
Selamat membaca ❤️❤️❤️
.
.
"Ayo, sekarang kamu yang menyetir." Arsen menghentikan mobilnya ketika sudah keluar dari gerbang rumah Kakeknya. Ia kini bertukar posisi dengan Alina.
"Sekarang kita akan kemana pak?" Tanya Alina.
"Ke hotel terdekat ke Bandara. Malam ini Desy akan sampai di sini." Ucap Arsen.
"Baik pak, " Alina menancap gas membelah jalanan menuju Bandara.
Kini mobil mereka sudah terparkir di sebuah hotel mewah.
"Kamu cek in saja duluan. nanti saya susul" ucap Arsen.
Alina menuruti perkataan Arsen. Ia turun sendirian dan memasuki hotel berbintang itu. Sedangkan Arsen pergi ke Bandara untuk menjemput Desy.
Flashback on
Sehabis Alina menemukan foto Mutiara dan diambil Arsen. Ia sangat kacau mengingat kenangan bersama kekasihnya. Ia menghubungi Desy dan menyuruhnya untuk berangkat menyusulnya saat itu juga. Desy sangat senang dan secepat mungkin mencari tiket pesawat.
Flashback off
Di Bandara terlihat Desy sedang mencari keberadaan Arsen.
"Sayang!!!!"
Desy berlari menuju pelukan Arsen. " Kamu kenapa, kok senang banget" Ucap Arsen.
"Ya iyalah senang, rencana bulan madu kamu dengannya akan digantikan dengan bulan madu bersama aku." Ujar Desy.
"Sesekali kita perlu menikmati udara luar sayang." Ujar Arsen.
"Lalu dimana Alina? " Tanya Desy.
"Tadi aku suruh dia menunggu di hotel. Kita pergi sekarang ya.." Ucap Arsen.
"Sayang, aku sangat lapar." Ucap Desy.
__ADS_1
"Kamu makan di restoran hotel saja ya, aku sangat lelah." Arsen.
***
Di dalam Hotel, Alina berdiri di balkon kamarnya untuk menghirup udara segar. Di dalam hatinya masih mengingat jelas perkataan manis dari mulut Leo.
"Kenapa kamu begitu tega. " Ucapnya sambil menatap foto profil di akun sosial milik Leo.
"Semenjak kamu pergi aku begitu kesepian. " Alina.
Terlihat Arsen sudah berada di resepsionis hotel itu.
" Bagaimana tidak ada kamar yang kosong?" Ucap Arsen kepada pelayan hotel itu.
"Maaf pak, tapi kamar kami sudah penuh." Ucap pelayan itu.
"Kalau begitu, tolong dilihat Alina ada di kamar berapa." Ucap Arsen.
"Baiklah pak,..!!" Pelayanan itu melihat komputernya.
Setelah mengetahui Alina ada di kamar berapa, Arsen dan Desy menyusulnya.
Tokkkk tokkk.
"Kenapa tidak memesan kamar baru? "Ucap Alina.
"Kamarnya sudah habis." Ucap Arsen sambil memasuki kamar yang diikuti oleh Desy.
"Jadi kita akan tidur bertiga seranjang? "Ucap Alina.
" Aku akan tidur di sofa. Aku sudah sangat lelah untuk mencari Hotel lain" Ucap Arsen yang menjatuhkan dirinya di atas sofa. Sedangkan Desy memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Arsen sudah terlelap. Alina mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas. Ia memilih untuk tidur di mobil saja dibandingkan, tidur bertiga di kamar yang sama.
Alina kini sudah berada di parkiran. Ia memasuki mobil dan mencoba untuk beristirahat. Udara malam ini tidak begitu panas. Sehingga ia tidak perlu menghidupkan AC, hanya perlu membuka sedikit kaca mobil. Ia pun kini mulai terlelap.
Arsen tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia memindai sekelilingnya namun ia tidak melihat keberadaan Alina. Hanya ada Desy yang sedang bermain dengan ponselnya. "Dimana Alina?" Arsen bertanya kepada Desy.
"Aku tidak tau sayang, sejak aku keluar dari kamar mandi aku tidak mendapatinya di sini." Ujar Desy.
"Kemana wanita kecil itu.." Arsen bergumam. Ia melirik ke atas nakas, namun ia tidak menemukan kunci mobilnya. Ia mencoba menghubungi Alina, namun ternyata ponselnya tertinggal di tas selempang miliknya.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, dia sudah dewasa. Walaupun dia pergi dia akan tau jalan pulang." Ujar Desy.
"Sebelumya dia belum pernah datang ke kota ini." Ucap Arsen. Ia keluar dari kamar bermaksud untuk mencari Alina. Ia takut terjadi sesuatu kepada gadis kecil itu, mengingat di kota banyak sekali kejadian pembegalan. Ia merasa Alina tidak sedang dalam posisi aman jika tidak berada didekatnya.
Arsen turun ke lantai dasar untuk mencari keberadaan Alina. Terlihat hujan deras mengguyur wilayah itu. "Kemana dia, hujan begini." Ujar Arsen.
"Mbak!!! lihat wanita yang bertubuh mungil keluar dari hotel ini?"Arsen bertanya kepada resepsionis.
"Maaf Pak, kita baru pergantian shift." Ujar pelayan itu.
Wajah Arsen terlihat begitu panik saat ia tidak menemukan sekretarisnya itu. "Bisa gawat kalau begini, Eh mbak pinjam payung sebentar." Ujar Arsen kepada pelayan didepan.
Setelah mendapatkan payung. Arsen mencoba untuk mencari ke luar. Ia melirik ke arah parkiran, ternyata mobil masih terparkir di tempat semula. Arsen berjalan mendekati mobilnya, ternyata kaca mobil itu tidak tertutup. Arsen mencoba untuk melihat ke dalam mobil, terlihat tubuh gadis kecil meringkuk didalam. "Alina?!!..Al...buka pintunya." Arsen mencoba untuk membangunkannya, tetapi tidak ada respon sama sekali. Arsen mencoba menurunkan kaca, sampai ia bisa masuk melalui jendela. "Al.. bangun!!!" Arsen mencoba membangunkan Alina. Namun Alina tidak menjawab. Arsen memegang tangan dan dahi Alina untuk memastikan ia baik-baik saja."Kamu demam tinggi Al." Arsen membuka pintu mobil dan menggendong Alina seperti anak kecil.
Arsen kini sudah berada di dalam lift. Suasana hotel terlihat sepi, karena ini sudah tengah malam. "Kok bisa seperti ini sih Al..." Arsen terlihat begitu khawatir dengan keadaan Alina.
Mereka berdua kini sudah berada di dalam kamar. Terlihat Desy sudah tidur di atas ranjang. "Des..Desy bangun..." Arsen membangunkan wanita itu.
"Apa sii sayang, kok ribut-ribut." Desy masih setengah sadar.
"Kamu istirahat di sofa ya, ini Alina badannya demam tinggi." Arsen.
Desy menurut dengan apa yang Arsen perintahkan. Ia berjalan sempoyongan menuju sofa.
Arsen kini masih terlihat panik. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Arsen mengambil ponsel miliknya. Ia mencoba menghubungi seorang dokter, namun tidak ada jawaban. " Ini gimana..." Ungkap Arsen yang sudah sangat panik melihat keadaan Alina.
Arsen mengambil langkah terakhir yaitu mencari jalan keluar di google.
Arsen melihat ada beberapa pilihan, yaitu dengan cara mengompres dengan es batu atau melakukan metode skin to skin.
"Gadak es batu..kalo aku keluar cari es siapa yang jagain" Gumamnya.
"Yasudah, gak ada pilihan lain" Ucap Arsen sambil membuka baju atasnya. Kini ia dan Alina sudah tidak memakai pakaian selain pakaian intinya saja.
Arsen semula ragu untuk melakukan cara tersebut, namun saat ini nyawa Alina adalah yang terutama. Arsen tidak mau terkena masalah nanti, apalagi dengan kakek.
Arsen memeluk tubuh mungil wanita itu.
"Deg... " Darah Arsen berdesir ketika Alina membalas memeluknya. "Huhhh.. wanita ini sungguh merepotkan." Gumam Arsen.
"Bilang saja kalo kamu memang kesepian. Aku akan mengerti, tidak usah seperti ini."Gumam Arsen sambil menatap wajah Alina yang sudah agak tenang.
__ADS_1
TBC.