
Rana Inzyna Logiana (part 12)
Hari ini merupakan hari ke tiga para kepolisian datang untuk menyelidiki tentang sekolah kami. Karena sedang dalam status menjadi tempat kejadian perkara, ruangan Osis yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk berkumpulnya para anggota organisasi kini di tutup dan kegiatan Osis juga sejenak di hentikan.
Dan setelah Kak Reinan menyadari bahwa Clarissa pernah mengatakan bahwa seluruh siswa dan siswi di sekolah ini dalam bahaya, gue, Dora, Kak Alfandi dan juga Kak Bram, sekarang mulai menyadari ada yang aneh dengan Clarissa.
"Dora, lo ngerasa ada yang aneh gak dengan Clarissa?" sambil menyiapkan buku di atas meja.
Dora yang sedang memainkan ponselnya, seketika berhenti lalu menatap gue. "Bukannya, Clarissa emang udah aneh dari dulu? Ini bukan yang pertama kan buat kita?"
Kalau dipikir-pikir lagi, perkataan Aldora memang benar. Terkadang, gue mendapati Clarissa sedang tertawa terbahak-bahak padahal tidak ada orang yang menemaninya di sana. Gue juga pernah melihat Clarissa berbicara sendiri. Dan yang paling parah adalah ketika kami pergi berlibur ke puncak. Clarissa mengatakan bahwa dia ingin pulang, keberadaannya tidak di terima di tempat itu. Padahal, warga di sana sangat baik dan ramah.
"Dora, bagaimana kalau yang dikatakan Clarissa benar? Dia bisa melihat hantu atau sejenisnya?"
"Sisy ... lo gak usah berpikiran macam-macam. Sekali lagi, hantu, setan, jin, dan sebangsannya itu semua mahluk mitos. Mereka tidak nyata sama sekali. Clarissa hanya manusia yang cukup spesial dengan segala keanehannya," jawab Dora.
Kriiing ... kring ... kring ...
Bel masuk berbunyi. Sebenarnya, gue ingin membantah perkataan Aldora. Mungkin, setelah pelajaran selesai, gue akan kembali membicarakan hal ini dengan Aldora. Entah mengapa, perasaan gue mengatakan kalau Clarissa benar-benar bisa melihat mahluk lain selain manusia.
Aldora celingak-celinguk. "Lo kenapa Dora?"
"Clarissa belum datang, apa anak itu sakit?"
Oh my god!
Gue baru menyadari bahwa Clarissa belum menunjukkan batang hidungnya pagi ini. Kepala gue terlalu sibuk memikirkan tentang kemungkinan Clarissa adalah salah satu anak yang mempunyai kemampuan spesial yaitu bisa melihat mereka yang tak terlihat. Sangking terlalu berpikir kerasnya, gue bahkan tidak menyadari bahwa sahabat gue belum datang ke sekolah.
"Oh, God! Gue baru sadar kalau Clarissa belum datang!"
"Mungkin, dia lagi gak enak badan," ucap Aldora.
"Mungkin! Tapi, biasanya kalau Clarissa sakit, dia pasti kasi tahu ke kita. Jangan-jangan, Clarissa dalam bahaya?" gue mulai khawatir dengan Clarissa.
"Huss ... lo jangan ngomong kayak gitu! Habis pelajaran ini, kita hubungi dia. Trus, pulang sekolah nanti kita juga datangin rumahnya. Lo jangan mulai lagi deh, Sisy. Be positif thingking!
Gue mengangguk pasrah, meskipun di dalam hati gue masih sangat khawatir.
*_*ALGEA*_*
Jam istirahat pun telah tiba, gue dan Dora langsung memutuskan untuk menghubungi Clarissa dan menanyakan alasan dia tidak pergi ke sekolah.
"Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk. Silahkan melakukan panggilan β"
Begitu mendengar suara itu, Aldora langsung menutu telponnya.
"Gue tuh, paling kesel kalau nelpon orang, trus ada suaranya mbak-mbak operator ini!" Ujarnya.
Gue tertawa kecil. "Yah, mau gimana lagi! Itu kan tugasnya dia."
"Gue yakin, mbak itu hanya nge-rekam suaranya doang. Ugh! Mood gue jadi berantakan. Clarissa kok gak bisa dihubungi, sih?"
Inilah Aldora. Kalau lagi kesal, malah menyalahkan bahkan memarahi semua orang. Exucally, bukan cuman orang, bahkan benda pun dia banting kalau moodnya sedang tidak dalam kondisi normal.
"Kita hubungi Clarissa lagi," saran gue.
Aldora mengangguk dengan wajah yang sangat menyeramkan. Gue bahkan tidak tahu dia marah dengan siapa?
Kami mencoba menghubungi Clarissa berkali-kali, tetapi sayangnya tidak ada yang tersambung sama sekali.
"Kita hubungin Mommy-nya aja, yuk!" saran Dora.
__ADS_1
"Baiklah!"
Setelah menghubungi Mommy, kita akhirnya menemukan jawabannya. Clarissa memang dalam kondisi tidak sehat.
"See? Gue kan udah bilang!" ujar Dora.
"Lo benar!"
"Kita ke kantin, yuk!"
Gue mengangguk setuju.
*_*ALGEA*_*
Karena jarak kantin dan juga kelas gue tidak teralu jauh, gue dan Dora bisa sampai dalam waktu yang singkat. Begitu memasuki wilayah kantin, gue langsung menangkap sosok ketiga Kakak kelas gue yang sangat populer. Apalagi, dikalangan gadis-gadis.
Dora menyikut lengan gue. "Sisy, kita jangan makan di dekat tiga orang aneh itu," ujarnya.
"Yap! Gue juga gak ada niatan buat dekat-dekat sama mereka."
Karena para Kakak kelas itu berada di wilayah sebelah kiri, gue dan Dora terpaksa akan berjalan ke arah yang berbeda.
"Perasaan gue aja nih yah, gue kok ngerasa lo itu cocok sama Kak Reinan, yah?" ucap Dora tiba-tiba.
Mata gue melebar, "cocok muke lo! Dia bukan tipe gue!!"
"Oke ... oke! Lo gak usah se-marah itu kali!" ucap Dora.
"Elo sih!"
"Fine, baby! Kita pesan makana, yuk!"
Baru saja tiga langkah kami berjalan, tiba-tiba dari arah belakang kami.
Gue dan Dora mematung.
"Jangan balik! Kita pura-pura gak denger aja. Yuk, lanjut jalan!" ujar Dora.
Gue mengangguk setuju.
Kami lanjut berjalan, tanpa memperdulikan lagi suara Kak Bram yang memanggil Aldora. Setelah memesan makanan, kami pun mencari tempat. Begitu mendapat tempat, kami langsung duduk dan langsung menyantap makanan kami.
"Hai, girls ..."
Aldora langsung tersedak mendengar suara itu.
"Minum dulu, Dowes!" ujar Kak Bram.
Setelah minum, Aldora langsung memukul kepala Kak Bram. Dan adegan itu disaksikan oleh seluruh penghuni kantin. Gue melihat, para gadis yang menjadi fans ketiga Kakak kelas itu menatap kesal ke arah Dora.
"Lo mau apa sih?!" ujar Aldora.
"Gue mau, lo denger gue!" ujar Kak Bram.
"Pergi sana! Gue mau makan dengan tenang!" Aldora kembali memakan makanannya.
Karena menyadari situasinya kurang enak, gue langsung berinisiatif untuk menyuruh ke tiga Kakak kelas itu duduk. Meskipun mendapat pelototan tajam dari Dora, gue masih tetap menawarkan tempat duduk kepada merek. Dan syukur banget, ketiganya menerima tawaran gue.
"Maafin Dora, Kak!"
"Kenapa lo minta maaf? Orang dia yang salah!"
__ADS_1
Kak Alfandi tersenyum ramah. "Benar! Dilihat dari mana pun, kita memang salah karena ngagetin kalian," ucapnya.
"Yang salah cuman Bram doang, yah! Gue dan lo gak ngelakuin apa-apa," ujar Kak Reinan.
"Serah lo aja deh, Rei!" ucap Kak Alfandi pasrah.
"Kok lo berdua aja?" Tanya Kak Bram.
"Iya, Kak! Clarissa gak datang ke sekolah, dia sakit," jawabku.
Mereka bertiga saling bertatapan sambil memasang wajah heran yang terlihat sangat jelas dimataku.
"Clarissa sakit? Dari mana lo tau kalau dia sakit?" Tanya Kak Reinan.
"Kita udah hubungi Mommy-nya. Dan beliau bilang, Clarissa emang lagi gak enak badan," jawab dora lalu memasukkan sesuap bakso ke dalam mulutnya.
"Trus, yang kita liat tadi siapa?" Tanya Kak Bram.
Gue dan Aldora terkejut. Kami berdua saling berpandangan.
"Lo liat Clarissa?" Tanya Aldora.
"Yap! Bukan cuman gue, Al dan Rei juga melihatnya," jawab Kak Bram.
"Lo yakin itu Clarissa? Siapa tau kalian cuman salah orang!" gue mulai merasa bingung.
"Gak! Kami gak salah liat. Lo kira kami bertiga punya ingatan yang buruk? Kami mengenali sosoknya. Terutama gue! Gue bisa menghapal wajah seseorang meskipun hanya sekilas saja," jawab Kak Reinan.
"Lo yakin?" ucap Aldora sambil menatap Kak Bram.
"Seratus persen yakin!" jawabnya diiringi anggukan kedua sahabatnya.
"Dimana kalian melihatnya?"
"Diparkiran sekolah," jawab Kak Alfandi.
"Kapan?" Tanya Dora lagi.
"Tadi pagi," jawab ketiga Kakak kelas itu bersamaan.
Gue menatap Dora.
Clarissa kemana??
*_*ALGEA*_*
*
*
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1
Happy Reading, Sahabat Bintangβ€π