Alina Sekretaris Mungil

Alina Sekretaris Mungil
bab 12


__ADS_3

Selamat membaca❤❤❤


.


.


.


Alina membuka pintu ternyata memang benar ada tamu...


"Alina? ..."


Ternyata yang datang adalah Leo.


"Kak? ....


Alina tidak menyangka kalau Leo akan datang.


"Tiya ada? ... "


Leo memang mencari Tiya untuk menanyakan sesuatu,karena mereka adalah saudara sepupu.


"Ada kak, sebentar yaaa... "


Alina masuk ke dalam untuk memanggil Tiya.


Setelah sampai di kamar, Alina duduk di pinggir tempat tidur.


"Al, lo kenapa?


kok cemberut?


Emang siapa yang datang? "


Tiya


"Tii, gue pulang aja ya..


Gue ngga tahan..


Gue sakit kalo harus ketemu kak Leo. "


Alina.


"Jadi yang ke sini itu Leo.


Dia mau apa lagi... "


Tiya berjalan menuju depan.


"Ngapain lo kesini..?


Tanya Tiya dengan nada agak marah.


"Di sini cuman lo berdua aja?


Tante dimana?


Gue mau ketemu tante Ina.. "


Ina adalah adik dari ibu Leo.


Leo memang agak dekat dengan ibu Tiya.


"Mama ngga ikut, kalo lo kangen mending VC aja sana.


ngga usa gangguin kita.. "


Tiya agak kesal dengan Leo, karena sudah menyakiti sahabatnya.


Tiya berjalan masuk dan diikuti Leo dari belakang.


"Tiya, lo jangan marah ...


Gue punya alasan ngelakuin ini.


Gue juga panik Ti... "


Arsen.


"Ya lo harusnya jelasin ke Alina dong..


jangan ke gue..


lagian nasi sudah jadi bubur kan..


tinggal di kasi ayam suwir aja..


biar jadi bubur ayam... "


Tiya menjawab dengan agak kesal.


"Tapi gue juga sakit Al..


Gue ngga sanggup ngeliat air mata Alina..


Makanya gue sembunyikan ini dari dia. "


Leo


"alah... bacot....


bilang aja lo udah menikmati pernikahan lo..


Ya Kaan... "


Tiya semakin tidak bisa menahan emosinya.


"Bu.. bukan gitu Tiya.. "


Leo sudah agak gugup melihat wajah Tiya yang sudah tidak bersahabat.


"Sekarang mending lo keluar aja dehh..."


Tiya sudah sangat kesal dengan ulah Leo. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang dirasakan Alina.

__ADS_1


Leo keluar dari villa yang di tempati Alina dan Tiya.


Di luar dia bertemu dengan Arsen yang baru saja sampai.


" Pak Arsen, kok disini? "


"Ia soalnya calon istri saya ada di dalam."


Jawab Arsen.


"ohhh...


Jadi Anda calon suami Tiya?"


Leo mengira bahwa Tiya sepupunya berpacaran dengan Arsen.


"Bukan...


saya ingin menemui Alina..


kita berdua sudah janjian sebelumya.


sepertinya ini alamat yang di kirim oleh calon istri saya"


Bagi Leo seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar pernyataan yang di sampaikan Arsen.


Arsen berjalan menuju pintu villa milik Tiya.


Sambil memanggil Alina melalui ponsel, Arsen duduk di kursi depan villa tersebut.


"Ternyata Villa ini bagus juga yaa...


Kalo aku punya villa disini kayaknya oke juga"


Gumam Arsen.


Tidak lama kemudian Alina keluar.


"Pak Arsen..


Mari pak silakan masuk.. "


Alina mempersilahkan Arsen untuk memasuki ruang tamu.


Arsen mengikuti Alina dari belakang.


Ia duduk di sofa.


"Sebentar ya pak..


Saya panggilkan teman saya dulu"


Alina.


"Emmm"


Arsen menjawab dengan nada arogannya.


Tidak lama kemudian Alina dan Tiya datang secara bersamaan.


Tiya, kenal kan ini Arsen..


Bos aku di kantor"


Alina.


"Sekalian calon suami Alina.. "


Arsen memotong perkataan Alina saat berbicara.


Tiya sangat terkejut dengan perkataan Arsen, ia menjadi bingung. Sebelumnya Alina terlihat sangat sakit hati karena masih mencintai Leo. Sekarang ada orang yang mengakui bahwa ia calon suaminya.


"Maaf mbak Tiya, apa boleh saya ajak Alina keluar sebentar?"


Arsen


"Terserah Alina... "


kita akan jalan-jalan nanti malam.


Kebetulan Alina belum makan siang..


Iya kan Al..? "


Gumam Tiya sambil menggoda sahabat nya itu.


Alina hanya bisa mengangguk, karena sebenarnya, saat ini menghindari Arsen.


"Ayo.. "


Arsen mengajak Alina untuk keluar.


"Sebentar ya Ti..


Gue ngga bakal lama "


Alina.


"Iya Al..


Semoga bahagia ya"


Tiya sebenarnya senang karena akan ada yang mengisi hari sahabatnya itu.


Kini Arsen dan Alina sudah berada di mobil milik Arsen.


Arsen membawa Alina ke sebuah villa di yang letaknya tidak terlalu jauh dari villa sebelumnya yang mereka kunjungi.


Villa itu, terlihat sangat mewah dan luas.


Di Sana semua sangat bersih dan terawat, karena ada keluarga yang tinggal di sana untuk mengurus villa itu.


Arsen sudah memasuki wilayah villa miliknya. Di Sana terlihat ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah menunggunya.


Arsen, mengajak Alina untuk masuk.

__ADS_1


"Bik, siapkan makanan ya di meja makan, kita akan segera makan. "


Arsen


Alina diam-diam menyukai furnitur villa tersebut. Beberapa kali ia tertangkap sedang memperlihatkan wajah kagum.


Kini mereka berdua sudah duduk di meja makan.


" Al?


kamu suka sama villa ini? "


Arsen.


"Iya Pak saya suka,..


Pasti mahal kan? "


Alina.


"Ya ngga juga kok, ini cuman sebagian dari usaha saya.


Di komplek sini ada beberapa villa . Sengaja saya sewakan.


Tapi yang ini memang khusus untuk saya pribadi. "


Arsen memamerkan sedikit kekayaannya agar Alina mau menerimanya.


"Ohhh.. "


Alina memang tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang menurutnya tidak terlalu menarik untuknya.


Tidak lama kemudian makanan telah terhidang di meja.


"Silahkan nyonya, tuan.. "


ART.


"Al, kamu suka makanan yang mana? "


Tanya Arsen.


"Saya tidak terlalu pemilih pak, jadi yana mana aja oke kok.. "


Alina.


"Ohhh..


baguslah kalo begitu..


silahkan kalo begitu"


Arsen.


Mereka melahap makanan mereka. Tidak ada sepatah katapun yang keluar.


Karena Arsen tidak suka kegiatan makannya terganggu.


Di villa itu banyak kenangan yang terlukis bersama Mutiara. Ini baru pertama ia mengunjungi villa semenjak ia berpisah dengan Mutiara.


Arsen terdiam sejenak.


Jauh di dalam hatinya masih mengharapkan Keberadaan Mutiara di sisinya.


Setelah selesai makan, Arsen mencoba untuk membuka pembicaraan.


"Al..


saya ingin memastikan kamu mau saya nikahi. "


Alina tidak tau harus menjawab apa. Ia hanya diam.


"Kamu tau kan kartu mu ada di tangan saya"


Arsen kembali mengingatkan Alina.


Alina tertunduk diam seperti sudah terkena perangkap Arsen.


"Kalau kamu diam, itu tandanya kamu mengerti dan menyetujui keputusan saya.


Hari ini saya akan menyuruh Ezra untuk menyiapkan surat kontrak pernikahan kita.


Arsen.


" Saya mau pernikahan kita hanya di atas kertas..!!


Tidak lebih dari itu"


Alina.


"Oke, tidak masalah.. "


Arsen.


"Saya tidak perlu anda nafkahi, begitu pun saya tidak akan melakukan kewajiban saya sebagai isteri. "


Alina.


"Oke, saya tidak keberatan.


Disini yang saya perlukan adalah status.


Kamu saya bebaskan melakukan apapun asal bisa menjaga nama baik saya."


Arsen.


Sebelumnya Arsen sudah menyiapkan surat kontrak pernikahannya dengan Alina. Namun masih perlu di revisi oleh pengacaranya.


Alina hanya bisa bungkam. Ia tidak mau orang tuanya mengetahui hubungannya dengan Leo yang sudah terlalu jauh. Apalagi kini Leo sudah menikah dengan wanita lain.


"Ya sudah Pak, saya permisi dulu. "


Alina beranjak dari tempat duduknya.


Air matanya kini kembali menetes.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2