
Selamat membaca ❤❤❤.
.
.
.
"Ya sudah Pak, saya permisi dulu. "
Alina beranjak dari tempat duduknya.
Air matanya kini kembali menetes.
"Saya belum selesai berbicara "
Arsen menghentikan langkah Alina.
Alina tidak melanjutkan langkahnya.
" Apalagi yang harus dibicarakan..
belum puas memanfaatkan saya?"
Alina menyeka air matanya.
"Saya tidak memanfaatkan kamu..
kamu sendiri yang datang kepada saya...
Tunggu di sana, jangan kemanapun. "
Jawab Arsen dengan tegas.
Arsen pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia merasa perlu untuk mandi.
Setelah beberapa lama Arsen sudah turun. Ia melihat Alina yang duduk menunggunya.
"Ayo saya antar kamu, kita ambil barangmu yang di villa temanmu itu. Setelah itu kita kembali ke Jakarta."
Arsen.
Alina hanya diam ia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Arsen.
***
Di villa, terlihat Ina ibunya Tiya sudah berbincang dengan Leo. Ia baru saja tiba kebetulan ada pekerjaan yang dekat dengan villanya.
Arsen dan Alina sudah sampai di villa milik keluarga Tiya.
"Pak, apa tidak sebaiknya saya pulang bareng sama Tiya.
Saya ngga enak. "
Ucap Alina ketika masih di dalam mobil.
" Menurut saya urusan kita secepatnya harus selesai. "
Arsen
Alina berjalan menuju villa milik Tiya. Sedangkan Arsen masih menerima panggilan dari kolega perusahaannya.
" Alina...
Lo kok cepat banget.. "
Tiya tidak menyangka kalau Alina akan pulang secepat ini.
Terlihat Leo dan istrinya sedang menikmati obrolan bersama keluarga Tiya.
"Ti, gue mau balik duluan ya... "
Alina berbicara sambil menatap sinis kepada Leo dan istrinya.
"Ya udah sana ..!!!
Siapa suruh lama-lama disini..
mau jadi mata-mata kita? "
Tiba-tiba istri Leo membentak Alina.
"Ehhh..
kok gitu si mbak..
Aku yang bawa Alina, jadi mbak ngga boleh asal usir ya... "
Tiya tidak suka dengan perlakuan istri Leo.
"Ya udah..
ngga papa kok Ti..
Aku memang mau pulang.. "
Jawab Alina.
"Bagus deh kalo nyadar...
Dilihat dari mana pun lo itu ngga bakal bisa dapetin Leo... " Istri Leo
"Udah sayang...
kamu jangan gitu ya..
Alina ngga ada maksud buat ikutin kita."
Leo.
Terlihat Arsen sudah berada di belakang Alina.
"Kata siapa Alina ngga mampu..
lebih dari suami anda sekalipun dia mampu buat dapetin"
Arsen mempertegas posisi Alina.
"Pak Leo, silakan ajari istri anda sopan santun ya
Ayo sayang kita langsung aja"
Arsen.
Alina dan Arsen kini telah memasuki kawasan tol.
Alina masih terdiam.
"Kamu yang nyetir yaa..
Saya capek nihh.. "
__ADS_1
Arsen.
"Ya sama saya juga capek..
ingat ya pak Arsen, hari ini adalah hari libur. "
Alina.
Arsen memutar arah. Ia tidak mau ngambil resiko karna capek.
" Kita balik ke villa saya yaa..
nanti biar Ezra yang urus semua."
Arsen.
"Lohhh..
ngga bisa gitu dong pak... "
Alina tidak terima jika harus tetap tinggal di villa.
''Kamu kan yang ngga mau nyetir"
Arsen.
Alina hanya bisa menerima perlakuan Arsen.
***
Kini matahari sudah tenggelam. Udara dingin menyapa Alina dan Arsen.
Mereka baru sampai di villa Arsen setelah berbelanja pakaian ganti.
Alina terpaksa membeli beberapa keperluan menginap karena ia tidak membawa barangnya dari villa Tiya.
Arsen memasuki villa nya dengan lega, karena malam ini bisa beristirahat dengan dengan tenang.
"Duhhh
dingin banget sii... "
Gumam Arsen
"Ehhh pak..
nggak mikir yang aneh-aneh kan ya? "
Alina melihat Arsen dengan penuh curiga.
" Ehhh...
Gadis mungil..
selera aku bukan kayak kamu yaa.. "
Arsen memang tidak sama sekali berfikir negatif.
"Ya awas saja bapak berani macam-macam dengan saya. "
Alina memberi nada tegas.
"Saya tidak akan selera kalo sudah tidak virgin..
Jadi tenang saja, saya tidak akan melakukan apapun"
Gumam Arsen sambil berjalan ke lantai dua.
Mendengar perkataan Arsen hati Alina bergetar. Kini matanya sudah berkaca-kaca.
Ujar seorang ART membuat Alina terkejut.
Setelah sampai di kamar, Alina duduk di ranjang besar yang super mewah itu.
Ia kembali menyeka air matanya yang sudah dari tadi di tahannya.
"Kenapa sii nasib gue gini amat..
kalo bisa, gue pengen balik jadi putri kecilnya ayah.
Gue ngga pernah berfikir dewasa akan sesakit ini. "
Gumam Alina.
Dertttt....
dertttt...
Ponsel Alina bergetar membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Siapa ini..
Tiya?.. "
Alina menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Hallo... "
terdengar suara dari ponsel Alina.
"Iya Ti..
Kenapa? "
Alina senang saat sahabatnya itu menelponnya.
"Al..
maaf ya soal tadi di villa...
Gue ngga nyangka kalo Leo ada di sini juga."
"Ia Ti, ngga papa...
ini juga gue masih di Bandung."
"Ia?
Lo lagi di hotel mana? "
Tanya Tiya.
"Ngga di hotel Tiya...
Lo pikir gue perempuan apa..
Ini gue di villa Arsen..
Ada banyak ART juga kok di sini.. "
Alina
__ADS_1
"Ohhh gitu...
Keluar yukk...
Gue belum sempat dengerin cerita lo."
Minta Tiya.
"Sebentar yaa..
Gue tanya bos gue dulu. "
Alina
"emm...
iya gue tunggu ya kabar dari lo"
Tiya.
Alina menyudahi obrolan mereka.
Ia bergegas ke kamar mandi.
***
Kini Alina sudah memakai kaos oblong dan jeans yang kuncup bawah.
Ia terlihat seperti anak SMA.
Alina memilih izin kepada Arsen lewat WA saja. Ia tidak mau mengganggu privasi Bosnya itu.
Tutt...
tutttt...
Terlihat ponsel Arsen berdering.
Namun Arsen tidak berniat untuk menjawab panggilan tersebut.
Arsen keluar dari kamarnya.
Sudah terlihat Alina yang duduk di sofa.
"Kenapa memanggil lewat telpon?
Emang saya seseram itu untuk mu? "
Tanya Arsen sambil menyusuri anak tangga.
"Bukan gitu bos..
Saya takut jika anda terganggu jika saya berteriak di villa ini"
Alina
"Sebentar lagi Ezra dan pengacara saya akan tiba.
Jadi kamu tunggu di sana."
Arsen
"Tapi Pak..
saya mau keluar sebentar.. "
Alina
"Kamu pending saja dulu rencanamu untuk liburan disini.
Jika urusan kita belum selesai kamu tidak bisa bebas. "
Arsen.
"Yahhh...
Pak... "
Rengek Alina.
Terlihat wajah Alina sangat imut ketika ia meminta sesuatu.
"Hehhh..
Gadis kecil..
saya bukan Ayah kamu yaa..
yang bisa kamu perlakukan dengan seenaknya. "
Arsen dengan tegas memperingati Alina.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
" Kamu mau makan apa "
Tanya Arsen.
"Mi instan aja"
Jawab Alina.
"Bik, buatin mi instan dua yaa.. "
Arsen menyuruh salah satu ARTnya.
Alina memang sangat menyukai mi. Tapi ketika di rumah orang tuanya, ia sangat dilarang untuk makan mi instan.
Setelah mereka menyantap mi instan itu, Arsen memanggil seorang ART.
"Bik, bisa pijat tidak? "
Arsen.
"Tidak tuan.. "
Jawab ART itu.
"Bibik tau?
disini yang bisa pijat? " Tanya Arsen lagi.
"Tidak tuan.. "
ART.
Alina hanya diam mendengar pembicaraan Arsen dan ART tersebut.
"Heh kamu!!!
Tolong pijat saya yaa..
__ADS_1
saya capek banget.. "
Gumam Arsen pada Alina.