
Selamat membaca ❤️❤️❤️
.
.
Di ruang tamu, terlihat Arsen sedang memainkan ponselnya.
" Maaf ya nak Arsen, kamu jadi nungguin." Ujar ibu Alina yang datang dari belakang diikuti oleh suami dan anaknya.
" Ia buk, nggak papa kok." Ucap Arsen.
Mereka kini telah berkumpul.
" Pak, Bu... maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk menyampaikan niat saya ingin melamar Alina menjadi istri saya." Ungkap Arsen.
" Kalau Bapak sama Ibuk tidak keberatan nak, semuanya kami serahkan kepada Alina." seru ibunya Alina.
Alina hanya terdiam, ia masih belum percaya akan kehidupan yang akan dijalaninya.
"Al? bagaimana?
Arsen nungguin jawaban kamu tuhh.." Ucap ibu Alina yang membuyarkan lamunannya.
"Iya buk, Alina menerima lamaran mas Arsen." Ucapnya.
***
Setelah beberapa lama, Arsen pamit untuk pulang karena malam sudah mulai larut. Arsen tidak tau akan perasaannya saat ini. Disisi lain ia telah berhasil mewujudkan impian kakek Yos. Namun, disisi lain pendapatannya akan sangat berkurang karena perusahaannya akan diambil alih oleh Alina dan hanya akan menerima setengah dari untung perusahaan.
Kini Arsen sudah memasuki gerbang rumah mewah keluarganya. Ia sudah tidak sabar untuk memberi kabar kepada kakek Yos. Baginya kebahagiaan kakeknya adalah segalanya. Arsen ada sampai saat ini, itu adalah jasa dari kakeknya.
Di ruang tv, terlihat Aditia dan Rani sedang menonton.
"Gimana acara kamu dan Alina, sukses kan?" Tanya Aditia kepada Arsen.
"Secepatnya Arsen akan melamar Alina paa, nungguin kakek datang ke sini dulu." Ucap Arsen sambil duduk di sebelah Aditia.
"Secepatnya papa akan suruh kakek kamu datang ke sini." ujar Aditia.
" Ya udah pa, Arsen ke kamar dulu ya, sekalian mau memberi kabar ini kepada kakek Yos. Ucap Arsen sembari beranjak dari tempat duduknya.
***
Arsen kini sedang berada di balkon kamarnya, iya menikmati sebatang rokok. Arsen membuka ponselnya untuk menghubungi kakeknya.
__ADS_1
" Hallo .." Terdengar suara kakek Yos di balik benda pipih milik Arsen.
" Hallo Kakek...
Kakek disana apa kabar?" Arsen.
" Kakek baik, baru saja tadi pagi kita berbicara dan kamu menanyakan kabar kakek." Ujar kakek Yos yang agak heran dengan kelakuan Arsen.
"Kan ngga ada salahnya kalo Arsen sering tanya kabar kakek." Ucapnya dengan nada girang.
"Hemmmm .... iyaa.." Ucap kakeknya.
"Begini kek, tadi Arsen udah ketemu sama Alina, dan dia sudah menerima lamaran Arsen. Tinggal kita melakukan lamaran secara resmi." Ucap Arsen.
Mereka menghabiskan waktu sejam lebih untuk membicarakan pernikahan Arsen. Sampai akhirnya kakek Yos sudah lelah dan mengantuk. Begitupun Arsen yang sudah sangat lelah, ia terlelap tanpa mengganti pakaiannya.
***
Kini, matahari sudah terbit di ufuk timur. Namun Arsen masih terlihat menikmati tidurnya. Beberapa kali Alina sudah menghubunginya namun tidak dapat tersambung, karena ponselnya mati.
"Aduhhh gimana ini, sebentar lagi akan ada meeting." Ucap Alina sambil mondar mandir didepan ruangan Arsen.
Terlihat semua kepala bagian di kantornya Arsen, sudah berada di ruang meeting. Pagi ini Arsen harusnya breving para manager di kantornya.
Arsen kini sudah terbangun dari tidurnya.
"Gue kok bisa telat sihh" ucapnya. Ia mengambil ponselnya di atas nakas. Ia mencoba menghubungi Alina.
"Hallo Pak Arsen..." Kini ponsel mereka sudah tersambung.
Alina, kamu coba breving mereka dulu ya, lagian kamu kan calon direktur di perusahaan itu." Ucap Arsen.
" Itu tidak mungkin pak, saya tidak tau apa yang akan saya katakan kepada mereka." Ujar Alina.
" Kamu dengarkan saya baik-baik ya.." Ujar Arsen dan menjelaskan apa yang harus dikatakan Alina kepada karyawan kantor.
" Saya yakin, kamu pasti bisa..." Arsen mencoba memberi semangat kepada Alina. Arsen adalah orang yang tidak pernah membatalkan meeting. Apalagi meeting kali ini di hadiri oleh kepala divisi di kantor cabang. Jadi ia harus menjaga wibawanya.
"Kini Alina sudah berada di ruangan meeting, ia memimpin rapat dengan baik. Ia menjelaskan secara rinci apa yang menjadi topik meeting kali ini. Kebetulan Arsen menyuruh Alina kemarin malam untuk, menyiapkan bahan meeting pagi ini.
Setengah jam sudah Alina memimpin rapat. Ia tidak menyadari kalau Arsen memperhatikannya dari luar ruangan. Mata Arsen begitu lekat kepada Alina. Arsen tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengagumi kepintaran Alina.
" Wow..." gumam nya.
"Demikian presentasi saya pagi ini, saya berharap kalian semua melakukan apa yang diminta oleh direktur kita, Pak Arsen. " Alina.
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Terlihat Arsen yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Saya apresiasi pekerjaan kamu pagi ini. Kalau begini saya jadi tenang untuk memberikan wewenang kepada kamu untuk mengurus perusahaan ini. "Gumam Arsen.
Alina hanya terdiam dengan pujian yang diberikan Arsen. Dalam benaknya ia sangat mengutuki Arsen karena sempat membuatnya panik di pagi tadi.
"Pak Arsen, ini berkas dari kantor cabang yang harus bapak tanda tangan. Semua sudah saya cek. Bila bapak ingin cek ulang saya sudah kirim via email." Alina.
"Oke baik, kamu bisa kembali." Ujar Arsen.
Alina menatap monitor laptopnya. Dilihatnya jadwal Arsen hari ini.
"Ternyata sampai sore kosong." Gumam Alina.
Arsen memang sengaja menyuruh Ezra untuk menghandle beberapa proyek, agar Arsen bisa mengurus pernikahannya dengan Alina.
***
"Kakek... kok tidak ngabari Alina kalau mau datang ke kantor." Ujar Alina ketika melihat kakek Yos sudah berada di depan meja kerjanya.
" Kok meja kerja kamu di luar ruangan Nak, bukankah Arsen memberikan ruangan yang pantas untuk mu." Ujar kakek Yos setelah melihat keadaan tempat kerja Alina yang berada diluar.
"Iya kek, sebenarnya Mas Arsen memberikan Alina ruangan. Tapi Alina yang memilih untuk disini, agar tidak terlalu jauh untuk bertemu dengan mas Arsen" Jawabnya.
" Kalau begitu kenapa tidak seruangan dengan Arsen." Kakek Yos.
" Ohhhh.. itu tidak perlu kek, soalnya takut ada setan diantara kita. Kita berdua sepakat untuk membedakan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Untuk menjaga keprofesionalan saat bekerja." Ujarnya dengan nada lucu agar lebih akrab dengan Kakek Yos dan tidak sampai curiga.
"Yasudah, kakek kedalam dulu ya Nak." Ucap kakek Yos.
"Iya kek, silahkan." Alina.
"Kenapa kakek tidak beritahu Arsen kalau mau datang ke Jakarta." Arsen terkejut melihat kakeknya yang sudah berada di ruangannya.
" Kakek tidak mau merepotkan mu nak." Kakek Yos duduk di sofa mahal milik Arsen.
"Nggak merepotkan kek, hari ini Arsen agak lengah kok." Arsen duduk di sebelah kakek Yos.
"Ya bagus, kalo kamu tidak sibuk. Kakek ingin membicarakan tentang perusahan sawit kakek. Kakek sudah lelah Sen, ingin rasanya kakek beristirahat." Gumam kakek Yos.
Kakek Yos kelihatannya sangat serius menerangkan seluk beluk dunia bisnis yang ia miliki sekarang. Arsen juga begitu serius mendengarkan kakeknya.
TBC.
__ADS_1