Alina Sekretaris Mungil

Alina Sekretaris Mungil
Bab 23


__ADS_3

Selamat membaca ❤️❤️❤️.


.


Ia masih terus mencari cara agar Alina tidak bisa lepas darinya sebelum ia menginginkannya. Ia menyesap rokok yang sedang di jarinya sambil terus berfikir.


Alina kini menghentikan untuk memanggil Arsen. Ia akan pergi sendiri untuk membeli bahan makanan. Ia mengambil kunci mobil milik Arsen di atas nakas.


Sesampainya di supermarket, Alina mengambil bahan makanan yang diperlukan. Setelah selesai ia kembali ke apartemen. Di luar masih sangat panas. Alina kembali berkeringat.


Ia memasuki Apartemen dengan membawa beberapa paper bag. Terlihat Arsen sedang berada di sofa sedang menonton TV.


Setelah meletakkan bahan belanjaan,Alina bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Kini ia sudah menggunakan daster batik miliknya. Alina sangat menyukai daster, karena sudah kebiasaan sejak dulu.


Ia mengikat rambutnya ke atas dan memulai kegiatan memasaknya.


Arsen terlihat heran saat Alina menggunakan pakaian yang biasa dikenakan oleh pembatu. Namun kesannya terlihat begitu berbeda saat Alina yang menggunakannya.


"Al, kamu habis ngapain. Kok pakaiannya kayak begini. Jauh banget saat di kantor." Ucap Arsen sambil berjalan menemui Alina.


"Ini buktinya aku menjagamu juga Pak, saya tidak mau bapak jadi berdosa saat melihat saya berpakaian sexy." Ujar Alina sambil terus melakukan kegiatannya.


"Dosa? dimana letak dosanya coba? Bukankah kita sudah sah ya? " Arsen melemparkan begitu banyak pertanyaan untuk menutupi rasa kagumnya terhadap Alina.


"Ingat ya Pak, kita hanya sebatas hubungan pekerjaan. Tidak lebih dari itu." Ucap Alina.


"ohhhhh jadi hubunganmu dengan Leo, itu kamu sebut halal ya?" Ucap Arsen lagi.


"Itu urusan pribadi saya pak, kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing." Ucap Alina.


Prankkkk..


Arsen melemparkan botol saus ke lantai dan pecah. Emosinya tidak terkendali saat Alina terus menjawab dirinya.


"Dasar wanita munafik, kamu sama saja dengan wanita lain. Kamu hanya mengincar harta saya." Ucap Arsen yang sudah sedikit mabuk karena tadi ia sempat minum.


Alina mencium bau Alkohol dari mulut Arsen. Ia memilih untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan dapur. Arsen yang kini antara sadar dan tidak mengekori Alina dari belakang setelah ia mematikan api di kompor.

__ADS_1


Arsen berlari kecil mendahului Alina masuk ke dalam kamar. Setelah Alina masuk ia mengunci pintunya. Ia merasa ada yang harus ia selesaikan dengan Alina.


"Kenapa sekarang kamu jadi banyak menuntut yaa.." Ujar Arsen.


"Ohhhhh jadi sekarang Bapak keberatan? kenapa harus marah? " Alina sudah tidak bisa menahan air matanya.


"Kamu coba pikirkan, perusahaan sebesar itu kamu minta sebagai penganti menjadi istri kontrak saya. Padahal saya tidak akan menyentuhmu , apa itu adil untuk saya? " Ucap Arsen.


"Oke fine ... kalo itu mau bapak, saya tidak akan meminta sepeserpun dari Anda. Bahkan saya bisa kok menghidupi diri saya sendiri. Saya akan membangun usaha saya sendiri." Ucap Alina.


"Ooo... Bagus, emang itu sepantasnya. Ini ada kartu kredit bisa kamu pergunakan." Ucap Arsen sambil memberi sebuah kartu kredit kepada Alina.


"Tidak usahhh!!! Mulai sekarang saya resign dari perusahaan Bapak." Ucap Alina masih dalam emosi.


Alina pergi keluar, namun pintu terkunci. "Kamu tidak akan keluar sebelum kamu menerima ini" Ucap Arsen.


Alina menangis dan terduduk di depan pintu. Arsen yang merasa bersalah dengan kelakuannya mencoba berbicara dengan Alina. Namun mulutnya kaku, ia tidak tau harus berbuat apa.


Ia menggendong tubuh mungil Alina dan meletakkannya di atas ranjang.


Alina terlihat masih menangis. Merasa sakit dengan perkataan Arsen yang terlalu meremehkannya. Saat ini Alina merasa sangat tidak dihargai.


Arsen kini membuka pintu, dan menggandeng tangan Alina, ia persis terlihat seperti anak kecil. Arsen membawanya kembali ke dalam dapur untuk melanjutkan pekerjaan Alina yang sebelumnya masih terbengkalai.


Terlihat Desy yang sudah rapi keluar dari kamarnya. Ia hendak mengajak Arsen untuk makan di luar. "Sayang... makan diluar yukkkk.." ucap Desy.


Kebetulan Arsen juga sedang lapar, ia mengikuti kemauan Desy. " Ia udah tunggu sebentar ya, aku ambil kunci mobil." Sahut Arsen.


Desy menatap kearah Alina dengan begitu sinis. Namun Alina tidak memperdulikan kelakuan mereka. Karena dari awal ia menganggap Arsen hanya rekan kerja.


***


Waktu kini sudah tengah malam, terlihat Arsen dan Desy baru saja memasuki Apartemen. Alina yang tertidur di depan tv merasa terganggu dengan kedatangan mereka. Arsen terlihat berjalan sempoyongan karena mabuk.


"Sayang, kamu tidur dimana." Ujar Desy. Alina yang melihat kelakuan mereka merasa sangat jengkel. " Benar-benar ngga punya akhlak." Ucapnya sambil pergi ke kamar.


Arsen yang setengah sadar memilih tidur di depan televisi. Ia tidak suka berbagi tempat tidur dengan siapapun.

__ADS_1


***


Kini pagi pun menyingsing, terlihat Kakek Yos sudah menunggu di rumah keluarga Arsen. Beberapa kali ia melirik jam tangannya. " Arsen dimana sihh, bisa ketinggalan pesawat kalo kayak gini." Ungkap Yos.


Derttttt.... derttttt..


ponsel Arsen berbunyi tiada hentinya. Namun Arsen masih nyaman didalam tidurnya. "Heiiii... Pak Arsen!!! Bangun dongg... ini udah siang " Ujar Alina yang sudah kesal membangunkannya.


Alina berinisiatif untuk menerima panggilan dari kakek Yos." Hallo Kakek, ini Mas Arsen masih ada urusan. Gimana kalo nanti kita nyusul aja." Ucap Alina.


"Ya udah kakek berangkat yaaa..." Terdengar suara kakek Yos dibalik ponsel Arsen.


Terlihat Arsen masih tidur, suara Alina tidak sedikitpun mengganggu tidurnya.


Alina kembali ke kamarnya. Ia duduk didepi ranjang mewah seharga ratusan juta milik Arsen. Terlihat ia menunduk, ia merindukan suasana dirumahnya. "Bagaimana bisa aku akan hidup ditengah kekacauan seperti ini. ini sudah tidak benar." Ucap Alina.


Alina bangkit dari tempat duduknya. Ia beranjak ke tempat Arsen yang tadi ia tinggalkan.


" Pak Arsen, ayoo bangun!!!" Alina memaksa Arsen untuk bangun.


"Apaan sii Al, aku masih mengantuk." Ucap Arsen.


"Ini udah jam berapa, harusnya sekarang kita sudah ada di bandara." Ucap Alina.


"Ihhhh cerewet banget sihhhh..."Arsen beranjak dari tempatnya sambil mengerutu. Ia pergi ke kamarnya. Di dalam kamar ia kembali merebahkan tubuhnya.


Alina yang melihat Arsen kembali tertidur, kembali menghampirinya. "Ya udah kalo ngga bangun. Sekalian aja tidur untuk selamanya." Ujarnya sambil mengambil tas selempang yang tadi sudah ia persiapkan.


Tokkkk tokkkk....


Terdengar sebuah ketukan. Alina bergegas membukakan pintu. " Kakek? kok belum berangkat? " Ujar Alina.


"Mana Arsen? kenapa dari tadi telpon kakek tidak diangkat. Apa ini cara kalian menghargai orang tua?" Kakek Yos kini sudah tidak dapat menahan emosi.


"Kakek duduk dulu ya disini, Alina yang akan panggilin Pak Arsen." Ucapnya sambil berjalan menuju kamar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2