
Nirwana membawa Darren ke dalam tendanya. Luka gores di tangan dan kening Darren diberi cairan antiseptik. Lelaki tampan berwajah pucat itu sesekali mencuri pandang ke arah Nirwana.
"Lukamu juga harus diperhatikan nona, sayatan tadi cukup dalam. Maaf." Darren mengingatkan Nirwana, matanya tak lepas menatap paras ayunya.
"Hmm, aku tahu. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku."
Nirwana memberikan sentuhan akhir pada luka kecil Darren dengan memberikan band aid. "Baiklah tuan, selesai."
Senyum manis Nirwana membuat Darren tergelak. "Ada yang lucu tuan Darren."
Darren meraih kedua tangan Nirwana dan mengecupnya lembut, "Bisakah hanya memanggil namaku saja, tanpa tuan? Itu lebih menyenangkan."
Nirwana hendak menjawab tapi satu panggilan dari luar tenda memaksanya berhenti.
"Tuan Darren, apa kau didalam?"
"Siapa?" tanya Darren setelah ia dan Nirwana saling memandang.
"Abraham, tuan,"
Darren bergegas keluar dan mendapati Abraham tersenyum padanya, ia membungkuk dan memberi hormat pada Darren. "Kita harus segera pulang tuan."
"Hmm, baiklah. Tunggu sebentar."
"Senang bertemu denganmu Nirwana, aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita." Darren mengerlingkan matanya, ia sedikit menunduk untuk berbisik.
"Jaga peninggalan leluhurku baik-baik jika tidak, akan aku pastikan, aku sendiri yang akan mengambilnya darimu."
Mereka kembali bertatapan sangat dekat, hati Nirwana berdesir dibuatnya. Sekali lagi Nirwana dibuat terpesona dengan ketampanan Darren. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Nirwana tiba-tiba.
"Thanks, cantik."
Darren pergi meninggalkan tempat itu diikuti Abraham. Sementara Nirwana, terpaku dengan sikap Darren, ia meraba kembali bibirnya yang beberapa jam terakhir menjadi sasaran lelaki bertubuh sedingin es.
"Begitu saja? Dia pergi begitu saja, kau bahkan tidak memberiku nomor ponsel tuan es!" Nirwana kesal karena Darren pergi meninggalkan jejak di hatinya.
Pengalaman sehari yang mendebarkan bersama Darren rupanya cukup berbekas untuk Nirwana. Apalagi ciuman liar mereka, membayangkannya saja kembali membuat bulu halus di tubuh Nirwana berdiri.
"Ehem … prof, misi selesai sepertinya kita bisa kembali besok." Gery berkata sesaat setelah Darren menghilang.
Nirwana masih belum bisa mengalihkan tatapan matanya, ia menjawab dengan malas. "Ya kau benar, kita akan kembali besok."
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" Gery menatap ke arah yang sama dengan Nirwana. "Aah, jangan bilang kau jatuh hati padanya profesor?"
Nirwana menoleh perlahan, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Benarkah? Aku, jatuh hati?"
"Entahlah, apa yang kau rasakan?" tanya Gery penuh selidik.
Nirwana hanya mengangkat kedua bahunya, ia menepuk bahu Gery. "Lupakan Gery, jadi apa laporan untukku?"
"Buruk, kita kehilangan sepertiga dari tim."
"Apa? Bagaimana bisa?" Nirwana menatap tak percaya wajah asistennya.
"Setelah kejadian dalam makam sebagian memilih mundur dan kembali. Mereka ketakutan dan berteriak histeris tentang kutukan vampir!"
"Hmmm, kutukan vampir." Nirwana menatap tangannya yang terluka lalu kembali berkata. "Aku rasa mereka benar, Gery selidiki siapa Constantin ketujuh!"
Gery mengangguk dan segera kembali ke tendanya sementara Nirwana menuju pos kesehatan. Ia tak ingin mati konyol hanya karena goresan yang terinfeksi. Petugas medis yang ikut dibawa Nirwana memberinya hadiah lima jahitan.
"Misi yang cukup sulit?" tanya dokter Irwin.
"Begitulah," Nirwana menatap Irwin sejenak lalu bertanya, "Irwin, apa kau percaya vampir ada?"
"Benarkah? Ceritakan padaku!" mata Nirwana membulat sempurna, ia begitu antusias mendengarnya.
Irwin berasal dari kota kecil di pinggiran Rumania, tempat dimana masyarakat disana sangat mempercayai keberadaan vampir. Bahkan hampir setiap rumah memiliki satu tempat khusus untuk menyimpan air suci, salib dan juga bawang putih. Orang tua Irwin selalu menyiapkan belati perak dan panah bermata tajam yang tak pernah absen dicelupkan dalam air suci setiap hari.
Meski awalnya Irwin meragukan keberadaan vampir, tapi kejadian mengerikan memaksa dirinya percaya jika makhluk penghisap darah itu ada. Irwin memergoki makhluk itu menghisap darah ayahnya sampai habis.
Vampir makhluk kegelapan yang menyelinap saat gelap menjelang, ayahnya yang malang bahkan tak sempat melawan saat ia disergap di kandang kuda miliknya.
Irwin tidak berhasil membunuh vampir itu, tapi ia mendapat luka yang tak akan pernah dilupakan sepanjang hidupnya selain kematian sang ayah. Ia membuka kemejanya dan menunjukkan dua goresan memanjang di dadanya. Cukup dalam, Nirwana ngeri membayangkan hal itu.
"Apa kau percaya mereka masih ada di jaman seperti ini?" tanya Nirwana ragu.
"Setelah era pemburu vampir aku rasa mereka sekarang bersembunyi. Aku cukup terkejut saat ayahku diserang. Sama sepertimu aku juga meragukan keberadaan mereka tapi kenyataan bahwa vampir membunuh ayahku, mau tidak mau membuatku percaya."
"Selesai!" Irwin menyelesaikan jahitan terakhir di bahu Nirwana yang juga terluka.
"Terimakasih Irwin, berkemas lah kita kembali ke Bukares besok."
Nirwana meninggalkan tenda kesehatan, ia berjalan melewati delapan mayat timnya yang tewas. Nirwana menunduk sejenak dan berdoa agar arwah mereka tenang. Ada rasa aneh yang mengganjal saat ia melewati tenda itu, ia merasa diawasi. Nirwana mengedarkan pandangannya, ia sulit untuk melihat dalam temaram cahaya.
__ADS_1
Rasa nyeri diseluruh permukaan kulitnya cukup untuk memberikan sinyal bahwa ada entitas lain yang tak kasat mata di sekitarnya. Nirwana menghela nafas panjang, lalu kembali ke dalam tenda miliknya. Ia lelah dan butuh tidur.
"Semoga tidak ada hal aneh lagi, hutan ini cukup menyeramkan dengan segala mitosnya."
Saat Nirwana lelap dalam tidurnya, disisi lain hutan Darren dan anak buahnya justru bersiap menyelinap ke dalam tenda untuk mengambil relik kuno dari tangan Nirwana.
"Tuan yakin tidak mau mengambilnya sendiri dari nona Nirwana?"
"Aku tak bisa menyentuhnya Abraham, aku mencobanya berkali kali tapi relik itu menolakku." Darren terdiam sesaat, ditangannya segelas cairan berwarna merah hampir tandas diminum.
"Cari informasi tentang relik itu, aku yakin ada informasi yang kita lewatkan."
"Baik tuan,"
Darren dan dua pengikutnya bergerak menuju tenda Nirwana. Darren berjalan santai di antara para penjaga yang sedang mengelilingi api unggun. Dengan kemampuannya Darren mampu berjalan tanpa tertangkap mata manusia biasa. Setelah memastikan relik itu ditangan bawahannya Darren mencari tenda Nirwana.
Baru sebentar berpisah dengan gadis itu Darren merindukan Nirwana. Ia menaikkan selimut hingga sebatas dada.
"Ccck, gadis bodoh! Kau penurut sekali, bagaiman jika aku melukaimu lebih dalam dan menghisap darahmu tadi." Darren mengusap lembut kain kasa yang menutupi luka Nirwana di pergelangan tangan.
Ia meraba leher Nirwana, memeriksa bekas gigitannya. "Dia bahkan belum menyadari jika aku menggigitnya. Haruskah ku ulangi lagi? Darahnya sungguh menggoda."
Tangannya mengusap lembut pipi Nirwana membuat gadis itu menggeliat geli. "Lihatlah wajahmu, cantik sekali. Aku akan merindukanmu sayang."
Darren memberikan kecupan ringan di dahi Nirwana, "Selamat tidur putri tidur, tidurlah dengan nyenyak. Setelah malam ini aku tak tahu apa kau bisa memaafkan ku."
Satu kecupan terakhir diberikan Darren pada bibir lembut Nirwana. Darren hendak pergi saat tangan Nirwana tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
"Darren,"
Darren terkejut dan menoleh ke arah Nirwana. Matanya masih terpejam, "Kau memimpikan aku? Aku sangat tersanjung sayang."
Perlahan Darren mengembalikan tangan Nirwana dan memasukkannya dalam selimut. Mengecupnya lagi untuk terakhir kali, sebelum ia menghilang.
Kita pasti akan bertemu lagi sayang.
"Darren!" Nirwana terjaga dari tidurnya, ia menatap sekeliling tapi tak ada siapapun disana.
"Hanya mimpi, kenapa suaranya begitu jelas di telingaku?" Nirwana mengabaikannya, ia menarik kembali selimut lalu melanjutkan tidur.
__ADS_1