
Selamat membaca ❤❤❤
.
.
.
Setelah di dalam Ruangan.
" Silahkan duduk..
sekarang bacakan jadwal saya hari ini." Tegas Arsen kepada Alina.
Alina membacakan semua jadwal yang telah di susunnya sebelum ia berangkat ke kantor tadi pagi.
"Oke..
silahkan keluar. " Arsen.
"Baik Pak.. "
Alina keluar dari ruangan Arsen. Mengingat hari ini jadwal Arsen agak renggang, Alina pergi menuju kantin karna sedari tadi perutnya sudah minta diisi.
Di kantin, Alina memesan nasi goreng.
Ia menyantap makanannya dengan cepat karna sebentar lagi akan diadakan meeting.
***
Dirumah keluarga Arsen, kakek Yos sudah bersiap untuk berangkat ke kantor Arsen. Kakek Yos adalah pemegang saham terbesar di perusahaan Arsen.
Tanpa bantuan dari Kakek Yos, perusahaan Arsen tidak akan semaju ini. Maka dari itu Arsen sangat menghormati kakek Yos.
Alina tidak sengaja melihat kakek Yos di parkiran. Alina langsung membayar sarapannya dan menemui kakek dari bosnya itu.
"Kek?
kok pagi bener..
sudah sarapan? " Alina.
"Alina..
ini kakek ingin menemui Arsen nak,
ingin membicarakan sesuatu."
jawab kakek Yos.
"Ya sudah kek, mari saya antar"
Alina membawa kakek Yos menuju ruangan Arsen.
"Hari ini Arsen tidak sibuk? "
Tanya kakek Yos.
" Tidak terlalu kek, hanya ada meeting nanti siang. "
Jawab Alina.
Setelah sampai di ruangan Arsen, Alina disuruh untuk meninggal kan ruangan itu oleh bosnya.
Di ruangan itu, hanya ada kakek Yos dan juga Arsen.
" Ada apa kek, kok pagi sekali.. " Arsen
"Ia Sen, kakek ingin menyambung percakapan kita yang terputus tadi malam.
Deg...
jantung Arsen berdegup kencang.
Ini pasti masalah pernikahan pikirnya.
kakek tau, Arsen...
Kamu tidak serius berpacaran dengan Alina. Kakek tau kamu masih suka bermain di club kan?.
Kakek Yos memang selalu mengetahui apa yang dilakukan oleh cucunya itu. Sedari kecil Arsen sudah dirawat dan dididik oleh Yos.
Yos, menuntut Arsen untuk menikah tentu memiliki alasan tersendiri. Yos takut jika cucunya akan hancur jika terus menerus bermain dengan wanita tidak benar.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu tidak mau menikahi Alina, kakek akan nikahkan kamu dengan wanita pilihan kakek."
Kakek Yos mengancam Arsen.
"Aduhh mati gue...
kalo misalnya gue menikah beneran ngga bakal bisa bebas lagi.. "
Arsen hanya bisa terdiam dan berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Selama ini, walaupun tidak memiliki Mutiara tetapi ia bisa melampiaskan kepada perempuan lain.
"Baiklah kek, nanti aku bicarakan dulu ya dengan Alina . " Jawabnya.
" Oke baik, kakek tunggu jawaban kalian selama seminggu ini."
"Ia, baik kek..
Secepatnya Arsen akan kabari kakek."
"Ya sudah...
Kakek ingin melihat data penjualan minyak sawit."
Arsen mengambil laptop di meja kerjanya dan menunjukkan apa yang di minta kakeknya itu.
"Ini kek, coba kakek lihat. Penjualan minyak kita belakangan ini naik dari sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan oleh, kualitas sawit yang kakek olah itu bagus."
"Emmm...
Memang belakangan ini kakek meningkatkan kualitas pemupukan sawit di perkebunan kakek.
Rencananya Kakek akan mewariskan seluruh perkebunan serta pabrik itu untukmu dan istrimu nanti.. "
Kakek Yos memang hanya memiliki satu anak laki, yaitu Aditia. Aditia hanya memiliki satu anak yaitu Arsen.
"Kenapa kakek berbicara seperti ini. " Arsen.
"Ia Arsen Kakek memutuskan untuk pensiun dari pekerjaan kakek.
Sebenarnya kakek sudah memilih calon istri untukmu. Dia wanita baik dan pintar. Tetapi karena kamu sudah punya calon sendiri kakek tidak bisa paksa.
Iya kan? "
Kakek Yos.
Iya kek..
Alina adalah pilihan Arsen. "
"Ya sudah, kakek pergi dulu ya..
Rencananya besok pagi kakek akan pulang ke Pekanbaru. Kamu mampir ya malam ini sekali lagi dan bawa juga Alina.
" Baik kek... "
Arsen.
Kakek Yos pergi meninggalkan ruangan Arsen. Sementara itu Alina sedang mempersiapkan sebuah berkas kontrak dengan perusahaan Leo.
Hati Alina sangat terbakar saat melihat data perusahaan milik Leo. Alina tidak sabar untuk menghancurkan hidup mantan kekasihnya itu.
Sebelumnya Alina tidak ada maksud untuk membalaskan sakit hatinya. Ia sebelumnya hanya berfikir untuk menghindar saja.
Semua rencana yang dibuatnya berubah saat ia bertemu dengan Leo di perusahaan Arsen.
dertttt....
drettt....
Posel Alina bedering.
Tepang-pang nama Tiya di layar ponsel miliknya itu. Alina pun menerima panggilan dari sahabatnya itu.
"Haii Tii....
maaf ya gue kemarin sibuk banget..
makanya gue ngga ngabarin lo, pas siang kemaren.. " Alina
"Iya ngga papa kok kebetulan gue juga lagi sibuk ngurus berkas buat KOAS gue." Tiya
"Ya udah kapan nihh kita ketemu, abis lo pulang ke indo kita belum pernah nongki-nongki. Gue kangen banget Tii. "
__ADS_1
Alina.
ehemmm.. ehemmm..
Terdengar suara Arsen mengalihkan perhatian Alina.
"Ti, nanti gue kabari lagi yaa..
ada bos gue... " Alina mematikan ponsel nya.
"Maaf Pak.. "
Alina merasa bersalah kepada Arsen karena menerima telpon pada saat jam kerja.
"Masuk ke ruangan saya... " Arsen
Alina pun mengikuti perintah bosnya itu.
"Duduk di situ. "
Arsen menunjuk ke sofa di ruangannya.
Alina pun duduk si sofa mewah milik Arsen. Sebentar lagi sudah waktunya jam makan siang di kantor.
tokk... tok.. tokk.
Tedengar seorang OB mengetuk pintu ruangan Arsen.
"Masuk !!! "
Ungkap Arsen dengan suara yang tegas.
"Pak boss, ini pesanan anda .. "
OB.
Arsen menerima dua buah kotak makan, yang memang sudah di pesannya sebelumnya melalui aplikasi online miliknya.
Setelah ruangan itu di tinggal kan OB, Arsen memulai percakapan dengan Alina. Sejenak Ia berfikir bagaimana ia memulai percakapan yang sulit ini.
" Alina, kamu silahkan makan dulu, kamu coba makan ini."
Arsen berusaha mencairkan suasana. Walaupun ini terasa gugup baginya namun harus ia lakukan demi kebaikan hidupnya kedepan.
"Saya belum lapar pak, sebentar lagi saya makan di luar saya."
Alina merasa gugup jika makan di hadapan Arsen.
Bukan karena ia menaruh hati kepadanya, tapi karena Arsen adalah orang yang sangat diseganinya selama ini.
" Ya sudah, saya mau membicarakan tentang perjanjian kita kemarin malam.
mulai hari ini saya menganggap utang kamu lunas." Arsen
" Terima kasih pak, " ungkap nya dengan kepala tertunduk di hadapan Arsen.
"Namun, saya ingin melakukan negoisasi lagi dengan kamu.
Ini jauh lebih serius dari sebelumnya"
Ungkap Arsen.
Arsen, selalu menghormati kariawannya, apalagi jika orang tersebut berdedikasi terhadap perusahaannya.
Namun kali ini ia harus mengaitkan antara urusan kantor dan masalah pribadinya.
"Alina saya sangat menghormati kamu sebagai kariawan saya, tetapi kali ini saya membutuhkan batuan kamu lebih dari itu." Ungkap Arsen.
"Maksud bapak apa ya..
Saya kurang mengerti..
mungkin jika bapak bekenan, coba dijelaskan lagii...
Saya akan coba untuk mengerti. "
Alina.
Arsen mencoba untuk menjelaskan secara detail apa maksudnya perkataan yang sebelumnya disampaikannya.
"Apa!!...
maksud bapak saya akan menikah dengan bapak, karena di tuntut kakek Yos? "
__ADS_1
Alina sangat tekejut mendengar tujuan dari Arsen.
Bersambung...