
Selamat membaca ❤️❤️❤️
.
Arsen kini sudah menempati posisi menyetir. Dibelakang terlihat Alina lari dengan terburu buru karena ditinggal suami kontraknya itu.
"Huftttt.. Pak Arsen yang nyetir?" Alina.
"Ia, terus mau bagaimana lagi. Emang kamu sanggup?" Arsen.
"Ya sanggup lah masak nyetir aja nggak sanggup." Alina.
" Udahlah, kamu nggak usah banyak tanya. cepetan masuk mobil. Nanti gantian buat nyetir." Arsen.
Alina menuruti apa yang diperintahkan oleh Arsen. Ia duduk di jok belakang, sedangkan Desy duduk di samping Arsen.
Alina terlihat hanya menikmati pemandangan di kota itu.
"Sayang, ini kita ngapain ke kota. Bukankah kita mau ke Utara." Desy.
"Kita beli baju dulu ya, soalnya Alina nggak bawa baju." Ujar Arsen.
"Al, kamu ngga bawa baju? kenapa nggak kamu bilang? Kan kamu bisa pake baju aku dulu." Ujar Desy.
Alina tidak menanggapi perkataan Desy. Sekarang Ia hanya ingin mandi dan ganti baju. Arsen sudah memasuki parkiran sebuah mall di kota itu. " Sudah ayo.." Arsen mengajak mereka untuk turun.
Alina terlihat seperti pembantu mereka. Ia terlihat mengekori Arsen dan Desy dari belakang. Terlihat wajah Alina kesal yang diperlakukan seperti itu.
"Saya mau membeli keperluan saya di sana saja pak." Alina menunjukkan sebuah supermarket.
"Ya sudah kita kesana saja. Disini hanya kamu yang perlu belanja. Desy sudah membawa bajunya." Arsen.
Alina memasuki lorong demi lorong. Ia mengambil apa yang perlu menurutnya. Di depannya terlihat sepasang suami istri yang sedang berbelanja. "Bahagia sekali mereka."Gumamnya.
Namun ia hanya menyimpan keinginannya di dalam hatinya. Dulu waktu bersama dengan Leo, ia sering sekali memimpikan akan menjadi ibu dari anak mereka. Tetapi impiannya kandas begitu saja.
Arsen dan Desy sudah menunggu Alina di dekat kasir. "Kamu lama amat."Ujar Arsen.
"Harusnya bapak nggak usa ikuti saya." Gumam Alina.
Setelah selesai membayar tagihan, mereka kembali ke mobil.
Derttttt.....
Derttttt...
Ponsel Arsen berbunyi. Ternyata panggilan dari kakek Yos." Arsen sekarang kalian sudah dimana."
"Kami sedang berbelanja kek, ada apa?" Arsen.
"Tidak ada, kakek hanya khawatir dengan keadaan kalian." Kakek Yos.
"Kami baik-baik saja kek, mungkin besok pagi kami akan sampai di Medan. Setelah itu baru kami akan ke danau Toba kek." Arsen.
__ADS_1
"Kenapa tidak menggunakan pesawat saja nak atau Helikopter milik kakek." Ujar kakek Yos.
"Tidak perlu kek, soalnya Alina ingin mengunjungi banyak tempat di sini." Ujar Arsen.
"Ya sudah kalo seperti itu, kakek langsung terbang ke sana ya, kebetulan ada bandara yang tidak jauh dari tempat itu." Ujar Yos.
"Emmm.. ia baik kek," Arsen
"Kalian berdua berhati-hati lah, tidak usah terlalu terburu-buru." Kakek Yos.
"Ia kek, Arsen sudahi ya, soalnya ini mau jalan." Ujar Arsen sambil menyudahi telpon mereka.
Setelah selesai dengan kakek Yos, Arsen menancap gas menuju sebuah SPBU.
"Al, kamu mandi dulu gih... ada yang harus saya bicarakan dengan kamu." Arsen.
"Saya mandi di sini?" Alina.
"Iya, emangnya mau dimana lagi?" Arsen.
"Ya di hotel atau di mall gitu." Alina yang merasa keberatan dengan keputusan Arsen.
"Disini juga sama, cepetan sana." Ujar Arsen.
Tanpa berkata lagi, Alina mengambil perlengkapan mandi lalu ia turun dari mobil.
"Sayang? " Desy menatap ke arah Arsen yang penuh dengan nafsu.
"Gimana, nanti kalo kakekmu tau kalo aku bersama dengan mu." Desy.
"Nanti setelah sampai di Medan kamu terbang ke Jakarta. Tidak usah ikut sampai sana. Aku bosan sendirian disini." Ungkap Arsen.
"Kan ada Alina." Desy.
"Dia tidak seperti kamu, sangat berbeda. Aku tidak mungkin memperlakukan dia seperti memperlakukan kamu, dia hanya sebatas rekan kerja." Jelas Arsen.
Terlihat Desy terus menggoda Arsen.
"Tidak mungkin disini sayang..." Arsen.
"Biasanya juga kita lakukan dimana-mana." Ucap Desy.
"Ia tapi disini ada Alina sayang." Ucap Arsen sambil menahan hasratnya.
"Dia masih lama sayang, ayolah..." Desy.
Pada akhirnya mereka melakukan hubungan yang tidak harusnya dilakukan pasangan yang tidak menikah.
"Huhhhhhh...." Arsen.
"Sayang, apa kau mencintaiku?" Desy.
"Aku tidak bisa menjawab itu, kamu pun tau di hatiku masih ada seseorang yang sampai sekarang masih kuharapkan." Desy.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, lupakan saja Dia. Aku akan mengisi hari mu." Desy.
"Kamu tidak akan mengerti rasa ku ini. Kalaupun aku menikahimu, akan kunikahi secara siri dan diam-diam."Ungkap Arsen.
"Aku tidak masalah sayang, bagiku kamu saja sudah cukup." Desy.
"Aku tidak memikirkan untuk menerima wanita lain lagi di hidupku. Jika kamu ingin berumah tangga carilah orang lain. Sekarang kamu boleh pergi dari sini." Arsen tampak tidak suka dengan perkataan Arsen.
"Sayang, bukan gitu maksud aku." Desy.
"Ia saya mengerti maksud kamu. Sekarang kamu boleh pergi. Saya akan transfer uang ke kamu." Arsen tampaknya serius.
Terlihat Desy hanya terdiam. "tokkk tokkkk...." Alina mengetuk kaca mobil milik Arsen.
"Sekarang kamu keluar, saya sudah tidak ingin melihat kamu. Saya akan suruh orang untuk mengambil barangmu di apartemen. Mulai sekarang kamu saya bebaskan." Arsen berbicara dengan nada datar. Seperti itulah Arsen. Ia akan mengusir siapapun yang ingin mengganggu kehidupan pribadinya. Hanya dia yang dapat memutuskan siapa yang jatuh cinta kepadanya.
Terlihat Desy sudah keluar dari dalam mobil. "Lhohh Mbak kamu mau kemana? " Tanya Alina yang bingung dengan raut muka Desy. Ia terlihat pucat.
Desy tidak menjawab pertanyaan Alina. Ia hanya fokus pada barang miliknya lalu pergi.
"Pak Arsen, mbak Desy mau kemana? Dia sakit?" Alina.
"Tidak usah di urus. Cepetan masuk!!!!." Arsen.
Terlihat Alina hanya mengikuti perkataan suaminya itu. Ia tidak sedikitpun berani berbicara. Kelihatannya suasana hati Arsen sedang tidak bagus
Arsen menancap gas membelah jalanan kota. Mereka tidak berbicara sepatah kata pun.
***
Disebuah club terlihat Leo sedang meneguk minuman. Terlihat kehidupan pribadi yang tidak bahagia, kemungkinan pernikahannya sedang berada di dalam masalah.
Sebelumya Leo tidak pernah seperti itu.
Tuttttt....tuttttt
Leo mencoba untuk menghubungi seseorang, yaitu Alina.
"Hallo kak? ada apa ya.." Alina bingung dengan sikap Leo yang tiba-tiba menghubunginya di tengah malam seperti itu.
"Al, kamu dimana. Aku sungguh merindukanmu." Leo.
"Kamu ini kenapa kok ngomong gitu, ada masalah?" Ujar Alina lewat benda pipih miliknya.
"Tidak seperti itu Al, aku cuman pengen kamu ada disini." Leo berbicara seperti itu karena ia sedang dalam pengaruh alkohol.
" Maaf kak, aku lagi kerja besok pagi aku telpon kamu ya. Kamu mendingan sekarang tidur gih, ini udah tengah malam." Alina.
Mendengar perkataan Alina Leo mengakhiri panggilannya.
"Siapa sih tengah malam masih ngehubungi kamu, nggak ada sopannya." Terlihat Arsen tidak suka.
TBC.
__ADS_1