ALGEA

ALGEA
BAB 1 (Akulah Pemilik Takdir Itu)


__ADS_3

Clarissa Wiratmadja (Part 1)


 



    Tuhan menciptakan dunia ini untuk dihuni oleh seluruh mahluk-mahluk ciptaannya. Manusia, jin dan beberapa mahluk lain, diberikan kesempatan untuk hidup berdampingan. Meskipun, pada dasarnya mereka memiliki dimensi yang berbeda.


     Bagaikan air dan minyak di dalam sebuah wadah gelas. Gelas menggambarkan dunia ini. Sedangkan air dan minyak yang mengisi, merupakan perumpaan dari mahluk- mahluk penghuninya. Mereka memang berada dalam satu tempat yang sama, namun tidak bisa menyatu.


    Lalu, siapakah mahluk yang paling banyak menghuni dunia ini?


    Jawabannya adalah, bangsa jin. Mereka bisa menjangkau ruang yang makluk lain tidak bisa tempati. Mereka juga diberi kelebihan oleh Tuhan untuk bisa melihat manusia, yang mana manusia sendiri tidak memiliki kemampuan sebaliknya. Kecuali beberapa manusia yang ditakdirkan oleh Tuhan, dapat melihat serta berinteraksi dengan bangsa mereka. Aku adalah salah satu pemilik akdir tersebut.


*_*ALGEA*_*


"Cla .... Clarisaaaaaaaaa!"


    Sontak aku terkejut. Suara teriakan itu membuat telingaku seketika berdengung, sangking kerasnya. Namun, aku langsung bisa mengetahui siapa pemilik suara nan cempreng tersebut.


"Apaaaaa?" aku langsung berbalik ke arahnya. "Astagaa ... gue kaget banget, sumpah!"


"Biarin! Lagian, siapa suruh lo ngayal?" ucapnya santai.


     Dia adalah Rana Inzyna Logiana. Sahabatku yang mempunyai paras cantik. Matanya bulat yang selalu berbinar-binar, hidung mancung, bibirnya kecil yang selalu berwana pink cerah, rambutnya berwarna cokelat sebahu, dan yang semakin menambah kesan cantik sekaligus manis diwajahnya ialah terdapat tahi lalat kecil yang berada tepat di samping bibirnya. Selain cantik, cerdas, dia juga merupakan ketua dari ekskul mading . Tak heran, kalau sahabatku ini dinobatkan menjadi salah satu siswi ter-populer disekolah.


"Lo ngelamunin apaan sih, Cla? Untung aja Pak Tamrin udah keluar. Coba aja dia masih di kelas, udah deh gue yakin lo pasti bakalan kena marah."


"Gue gak ngelamunin apa-apa kok," sambil merapihkan buku-buku di atas meja. "Eh, by the way ... si Aldora kemana yah?"


"Dora lagi ke toilet," jawabnya. "Kita tunggu dia aja, baru ke kantin."  Lalu mengambil hp yang ada di saku seragamnya.


Aku juga melakukan hal yang sama.


    Lima menit berlalu, namun Aldora belum menampakkan batang hidungnya.


"Dora kemana sih? Kok ke toilet aja lama bener. Atau jangan-jangan dia keasyikan berpetualang bersama bots, kali yah?" ucap Rana sambil terus melihat jam yang berada ditangannya.


    Aku hanya tersenyum geli mendengar omelan Rana. Dia kalau kesal, pasti bakalan melontarkan hal-hal yang membuat orang yang mendengarnya tersenyum geli, bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngomong apa lo barusan?" tiba-tiba Aldora datang sambil berkacak pinggang.


    Satu lagi sahabat yang aku punya. Dia adalah Aldora. Gadis berdarah campuran Indo-Jerman ini memiliki wajah yang tidak kalah cantik dari Rana. Selain cantik, dia juga pintar. Aldora bahkan mendapatkan predikat siswi terpintar se-angkatan, mengalahkan Rana yang berada di peringkat kedua. Kalian jangan tanya aku untuk masalah peringkat-peringkat, yah! Karena aku tidak se-jenius mereka berdua.


     Selain cantik dan pintar, Aldora juga mendapat julukan 'preman cantik'  dari seluruh penghuni sekolah. Itu karena dia memiliki sisi brutal yang hanya ditunjukkan untuk orang-orang yang berani mencari masalah dengannya. Dan lagi, dia merupakan ketua ekskul karate yang tersohor. Jadilah, orang tidak akan berani macam-macam dengannya.


"Dari mana aja lo? Kok ke toilet aja lama bener?" tanya Rana.


"Tadi banyak yang ngantri," jawabnya santai. "Hei! Tunggu apalagi? Yuk, ke kantin! Gue udah lapar banget."


"Elah, alasan aja lo. Yaudalah, yuk! Kita juga udah lapar banget" jawab Rana. "


*_*ALGEA*_*


     Akhirnya, kami sampai di kantin. Dan seperti biasa, tempat ini selalu ramai. Ketika berada di area para pemburu makana siang ini, kami selalu berbagi tugas agar nantinya tidak memakan waktu yang lama. Dan aku selalu ditugaskan untuk pergi mencari meja yang kosong, sedangkan Rana dan Dora pergi memesan makanan. Setelah kejadian salah pesan menu yang pernah aku lakukan, mereka berdua jadi khawatir dan melarangku untuk melakukannya lagi.


    Begitu mendapatkan meja, aku langsung menempatinya seraya menunggu mereka berdua datang membawa makanan.


    Ketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat ini, aku merasa seperti ada yang memandangku dari kejauhan. Dari sudut mata, aku menangkap sosok perempuan berbaju putih yang saat ini sedang menyeringai ke arahku.


     Yap! Aku bisa melihat hantu. Orang-orang sering menyebutnya  'Indigo'. Selain bisa melihat, aku juga bisa berinteraksi dengan mereka.


    Seperti halnya dengan hantu perempuan yang ku lihat, saat ini dia sudah berada tepat di hadapanku. Mungkin, kalian lebih mengenalnya dengan sebutan kuntilanak. Yah, seperti penampakan kuntilanak pada umumnya, mempunyai wajah yang seram dengan rambut panjangnya menjuntai sampai ke lantai, mampu membuat orang-orang yang melihatnya akan lari terbirit-birit. Kecuali aku, tentunya.


"Icha ... lagi tunggu siapa?" tanya hantu itu.


"Biasa, teman-teman aku," jawabku sambil tersenyum ke arahnya, lalu meletakkan dompet di atas meja.


    By the way, seluruh mahluk-mahluk astral di sekolah ini merupakan teman-temanku. Mulai dari yang berwujud kuntilanak sampai yang berwujud gunderuwo sekalipun. Mereka sangat baik kepadaku. Tak jarang mereka selalu membawaku ke alamnya, entah karena ingin mengajakku bermain atau karena ingin memberitahuku tentang beberapa sejarah yang belum ku ketahui tentang sekolah ataupun daerah sekitar sini.


   And for information, kami berkomunikasi menggunakan batin. Tidak mungkin kan, kalau aku berbicara menggunakan mulut dengan mereka, bisa-bisa aku langsung disangka tidak waras.


   Hantu itu hanya mengangguk, kemudian tersenyum, lalu menghilang begitu saja.


    Dari kejauhan, aku sudah melihat mereka berdua. Aku pun langsung melambaikan tangan, lalu dibalas oleh Rana.


"Lo sih! Kan udah gue bilang dari tadi, gak usah beli mie goreng!  Lo bisa liat sendiri antriannya panjang buanget, udah ngalah-ngalahin ular naga yang panjangnya bukan kepayang itu," ucap Rana sambil menyimpan nampan berisi makanan ke atas meja, lalu menduduki kursi yang berada di sampingku.

__ADS_1


"Gue tahu! Tapi kan, gue lagi pengen banget makan mie goreng, sisy," jawab Aldora dengan nada kecewa, kemudian mengambil tempat yang berada di hadapanku, membuat kami saling berhadapan.


"Kalian kenapa sih? " tanyaku.


"Ini nih si Dora, udah tau waktu istirahat tinggal 15 menit lagi, masa dia pengen beli mie goreng yang antriannya panjang binggo! Entar waktu istirahatnya habis, gimana?"


"Gak gitu Cla, antriannya gak panjang-panjang amat kok. Dianya aja yang gak sabaran," ucap Aldora.


    Well, mereka berdua memang selalu saja berdebat. Namun, tidak ada yang pernah membawanya sampai ke hati alias baper. Itu karena kami saling mengerti satu sama lain dan tahu watak masing-masing.


     Seperti yang pepatah katakan 'semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang pula angin yang akan menerpanya'. Jadi, gak semua hubungan itu selalu berjalan dengan mulus, termasuk persahabatan. Ibaratkan persahabatan itu sebuah pohon, kita harus menguatkan mulai dari akar agar nantinya  tidak akan mudah tumbang  dan akhirnya merusak persahabatan yang terjalin.


"Trus, lo jadinya pesan makanan apa?" tanyaku lagi.


  "Ini Cla, gue akhirnya pesan soto ayam. Padahal, gue lagi ngidam mie goreng," sambil menunjukkan makanannya. "Ini namanya lain yang dipengenin, lain pula yang datang," ucapnya lagi.


"Itu namanya bukan rezky lo, Dora. Gue yakin banget, soto ayam yang ada di hadapan lo jauh lebih enak ketimbang mie goreng yang lo pengenin. Coba aja dulu," ucap Rana lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Tapi—" sebelum Aldora berbicara, aku segera mendahuluinya.


"Iya, Dora. Lo makan itu aja dulu. Entar, keburu bel masuknya udah bunyi kan berabe."


"Ehm ...okedeh. Mungkin, kalian benar," ucap Dora.


Akhirnya, kami bisa menikmati makan siang dengan damai.


Ning ... nong ... ning  ... nong


"Pengumuman! Disampaikan kepada seluruh siswa dan siswi SMA PATRICKORN INTERNATIONAL bahwa pendaftaran anggota 'Organisasi Intra Sekolah' telah dibuka. Bagi yang ingin mendaftar, silahkan mengambil formulir pendaftaran di ruang OSIS. Terimakasih."


      Setelah pengumuman itu selesai, seketika se-isi kantin menjadi hingar-bingar akibat informasi tersebut. Ada yang langsung excited sambil loncat-loncat, ada yang senyum-senyum penuh arti, dan ada yang tidak terlalu memperdulikannya. Aku dan Aldora pastinya berada di opsi ketiga, yaitu tidak peduli.


Alasannya, yah ... karena kami tidak mau melakukan sesuatu hal yang merepotkan. Namun berbeda dari kami berdua, Rana langsung tersenyum lebar setelah mendengar info itu .


   Tiba-tiba Rana bangkit dari tempat duduknya. "Yeppy! Akhirnya, pendaftaran osis dibuka juga. Gue udah nunggu lama banget nih," ucapnya berapi-api. "Kalian juga ikut daftar, yah?" tanyanya lalu menatap aku dan Aldora secara bergantian. "Mau yah?"


   Rana menatapku untuk menunggu jawaban, "Gue gak berminat Ran," jawabku. Lalu mata Rana beralih ke Aldora, "Of course, no!" jawab Aldora diiringi dengan raut wajah kecewa Rana yang sangat berharap kami berdua juga ikut mendaftar sebagai kandidat pengurus osis.


"Yah ... padahal kalau ada kalian, pasti bakalan lebih menyenangkan."


"Itu bukan dunia kita berdua, Ran. Kalau gue emang gak kepengen aja buang-buang waktu untuk ngurus hal yang gak berfaedah buat gue. Nah! Beda lagi dengan si Clarissa. Lo yakin, mau ngajakin dia masuk OSIS? You know, she's stupid. Plus dia itu punya ingatan yang buruk. Mana ditambah lamban pula. Lo mau, dia dijadiin bahan ejekan karena gak bisa ngelakuin sesuatu hal dengan benar?" ucap Aldora panjang lebar.


"Hm ...benar juga yah. Tapi—" ucapan Rana terhenti karena Aldora langsung mendahuluinya.


"Gak ada tapi-tapi lagi yah, Ran. Udah duduk, habisin tuh makanan."


   Aku hanya mengangguk setuju.


    Setelah menghabiskan makanan, akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas sebelum bell masuk berbunyi.


     Ketika kami berjalan keluar, tiba-tiba suara teriakan keras terdengar dari segala arah yang sontak membuat kami bertiga menutup telinga. Kemudian tidak berlangsung lama, cewek-cewek yang berada di dalam kantin berlarian menuju ke arah pintu.


"Huaaaaaa ... It-itu The Tiger!"


"Tiger?!" tanyaku yang membuat Rana dan Alodra menoleh ke arahku dengan ekspresi wajah yang bisa ku artikan seperti 'Masa lo gak tau?!'


"Masa ada harimau di sekolah kita?" tanyaku lagi.


Rana dan Aldora langsung menepuk jidatnya secara bersamaan.


"Duh, Clarissa sayang itu bukan harimau. Suer, gue pengen banget ngejitak kepala lo, deh.  The tiger tuh nama geng terkenal disekolah ini," jawab Rana.


"Kata orang sih, mereka sekumpulan cowok paling kece di sekolah kita. Cewek-cewek manggil mereka para pangeran" ucap rana. "Tapi itu katanya, yah! Kalau menurut gue sih, gak ada yang ganteng-ganteng amat. Gak ada yang menyamai ketampanan para oppa kesayangan gue. Yang wajahnya tuh, udah kayak bidadara jatuh dari syurga lalu turun ke hati gue," tambahnya lagi.


"Lebay banget, lo!" ucap Aldora.


"Biarin! Bleee," balas Rana sambil menjulurkan lidahnya.


"Ooh ... jadi jadi gitu. Kirain sekolah  kita lagi melihara harimau," ucapku.


"Ran, boleh gak gue buang nih anak dari lantai empat?" ucap Aldora.


"Silahkan ... gue lama-lama kesel juga," jawab Rana.


   Menyadari seluruh mata menyorot kami bertiga karena berada di tengah jalan. Akhirnya, kami melangkah ke samping agar para pangeran itu bisa mengambil jalan.


    Saat cowok yang posisinya berada di tengah, bak seorang pemimpin geng itu berjalan melewatiku. Aku langsung menyadari dia sedang menatapku. Mata kami saling bertemu. Namun, hanya beberapa detik saja. Aku bisa merasakan aura dari dalam dirinya yang sangat besar. Sepertinya, aku harus menghindari orang-orang seperti dia.

__ADS_1


"Yuk, kita cari jalan lain. Di sini kayak sesek, parah!" ucap Aldora, sambil menarik lenganku.


*_*ALGEA*_*


Akhirnya, kami bisa keluar dari kantin dengan selamat.


"Huh ... pa-parah gak sih, ini?" ucap Rana ngos-ngosan akibat berdesak-desakan dengan orang banyak di dalam kantin tadi.


"Sumpah, i-ini beneran parah pake banget," jawab Aldora. "Gila! mereka bertiga udah ngala-ngalahin artis yang lagi jumpa fans aja."


"Langsung ke kelas aja, yuk! Sekalian bisa isirahat kan?" saranku.


"Iya deh, cus!" ucap Rana.


    Saat berjalan menuju kelas, aku tidak sengaja melihat Ariana yang merupakan teman sekelasku sedang duduk di kursi yang letaknya berada di bawah pohon depan kelas kami. Saat melihat wajahnya, aku bisa merasakan aura kesedihan yang terpancar dari tubuhnya. Mungkin saat ini, dia sedang ada masalah. Sebaiknya, aku tidak mengganggunya.


   Aku pun berjalan masuk ke dalam kelas tanpa menyapanya sama sekali.


*_ALGEA_*


Kriing ...


Bel masuk terlah berbunyi. Itu artinya, kita akan memulai kembali pelajaran selanjutnya.


"Pulang nanti gimana kalau kita singgah ke cafe dlu?" Aldora tersenyum.


"Good idea! Gue udah lama banget pengem nongki-nongki manja. Selama ini kan kita gak ada waktu." Rana menoleh ke arahku.


"Gimana, Cla? Lo ikut juga kan?"


Sambil tersenyum. "Boleh! Tapi, gue mau balikin mobil ke rumah dulu yah, sekalian izin sama Mommy dan Daddy."


"Okey! kita bakalan jemput lo nanti habis pulang dari kegiatan ekskul," ujar Rana.


"Woii, Ibu Linda udah jalan ke sini," pekik salah satu teman sekelasku.


Secara otomatis kami semua langsung menyiapkan buku pelajaran dan bersiap untuk belajar.


"Selamat pagi menuju siang, Anak-anak ..." sapa Ibu Linda.


"Siang, bu ..." balas kami semua.


"Baiklah! Seperti biasa, Ibu akan absen terlebih dahulu." Beliau membuka buku Absennya. "Ariana Tahaya ..."


"Ariana Tahaya ..." ucap Ibu Linda lagi.


Kami semua saling bertatapan seraya berpikir ke mana perginya Ariana.


"Apa Ariana hadir, tadi?" tanya Ibu Linda kepada kami semua.


"Hadir, Bu!" jawab kami serempak.


"Trus, sekarang Ariana ke mana?"


"Mungkin, dia lagi gak enak badan, Bu. Soalnya, tadi dia pucet banget," jawab ketua kelasku.


"Baiklah. Setelah ini, kamu pergi cek ke UKS yahh buat pastiin dia emang ada di sana," ucap Ibu Linda.


"Baik, Bu!" jawab Ketua kelasku.


Kemana perginya Ariana?


Tadikan, dia ada di bawah pohon depan kelas.


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2