
Selamat membaca❤❤❤.
.
.
.
"Kak..
seandainya kakak tau apa yang sebenarnya terjadi.seandainya saja aku tidak bertemu Arsen mungkin aku akan memilih untuk menunggu kamu.
Aku masih sangat mencintaimu. "
Alina hanya dapat berkata di dalam hatinya.
Tidak lama kemudian Tiya muncul. Percakapan mereka selesai sampai di situ saja.
***
Di sebuah cafe terlihat Arsen sedang menikmati kopi favoritnya.
Dertttt....
Sebuah panggilan suara masuk ke ponselnya.
"Haii Arsen, kapan kita akan melamar Alina"
Terdengar suara Kakek Yos di balik benda pipih itu.
"Sudah Arsen pikirkan kek, tapi belum ketemu hari baiknya" Jawab Arsen.
"Semua hari itu baik Nak. Tinggal niat kamu saja yang perlu" Ujar kakek Yos.
Yaudah, kalo nanti kakek ke sini. Arsen mau kakeklah yang melamarkan Alina untukku kek. "Arsen.
Tidak bisa begitu Nak...
Papamu kan masih ada. Tapi kalau kamu mau, besok kakek akan kesana" Kakek Yos.
"Iya udah kek, Arsen tunggu yaa" Arsen.
"Iya baik nak, sampai ketemu di sana ya" Kakek Yos.
Arsen menutup pembicaraan mereka. Ntah apa yang dipikirkan Arsen ia langsung membayar tagihan kopi miliknya dan bergegas pergi.
Terlihat mobil Arsen sudah berada di basement apartemennya,Ia menaiki lift.
Tidak ada terlihat penghuni di apartemen itu.
"Dimana Desy..." Gumamnya.
Ia mecarinya tapi tidak menemukan orang yang dicarinya.
Ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Desy.
Tuttt... tutttt...
Pangilan berdering. Tidak lama kemudian seseorang berbicara melalui ponsel Arsen.
"Haloo sayang, ada apa? " Desy menjawab Arsen melalui ponsel miliknya.
"Dimana kamu, saya perlu bicara. Saya tunggu sekarang di apartemen." Arsen
__ADS_1
Desy yang sedang berbelanja langsung pergi ke kasir untuk membayar barang belanjaannya.
Arsen merasa perlu hubungannya dengan Desy di sudahi. Ia takut kalau kakek Yos mengetahui kelakukan buruknya.
Clekk...
Terdengar suara pintu tanda ada orang yang memasuki apartemen Arsen. Tidak lain itu adalah Desy, karna hanya ia yang bebas mengakses apartemen Arsen.
"Sayang, kok tumben " Desy mengecup bibir Arsen.
Desy sebenarnya adalah wanita yang sempurna dalam urusan bercinta. Namun Desy bukanlah wanita yang pantas bila disandingkan dengan Arsen.
Desy adalah wanita bayaran dan tidak memiliki pendidikan. Pasti keluarga Arsen tidak akan setuju dengan pilihannya.
"Desy, saya mau mengakhiri kontrak dengan kamu. Saya akan menikah. " Gumam Arsen.
Desy hanya terdiam mendengar perkataan Arsen. Selama ini Desy sudah berharap lebih kepadanya.
"Kenapa kamu diam, saya akan tetap melunasi nilai kontrak kita. " Arsen terlihat bingung saat wajah Desy terlihat berubah.
"Arsen, saya masih ingin bersama kamu. Seenggaknya sampai kontrak kita habis. " Gumam Desy yang terlihat memohon kepada Arsen.
Wanita mana yang tidak sedih bila ditinggal lelaki seperti Arsen. Arsen memiliki segalanya yang diinginkan wanita. Hanya saja hatinya dingin seperti es batu.
Arsen diam sejenak. Tampaknya ia memikirkan sesuatu.
"Tapi saya tidak mungkin terus bersama kamu Desy. Setelah menikah nanti saya tidak akan sebebas ini, karena saya akan mengurus bisnis di Sumatera. " Gumam Arsen.
"Apa kamu dan istri kamu saling mencintai? " Tanya Desy lagi.
Arsen hanya terdiam ia tidak tau harus menjawab apa.
"Aku akan mendampingi kamu sampai kamu menemukan cintamu. " Desy.
"Tidak perlu seperti itu Des, " Arsen.
Desy berusaha membujuk Arsen, namun terlihat Arsen masih diam sambil memijit pelipisnya.
Arsen beranjak dari tempat duduknya. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Arsen keluar meninggalkan Desy di apartemen itu.
Ia masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju rumah papanya. Ia merasa perlu berbicara dengan keluarganya.
Arsen memasuki gerbang rumah yang megah itu. Dari depan terlihat sepi karena orang-orang disana sedang melakukan makan siang di meja makan.
Arsen memasuki rumah itu, terlihat Rani dan Aditia sedang bersenda gurau karena baru selesai makan siang.
"Arsen, sayang kok kamu nggak ngomong mau makan siang di rumah nak. Kan tadi bisa kita tungguin. "
Gumam mamanya Arsen yang baru sadar akan kedatangan Anak semata wayangnya itu
" Ia ma, tadi Arsen tiba-tiba pengen makan masakan rumah. "
Jawab Arsen sambil duduk di kursi yang kosong.
"Bikk jahhh, siapin makan buat Arsen yaa. Ini dia baru datang." Ujar Rani kepada pembantu di rumah itu.
" Ma, Pa Arsen mau ngomong sesuatu. Tapi setelah Arsen makan ya" Arsen
"Ia nak, kamu makan dulu yaa" Aditia.
Arsen makan dengan lahapnya, karena masakan di rumah keluarganya memang sangat lezat. Rani sengaja menyewa koki untuk masak setiap hari untuk keluarganya.
__ADS_1
beberapa lama kemudian ,terlihat Arsen sudah menyelesaikan makan siang.
Ia memakan makanan penutupnya, Puding stroberi.
"Arsen, kakek kamu tadi menelpon papa. Katanya dalam waktu dekat ia akan datang untuk mengurus pernikahan kamu dan Alina. Itu kamu yang suruh? " Tanya Aditia.
" Bukan seperti itu Pa. Arsen hanya ingin memenuhi permintaan kakek untuk menikah. Sebenarnya Arsen belum ingin Pa. " Arsen.
"Sayang, menikah itu bukan hal yang mudah. Kamu harus pikirkan baik-baik. "
Rani.
"Papa sudah selidiki keluarga Alina. Ternyata papanya Alina adalah karyawan papa di kantor. " Terlihat Aditia semangat menceritakan keluarga Alina.
"Ia Pa, memang seperti itu. Alina berasal dari keluarga yang baik. " Sahut Arsen.
"Ohh ia Alina itu juga anak yang pintar kan. Ia kuliah di universitas terkenal dan mendapatkan nilai bagus. " Aditia masih dalam semangat.
"Ia Pa, maka dari itulah Arsen sangat menyukai Alina. " Gumam Arsen lagi membohongi Papanya.
Reni terlihat diam saja sambil mengupas buah yang ada di meja makan. Ia tidak mau menurunkan semangat suaminya itu. Menurutnya Arsen dan Alina terlalu cepat mengambil keputusan.
"Arsen, menurut papa kamu sudah tepat memilih Alina. Walaupun sudah menikah nanti, kalian bisa menunda untuk memiliki keturunan." Aditia.
"Ia paa. " Jawab Arsen.
"Tapi sebaiknya kamu pikirkan lagi nak, Ujar Rani.
"Ia maa, Arsen ke atas dulu yaa. Mau istirahat " Arsen pergi meninggalkan meja makan.
***
Di tempat lain terlihat mobil Tiya sudah memasuki pekarangan rumah Alina.
Rumah itu terlihat sepi.
"Makasih ya Ti, gue udah lo anterin sampek rumah. " Alina keluar dari mobil Tiya.
Iya Al, nanti kalo lo perlu sesuatu buat pernikahan lo, kabarin gue yaa" Tiya
"Oke, sippp" ujar Alina.
Alina mencoba membuka pintu rumahnya, namun ternyata dikunci. Ia mencari kunci serap di dalam tasnya.
"Ini dia. "Gumamnya.
Alina langsung pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia melemparkan tasnya ke atas ranjang dan duduk dipinggir ranjang yang sederhana itu.
" Dertttt... dertttt.. "
Terlihat ponsel milik Alina begetar tanda masuk sebuah panggillan. Ia mengambil ponselnya.
"Huhhhhh.. Dia lagi" Gumamya sambil menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Al, kamu sudah sampai? "
terdengar suara Arsen dari balik ponsel Alina.
" Sudah pak, ada apa ya? " Alina.
"Tidak ada apa-apa, saya cuman mau ingetin kamu kalau nanti malam saya akan menemui orang tua kamu. " Arsen.
Deg...
__ADS_1
Alina sangat terkejut mendengar perkataan Arsen.
TBC.