayat itu tergantung?
*_*ALGEA*_*
Saat ini aku sudah berada di tempat kejadian perkara. Aku sengaja mendatangi pohon yang kini tepat di hadapanku setelah semua pelajaran selesai.
Alasannya, karena aku yakin tidak akan ada yang berani mendekati pohon itu ketika sekolah sudah mulai sepi. Pastinya, mereka akan takut kalau tau-tau arwah gadis yang tergantung tadi muncul di hadapan mereka.
Dan aku benar. Begitu sampai, pohon yang berada di area parkiran ini sudah sepi.
Aku mencoba melirik ke kanan dan ke kiri. Aman.
Aku mengamati pohon ini dengan seksama, lalu mencoba meletakkan telapak tangaku ke bagian tubuhnya, agar aku bisa merasakan energi yang disimpannya.
Pohon memang tidak bisa berbicara. Namun, dia selalu menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi di sekelilingnya.
Aku mencoba memejamkan kedua mataku dan memusatkan konsentrasi agar apa yang kucari bisa segera ku temukan.
Namun, ketika konsentrasiku sudah terkumpul lalu menampakkan sebuah bayangan putih menyerupai gadis yang ku cari. Tiba-tiba aku terkejut dengan sebuah tepukan di atas pundakku yang seketika membuat konsentrasiku menjadi buyar.
"Lo ngapain di sini?" Tanyanya.
Aku berbalik ke arah orang yang menegurku.
"Lo gak tau yah, kalau tadi ada yang bunuh diri di pohon ini?" Tanyanya lagi.
"Tau kok!"
"Trus, ngapain lo ke sini?" Tanyanya lagi.
"Lo juga ngapain di sini?"
"Eh ditanya malah balik nanya. Kalau lo tanya ngapain gue ada di sini, jawabannya ada itu karena gue terkejut melihat ada seorang gadis berambut panjang berada di lokasi tempat bunuh diri beberapa waktu yang lalu."
"Ngeri yah? Maaf deh. Lo gak usah takut. Gue manusia kok, sama kayak lo."
"Gue tau! Makanya gue nyamperin lo ke sini. Ngapain sih ke sini? Gak takut apa, kalo arwah yang bunuh diri tadi ngikutin lo?"
Aku malah lagi nyari arwah itu.
"Hm ... anu. I-- itu"
"Anu- itu apa? Ngomongnya yang jelas," ujarnya.
"Ga--- gak ngapa-ngapin kok."
Dia menepuk jidatnya.
"Yaudah, lo jangan lama-lama di sini. Btw, nama lo siapa?"
"Nama gue Clarissa," jawabku.
Aku menunggunya untuk segera mengucapkan kata perpisahan. Kalau dia terus di sini aku jadi tidak bisa berkonsentrasi.
Dia menatapku dengan tatapan aneh.
"Lo gak nanya balik ke gue?"
" Hah? Ehm ... emang mesti nanya balik yah?"
Tiba-tiba mimik wajahnya berubah.
"Astaga ... yaiyalah! Apalagi yang bakal ditanya itu cowok paling tampan dan keren di sekolah ini," ucapnya dengan pongah. "
"Lo narsis yah?"
"Gue gak narsis. Ini emang fakta. Gue Alfandi. Ketua geng The Tiger," ucapnya lalu kemudian mengecek jam yang berada ditangannya. "Gue cabut dulu yah. Eh, ini punya lo?"
Aku melirik benda yang berada ditangan cowok yang bernama Alfandi ini.
Surat?
Perasaan aku tidak menyimpan atau pun membawa surat.
Lalu cowok itu menyodorkan benda tersebut kepadaku, lalu kemudian pergi begitu saja.
Aku pun mulai mengamati benda yang kini berada ditanganku. Surat berwarna putih polos dengan tanda A diujung amplopnya.
Karena penasaran, aku langsung membuka surat tersebut.
AKU YANG SALAH. MAAFKAN AKU. AKU ***MEMANG LAYAK MENDAPATKAN PEMBALASAN. SEBAGAI BENTUK PENYESALAN, AKU AKAN MENYERAHKAN JIWAKU.
-ANANDA***
Setelah selesai membaca surat singkat ini, tiba-tiba hawa dingin menyapu kulitku yang membuat buluk kuduk ku seketika bergidik. Aku langsung berbalik ke arah pohon itu lagi.
Lalu ketika berbalik, arwah dari gadis yang tadi pagi telah membunuh dirinya sendiri itu tiba-tiba menampakkan sosoknya. Sekarang, wujudnya persis dengan para kuntilanak yang berada disekolah ini.
"Kamu yang menulis surat ini?"
Arwah itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu membunuh dirimu sendiri?"
Dia menatap lurus ke arahku. Aku bisa melihat raut wajahnya yang sedih dan .... marah?
"Bolehkah aku mengetahui kenapa kamu bisa sampai bunuh diri?
Dia kembali menggelengkan kepalanya, kemudian menghilang begitu saja.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG