ALGEA

ALGEA
BAB 19 (Dewa Arete)


__ADS_3

Clarissa Wiradmadja (Part 8)


***


"Icha, sepertinya Bina adalah seorang dewa," ucap Arnold.


"Hah? Kamu tau dari mana Bina itu Dewa?"


"Entahlah, aku merasa ada aura lain dari tubuhnya. Dia bukan hantu atau arwah penasaran yang menetap di dunia ini."


"Itu belum cukup membuktikan kalau dia seorang Dewa, Arnold!"


Arnold langsung terdiam, lalu menatap penuh selidik ke arah Bina.


Karena terlalu fokus dengan Arnold, sejenak aku melupakan perkataan Bina yang tadi yang menurutku sedikit aneh. 


"Icha, liat Bina!" ucap Arnold sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Bina yang saat ini telah merubah wujudnya.


Tadi memang Bina sempat mengatakan bahwa dia akan merubah wujudnya. Tapi ku kira dia hanya sekedar bercanda saja. Aku tidak menyangka kalau Bina akan berubah menjadi sosok yang sangat asing bagiku. 


Mahluk yang saat ini berada di hadapanku benar-benar memiliki energi yang sangat besar, dengan pembawaan yang sangat bersahaja. Setelan pakaian yang ia kenakan juga sangat tidak biasa.  Helaian kain putih yang menutupi hanya di bagian dada, di padukan dengan bawahan seperti rok yang warnanya juga senada dengan kain di atasnya. Dilengan sebelah kanannya terdapat sebuah gelang berwarna emas, sedangkan di lengan kirinya terdapat sebuah simbol yang aku tidak tahu apa artinya. Wajahnya sangat bercahaya,  dan di atas kepalanya terpasang sebuah mahkota kecil  berwarna emas.


Intinya dia benar-benar sangat indah.


"Selamat datang di dunia kegelapan. Jangan heran kalau di tempat ini tidak ada cahaya." ucapnya.


Kalau saja sosok Bina yang mengatakan kalimat itu, aku pasti tidak akan segan-segan mengatakan, "aku udah tahu kali!"


Aku tahu kalau itu Bina,  tapi entah mengapa ada rasa segan sekaligus rasa hormat  yang kurasakan ketika dia telah merubah dirinya .


"Icha, sekarang kamu percaya kan? Bina itu seorang dewa," ucap Arnold, lalu menatapku lekat-lekat.


Sejujurnya, otakku belum sepenuhnya merespon atas apa yang baru saja tertangkap oleh kedua mataku. Intinya,  Aku masih speechlees.


"Icha ... Ichaaa!" teriak Arnold.


"Oh--iya. Eh- tidak. Maksud aku, aku tidak tahu."


"Jangan takut, Icha. Aku adalah Bina yang selama ini menemani mu di sekolah."

__ADS_1


"Aku bukannya takut. Lebih tepatnya aku terkejut melihat kamu berubah."


"Tadinya aku akan memberitahukan mu setelah kita keluar dari tempat ini. Tapi sepertinya, lebih baik aku mengatakannya sekarang," ucap Bina.


"Aku sudah tahu," ucap Arnold. "Kamu seorang dewa kan?"


Bina tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arahku.


"Benar apa yang di katakan Arnold," ucap Bina.


"Apa?! Ja--jadi kamu benar-benar seorang dewa? Kamu tidak sedang bercanda kan, Bina?"


Bina menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bercanda, Icha. Aku memang seorang dewa."


"Sewaktu aku masih menjadi manusia, hobbyku adalah membaca buku. Dan aku menyukai buku yang menceritakan tentang dunia para dewa. Aku sungguh beruntung, aku bisa berbicara sekaligus bertemu langsung dari salah satu dewa-dewa di dalam buku itu," ucap Arnold girang.


Bina tersenyum. "Benarkah? Wah, aku sangat senang mendengarnya. Nah, sekarang --" 


Ucapan Bina terpotong. Itu karena tiba-tiba Arnold mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya.


"Kalau boleh tahu, nama asli kamu siapa? Maksud aku, nama dewa kamu. Terus, kamu melambangkan apa? Semisal dewa kehidupan dan lainnya."


Kalau saja Bina menolak untuk menjawabnya, aku bisa mengerti. Mungkin identitas kedewaan Bina memang seharusnya dirahasiakan. 


"Oke, aku akan menjawabnya. Karena ini adalah wujud asliku, sebaiknya aku memang harus kembali memperkenalkan diriku," ujar Bina. "Namaku adalah Arete, Dewa yang melambangkan kebajikan, kesempurnaan, kebaikan, dan keberanian," ucap Bina.


Sejujurnya, aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi pengakuan Bina. Aku baru tahu kalau dunia para dewa itu bukan hanya sekedar karangan penulis yang memiliki tingkat imajinasi di luar biasa saja. Mereka semua nyata.


"Wah, hebat sekali. Jadi, haruskah aku memanggil mu Arete?"


"Tidak usah, Icha. Cukup Bina saja."


Aku menoleh ke arah Arnold. Hantu Belanda itu sama sekali belum mengeluarkan suara setelah Bina memperkenalkan diri.


"Arnold, kamu kena--"


"Aaaaah ... A-apa kamu benar-benar Dewa Arete?" Tanya Arnold histeris. Sangking histerisnya, dia tidak mendengar apa yang ku katakan.


Bina mengangguk.

__ADS_1


"Aku adalah fans berat mu. Sungguh, aku sungguh beruntung hari ini!" Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar. "Bolehkah aku menjabat tangan mu?" pintanya.


Aku menatap Bina, begitu pun sebaliknya Bina melirik ke arah ku.


"Tentu saja boleh!" 


"Ichaaa ... aku--aku sangat senang," ucap Arnold. 


Dengan sangat hati-hati Arnold melangkah maju, mendekat ke arah Bina. Bina mengulurkan tangannya, Arnold pun langsung meraih uluran tangan Bina. Dan kedua mahluk tersebut saling berjabat tangan.


Setelah itu, Arnold berlari ke arahku dan  memeluk tubuhku sangat erat sangking senangnya.


"Terimakasih, Bina. Dia terlihat sangat senang," ucapku.


"Sama-sama. Maaf kali ini sepertinya kita harus bergerak cepat. Kita sudahi dulu jumpa fans dadakan ini. Aku akan membawa kalian menuju ke tempat Ariana."


"Iya, sebaiknya kita memang segera bergegas. Energiku juga sudah hampir habis."


Bina mengangguk setuju.


"Pegang tanganku, lalu pejamkan mata kalian," Ucap Bina.


Yang kurasakan saat ini adalah jiwaku seperti ditarik dan seluruh badanku melemas.


*_*ALGEA*_* 


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung**


__ADS_2