Alina Sekretaris Mungil

Alina Sekretaris Mungil
Bab 20


__ADS_3

Selamat membaca ❤️❤️❤️


.


.


Kamu ini beneran buat saya emosi yaa!!!." Arsen berlalu dari hadapan Alina. Ia pergi menuju kamar mandi.


Huftttt...


Pak Arsen ini bagaimana sihh...


masak gue disuruh mandi cuma pake air aja..


mandi katak dong, jadinya. Belum sehari menikah udah bertengkar, gimana kalo bertahun-tahun???" Gumam Alina sambil duduk di meja rias.


Arsen kini sudah terlihat memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


" Al, kita habis ini ke supermarket ya, saya tidak bisa berbagi sabun dan shampo dengan kamu" Ucap Arsen.


" Ia pak Arsen, maaf ya kalau saya sudah lancang." Jawab Alina.


Arsen memilih pakaian yang akan ia kenakan dan kembali ke kamar mandi.


***


Di ruang tamu, terlihat masih berkumpul beberapa kerabat dekat Arsen. Malam ini mereka akan mengadakan jamuan makan malam.


Arsen dan Alina menuruni tangga untuk menemui mereka.


" Arsen!!!..


Kebetulan kamu sudah ada disini nak." Ucap kakek Yos yang sedang duduk bersama mereka.


"Iya ada apa kek? " Jawab Arsen.


"Ini ada tiket liburan ke daerah Sumut, Kakek mau recommend kamu liburan kesana. Soalnya kamu kan sibuk jadi bakal nggak punya waktu buat liburan bareng. Iya kan?" Ucap kakek Yos.


"Honeymoon maksud kakek?" Arsen mempertegas ucapan kakek Yos.


" Iya... Itu maksud kakek, ada teman kakek yang punya hotel disana. Katanya sih bagus. Kamu sama Alina kesana aja ya?" Ujar kakek Yos.


"Kenapa harus disana kek? Kan bisa ke Bali atau ke Lombok. " Ucap Arsen.


"Sekalian nanti kalian singgah di tempat Kakek. Setelah kalian menikah kakek akan menyerahkan perusahaan kakek kepada kalian." Ucap kakek Yos.

__ADS_1


Arsen hanya terdiam mendengar pendapat kakek Yos.


"Bagaimana Al, kamu setuju dengan pendapat kakek kan? " Kakek Yos mencoba meminta pendapat Alina.


"Kalo itu terserah Mas Arsen saja kek, Alina ngikutin aja." Ucap Alina.


" Itu akan Arsen pikirkan nanti,sekarang kami mau keluar sebentar ya kek." ucap Arsen sambil menarik Alina untuk meninggalkan mereka.


Terlihat Arsen dan Alina sedang berada di supermarket dekat rumah. Alina segera mengambil keranjang belanjaan. Alina berjalan menelusuri rak yang ada di dalam supermarket tersebut.


Setelah selesai belanja, Alina membayar tagihan belanjaan dan Arsen sudah terlebih dahulu keluar.


Arsen kini berfikir keras bagaimana caranya agar terbebas dari kakek Yos. Ia sangat tidak nyaman tidur jika ada orang lain di dalam kamarnya.


Alina kini sudah berada di samping Arsen. Barang belanjaannya kini sudah ia letakkan di jok belakang.


"Al? malam ini kita nginap di hotel saja ya..." Ucap Arsen.


"Kok gitu pak? nanti kalo kakek nyariin gimana?" Tanya Alina.


" Sebenarnya saja tidak nyaman kalo ada orang asing yang tidur dengan saya." Arsen mempertegas maksudnya. Biar gimanapun Arsen adalah laki-laki normal yang sudah dewasa. Ia hanya yg takut tidak bisa mengendalikan dirinya saat pagi hari.


"Ya terserah bapak saja, saya nggak papa." Jawab Alina.


Arsen mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia kini mencoba menghubungi kakeknya.


Alina merasa lega karena dia dan Arsen akan menempati kamar yang berbeda. Terus terang saja Alina belum merasa nyaman bila terus berdekatan dengan Arsen.


***


Kini Matahari sudah terbit di sebelah timur. Hari ini terlihat begitu cerah, seolah bumi menyambut status baru yang di sandang oleh Alina dan Arsen.


Alina terlihat masih begitu nyaman dengan tidurnya. Berbeda dengan Arsen yang sudah sibuk dengan ponselnya. Ia begitu semangat saat Ezra membacakan jadwalnya hari ini.


Begitulah sosok Arsen yang tidak pernah lelah membangun perusahaan yang kini sedang di pegang olehnya.


Tokk tokkkk ...


Arsen mengetuk pintu kamar Alina. Alina yang sedang melakukan ritual mandinya tidak mendengar kalau ada yang mengetuk pintu.


Tidak ada pertanda pintu akan dibukakan oleh Alina. Arsen mencoba menghubungi Alina, namun tidak dijawab.


Arsen yang terburu-buru memutuskan untuk meninggalkan Alina di hotel. Ia meninggalkan pesan kepada Alina lewat aplikasi WhatsApp miliknya.


***

__ADS_1


Tepat pukul tujuh pagi Arsen sudah berada di kantor, Ia mengganti pakaiannya di kamar pribadinya. Kebetulan disana Arsen meninggalkan beberapa pakaian kantor.


Di kursi kebesarannya, Arsen membaca beberapa berkas yang akan ditandatangani olehnya. Walaupun baru menikah Arsen tidak mau meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Ada beberapa proyek yang harus ia tangani sendiri.Tidak dapat diwakilkan oleh Ezra, karena proyek ini adalah proyek besar.


Di kamar hotel, Alina sudah membaca pesan dari Arsen. Arsen memintanya untuk menunggu dirinya di kamar. Seseorang akan mengantarkan kebutuhannya ke hotel.


Tadi pagi Arsen sudah menyuruh Desy untuk membeli beberapa pakaian wanita untuk Alina. Arsen memintanya untuk menitipkan kepada pelayan di hotel. Arsen tidak mau Desy bertemu langsung dengan Alina. Ia takut terjadi kesalahpahaman.


***


Alina kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Huftttt.....


Ribet banget sihhhh si Arsen itu, kenapa aku nggak pulang aja ke rumah ayah. Aku bisa ambil sendiri barang-barangku disana." Gumamnya kesal.


Alina tidak mengerti bahwa Arsen belum sempat berpikir mengenai tempat tinggal mereka. Bagi keduanya sangat tidak mungkin tinggal di rumah orang tua Arsen.


Waktu kini sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Alina belum juga memakan sarapannya yang diantar oleh pelayan hotel. Terlihat makananya masih utuh di atas meja. Ia tidak berselera untuk makan, karena ia sangat kesepian. Biasanya paginya ditemani oleh pagi yang hangat bersama keluarganya.


Arsen kini sudah berada di parkiran hotel mewah itu. Tidak sengaja ia bertemu dengan Desy yang bermaksud untuk mengantarkan titipan Arsen.


" Sayang, kebetulan kita bertemu disini." Ucap Desy.


"Ia kebetulan juga aku ingin berbicara dengan mu. Ayo ikut aku ke atas." Gumam Arsen.


Arsen berjalan menuju kamar Alina yang diekori oleh Desy dari belakang.


Desy sudah mengetahui maksud Arsen untuk mengajaknya ke hotel ini, untuk bertemu dengan Alina .


Desy harus merelakan Arsen untuk menikah dengan Alina walaupun ada setitik rasa sakit di dalam hatinya. Disisi lain ia harus sadar pada posisinya.


" Tokkkk tokkkk "


Arsen mengetuk pintu kamar Alina. Terlihat Alina begitu semangat untuk membukakan pintu, karena ia akan segera mengganti pakaiannya. Namun yang terlihat di depan pintu adalah Arsen yang sedang bersama dengan Desy.


"Pak Arsen, mengapa begitu cepat sampai disini. Bukankah bapak hari ini masuk kantor?" Tanya Alina.


"Pekerjaan saya di kantor sudah selesai. Kita harus membicarakan sesuatu Al." Ucap Arsen sambil duduk disebuah sofa. Begitu juga Desy yang mengikuti Arsen duduk disana.


"Ini pakaian untuk mu, ganti dulu baru kita akan bicara." Ucap Arsen.


Alina menerima beberapa paper bag yang diberikan Arsen. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2