ALGEA

ALGEA
BAB 6 (Terjadi Lagi)


__ADS_3

Rana Inzyna Logiana (Part III)


Kriiing ...


Bel sekolah telah berbunyi. Itu pertanda bahwa saat ini waktu menunjukkan pukul 07.15 pagi.


Suasana sekolah yang awalnya tenang, kini semakin hiruk-piruk dikarenakan siswa dan siswi yang mulai berdatangan.


Peraturan di sekolah gue, jikalau ada siswa ataupun siswi yang terlambat, maka ia akan mendapatkan sanksi. Adapun sanksi yang diberikan ialah tidak diizinkan untuk mengikuti pelajaran sekolah. Lebih tepatnya, disuruh pulang.


Seperti hari ini, ketika gue sampai di sekolah, nyaris saja pintu pagar itu tertutup. Kalau saja pagar sekolah sudah tertutup, maka siap-siap untuk back to home.


Gue selalu senang datang ke sekolah dan gue tidak menyukai hal seperti tidak pergi sekolah ataupun keterlambatan.


Karena kalau gue terlambat, tentu saja gue bakalan tertinggal pelajaran. Yah, meskipun itu hanya satu hari, gue tetap tidak terima.


Ketinggalan pelajaran adalah salah satu hal yang paling gue benci.


Untung saja, dewi keberuntungan masih melindungi gue hari ini.


Dengan secepat kilat, gue langsung melesat menuju ke kelas.


Sebenarnya, gue bukan anak yang selalu saja mengoleksi nama di dalam buku besar BK yang di halaman depannya tertulis 'Daftar Nama Siswa/i yang terlambat'. Malahan, gue adalah salah satu siswi yang berprestasi. Namun, terkadang gue juga tidak luput dari namanya keterlambatan.


*_*ALGEA*_*


Akhirnya, gue sampai di dalam kelas. Begitu sampai, gue tidak menemukan  Aldora dan Clarissa. Tas mereka sudah tersimpan manis di bangkunya. Namun, mereka tidak ada.


"Hai, Rana!" tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue.


Saat menoleh ke samping, gue menemukan sosok Ariana yang saat ini tengah tersenyum manis.


"Hai, Ariana."


"Kenapa telat?"


Gue langsung duduk lalu menyiapkan buku untuk pelajar pertama, "semalam, gue habis nonton produce X 101. Jadi, gue tidurnya agak tengah malam."


"Oh, gitu. Lo udah baca informasi gak?"


"Pengumuman apa?"


"Itu lo, info tentang OSIS."


"Emang ada?"


"Rana lo--" ucapan Ariana terhenti. Aldora dan Clarissa tiba-tiba datang menghapiri kami.


"Asyik banget obrolan kalian," ucap Aldora dengan nada sinis.


"Kalian lagi ngomongin apa?" Tanya Clarissa.


I don't know, ini feeling gue saja atau memang ini benar-benar nyata. Entah mengapa saat menatap Clarissa, raut wajah Ariana berubah menjadi aneh.


Sambil memainkan kedua tangannya, "gue dan Rana lagi ngomongin masalah OSIS aja kok."


"Oh, tapi kalian udah selesai kan? Soalnya, gue mau duduk dengan tenang. Dan gue gak mau liat wajah lo. Balik sana!" Ucap Aldora.


Gue dan Aldora memang duduk bersebelahan, Clarissa duduk persis di hadapan kami, dan Ariana duduk di bangku tiga dari belakang.


Namun ketika mendengar Aldora berkata seperti itu, gue langsung merasa tidak enak dengan Ariana. "Lo kok gitu, Dora? Bisa gak sih lo ngomong baik-baik?"


"Gak bisa!" Ucapnya ketus.


"Yaudah, kalian jangan berantem. Gue gak ganggu kalian lagi," ucap Ariana kemudian pergi.


Gue sebenarnya tidak mengerti, kenapa Aldora sangat tidak menyukai Ariana.


Kalau pun iri karena sekarang dia memiliki pesaing baru dalam hal kepintaran, kurasa itu tidak mungkin. Karena Aldora bukan orang yang seperti itu.


"Clarissa, lo mau sampai kapan berdiri di situ? Sana duduk!" Ucap Aldora.


Clarissa tiba-tiba terkejut mendengar ucapan Aldora. Dari tadi gue memperhatikan gerak-gerik Clarissa. Matanya terus menatap ke arah Ariana.


Ada apa dengannya?


Aldora menepuk tangan Clarissa, "Cla ..."


"Eh--iya kenapa?"


"Lo melamun lagi?"


"Gak kok, Dora. Gue duduk yah."


Ada apa dengan kedua sahabat gue ini. Mereka tampak seperti tidak menyukai kehadiran Ariana.


"Dora, lo kenapa sih sensi banget sama Ariana?" Tanya gue baik-baik.


"Gue gak tahu, Ran. Darah gue tiba-tiba mendidih kalau ngeliat dia."


"Lo jangan gitu. Ariana tuh anaknya baik banget. Lo-nya aja yang gak  mau mencoba untuk deket sama dia."


"Entahlah Ran, gak tahu kenapa, gue selalu ngerasa kalau dia itu fake."


Ketika ingin membalas ucapan Aldora, tiba-tiba Pak Rusmin sudah masuk ke dalam kelas. Dan pelajaran pun dimulai.


Saat pelajaran baru saja dimulai, tiba-tiba suara speaker yang terpasang di masing-masing kelas berbunyi, dan seseorang dibalik itu menyampaikan informasi.


"Disampaikan kepada seluruh anggota OSIS baru, bahwa setelah seluruh pelajaran  selesai, semua diharapkan untuk berkumpul di lapangan. Ketua tidak menerima keterlambatan. Jadi, diharapkan untuk datang tepat waktu."


Mampus!


*_*ALGEA*_*


Saat ini waktu menunjukkan 15.00 WIB. Dan kami semua sudah berkumpul di tengah lapangan. Tidak berselang lama, para anggota OSIS inti mulai datang dengan membawa setumpuk ampop ditangannya.


"Selamat siang adik-adik sekalian," sapa lelaki bertubuh tinggi tegap dengan ekspresi wajah angkuh yang bernama Reinan Handoko.

__ADS_1


"Siang Kak ... " ucap kami serempak.


"Kalian pasti sudah tahu informasi tentang kegiatan hari ini kan?"


"Iya Kak ..." semua menjawab. Hanya gue yang tidak tahu apa-apa.


Gue mencoba bersikap biasa.


Sambil berbisik, "Ariana, lo tahu infonya?"


Arina mengangguk.


"Gue tadi mau ngasi tahu lo. Tapi ... " ucapannya terhenti. Gue mengerti. Dia pasti sakit hati dengan ucapan Aldora.


"Sorry ..." ucap gue.


Ariana kembali menggelengkan kepalanya, "lo gak salah."


"Barisan tiga, urutan dua dari belakang. Apa lo tahu informasi yang sudah disampaikan?"


Oh my ...


Jari telunjuk gue naik dan menunjuk ke diri gue sendiri. "A--aku Kak?" Tanya gue panik.


"Iyalah! Eh-- tunggu. Bukannya lo yang kemarin gak ingat nama gue?"


"I--iya, Kak."


"Lo, maju ke sini."


Gue sempat melirik Ariana. Dan dia menatap ibah ke arah gue.


Akhirnya, gue sampai di hadapan Kakak kelas yang menyebalkan ini.


"Coba lo kasi tahu ke gue, informasi yang lo dapat."


"Hm ... maaf Kak, aku gak tahu."


"Apa?!" Pekiknya.


"Maaf Kak ..."


"Lo--" ketika ingin berkata sesuatu,  Kak Bramana mengangkat satu tanganya dan itu membuat sang wakil ketua osis seketika terdiam.


"Sudah! Kembali ke tempatmu," ujarnya.


"Terimakasih, Kak," ucap gue lalu kembali ke dalam barisan.


"Siapa lagi yang tidak tahu informasi tersebut?" Kali ini ketua OSIS Kak Bramana yang angkat bicara.


Kami semua saling berpandangan. Sepertinya memang hanya gue yang tidak tahu info itu.


"Oke, saya akan kembali memberitahu kalian. Hari ini tepat pukul tiga sore nanti, kita akan mengadakan sebuah permainan untuk para pengurus OSIS yang baru. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kepandaian, ke-kreativitas, serta kesabaran kalian," ucapnya sambil berjalan di tengah barisan.


"Apakah kalian melihat amlop yang para anggota inti lainnya pegang?"


"Iya Kak ..." ucap kami.


"Mengerti, Kak ..." ucap mereka. Namun, sejujurnya gue masih belum paham.


Apakah para anggota OSIS inti ini, mau membuat kita saling menjatuhkan? I mean, fight?


"Sebelum bubar, ada yang mau bertanya?"


Gue langsung mengangkat tangan yang diiringi dengan senyum sinis dari cowok bernama Reinan.


"Yap! Rana Inzyna," ucap Kak Bramana. Gue terkejut mengetahui bahwa dia mengetahui nama gue.


"Maaf sebelumnya, Kak. Sejujurnya, aku belum terlalu paham. Jadi, maksud dari permainan ini adalah menjatuhkan musuh? Apakah kalian menginginkan kami untuk saling berkelahi?"


"Hahahaha ... lo emang ****!" ucap seseorang sejak tadi menatap sinis ke arah gue.


"Masa kita mau nyuruh kalian berantem sih? Sebenarnya, gue pengen banget menyaksikan hal itu. Namun, sayang gue ditahan," ucapnya dengan ekpresi wajah yang menakutkan.


"Oke, gue yang akan menjawab pertanyaan itu. Dalam permainan ini, kalian tidak diperbolehkan menggunakan kekerasan. Yang harus kalian gunakan untuk mengalahkan lawan ialah bakat. Gue gak mau muluk-muluk. Intinya, di sini kalian akan beradu bakat. Kalau kalian berbakat dalam hal bernyayi, maka lawan lah dengan suara indah kalian. Intinya seperti itu. Bagi yang memiliki bakat bela diri, diharapkan untuk tidak menggunakannya. Coba lah temukan bakat baru kalian. Mengerti?"


"Mengerti, Kak." Ucap kami semua.


Oke sekarang gue mengerti.


Bakat? Boleh lah.


*_*ALGEA*_*


Setelah memberikan informasi itu, satu persatu nama kami disebut lalu diberikan amplop yang berisikan nama sendiri plus lawan kita nantinya.


Kalau dipikir-pikir, permainan ini persis seperti yang dilakukan bias gue yang ada di acara Tv korea yaitu Produce X 101.


Setelah semua amplop sudah dibagikan. Ketua osis mempersilahkan kami untuk membukanya.


Gue membuka perlahan benda itu.


RANA INZYNA X RISKA MAHARANI


Lawan gue adalah Riska.


Gue mengenal cewek ini. Yah, meskipun tidak secara langsung. Yang penting gue punya informasi tentang dia.


Bakat Riska adalah dance. Dia adalah ketua dari ekskul dance modern yang pernah beberapa kali mengharumkan nama sekolah.


"Informasi tambahan. Setelah mengetahui siapa lawan kalian. Semuanya diperbolehkan untuk berpencar. Nantinya, kalian akan saling mencari dan juga saling dicari," ucap Kak Seno selaku bendahara OSIS.


Kami semua langsung berpencar.


Dari jauh, gue melihat Riska berlari menuju ruang ekskul yang menjadi sarangnya.


Bukan kah ini terlalu mudah?

__ADS_1


*_*ALGEA*_*


Oke, sekarang gue harus berfikir. Daripada gue yang dicari, lebih baik gue yang datang mencari.


Gue berjalan perlahan menuju ke arah ruang ekskul dance. Pintu ruangan itu terbuka sangat lebar.


Gelap! Ruangan itu sangat gelap.


Perasaan gue menjadi tidak enak. Gue sangat takut berada di dalam ruangan yang penuh kegelapan.


Tapi karena gue tahu Riska ada di dalam, perasaan gue jadi sedikit membaik.


Seingat gue, ruangan ini memiliki fasilitas yang sangat bagus. Bahkan, cahaya di dalam ruangan ini sangat terang.


Gue berfikir, mungkin ini cuman taktik saja. Dia sengaja mematikan lampu diruangan ini.


Mata gue mencoba menemukan sosok yang gue cari, meskipun itu dalam kegelapan.


Gue mulai berjalan masuk. Tangan gue menempel ke tembok, berharap menemukan tombol lampu yang bisa membuat ruangan ini kembali terang.


"Hei, Riska! Gue menemukan lo. Sekarang, lebih baik kita langsung beradu bakat."


Namun, tidak ada suara sama sekali. Hening.


Prak!


Suara benda jatuh terdengar menggema di dalam ruangan ini.


"Riska, lo jangan nakutin gue. Gue emang penakut. Tapi, kalau gue tahu itu cuman ulah manusia, gue gak bakalan takut sama sekali."


Karena tidak mendapatkan reaksi sama sekali, gue akhirnya mencoba berjalan ke bagian tengah.


Dan betapa bodohnya, gue baru menyadari bahwa gue membawa handphone di dalam kantong baju. Akhirnya, gue mencari Riska menggunakan lampu senter handphone.


Saat berjalan ke tengah, entah mengapa tiba-tiba gue merasakan ada  sesuatu yang menetes dari atas plafon yang mengenai tepat di atas kepala gue.


Gue menyentuh kepala dan mencoba untuk melihat apa yang telah terjatuh di atas kepala gue.


Darah?!


Tetesan itu kembali terjatuh di atas kepala gue.


Karena penasaran, gue mencoba mengarahkan senter itu ke arah atas plavon ruangan ini.


"Aaaaaaaaaaaaakkkkk ......"


Begitu melihat apa yang ada tepat berada diatas gue, yang bisa gue lakukan hanyalah berteriak dan juga menangis.


Menyeramkan ...


Tangan gue bergetar hebat, kaki gue juga melemas.


Kenapa hal ini terjadi pada gue. Harusnya, gue tidak melihat ini.


Suara langkah kaki berlari menuju ke arah gue.


"Kenapa di sini gelap? Eh, lo kenapa?" Gue kenal suara ini. Dia adalah Kak Reinan.


Mulut gue seakan-akan terkunci.


"Jawab gue, lo kenapa?"


Yang bisa gue lakukan hanyalah menunjuk ke arah atas ruangan ini.


Kak Reinan mengikuti arah telunjuk gue.


"Oh ... shit!"


Dan dia langsung memeluk gue, lalu menggendong gue keluar ruangan itu. Setelah itu dia berlari mencari pertolongan.


Yang berada tepat di atas plafon ruangan itu adalah Riska dan juga Mulan yang kini sudah tak bernyawa lagi. Mereka berdua tergantung di atas plafon itu. Dan tubuh mereka mengeluarkan banyak darah yang berjatuhan ke bawah lantai.


Gue mungkin tidak akan pernah melupakan kejadian ini se-umur hidup gue.


"Rana! Lo kenapa?" Ariana tiba-tiba berdiri tepat di samping gue.


Awalnya gue terkejut, namun ketika mengetahui itu adalah Ariana, perasaanku menjadi lega.


"A--ada mayat tergantunf, Na!" Ucap gue terbatah.


"Hah?! Dimana?"


"Di dalam ruangan ekskul Dance."


"Jadi, tadi kamu yang masuk ke dalam ruangan itu?"


"I---ya," gue menyadari ada keanehan yang tersirat dari pertanyaan Ariana.


"Kamu lihat mayatnya?" Tanya dia lagi.


Gue hanya mengangguk.


"Setidaknya, mereka pergi dengan cara yang mereka pilih sendiri," ucap Ariana sambil tersenyum manis.


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2