
Selamat membaca ❤❤❤
.
.
.
Arsen dan Alina sampai di rumah mewah milik keluarga Arsen.
" Siapkan jawaban kamu ya Al,
jangan main-main dengan saya "
Arsen mengancam Alina sebelum memasuki rumah nya.
Di meja makan terlihat kakek Yos yang sedang menunggu mereka. Aditia dan istrinya masih belum keluar dari kamar.
"Kek...
Arsen menyalami tangan kakek Yos dan diikuti oleh Alina.
Arsen duduk di kursi tempatnya biasa.
" ting ting.
sebuah pesan WA masuk ke ponsel Arsen.
Arsen membuka pesan itu yang ternyata adalah sebuah foto yang dikirim oleh Ezra.
Arsen sangat terkejut melihat foto tersebut.
"Bos..
Semoga foto ini bisa melancarkan rencana kita. "
Ezra mengirim pesan singkat kepadanya.
"Ijah...
panggilkan Aditia ke kamarnya ya..
Arsen dan Alina udah nungguin.. "
kakek Yos menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil Aditia.
Terlihat Arsen masih sibuk dengan ponselnya.
"ting..
ting.. "
Terdengar bunyi ponsel Alina.
Ia membuka pesan yang baru masuk.
Deg....
Alina sangat terkejut saat melihat isi dari pesan tersebut.
"Jika kamu tidak mau foto ini tersebar maka kamu harus mengikuti perintah saya. "
Arsen mengirim sebuah ancaman kepda Alina.
Alina menelan salivanya. Ia berusaha tetap telihat tenang.
"Permisi kakek, saya tinggal sebentar ke toilet ya... "
Alina.
"Iya..
silahkan nak..
Arsen tolong kamu antar ya..
Alina pasti belum tau dimana toilet.. "
Kakek Yos memerintah Arsen.
"Iya kek.. "
Jawab Arsen
Arsen segera berdiri dan berjalan ke arah toilet. Dari belakang Alina mengikuti Arsen.
Setelah berada agak jauh dari kakek.
Alina menarik tangan Arsen.
" Bapak ini yaaa...
nggak sopan banget ...
dapat dari mana foto saya... "
Terlihat Alina tidak dapat menahan amarahnya kepada Arsen.
"Saya sudah bilang kan..
jangan berani nolak permintaan saya..
bahkan saya bisa lebih dari ini..
mau saya tunjukkan vidio mesum kamu juga.. "
__ADS_1
Arsen kali ini berbicara agak lembut karena kemenangan ada di tangannya.
Alina sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi.
Ia kembali ke meja makan, diikuti oleh Arsen dari belakang.
Terlihat Aditia dan Rani sudah menunggu di meja makan.
"Ayo Alina tinggal menunggu kalian"
Ucap kakek Yos.
Makan malam terlihat begitu akrab. Sesekali terlihat Arsen dan kakek Yos terkekeh membicarakan masa kecil Arsen.
"Kamu tau Al..
Dulu yaa, Arsen ini orangnya cupu banget...
Dia nggak pernah berani bicara dengan wanita. hahahaha ha.. "
Aditia membocorkan sedikit rahasia Arsen.
"Ia makanya kakek agak terkejut saat Arsen membawa kamu sebagai kekasih nya."
kakek Yos menyambung perkataan Aditia.
Alina hanya tersenyum saja saat mendengar celotehan mereka.
"Alina...
kamu serius kan dengan anak tante"
Rani membuka pembicaraan serius.
Alina menghentikan kegiatan makanya.
Ia tersedak saat ditanya oleh mama sambung Arsen.
Alina melirik ke arah Arsen. Ia bingung harus menjawab seperti apa.
"Ia tante saya serius, apalagi kalau Arsen menerima saya apa adanya.
Saya ini hanya dari keluarga biasa tante.'
Jawab Alina dengan sedikit gemetar.
Terlihat Arsen sedikit lega dengan jawaban Alina.
" Ia mam..
jika Alina siap kami akan segera menikah.
Arsen menyambung perkataan Alina.
"Kenapa kamu belum siap nak? "
" Soalnya saya baru lulus kuliah kek..
saya mau membangun karir dulu"
Jawab Alina.
"Gini aja nak..
kalau kamu menikah dengan Arsen kakek akan bantu kamu buka Usaha.
Atau kamu aja yang jalankan usaha kakek. "
Kakek Yos berusaha meyakinkan Alina agar mau menikah dengan cucu kesayangannya itu.
"Nanti saya pikirkan dulu ya kek.. "
Jawab Alina.
"Ia kek, jangan terlalu di paksa. "
Arsen sedikit memberi pembelaan untuk Alina.
Semua telah selesai makan malam.
Alina merasa sedikit lega karena kakek Yos tidak memaksa untuk menikah dengan Arsen.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
" Pa, Kakek?...
Arsen nganter Alina pulang dulu yaa..
Takut nanti kemalaman"
Arsen tidak ingin membuang-buang waktu.
"Iya udah..
Besok kakek akan kembali ke pekanbaru.
Kakek akan menunggu kabar biak dari kalian. "
Kakek mengarahkan tatapannya menuju Alina dan Arsen.
"Iya baik kek..
Kita jalan dulu.. "
Jawab Arsen sambil merangkul Alina"
__ADS_1
"Hati-hati ya sayang "
Ucap Rani.
"Tante, om...
Kakek..
kita permisi dulu yaa.. "
Alina menyalim tangan mereka secara bergantian.
***
Malam ini terlihat jalanan mulai sunyi.Arsen mengemudi dengan santai.
"Al..
sebenarnya saya juga belum mau menikah. Saya tidak bisa menolak permintaan kakek Yos"
Ucap Arsen.
"Ya saya juga belum memikirkan tentang pernikahan pak."
Jawab Alina sambil memandangi jalanan.
"Kalau misalnya kamu kerja untuk saya sebagai isteri pura-pura saya gimana.
Saya akan memberikan kamu kompensasi yang cukup.
Anggap saja kamu bekerja secara profesional untuk saya. "
Arsen
" Selama berapa lama pak?
Saya tidak pernah berfikir untuk menjadi janda. "
Alina
Saya janji, akan menjaga kamu.
diantara kita tidak akan terjadi apapun"
Jelas Arsen.
"Saat ini saya tidak bisa berfikir pak.
tolong kasih saya waktu untuk memikirkan semua. "
Alina.
Sehabis itu tidak ada percakapan lagi diantara mereka.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di pekarangan rumah Alina.
Alina keluar dari mobil Arsen.
Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Arsen. Ia hanya memutar balikkan mobilnya dan langsung pergi.
Arsen dengan santai membelah jalan malam.
"Dasar wanita bodoh"
Gumamnya. Arsen agak sedikit jijik setelah melihat vidio dan foto Alina bersama Leo.
Tidak berapa lama Arsen sampai di kantor. Malam ini ia memilih untuk beristirahat di ruangan pribadinya saja.
***
Di kamar terlihat Alina sedang mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Duhh gue pegel banget... "
Ucapnya sambil membaringkan diri di tempat tidurnya.
"Besok Tiya jadi gak ya jemput gue..
besok kan malam minggu" Ujarnya lagi sambil membuka ponselnya.
" Ti besok jadi nggak lo datang.. "
Alina mengirimkan pesan melalui aplikasi WA miliknya. Namun pesan tersebut hanya menunjukkan centang satu, pertanda ponsel Tiya sedang tidak online.
" kok cuman centang satu sii..
mungkin udah bobok "
Ujarnya lagi sembari meletakkan ponsel miliknya.
Dua jam lebih Alina mencoba untuk terbang ke alam mimpi. Tetapi usahanya sia-sia.
Di Pikiran Alina selalu terlintas bayangan Leo. Mungkin Alina dapat menerima kalau Leo sudah menikah, tapi ia tidak dapat menghilangkan rasa rindunya malam ini.
"Kayaknya gue memang harus nyari pelampiasan biar bisa lupain dia secepatnya gumamnya. "
Alina mengambil ponsel miliknya, ia melihat-lihat story temannya. Terlintas sebuah story milik Leo yang menunjukkan ia sedang menginap di sebuah hotel. Hati Alina semakin panas.
" Setidaknya kamu hargai sedikit perasaan aku kak"
Gumam Alina sambil menyeka air matanya.
Alina menutup ponselnya. Ia berdiri di jendela sambil memandang hujan yang sedang turun membasahi bumi.
"Bahkan bumi pun ikut merasakan sakit yang ku rasakan ini"
__ADS_1
Gumamnya.
***