An Ancient Relique

An Ancient Relique
Satu Malam Bersamamu


__ADS_3

Darren bertindak nakal dengan terus menggoda Nirwana, kecupan bertubi-tubi ia layangkan pada tengkuk dan punggung Nirwana yang masih berusaha menahan dirinya.


"Sayang, kau mendengarku bukan? Ayolah aku tahu kau belum tidur." Satu gigitan kecil di telinga Nirwana kembali dilakukan Darren.


"Darren, hentikan!" akhirnya Nirwana luluh dan berbalik menghadap Darren.


Vampir tampan itu tersenyum dan menatap wajah cantik Nirwana. "Kenapa kau menahannya?"


"Menahan apa?" Nirwana berpura pura tak mengerti maksud Darren.


"Hhhm, coba kulihat wajahmu." 


Darren menghimpit tubuh Nirwana, melihatnya dengan seksama. Nafas Nirwana mulai tak teratur, posisinya yang berada dibawah tubuh Darren membuat hatinya tak karuan. Hasrat yang sudah terpancing sedari tadi mulai terbakar.


Vampir tampan itu mengamati dengan jarak begitu dekat membuat Nirwana tak kuasa untuk memperhatikan bibir tipis kemerahan milik Darren. Fantasi liarnya kembali merajai otak. 


Sial, aku tak bisa menahannya lagi! Kau membuatku gila Darren!


Nirwana mengumpat pada dirinya sendiri yang terlena dan pasrah pada hasrat primitif nya yang menggebu. Sungguh vampir tampan satu ini membuat otaknya mengecil sepuluh persen.


"Darren, apa yang kau lakukan?"


"Aku? Hanya mengamati wajah wanitaku dari dekat." Darren terdiam sebentar mengamati detail wajah Nirwana dari rambut, kening, kedua mata hingga berakhir di bibir. "Kenapa wajahmu merona seperti terkena sinar matahari sayang."


Vampir sialan! Apa kau tahu aku begini karena ulahmu!


"Be-benarkah? Ehm, Darren bisakah kau berhenti memperhatikan ku?"


"Kenapa? Aku menyukainya, apa kau tidak?"


Nirwana dibuat kesal tapi juga salah tingkah. Sesuatu dalam tubuhnya mulai merambat naik ke permukaan dan perlahan terbakar hanya dengan merasakan hembusan nafas Darren yang menyapu wajahnya.


"Dengar, bisakah kau tidur di tempat lain? Bukankah vampir seharusnya tidur dalam kotak kayu atau semacamnya?"


Darren tertawa, pertanyaan Nirwana sukses membuat Darren melepaskan himpitan nya. Ini membuat Nirwana lega.

__ADS_1


"Aku bukan vampir generasi kuno yang tidur dalam peti dan berburu sesuka hati sayang. Aku vampir milenial yang mengikuti perkembangan jaman."


Kali ini giliran Nirwana yang terkekeh geli, "Vampir milenial? Lucu sekali Darren, jadi kau tidur di kamar ini? Bukankah jendela kaca itu akan memantulkan matahari jika pagi tiba?"


Darren memiringkan kepala dan menurunkan sudut bibirnya, "Hhm, tidak juga. Abraham dan tim arsitek ku merancang pintu kaca itu sedemikian rupa sehingga cahaya matahari bersikap ramah saat masuk ke kamarku."


"Ramah? Apa mereka bertamu?" ledek Nirwana lagi dan itu membuat Darren semakin gemas padanya.


Darren mendekati Nirwana, menatapnya tajam membuat wanitanya menarik selimut hingga menutupi bagian atas tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan, Darren?" tanya Nirwana gugup.


Darren tak menjawab, kini wajahnya begitu dekat, ia tersenyum dan berbisik, "Kau takut? Aku hanya ingin menyentuh dan memberi hukuman sedikit saja."


Nirwana menjauhkan tubuh dingin Darren dengan tangannya. "Menjauhkan dariku aku lelah dan ingin tidur."


Darren tak bergeming, ia membingkai wajah ayu Nirwana dengan jemari dinginnya. Bulu halus di tubuh Nirwana meremang seketika. Sensasi dingin tangan Darren membuat bibirnya tak sopan meloloskan ******* kecil. Darren tak bisa lagi menahan hasrat lelakinya, ******* Nirwana adalah undangan baginya untuk mengecup bibir manis sang arkeolog.


Lagi-lagi Nirwana terhanyut sentuhan lembut Darren. Vampir tampannya itu membuatnya lupa daratan, ia membalas pa-gutan Darren. Runtuh sudah ego untuk bertahan. Nirwana menikmati setiap letupan rasa yang sedari tadi tertahan. 


"Darren," 


"Jangan hentikan aku sayang, aku menginginkanmu."


"Darren," Nirwana kembali memanggil nama Darren dalam desah-an lirih.


Tubuh Nirwana tak lagi bisa menolak sentuhan sensual yang diberikan Darren. Vampir tampan itu benar-benar tahu dimana bagian sensitif tubuh Nirwana yang mendamba sentuhannya. Mengusap lembut bagian dada yang entah kapan tersingkap. Nirwana melenguh nikmat, menggeliat dalam pelukan tubuh Darren yang dingin sekaligus hangat untuknya.


Malam itu, dua makhluk berbeda ras menyatukan diri dalam balutan hasrat menggebu.


Lupakan cinta, dan lupakan semua rasa yang melelahkan, yang ada hanyalah kau dan aku.


Darren sejatinya makhluk kegelapan yang hidup di waktu malam dan Nirwana adalah manusia biasa yang aktif di saat siang. Keduanya saling melengkapi bak siang dan malam yang berjalan beriringan. Darren dan Nirwana tak peduli apakah cinta itu sudah tumbuh di hati keduanya. Mereka hanya ingin bersama, melepas rindu sejak pertemuan pertama keduanya. Pertemuan yang ditakdirkan bagi keduanya.


Nirwana tertidur pulas dalam pelukan Darren yang terus menatapnya takjub. Ratusan tahun menunggu akhirnya hati Darren kembali menghangat. Ia mencintai seseorang lagi meski itu bukan berasal dari rasnya.

__ADS_1


"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan dan jatuh cinta padamu benar-benar di luar dayaku." 


Darren mengecup kening Nirwana cukup lama, merasakan kehangatan tubuh wanita dalam pelukannya yang menggeliat memeluk erat tubuh dinginnya.


"Aku berjanji sayang, aku berjanji menjagamu dan tak ada yang bisa menyakitimu. Aku adalah pelindung dan juga penguasa hatimu."


Darren mengubah ambisinya dari penguasa klan dan menaklukan dunia menjadi penguasa hati Nirwana dan bertekad mengikat Nirwana selamanya.


Pagi menjelang, sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar luas miliki Darren. Nirwana menggeliat ringan, membuka matanya perlahan. 


"Pagi sayang," sapaan Darren mengejutkannya, Nirwana terkejut dan menarik selimutnya lebih tinggi lagi.


"Pa-pagi," mata indahnya menatap Darren yang tersenyum semanis rembulan malam.


"Aku tidak bermimpi bukan? Semalam kita …," Nirwana kembali bertanya dan Darren hanya tersenyum.


"Kau sudah bangun jadi waktunya aku tidur. Jangan bangunkan aku sebelum malam, aku lelah sekali menjagamu semalaman ditambah kau begitu … liar semalam." 


Darren membalikkan tubuhnya memunggungi Nirwana dengan santai, ia memejamkan mata karena sudah tak tahan lagi.


"Apa? Darren hei tunggu, kau mau tidur dan meninggalkan aku sendirian terjaga?" protes Nirwana keras.


Darren berbalik dan menatap Nirwana, "Lalu aku harus bagaimana, vampir tidur di pagi hari sayang kecuali kami punya urusan di dunia manusia. Jika kau lapar Abraham dan pelayan lain bisa menyediakan makanan untukmu. Tapi jangan terlalu lama diluar,"


Nirwana menatap tak percaya pada perkataan Darren. Bisa bisanya vampir yang baru menidurinya semalam bertingkah seenaknya saja dan memberi perintah padanya. Apalagi belum sempat Nirwana menjawab Darren kembali menutup matanya. Ia berdecak kesal.


"Dasar vampir gila, setidaknya pakai dulu bajumu Darren!" Mata Nirwana bergerak menyusuri bagian tubuh atas Darren yang terekspos sempurna, ia menelan ludah.


"Ya Tuhan tubuhnya membuatku gila!" gumamnya merutuki hasratnya yang kembali muncul.


Nirwana bergegas turun sebelum pikiran mesumnya kembali bekerja, tapi tangan Darren menariknya cepat.


"Morning kiss sayang,"


 Daren membuka mulut Nirwana paksa dengan bibirnya yang sensual memaksa Nirwana menikmati lagi pagu-tan liar yang kali ini singkat. Nirwana masih menutup mata menikmati sensasi ciuman itu saat Darren mengakhirinya.

__ADS_1


"Sampai bertemu malam nanti sayang,"


Oh sial, aku menikmatinya lagi! Sebaiknya aku mandi membersihkan tubuh dan juga otakku yang semakin tak beres saat bersama vampir tampan sialan ini!


__ADS_2