ALGEA

ALGEA
BAB 29 (bunuh diri or dibunuh)


__ADS_3

Rana Inzyna Logiana (Part 10)



Terjadi lagi. Yah, kejadian aneh yang menimpa sekolahku ini kembali terulang. Kemarin, kami seantero sekolah dikejutkan dengan penemuan beberapa mayat yang tergantung. Ada yang di pohon dan adapula di atas plafon salah satu ruang ekskul. And now, tiba-tiba puluhan mayat burung gagak yang sangat mengerikan berhamburan di bawah lantai ruang OSIS


Gea yang pertama kali melihat tempat ini sangat syok. Wajahnya tiba-tiba pucat. Kak Bram, Kak Reinan, dan juga Kak Alfandi yang tiba bersamaan dengan gue tanpa basa-basi langsung menggeledah ruangan ini.


Gue menghampiri Gea. "Lo gak apa-apa, Ge?"


Geava menatap gue dengan sorot mata ketakutan. "Gu—gue ..."


"Lo bawa dia ke uks aja, dia pucat banget Ran," saran Clarissa.


Gue mengikuti saran Clarissa. "Gue bawa lo ke uks yah?"


"Gak usah, Ran! Gue baik-baik aja. Gue cuman kaget," ucapnya.


"Kalau begitu, lo duduk aja dulu." Gue langsung membawa Geava ke tempat duduk.


Saat ini, sekeliling ruang OSIS dipenuhi oleh para siswa dan siswi yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan. Sangking banyaknya orang, Aldora sampai kena dorong. Dan itu membuat sahabat gue murka.


"Siapa yang ngedorong gue? Hah? Ngaku!" ujarnya.


Hening. Seluruh siswa baik laki-laki maupun perempuan seketika terdiam mendengar ucapan Aldora.


"Kalian semua pergi dari sini! Cepat!" pekik Dora.


"Tapi Dora kita –"


Aldora langsung menatap penuh intimidasi ke seorang siswi yang berani-berani membantah ucapannya.


"Baiklah! Ayo kita pergi," ucap siswi itu sambil perlahan mundur. Mereka semua ketakutan melihat sorot mata Aldora yang seakan-akan mampu menusuk mata yang melihatnya.


Setengah dari siswa itu sudah pergi, kini tersisa beberapa yang lainnya. Dan mereka semua adalah teman kelas gue.


"Masa lo mau nyuruh kita pergi juga, Dora?" ucap Dendi.


"Jangan mentang-mentang lo semua temen sekelas gue, trus lo bisa menjadi pengecualian? Hah! Lo semua juga pergi!"


"Yah, Dora ..., kita kan cuman kepo aja!" ucap Ratu.


Aldora mendengus. "Dasar manusia-manusia kepo! Baiklah, karena kalian semua teman sekelas gue, nanti gue bakalan ceritain semuanya.Tapi kalian harus tetap pergi dulu dari sini. Entar, kalau gue udah di kelas baru gue ceritain. Oke?"


Semuanya saling bertatapan. Gue yakin, mereka pasti masih ingin tinggal. Tapi apa daya, mereka juga tidak bisa melawan kata-kata Aldora.


"Baiklah! Ayo, guys kita ke kelas." Ucap Dendi. Seluruh teman-teman sekelas gue akhirnya pergi meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


"Dendi!" panggil Clarissa.


Dendi langsung berbalik. Begitu mengetahui siapa yang memanggilnya, dia terdiam.


Clarissa mendekat. "Bisa gak gue minta tolong?"


Dendi sangat tekejut. Bukan cuman dendi, gue dan Dora pun sama. Clarissa, bukan orang yang berbicara dengan siapa pun. Bukannya dia pilih-pilih teman, Clarissa cuman tidak mau membuang tenaga untuk hanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dikenalnya, kecuali disaat-saat yang genting. Jadi, kalau Clarissa berbicara atau menanyakan sesuatu hal ke teman-teman kelas, itu membuat semuanya senang. Karena dia jarang-jarang membuka suaranya.


"Boleh!" jawab dendi.


"Tolong kamu panggil beberapa guru untuk segera datang ke tempat ini," ucap Clarissa. Bola mata Dendi sedikit melebar ketika Clarissa berjalan lebih dekat ke arahnya.


Gue melihat Clarissa seperti membisikkan sesuatu kepada Dendi. Dendi mengangguk, lalu menunjukkan kedua jempolnya. Mendapat respon positif, Clarissa langsung tersenyum.


"Terimakasih, Dendi," ucapnya.


"Sama-sama! Gue pergi dulu yah!" ucap Dendi.


*_*ALGEA*_*


"Lo nemu sesuatu?" Tanya Kak Bram kepada kedua sahabatnya.


"Gue gak nemuin apa-apa, " jawab Kak Alfandi.


"Gue pun!" ucap Kak Reinan.


"Ran, lo masuk kelas aja. Bawa teman-teman lo dan Geava juga," perintah Kak Bram.


"Trus kalian bertiga bagaimana?" Tanya Aldora.


"Kami bakalan tunggu sampai pihak kepolisian datang," jawab Kak Reinan.


"Kalian menghubungi polisi? " Tanya Dora lagi.


"Gue yang menghubungi kepolisian," jawab Kak Bram. "Sekolah kita seperti mendapatkan teror dari oknum yang tidak bertanggungjawab," ujarnya lagi.


Sambil berjalan mendekati ketiga kakak kelas itu. "Kenapa Kak Bram gak manggil guru-guru, paling tidak satpam sekolah aja dulu? Untuk menghubungi pihak kepolisian seperti ini, bukan urusan kita."


"Ini urusan kita juga! Kita semua dalam bahaya. Kalau kejadian-kejadian aneh seperti ini sering terjadi di sekolah, bagaimana? Kita juga gak bisa mempercayakan kasus ini kepada guru-guru, satpam, ataupun para pekerja kebersihan. Bagaimana kalau pelakunya ada diantara mereka semua?" ujar Kak Reinan.


"Benar yang dikatakan Reinan, Rana! Lo coba pikir kembali, beberapa kasus yang menimpa sekolah kita. Pertama penemuan mayat di bawah pohon. Kedua, penemuan dua mayat lagi diruang ekskul? Seluruh kasus ini diketahui oleh kepala sekolah, guru dan beserta staf sekolah. Tetapi lihat apa yang terjadi? Mereka seakan-akan menutupi kasus ini," ucap Kak Alfandi. "Bahkan, selama kita diliburkan selama dua hari, tidak ada tanda-tanda penyeidikan dari pihak kepolisian sama sekali." ucap Kak Alfandi.


Aldora mengangkat tangannya. "Tunggu, bukannya kedua kasus itu murni karena faktor kesengajaan? Toh, mereka yang ingin mengakhiri dirinya sendiri. Bagaimana lo tau kalau sekolah tidak melakukan penyelidikan?"


"Apakah lo percaya kalau mereka bunuh diri, bukannya dibunuh?" Tanya Kak Reinan yang seketika membuat buluk kuduk gue begidik. Bukannya apa, membayangkan ada psikopat yang berkeliaran di sekolah ini membuat gue ketakutan.


Gue, Dora, Clarissa dan juga Gea menatap penuh arti ke arah Kak Reinan.

__ADS_1


"Tentang penyelidikan, kami bertiga datang ke sekolah. Bram melupakan berkasnya di dalam ruang OSIS ini. Ketika sampai di sekolah, kami tidak melihat ada tanda-tanda akan dilakukannya penyelidikan. So, pastinya pihak sekolah hanya ingin menutupi kasus ini. Dan lihat sekarang, kejadian menyeramkan ini kembali terjadi," ujar Kak Reinan.


Kami semua terdiam.


"Bagaimana kalau ternyata lo salah," ucap Aldora.


"Salah?" Tanya Kak Reinan sambil menaikkan satu alisnya.


Aldora berjalan pelan menuju pintu, lalu menyederkan badannya di dinding pintu itu. "Yap! Bagaimana kalau ternyata pelakunya bukan para guru, atau staf sekolah?"


"Maksud lo, pelakunya kepala sekolah?" Tanya Kak Bram.


Aldora menggelengkan kepalanya, "bagaimana kalau pelakunya adalah salah satu siswa di sekolah ini?"


Brug!


Clarissa tiba-tiba menjatuhkan handphone-nya. Alih-alih mengambil ponsel itu, Clarissa malah membiarkannya tergeletak di bawah lantai persis di samping bangkai burung gagak yang masih mengeluarkan darah segar, dia menatap tajam ke arah kami semua.


"Pelakunya bukan kepala sekolah, guru, staf sekolah atau pun siswa di sekolah ini," ucapnya. "Percayalah! Aku benar-benar berkata sejujurnya," ucap Clarissa serius.


"Lo tahu siapa pelakunya?" Tanya Kak Reinan.


"Kalau gue menjawab iya, kalian pasti tidak akan percaya dengan apa yang gue katakan!"


"Kami akan percaya dengan apa pun yang lo katakan," ucap Kak Alfandi tegas.


"Sebenarnya –"


Prak!


Tiba-tiba Kepala Sekolah datang, lalu menghantam meja yang ada di hadapan kami.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya murka.


*_*ALGEA*_*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG


__ADS_2