
"Nirwana, cepat lah kau akan melewatkan bagian terpentingnya!" seru Darren pada Nirwana yang masih berada di dalam kamar mandi.
Nirwana menggerutu di dalam kamar mandi, ia memakai bathrobe-nya dengan terburu buru. Ide gilanya melakukan permainan Uno stacko membuatnya kesal sendiri. Bagaimana tidak Darren ternyata begitu pintar menyusun satu persatu balok kecil berjumlah empat puluh lima biji itu dan berhasil mengambil satu persatu balok tanpa merobohkan nya sama sekali.
Ia bahkan mendapatkan balok wild (balok warna ungu) hingga membuat Nirwana selalu saja mati langkah, karena Darren menentukan balok dengan warna yang harus diambilnya. Nirwana kesal karena selalu saja meruntuhkan tower setelah Darren mendapatkan balok wild.
Ini kali kelima dia kalah, dan akhirnya Nirwana memutuskan untuk mandi air hangat menghilangkan rasa kesalnya. Yang membuat Nirwana kesal adalah permintaan Darren jika Nirwana kalah lagi kali ini. Nirwana harus mengikuti semua permintaan Darren.
"Kau!" Tangan Nirwana melayang seolah hendak memukul Darren, suara vampir tampan itu kembali terdengar memanggilnya.
"Kenapa aku mengusulkan ide gila itu tadi! Mana aku tahu jika dia cukup pintar bermain?"
Nirwana akhirnya keluar dari kamar mandi dan mendapati Darren yang tengah memandangnya dengan tatapan menggoda.
"Aku berani bertaruh kau kalah lagi sayang."
Kerlingan nakal Darren membuat bulu halus di tubuh Nirwana berdiri. Ia mengeratkan bathrobe-nya, Nirwana sama sekali belum berpakaian. Ia merutuki dirinya sendiri yang lupa membawa baju tidur atau setidaknya pakaian dalam untuk menutupi bagian sensitif tubuhnya.
"Bagianmu sayang?" Darren mengedipkan sebelah matanya.
Darah Nirwana terasa menghilang seketika, jantungnya berdetak tak karuan. Nirwana mencoba bersikap wajar padahal tubuhnya sedang tak baik-baik saja.
Ia menginginkan Darren, oh tidak … lagi?
Nafas Nirwana mulai tak teratur, hasratnya muncul lagi setelah Darren menghampiri dan mencium rambutnya yang lembab.
__ADS_1
"Kau wangi sekali, aku suka baumu."
Nirwana menahan nafasnya sejenak, sentuhan Darren membuatnya gila. "Hentikan Darren! Aku tidak mau kalah lagi, aku harus menang kali ini!"
Suara Nirwana sedikit bergetar karena Darren kembali berbisik padanya. Sungguh kali ini ia mengumpat Darren dalam hati, hembusan nafas Darren membuatnya tak bisa berkonsentrasi.
"Menyerahlah sayang, aku tahu kau tidak akan bisa melakukannya. Tower itu akan runtuh!" bisiknya sensual.
Ya Tuhan, Darren! Apa yang harus aku lakukan padamu? Menggigit balik?! umpat Nirwana dalam hati.
Nirwana berdecak kesal, ia menghela nafas dan menoleh ke arah Darren yang kini hanya berjarak sejengkal darinya.
"Warna apa yang harus … aku ambil?" ia menjeda kalimatnya karena Darren tiba-tiba saja mendekat, dan berniat menciumnya.
Jantung Nirwana berhenti berdetak, Darren menatapnya penuh hasrat. "Darren?"
Mata keduanya saling bertemu, Nirwana merona hasratnya kembali naik satu tingkat tanpa permisi. "Baiklah, biru."
Nirwana mengalihkan tatapannya dari Darren, ia gemetar dan berusaha menarik perlahan balok kayu berwarna biru. Nirwana mencoba berkonsentrasi, tentu saja hal itu sia-sia. Bagaimana tidak, Darren kini ada dibelakang dirinya, mencium wanginya rambut Nirwana. Tangannya juga begitu nakal menyusuri lekuk leher Nirwana.
"Tunggu apalagi, ambil baloknya dan menyerahlah." Vampir tampan itu kembali berbisik.
Nirwana mendengus kesal, tapi ia tetap bertekad untuk menang. Tanpa ragu Nirwana mengambil balok biru yang ada di urutan kelima dari bawah. Untuk sesaat tower itu aman, mata Nirwana berbinar senang. Tapi kemudian tower bergoyang dan … runtuh.
"Aaargh, sial! Aku kalah lagi?!"
__ADS_1
Darren tersenyum licik, tentu saja tower itu runtuh karena ulah Darren. Ia tak ingin Nirwana mengalahkannya. Itu karena taruhan konyol yang menggiurkan. Yang kalah harus melakukan apa pun yang diinginkan pemenang, dan Darren sekarang sangat menginginkan Nirwana.
"Tunggu, kau curang Darren?"
Nirwana membalik tubuhnya menghadap Darren. Belahan bathrobe bagian bawah tersingkap memperlihatkan mulusnya paha Nirwana. Darren tersenyum melihatnya, ia suka pemandangan indah itu.
"Apa kau lihat aku menyentuhnya sayang?"
"Tidak, tapi kau punya kemampuan untuk itu! Jadi kau curang selama kita bermain?"
"Hhm, coba aku ingat." Darren berlagak mengingat, "Tidak sekalipun!" sambungnya dengan senyuman menggoda .
Hal itu tentu saja membuat Nirwana kesal, "Jangan menipuku Darren, kau …,"
Bibir Darren menempel tiba-tiba di bibir Nirwana, menghentikan kalimat protes sang arkeolog. Pagutan lembut Darren tak bisa lagi ditolak Nirwana, ia menikmati setiap gigitan yang dilakukan Darren disela sesapan lembut yang menyesatkan Nirwana.
Darren menarik tubuh Nirwana, memeluknya posesif dan perlahan menurunkan bathrobe Nirwana lalu menarik talinya perlahan. Nirwana tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Darren. Hormon feromonnya ada di titik tertinggi. Ia menginginkan Darren untuk mengklaim dirinya lagi.
"Darren," ia mende-sah sensual, menyebut nama Darren yang mulai menjelajahi bagian sensitif tubuhnya.
"Aku mencintaimu sayang,"
Darren membalas Nirwana dengan gigitan kecil di leher, memainkan puncak dada Nirwana yang tegak menantang, melu-matnya lembut hingga tubuh Nirwana menggeliat penuh nikmat.
Darren menghimpit tubuh Nirwana diatas karpet bulu tebal, ia tak peduli dengan balok ini yang berantakan karena ulahnya. Darren hanya menginginkan Nirwana, aroma manis darah Nirwana nyatanya tak mampu menandingi manisnya pergumulan panas mereka. Tubuh Nirwana menjadi candu bagi Darren.
__ADS_1
Racauan nikmat dan de-sahan sensual keduanya sekali lagi menghiasi ruangan kamar Darren. Nirwana berbagi kehangatan tubuhnya dengan vampir tampan yang dingin. Darren manjakan Nirwana dengan sentuhan lembut dan gerakan pinggul bertempo sedang, hingga keduanya mendapatkan pelepasan yang sempurna.
Peduli setan dengan yang ketiga, aku hanya menginginkan dirimu Darren. Sekarang dan selamanya!