Alina Sekretaris Mungil

Alina Sekretaris Mungil
Bab 24


__ADS_3

Selamat membaca ❤️❤️❤️


Terlihat Arsen masih berada di dunia mimpinya. " Pak... heiii... bangun, ada kakek di luar." Ucap Alina.


"Haaa apa? Dari mana kakek tau alamat apartemenku? " Arsen beranjak dari tempat tidur. Ia tidak mau kalau sampai kakek Yos mengetahui keberadaan Desy di apartemennya.


Arsen menemui kakek Yos diruang tamu."Kek, maaf Arsen baru bangun, soalnya tadi malam Arsen begadang ngerjain tugas kantor." Arsen terpaksa berbohong untuk menutupi kesalahannya.


"Hemmm ya sudah, penerbangan kita,sudah kakek dibatalkan. Kakek mau menginap disini semalam. Besok kita akan berangkat bersama." Ujar Yos.


Degg... Arsen menelan salivanya. Ia bingung harus bagaimana. Ia tidak mau Kakeknya mengetahui jika ia dan Alina tidak benar-benar menikah.


"Tidak usah kek, kita berangkat hari ini. Biar Arsen yang mengatur ulang keberangkatan kita ya." Ujar Arsen.


" Ia kek, soalnya kita cuti cuman sebentar. Nanti kalo liburannya kelamaan siapa yang ngurusin kantor." Ucap Alina.


"Sebentar ya, Arsen siap-siap." Arsen berlari menuju kamar.


Dikamar Arsen mengambil ponselnya. Ia menghubungi Ezra untuk mengurus tiket pesawat.


Tuttttt..... tuttttt...


"Hallo bos, ada apa? " Terdengar suara Ezra di balik benda pipih milik Arsen.


"Ezra, tolong kamu pesan tiket pesawat ke Pekanbaru hari ini juga ya" Arsen.


"Untuk keberangkatan kapan bos?" Tanya Ezra.


"Untuk Hari ini juga" Arsen.


"Baik bos" Ucapnya sambil memutuskan sambungan mereka.


Tidak lama kemudian Arsen keluar dengan membawa koper milik Alina. Ia sengaja ingin cepat keluar dari apartemen miliknya. Ia takut kakeknya mengetahui keberadaan Desy.


"Kakek ayo kita berangkat" Gumam Arsen.


Kini mereka sudah berada di dalam taxi menuju Bandara. Terlihat sebuah notifikasi, Ezra mengirimkan kode tiket pesawat.


Setelah sampai di Bandara Arsen langsung memberikan kode tiket kepada petugas bandara. Ternyata mereka akan berangkat pada jam 12 siang, menggunakan pesawat dengan fasilitas ekonomi.


"Sialan si Ezra..." Gumam Arsen.


"Kenapa Mas? " Tanya Alina yang melihat wajah Arsen yang masam.


"Kita akan menggunakan pesawat kelas ekonomi. Kamu tidak masalah kan? " Ujar Arsen.


"Ya enggaklah, masak gitu aja jadi masalah." Jawab Alina.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu" Ucap Arsen kembali ke petugas yang tadi.


Setelah selesai urusan tiket, Arsen kembali menemui Alina yang terlihat sedang mengobrol dengan kakek Yos.


"Al... sebentar deh.. saya mau berbicara" Ujar Arsen.


"Ya udah bicara disini saja" Ujar kakek Yos.


"Ini masalah suami dan istri kakek..." Tegas Arsen kepada kakeknya.


Terlihat Alina sedang mengekori Arsen yang berjalan menuju toilet. Arsen mencari tempat yang aman untuk berbicara dengan Alina.


"Al... kamu jangan buka mulut ya soal Desy. Kamu tau kan ini demi kamu juga." Jelas Arsen.


"Ia pak, beres.." Ucap Alina.


"Bagus kalo begitu, saya akan transfer uang bonus untuk kamu" Ujar Arsen. Terlihat Arsen sedang mengotakatik ponselnya. " Itu udah saya kirim ke kartu yang semalam saya kasih ke kamu." Ujar Arsen.


"Berapa? " Tanya Alina.


"Nihh.. kamu liat sendiri" Ujar Arsen.


Glekk.. Alina menelan salivanya saat melihat nominal yang diberikan Arsen. Tidak tanggung-tanggung saldo tiga ratus juta kini sudah menjadi miliknya.


"Awas saja kalau ketahuan kakek, kamu akan tau akibatnya." Ujar Arsen yang melangkah meninggalkan Alina.


"Ya ayolah kita cari restoran di sekitar sini" Seru Yos yang beranjak dari tempat duduknya.


Kini mereka bertiga sudah berada di dalam restoran cepat saji. Alina dan Arsen begitu menikmati makanan mereka. Apalagi Arsen yang tadi pagi masih belum sempat sarapan.


"Arsen, kakek tidak mau kamu main-main dengan pernikahan. Kakek tidak suka itu" Ucap Yos.


"Iya kek, Arsen nggak main-main dengan pernikahan ini."Jawab Arsen dengan santai.


"Kakek, akan sangat bahagia kalau kamu sukses dalam berumah tangga. Bagi manusia jikalau mereka sukses dalam berkeluarga maka mereka anggap itu adalah surganya dunia." Ujar kakek Yos.


"Ia benar kek, tapi hanya orang beruntung yang dapat menikah dengan orang yang dicintainya dan mencintai dirinya." Ujar Alina.


"Maksud kamu apa nak?" Kakek Yos tidak mengerti perkataan Alina.


"Maksud Alina, banyak orang yang melakukan pernikahan dengan alasan yang berbeda. Hanya sedikit diantara mereka yang saling mencintai lalu menikah. Selebihnya hanyalah pernikahan simbiosis mutualisme." Jelas Alina.


"Ia kek, tidak semua orang beruntung seperti kami ini" Ujar Arsen.


"Ia makanya kakek menyuruh kalian untuk menikah, kalau urusan pekerjaan bisa kapan saja." Ujar Yos.


Kini terlihat mereka sudah selesai. Arsen membayar tagihan mereka,setelah itu mereka pergi ke tempat untuk menunggu keberangkatan.

__ADS_1


Mereka bertiga kini sudah berada di dalam pesawat. Alina terlihat sedikit gugup ketika pesawat lepas landas.


"Al, kamu kenapa?" Tanya Arsen yang duduk bersebelahan dengan Alina.


"Nggak papa Mas."Jawab Alina sambil terus memegang tangan Arsen.


"Ngga papa gimana, tangan aku sakit kamu pegang kayak gini." Ucap Arsen yang menahan rasa sakit karena tangannya diremas oleh Alina.


"Saya takut Mas, belum pernah naik pesawat." Ujar Alina.


"Kamu takut apa? Takut mati?" Ucap Arsen.


Alina hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu sayang sama hidupmu, kamu nggak bakal pernah memikirkan kematian." Ucap Arsen.


"Siapa yang takut. Saya cuma agak merinding aja pas take off tadi." Alina menutupi rasa takutnya.


"Kamu tidak perlu takut nak, take off cuma sebentar. Nanti juga kamu terbiasa kok." Ucap Kakek Yos yang duduk di sebelah Arsen, dekat dengan jendela.


"Kamu serius, ngga pernah naik pesawat?" Tanya Arsen.


"Ia mas, orang tua saya dari dulu sibuk bekerja. Kalaupun liburan paling yang deket.Mereka nggak punya uang buat liburan ke beda pulau."Jelas Alina.


"Ohhhh... pantes." Ujar Arsen.


"Pantes apa maksud kamu Mas? " Alina memastikan maksud perkataan Arsen yang ambigu.


"Ya pantes kamu takut naik pesawat, kan nggak pernah." Ujar Arsen.


"Udah... udah jangan ribut terus." Kakek Yos menghentikan perdebatan mereka.


Empat puluh lima menit mereka menikmati waktu di dalam pesawat. Kini mereka sudah berada di bandara. Terlihat supir pribadi kakek Yos sudah ada di luar menunggu kedatangan mereka.


"Pas tadi landing kamu nggak takut?" Tanya Arsen sambil berjalan.


Alina hanya menunduk. Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Heii... kalau ditanya ya dijawab!!!"Arsen.


"Emangnya takut apa nggak,bapak keberatan?" Alina.


"Ya nggak, saya cuma pengen tau" Ucap Arsen.


Terlihat Alina berjalan mengekori Kakek Yos sambil menyeret kopernya. Sedangkan Arsen hanya berjalan gontai di samping Alina, Terlihat ia tidak membawa apapun. Banyak mata kaum hawa yang termakan oleh ketampanan Arsen. Terlihat ia seperti seorang selebriti bersama dengan asistennya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2