ALGEA

ALGEA
BAB 15 (Kebohongan yang Nyata)


__ADS_3

Rana Inzyna Logiana (Part 5)


Clarissa menghilang.


Kami mencoba untuk menghubungi ponselnya, tetapi sayangnya tidak kunjung terhubung. Gue dan Dora saat ini sedang berusaha untuk mencarinya.


"Dora, gimana nyambung tidak?"


"Belum, Sisy. Ini gue lagi berusaha buat terus menghubungi ponselnya."


"Clarissa kemana sih? Dia kok pergi gak bilang-bilang?" Tanya Dora resah.


"Iya nih! Baru kali ini loh Clarissa pergi gak ngasi tahu kita dulu."


"Ini semua gara-gara lo, tau!" Ujar Dora.


"Hah?! Kok gue sih?"


"Iyalah! Coba aja lo gak sok baik manggil-manggil si Ariana gabung sama kita, pasti Clarissa gak bakalan hilang kayak gini."


"Masa iya gue yang manggil sih? Gue juga tau kali kalau lo dan Clarissa gak suka sama Ariana.


"Terus, kenapa Ariana tiba-tiba muncul di depan kita?" Tanyanya lagi.


"Gue juga tadi gak sengaja ngeliat dia, trus manggil nama dia. Kirain, dia gak bakalan denger. Lagian yah, buat apa gue manggil dia buat gabung sama kita?"


"Kenapa lo pura-pura gak liat aja sih?!"


"Duh, Dora. Lo kok malah marah sama gue? Sebenarnya, bukan gue tau yang pertama ngeliat Ariana, tapi Clarissa."


"Ooh ... kirain, lo yang sengaja manggil dia buat ikutan main sama kita."


"Gak, lah! Lo tadi denger sendiri kan Ariana bilang apa? Dia datang sendirian, trus gak sengaja ketemu sama kakak kelas, jadi mereka gabung."


Aldora menepuk jidatnya, "iya yah! Sory, Sisy gue terlalu emosi. Mungkin ini karena gue terlalu lelah nyariin Clarissa."


Sambil merangkul bahu Aldora, "iya gak apa-apa. Gue tau kok. Bagaimana kalau kita istirahat dulu aja? Kita beli minum di cafe itu,yuk!" ucap gue, sambil menunjuk ke arah cafe yang berdesain unik yang kini tengah berada persis di hadapan kami.


"Kuy! Tenaga gue udah habis."


*_*ALGEA*_*


Setelah memesan minuman, gue dan Aldora mencari tempat kosong seraya mencoba menghubungi Clarissa kembali.


"Sumpah! Gue gak ngerti lagi. Clarissa kemana sih?" Ucap Aldora.


"Mungkin, dia udah pulang?"


"Gak mungkin, Rana! Clarissa gak mungkin pulang sendiri. Kalau pun Clarissa ada urusan mendadak, dia pasti bakalan ngasi tahu ke kita."


"Mungkin aja sih. Tapi bener kata lo. Clarissa bukan anak yang main langsung pergi-pergi aja. Trus, sekarang tuh anak dimana yah?"


"Iya. Padahal, area permainan ini bisa dibilang tidak terlalu rame alias lumayan sepi. Orang yang tersesat atau terpisah dengan teman-temannya pun bisa langsung ketemu. Kalau mau cari keluar juga, kita gak bisa," ucap Dora lesu.


Gue hanya mengangguk setuju.


"Selamat siang, ini pesanannya. Satu Greentea Float, Satu Strawberry Float, dan satu porsi Banana roll," ucap pelayan sambil menyajikan makanan dan juga minuman pesanan kami. "Selamat menikmati," tambahnya lalu kemudian pergi.


"Thankyou," ucap Gue dan Dora secara bersamaan.


*_*ALGEA*_*


Kriing ...


Suara lonceng berbunyi. Itu menandakan datangnya para tamu yang akan menikmati menu yang disajikan di dalam cafe tersebut.


"Ran, setelah ini kita mau cari Clarissa di mana?"


"Kita coba cari ke semua wahana. Mau itu antriannya sepi atau pun rame, kita bakalan tetap masuk dan pastiin kalau Clarissa ada atau tidak."


Gue hanya mengangguk.


"Hai guys ..."


Sontak kami berdua terkejut, lalu berbalik dan mendapati Kak Alfandi, Kak Bram, dan Kak Reinan tengah berdiri di belakang kami.


"Boleh gabung, gak?" Pinta Kak Bram.

__ADS_1


"Bram, lo kenal sama mereka?" Tanya Kak Alfandi.


"Kenal dong. Siapa sih yang gak kenal mereka berdua? Eits, sepertinya anggota mereka kuranga satu."


Mampus! Arah pandangan mata Kak Reinan terus menuju ke gue.


"Kalau gue cuman kenal satu. Yang bule itu, gue gak tau. Yang satunya anak baru di kepengurusan Osis."


"Rei, siapa?" Tanya Kak Alfandi.


"Pake nanya lagi lo. Itu yang sampingnya si bule," jawab Kak Reinan.


"Yang nanya lo!" Ucap Kak Alfandi, nyolot. "Gue kan gak nanya. Yang gue tanya itu Bram."


"Hahahahahahahahahahaha ..."


Mungkin, kali ini riwayat gue akan  tamat.


Tapi Suer, tadi itu ngakak banget. Gue tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Ketawa aja terus lo," ucap Kak Reinan yang seketika membuat tawa gue perlahan menghilang.


"Maaf, Kak."


Arah pandangan Kak Bram yang tadinya mengarah ke gue, kini berganti ke Adora.


"So?"


"Maaf, kalian semua gak di terima. Masih banyak meja yang menganggur, silahkan pergi ke sana saja," jawab Aldora jutek.


"Jangan gitu dong, Dowes. Kursi di sini kan banyak, jadi gak apa-apa dong kita gabung," ucap Kak Bram lagi.


"Dowes?" Tanpa sadar, gue, Kak Alfandi, dan. Kak Reinan secara bersamaan mempetanyakan panggilan yang aneh itu.


"Hahaha ... nama apaan itu? Kok jelek banget? Bule-bule masa panggilannya Dowes? Hahaha ... kenapa gak sekalian dower aja, biar tambah receh." ucap Kak Reinan, sambil tertawa terbahak-bahak.


"Lucu banget yah?" Tanya Kak Bram.


"Banget! Hahaha ..."


"Kalo lo masih tertawa, gue bakalan lempar sepatu Al ke mulut lo."


"Ini sepatu kesayangan gue. Jadi gak boleh main di lempar-lempar aja."


"Trus, ngapain lo mau lempat sepatu gue?" Tanya Kak Alfandi lagi.


"Bro, kalian berisik banget sih?! Sepatu aja ampe ribut begitu, kayak emak-emak yang suaminya di rebut sama pelakor aja, tau! Untung cafe ini sepi, kalau banyak orang pasti semua mata tertuju pada kalian berdua. Bikin malu aja!" Ucap Kak Reinan berapi-api.


Prak!


"Aw ... sakit, monyet!"


Setelah berkata panjang lebar, Kak Alfandi dan Kak Bram tiba-tiba mengetok kepala Kak Reinan secara bersamaan.


"Lo penyebab ini semua," ujar Kak Alfandi.


"Maaf yah, kalian mesti melihat kami seperti ini," ucap Kak Bram.


"Gak apa-apa, Kak. Eh iya, gak usah tunggu persetujuan Dora, kalian duduk aja."


Setelah mempersilahkan para Kakak kelas itu duduk bersama kami, gue langsung mendapat tatapan horor dari Aldora.


"Dora, lo kenal sama Kak Bram?"


"Kenal. Tapi sebatas teman kecil aja kok."


"Berarti lo deket dong?"


"Gak kok. Malah, gue udah sempat lupa sama dia. Kalau bukan karena dia terus ngebuntutin gue, gue juga gak bakalan tau kalau kita itu berteman sewaktu kecil dulu," jawab Aldora.


"Kalian ngomongin apa? Kok bisik-bisik?" Tanya Kak Alfandi yang saat ini tengah berada di hadapan kami beserta dengan dua temannya.


"Oh gak kok, Kak."


"Dowes, muka lo kenapa jutek begitu? Entar cantiknya ilang loh," ucap Kak Bram santai.


Fakta baru yang dapat hari ini, Kak Bramana Tahaya yang selalu tampil kalem, cool, dan pastinya selalu bersahaja ternyata memiliki sisi seperti ini. Dan lagi dia pandai memuji.

__ADS_1


"Diam lo, tuyul!" Ujar Aldora.


"Kalian pernah pacaran yah?" Tanya Kak Reinan.


Aldora langsung tersedak oleh minumannya, sedangkan Kak Bram langsung memukul kepala Kak Reinan  lagi.


"Gak lah! Mana mau gue sama cowok macam dia."


"Kalau gue gak keberatan kok," ucap Kak Bram yang di iringi tatapan jijik Aldora. "Becanda kok gue," ucap Kak Bram lagi.


Berani taruhan, gue yakin kalau yang di katakan Kak Bram barusan benar-benar murni dari lubuk hatinya.


"Kirain, kalian pernah pacaran. Trus kalian punya hubungan apa? Kok udah ada panggilan sayang segala?" Tanya Kak Reinan lagi.


Gue sempat berpikir, sepertinya Kak Reinan ada bakat jadi reporter.


"Panggilan sayang apaan sih lo?" Tanya Kak Bram


"Itu Dowes dan Tuyul," jawab Kak Reinan santai.


"Lo kok kepo banget sih, Rei?" Tanya Kak Alfandi. "Itu kan urusan mereka berdua. Mau dia ada hubungan apa kek, itu kan namanya privasi," tambahnya lagi.


"Biar gue jelasin, Dowen itu singakatan nama gue, Aldora Weston. Kalau Tuyul, itu mah panggilan dia dari kecil. Bukan cuman gue yang manggil dia, semua teman-teman komplek juga pada manggil dia Tuyul," ungkap Aldora.


"Kalian udah temenan sejak kecil?" Tanya Kak Alfandi.


Dora menangguk.


"Oh, kirain," ucap Kak Reinan.


"Eh, mana temen kalian yang satunya?" Tanya Aldora, kepada tiga kakak kelas di hadapan kami.


"Temen yang mana?" Jawab Kak Reinan.


"Bukannya kalian bersama Ariana?" Tanya Aldora lagi.


"Ariana? Siapa dia?" Tanya Kak Alfandi bingung.


"Gue juga gak tau!" Jawab Kak Bram.


"Itu loh Kak, Ariana anak pengurus Osis yang baru, dia selalu sama-sama aku kemarin," ucap gue.


"Oh, gue ingat! Tapi, kita gak pernah main bareng sama dia. Jangankan main bareng, kenal aja gak," ucap Kak Reinan.


"Yang mana sih, Rei?" Tanya Kak Bram.


"Itu loh, yang mukanya mirip orang yang habis operasi plastik, yang pernah gue tunjukin ke lo," jawab Kak Reinan.


"Ooh, gue ingat. Eh, tapi bukannya yang lo tunjuk itu si Rana yah?"


Mendadak Kak Reinan terdiam, kemudian menatap ke arah gue.


"Jangan kepedean yah!" Ucapnya.


"Siapa juga yang kepedean."


Idih! Ingin gue bunuh Kakak kelas gue yang satu ini.


"Intinya, kalian gak bareng main ke sini? Atau kalian ketemu di depan trus ngajak dia main sama kalian?" Tanya Aldora cemas.


"Tidak. Kami mah gak pernah ngajak cewek kalau pergi main. Gak ada sejarahnya The Tiger main ngajak-ngajak cewek, apalagi dia sendiria," ucap Kak Alfandi.


Gue dan Aldora langsung saling bertatapan.


Jadi, Ariana telah membohongi kami.


Tapi kenapa?


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2