Alina Sekretaris Mungil

Alina Sekretaris Mungil
Bab 30


__ADS_3

Selamat membaca❤❤❤


.


.


.


Al, bangun..ini sudah siang.." Arsen membangun Alina. Namun Alina hanya menggeliat tanpa mengenakan pakaian atasnya. Membuat Arsen mulai kehilangan kesadarannya. "Ini sudah jam berapa pak, saya masih sangat mengantuk." Ujar Alina membuat Arsen kembali sadar dengan hubungan antara mereka berdua.


Arsen mengambil ponsel miliknya. Dilihatnya kini sudah menunjukkan pukul delapan pagi. " Huh masih ada waktu untuk sarapan di hotel ini" Gumamnya sambil meletakkan kembali ponsel miliknya.


Dilihatnya wajah polos Alina yang masih menikmati tidurnya. "Cantik... " Arsen tidak menyadari perkataan itu keluar dari mulutnya.


Arsen turun dari ranjang dan segera mandi. Lagi-lagi ia mendahului Alina. Kali ini ia mencoba untuk mengerti karena Alina masih di pengaruhi oleh obat demam kemarin.


Alina mulai mencoba membuka matanya pelan-pelan. Meskipun masih terasa perih tapi ia tidak mau terkena omelan bosnya itu. "Baju gue, kok bisa gini siih.. " Terlihat Alina kesal dengan keadaannya. Buru-buru iya membenarkan pakaiannya dan mengambil handuk miliknya. Alina segera menunggu Arsen di depan pintu kamar mandi.


"Cekrekkk.... " Pintu terbuka. Terlihat Arsen hanya menggunakan Handuk untuk menutupi bagian bawahnya.


"Sana cepatlah mandi!!!. Saya tidak mau kita terlambat sarapan. Setelah siang ini kita akan kembali ke Jakarta. " Ucap Arsen.


" Ba.. baik Pak... " Ucap Alina.


Didalam sana Alina segera memulai ritual mandinya.


Tidak menunggu lama, Alina sudah selesai. Kali ini ia mengenakan pakaian celana jeans dan kaos oblong. Terlihat ia seperti anak yang baru lulusan SMA.


"Tidak ada keliatan seperti wanita dewasa ya kamu" Arsen.


"Emangnya kenapa pak? saya tidak nyaman berpakaian seperti wanita bapak. " Gumam Alina sambil duduk di depan meja rias.


Alina memang selalu berpenampilan biasa saja. Karena ia bukan tipe wanita yang selalu ribet dengan urusan baju dan makeup.


"Kok bisa ya... Ada laki-laki seperti Leo yang menyukai wanita sepertimu. Padahal dia seorang CEO loh...


masak iya seleranya seperti kamu" Gumam Arsen sambil berjalan mendekati Alina.


"Bapak meledek saya? Hahhhhh!!!

__ADS_1


Biar begini saya dulu selalu mendapatkan juara kelas Pak. Satu lagi, saya tulus mencintai Leo." Gumam Alina sambil berjalan mengambil tas dan koper mereka.


Terlihat Arsen dengan pakaian santainya berjalan mengikuti Alina dari belakang.


Kini mereka sudah berada di restoran hotel itu. " Bapak mau sarapan apa? " Gumam Alina.


"Kopi susu dan roti" Tegas Arsen yang masih kesal dengan perdebatan mereka pagi ini. "Baiklah.. " Gumam Alina sambil pergi menuju meja sarapan.


Alina membawa kopi dan roti milik Arsen. " Ini pesanan Bapak " Ucap Alina sambil melirik ke arah wajah Arsen yang masih datar.


" Ini orang bagaimana sihhh...


yang mengajak berdebat dia, dan sekarang dia yang bad mood. Gue juga kan sasarannya. Kalau sudah seperti ini gue harus baik-baik" Gumam Alina di dalam hati.


Alina kembali ke meja sarapan. Ia mengambil nasi goreng udang dan telur dadar. Ia makan di meja lain.


Arsen terlihat hampir selesai dengan sarapannya. Sedangkan Alina masih memulai.


Arsen mengambil ponsel miliknya. Terlihat ia sedang mencari nomor ponsel seseorang, yang ternyata adalah kakeknya.


"Tut..tut... tut...


"Hallo" Terdengar suara kakek Yos dibalik benda pipih itu.


"Lohhh...


Kok buru-buru nak, kalian belum berkeliling kan?


" Tidak usah kek, pekerjaan sudah menunggu kami. Ini juga nanti malam ada meeting" Tegas Arsen.


" Oke baiklah nanti kamu share loc ya, kakek akan suruh supir untuk menjemput. " Ucap kakek Yos.


Terlihat Arsen sudah siap dengan sarapannya, ia kini berjalan menuju lobby hotel itu.


Alina terlihat sedang menikmati sarapannya. Namun Arsen sudah tidak ada di tempat semula. " Kemana dia, kok udah ngilang aja" Alina terkejut dan segera menyudahi kegiatannya. Alina melirik ke sekeliling restoran itu, namun ia belum menemukan Arsen. Lalu Alina tidak membuang waktu ia terus mencari sosok bosnya yang sangat moody itu. Tidak berapa lama Alina sampai di lobby hotel, terlihat Arsen sedang berada di resepsionis. "Huh.... Akhirnya ketemu juga" Ucap Alina yang sudah kelelahan mengelilingi sekitar hotel. Betapa takutnya Alina jika ditinggalkan oleh Arsen, karena semua kartu dan dompetnya berada di tangan Bos moodynya itu.


Alina kini sudah berada tepat disamping Arsen. " Pak, kok terburu-buru sekali yaa? ... Padahal saya belum selesai sarapan" Tanya Alina dengan nada yang rendah. Namun Arsen sama sekali tidak menghiraukan keberadaan sekretaris mungilnya itu. Arsen malah pergi ke luar hotel setelah urusan di resepsionis selesai.


"Tuhan sabarkanlah hatiku" Ucap Alina sambil menghela nafas. Ia mengikuti Arsen yang sudah pergi.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di depan mobil. "Nihh kuncinya" Tegas Arsen.


Tanpa menunggu lama Alina mengambil kunci itu dan membukakan pintu bagi bosnya.


Kini mereka sudah menempati posisi masing-masing. " Ke arah mana pak? " Tanya Alina.


"Kita langsung saja ke bandara. " Ucap Arsen.


Alina terus menelusuri jalanan. Sesekali ia melihat Arsen dari kaca. Tampaknya wajah Arsen sangat datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dengan bantuan google Alina dengan mudah menemukan jalan ke arah Bandara.


Terlihat bandara KNO yang ramai, sedangkan Alina sangat cemas dengan kondisi mood bosnya itu. Alina jadi canggung jika diperhadapkan dengan situasi tersebut.


" Nanti malam kita ada pertemuan dengan klien dari luar negeri. Tolong kamu siapkan tempat VVIP di hotel X. " Ucap Arsen.


"Baik Pak... " Alina.


"Tolong kamu siapkan wanita untuk menemani kami malam ini. Soalnya klien yang satu ini pesan itu juga. Karena mereka datang tidak bersama pasangan mereka. " Ucap Arsen lagi.


"Butuh berapa orang pak? " Tanya Alina.


" Ummmmm... Kira-kira empat wanita. Khusus wanita untuk saya. Saya ingin wanita yang berkualitas di atas ranjang. Saya ingin dilayani dengan maksimal. Harus lebih cantik dari Desy. Kalau tidak sesuai kamu harus mencarinya lagi." Ucap Arsen.


" Ba baik pak... " Ucap Alina.


" Kamu koordinasi saja dengan Ezra ya.. " Ucap Arsen.


Setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka. Arsen turun dan segera melaporkan penerbangan mereka.


Di lain tempat Alina sedang sibuk mencari tempat parkir. " Huh... Dasar bos gila... Kok gue malah apes ya ketemu orang gitu. Seandainya dia bukan orang berpengaruh gue ngga bakal tanggung jawab. " Alina menggerutu sambil mengeluarkan barang mereka dari dalam mobil.


Terlihat Arsen sedang berbicara dengan seseorang yang ternyata adalah supir kakek Yos.


"Nahhhh itu dia" Ucap Arsen saat melihat Alina datang.


"Ada apa ya pak, " Ucap Alina.


"Tolong ambilkan mobil kakek yang kita pakai tadi ya Al, biar pak ahmad nungguin di depan situ. Soalnya bapak ini nggak tau dimana parkiran mobil. "


Tanpa bantahan Alina menjalankan perintah Arsen. Walaupun yang sebenarnya ia sangat kelelahan dan perutnya mulai kelaparan.

__ADS_1


Terlihat mobil yang telah di parkir kini sudah berada di pintu gate bandara. Tanpa menunggu lama Alina menyerah kan mobil itu kepada supir kakek Yos.


TBC...


__ADS_2