
Rana Inzyna Logiana (part II)
"Selamat siang ... Disampaikan kepada seluruh calon pengurus OSIS periode tahun 2019-2020, bahwa setelah pelajaran selesai, diharapkan meluangkan waktu untuk datang di aula OSIS. Sekian, terimakasih."
Mendengar pengumuman itu, gue langsung terkejut.
"Hah? Kemarin kata Kak Seno, semua calon pengurus osis bakalan dikumpulkan hari rabu nanti. Ini kan baru hari senin. Kok, tiba-tiba dipercepat?"
"Mana gue tahu," jawab Aldora.
"Iya juga, yah! Kenapa gue malah nanya ke lo."
"Tuh lo tahu. Eh, Clarissa mana?"
"Tadi katanya ada urusan. Waktu gue tanya, lagi mau ngurus apa? Dia malah bilang 'walaupun gue kasi tahu, gue yakin lo pasti gak bakalan percaya'," ucap gue sambil meniru gaya bicara Clarissa.
"Hantu-hantuan lagi?" tanya Dora.
"Mu--mungkin."
Gue teringat kembali ketika kami datang menginap dirumah Clarissa. Dia mengatakan bahwa kedua matanya bisa melihat mahluk-mahluk yang disebut hantu.
Fine! Gue percaya dengan keberadaan hantu. Tetapi sampai saat ini yang tidak aku percayai adalah ternyata Clarissa bisa melihat hantu.
Oke, bukannya gue gak percaya sama Clarissa. Seumur hidup, gue baru menemukan orang yang benar-benar tidak bisa berbohong sama sekali. Dan dia adalah Clarissa.
Yang gue gak percaya ialah ... maksud aku ini, Clarissa loh! Sahabat aku. Bagaimana bisa dia menyimpan semuanya sendiri.
Melihat hantu seperti kuntilanak yang ada di film horor aja, gue takut. Gimana kalau tiba-tiba dia muncul di hadapan gue?
Mungkin, kalau jadi Clarissa, gue langsung jadi gila.
"Jujur, gue gak percaya Clarissa bisa melihat hantu. Mungkin, dia hanya terlalu banyak berimajinasi," ucap Aldora sambil merapikan buku-bukunya di atas meja.
"Gue fikir, Clarissa gak bohong. Tapi, kalau boleh jujur, gue juga sampai sekarang masih gak percaya. Namun, ketidakpercayaan gue memiliki arti lain. I mean, semacam gue gak becus jadi sahabat."
"Kenapa lo ngomong kaya gitu?"
"Yah, ini kesalahan gue. Andai saja gue gak cuek mikirin diri sendiri dan juga para oppa gue yang tampan, mungkin Clarissa bisa lebih terbuka sama gue."
"Clarissa selalu terbuka sama kita, Ran. Dia gak pernah nutup-nutupin apa pun dari kita," ucapnya lalu membalikkan badannya ke arahku.
"Gue ter-ingat sesuatu. Ingat gak lo waktu kita wisata sekolah di puncak? Waktu itu Clarissa bilang kalau dia gak bisa tidur. Katanya terlalu sesak, terlalu banyak perempuan Belanda yang berkeliaran dan mengganggunya."
"Bener! Aku ingat. Waktu itu kita berdua gak terlalu peduli dengan ucapan dia karena kita pikir, Clarissa hanya bercanda." Gue langsung menepuk meja, "jangan-jangan waktu itu, Clarissa beneran diganggu sama hantu!"
Aldora terkejut melihat gue memukul meja.
"Bisa gak, lo slow aja? Kaget gue!"
"Sorry."
"Tapi, gue tetap gak percaya. Apa yah ... pada dasarnya gue gak percaya hantu itu ada. Mereka hanyalah mitos belaka. Dan tentu saja, gue juga tidak percaya dengan orang-orang yang bisa melihat hantu, seperti Clarissa."
"Maksud lo apa sih? Tadi lo sendiri yang ngasih ingat ke gue fakta tentang Clarissa yang kemungkin saja bisa melihat hantu," ucap gue heran.
"Entahlah, disatu sisi gue pengen percaya, tetapi satu sisi lainnya gue tetap kukuh tidak mempercayai hal-hal gaib seperti itu. Yah, semacam percaya tidak percaya, gitu."
"Lo punya berapa karakter sih? Pake sisi-sisi segala. Lagak lo!"
Aldora bangkit dari tempat duduknya, "ah bodo amat, deh. Gue gak mau mikirin itu dulu. Yuk, balik!"
"Lo gak denger pengumuman tadi?"
"Oh iya, yah! Gue lupa. Eh, lo kan gak bawa mobil. Mau gue tungguin gak?"
Senyum gue langsung mengembang, "***---" ketika ingin menerima tawaran Aldora, ucapan gue tiba-tiba terpotong. Ariana mendatangi kami berdua.
"Lo pulang duluan. Nanti Rana pulangnya bareng gue aja," ucapnya sambil tersenyum.
Wajah Aldora berubah. Itu menandakan bahwa dia tidak menyukai kehadiran Ariana.
"Lo bawa kendaraan?" Tanya Aldora sinis.
"Gue bawa mobil," jawab Ariana santai.
__ADS_1
"Kok lo tiba-tiba bisa nyetir?"
"Gue emang bisa nyetir udah dari smp. Emangnya kenapa?"
"Oh, gak kenapa-kenapa. Cuman belakangan ini, gue ngerasa semua yang berhubungan tentang lo, selalu saja membuat gue takjub," ucap Aldora masih dengan nada yang sinis.
Menyadari suasana menjadi tidak enak, gue langsung mengalihkan perhatian Ariana.
"Gue ada pertemuan calon anggota osis, Na."
"Gue juga, kok. Makanya, gue ngajak lo pulang bareng," ucapnya masih dengan senyum yang ramah.
"Lo lulus di OSIS juga?" Tanya gue.
Ariana mengangguk.
"So, kalau gitu gue pulang duluan, yah," ucap Aldora yang masih memasang wajah tidak senang.
"Oke! See you, beby."
Aldora hanya mengangguk, lalu melambaikan tangannya ke arah gue. Kemudian menatap sinis ke arah Ariana.
"And than, kita langsung ke ruang osis aja, yuk!" Ucap gue.
"Yuk!"
*_*ALGEA*_*
Ruang OSIS terletak di dekat area parkiran. Ketika ingin pergi ke tempat itu, kita harus melewati dua pohon besar yang saling berhadapan, namun saling berjauhan.
Dan salah satu dari pohon itulah yang menjadi lokasi tempat bunuh diri yang dilakukan oleh teman gue, Ananda dua minggu yang lalu.
"Ariana, lo gak takut apa jalan di dekat pohon itu?" Ucap gue sambil menunjuk pohon yang saat ini tepat berada disamping kanan kami.
Ariana tersenyum, "gak lah! Ngapain takut?"
"Duh, masa lo gak takut sih! Gue aja kalau lewat sini pasti selalu saja merinding," ucapku.
Tiba-tiba Ariana menggandeng lengan gue, "gak usah takut. Kalau sama gue, lo pasti aman. Gue jamin," ucapnya sambil tersenyum.
Ariana anak yang baik. Gue bisa bilang seperti itu, bukan karena tiba-tiba dia berubah. Dari dulu, dia memang memiliki pribadi yang baik. Namun sayangnya, dia tidak mempunyai seseorang yang berjalan di sampingnya, seperti gue memiliki Aldor dan dan Clarissa. Ariana sangat tertutup.
Tetapi, sekarang dia sudah berubah. Dan gue sangat senang melihatnya. Ariana yang introvert, kini menjadi Ariana yang ceria. Fakta baru yang gue dapat ialah ternyata dia itu pintar. Mungkin, karena dulu terlalu kaku, jadinya dia tidak bisa menunjukkan kepintarannya.
*_*ALGEA*_*
Akhirnya, gue dan Ariana sampai diruang aula OSIS. Kandidat pengurus osis yang tadinya berjumlah 30 orang, kini tersisa hanya lima belas orang. Setengah dari itu gugur dari tahap seleksi.
Anggota yang bertahan, secara otomatis lulus dan akan menjadi pengurus OSIS. Tetapi, karena kami semua belum diresmikan oleh ketua, jadinya mereka masih menyebut kami dengan panggilan 'calon pengurus OSIS'.
Saat ini, para calon pengurus OSIS dikumpulkan di dalam aula. Gue tidak tahu mengapa tiba-tiba kami dikumpulkan secepat ini. Salah satu pengurus OSIS bernama Kak Seno memberi informasi ke gue, kalau peresmian anggota baru OSIS akan diadakan hari rabu.
Klek!
Suara pintu terdengar sangat lantang. Ketika benda itu terbuka, segerombolan orang mengenakan seragam sekolah dengan setelan jas berwarna biru navy serta berbagai lambang jenis di lengannya, kini datang dan menghampiri kami.
Gue mengenali beberapa sosok yang kini tengah berdiri di atas podium.
"Selamat datang para pengurus osis yang baru. Perkenalkan saya Bramana Tahaya, selaku ketua dipriode ini. Mungkin, sebagian dari kalian sudah mengenal saya," ucapnya. "Dikesempatan kali ini, masing-masing pengurus inti yang telah menjadi pelita di dalam kepengurusan OSIS akan memperkenalkan dirinya. Oke, langsung saja," ketua OSIS itu menyenggol orang disebelahnya.
Satu per satu mereka memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama gue Seno. Kelas sebelas IPS satu. Menjabat sebagai bendahara. Terimakasih."
"Perkenalkan nama saya, Retno wulan. Kelas sebelas IPS satu. Menjabat sebagai sekertaris.
"Nama gue Yuda ledo. Kelas dua belas IPA satu. Menjabat sebagai Ketua divisi."
"Dan yang terakhir ada gue. Siapa sih yang gak kenal gue? Siapa? Eh, lo yang duduk di sebelah cewek yang mengenakan kacamata aneh, lo tahu kan siapa gue?"
Oke, perasaan gue menjadi tidak enak. Pasalnya, cowok itu menunjuk ke arah gue.
Jujur, gue hanya tahu dia adalah salah satu anggota dari 'the tiger'. Selebihnya, gue gak tahu. Dan itu termasuk namanya.
"Aku kak?" Tanya gue was-was.
__ADS_1
"Iyalah! Masa kambing," ucapnya kesal.
Dih!
"Oh-- hm ... tahu kak. Kalau gak salah, Kakak anggota geng 'the tiger'?"
Ucapan gue membuat seluruh orang di aula ini tertawa. Dan gue melihat cowok menyebalkan itu menepuk jidatnya.
"Siapa nama lo?" Tanyanya.
"Rana, Kak."
"Ingat yah, nama gue Reinan Handoko. Camkan itu!" Ucapnya sambil menatap gue. Lalu kedua manik matanya menatap seluruh anggota osis yang baru, "setelah ini gak boleh lagi ada yang gak mengenal gue. Dan ingat! Saat ini gue menjabat sebagai wakil ketua. Jadi, kalian jangan macam-macam."
Gue melirik ketua OSIS tengah menatap kesal ke arah wakil ketuanya, lalu mengambil alih perhatian para anggotanya yang baru. "Oke pengenalan pengurus inti sudah selesai. Kalian boleh pulang. Dan ingat! Hari rabu nanti, kalian akan berkumpul lagi ditempat ini. Mengerti?"
"Mengerti, kak ..." ucap kami serempak.
Akhirnya, pulang juga. Gue sempat berfikir, kita dikumpul hanya untuk pengenalan pengurus inti? Itu pun hanya empat orang?
Oh my God! Just that?
Gue tidak bisa berkata-kata lagi.
Oke, lebih baik langsung pulang saja.
Gue menoleh ke samping, "Aria--na?!"
Dia tidak ada.
Ariana kemana? Perasaan, dia tadi berada persis di samping gue.
Gue akhirnya keluar untuk mencarinya.
Lima belas menit sudah gue pergi mencari Ariana. Namun, hasilnya nihil. Batang hidungnya tidak kelihatan sama sekali.
Oh, atau mungkin, dia mempunyai urusan yang mendadak sampai tidak bisa menunggu gue.
Fine! Gue pesan taksi saja.
"Rana, yuk kita balik!"
Sumpah! Gue sangat terkejut mendengar suara dan juga melihat kehadiran Ariana yang sangat tiba-tiba.
"Lo dari mana? Gue daritadi nyariin lo, tau!"
"Sory, tadi gue ke toilet, trus ketemu sama teman yang satu les sama gue. Jadinya, kita ngobrol dulu sebentar."
"Oh, gitu. Yaudah, ayo kita balik aja. Gue capek."
"Yuk!" Ucap Ariana sambil tersenyum manis.
Ariana tadi mengatakan bahwa dia berada di dalam toilet. Beberapa menit yang lalu, gue memberanikan diri untuk pergi mencarinya ke seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Tetapi, gue tidak menemukannya sama sekali.
Gue bukannya terpengaruh oleh kata-kata Aldora dan Clarissa. Namun, sepertinya memang ada yang aneh dengan Ariana.
Ah! Gue tidak boleh seperti ini.
Gue tidak boleh berburuk sangka dengan orang lain. Anggap saja, dia memang benar-benar pergi ke toilet. Meskipun gue tidak tahu, dia berada di toilet yang mana.
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG