
"Hentikan! Cukup!"
Suara Ryan terdengar lantang menghentikan perbuatan Nirwana. "Kau sudah membuktikan pada semuanya jika kau adalah pemilik sah relik itu. Lepaskan ayahku, aku mohon dengan kerendahan hatiku. My Lord!"
Ryan membungkuk hormat diikuti yang lain tak terkecuali Rachel. Nirwana menatap mereka satu persatu tanpa melepaskan Cezar. Perlahan tapi pasti tubuh Cezar pun diturunkan. Wajah kesal Cezar jelas terlihat saat semua vampir termasuk empat tetua menunduk pada Nirwana. Darren tersenyum puas, ia menunduk hormat paling akhir sambil menatap penuh cinta pada sang istri.
Nirwana dengan anggun melangkah mendekati Cezar yang tertunduk kesal. "Kau masih meragukan aku?"
Tatapan tajam Cezar jelas mengisyaratkan kebenaran atas pertanyaan Nirwana, tapi dengan culasnya Cezar menjawab,
"Tidak, My Lord. Aku mengakui kekuasaan mu."
Nirwana tersenyum, tapi ia lengah. Cezar dengan cepat mengunci pergerakan Nirwana. Kuku tajamnya menggores leher Nirwana mengalirkan darah segar yang manis.
"Beraninya kau mengancam ku! Kau pikir, aku akan tunduk padamu?"
Darren dan kelompoknya segera menghunus pedang sementara Rachel dan Ryan terkekeh dan memerintahkan sekutu manusianya untuk mengambil relik dari tangan Nirwana.
"Ambil benda itu dari tangan manusia kotor ini!"
Rachel berdiri di depan Nirwana mengejeknya seolah sang arkeolog tak memiliki kekuatan apapun.
"Wah, siapa yang kini berbalik menantang ku?! Apa kau yakin akan meneruskannya?" balas Nirwana datar.
Rachel mengusap darah Nirwana yang menetes dari luka gores dengan ujung jari, lalu menjilatnya merasakan manisnya darah pemilik sah relik. "Manis, sayang sekali kau harus kami lenyapkan!"
__ADS_1
Wanita berambut kemerahan itu berbisik, " Tak ada yang bisa memimpin bangsa vampir selain kami!"
Cezar dan Rachel tertawa penuh kemenangan sementara Nirwana hanya tersenyum menatap sosok pria yang tengah berjalan ke arahnya. Ia tak peduli dengan tawa bahagia lawannya.
"Kenapa aku tidak terkejut Maxim? Sudah kuduga ada musuh dalam selimut."
Maxim, kepala Museum Sejarah Nasional Rumania mengambil paksa relik kuno dari tangan Nirwana. "Aku hanya melakukan tugasku nona Nirwana. Lagipula harga relik ini … sangat mahal!"
"Hhm, uang! Kenapa aku tidak terkejut, demi uang kau gadaikan dirimu pada mereka? Hebat sekali!" cibir Nirwana yang membuatnya mendapat satu tamparan di pipi kanannya.
"Aku lebih pintar darimu nona Nirwana!" Maxim membela diri, Nirwana berdecak kesal.
"Apa kalian akan diam saja?!" ia berseru pada anggota klan lainnya. "Cezar telah mencurangi kalian semua, ada ataupun tidak ada Darren, keluarga Vasile tetap menjadi pemimpin!" Nirwana melakukan provokasi.
Gumaman kesal kembali berdengung, Cezar dan kelompoknya menatap sekeliling waspada terhadap kemungkinan lain yang bisa terjadi.
"Apa yang kalian pikirkan?! Kalian ingin menentang ku?!" serunya dengan ancaman.
Salah satu pemimpin dari keluarga Balan angkat bicara, ia menatap pemimpin lainnya. "Kita sudah melihat kekuatan Nirwana, keluarga Constantin! Aku memilih berada di pihaknya!"
Pedang terhunus ke arah Cezar dan kroninya. Keberanian pemimpin Balan di ikuti pemimpin keluarga lain yang sebenarnya telah muak dengan arogansi Cezar.
Darren tersenyum, "Hei pak tua! Aku rasa kau kalah jumlah sekarang!"
"Kalian!" Cezar menahan geram, ia semakin mengeratkan cengkraman nya di leher Nirwana.
__ADS_1
"Maju atau dia mati!" ancam Cezar, disisinya Rachel dan Ryan bersiap dengan pedang terhunus.
Darren tertawa geli, "Kau sepertinya tak tahu siapa yang kau sekap itu!" Darren mengerling pada Nirwana, "Sampai kapan kau akan berpura pura sayang? Waktunya kembali ke sisiku, aku merindukanmu!"
Nirwana terkikik geli membuat Cezar dan yang lainnya terheran heran. "Hmm, aku juga merindukanmu sayang. Baiklah saatnya menunjukkan siapa aku!"
Nirwana meraih tangan Cezar yang menahannya, lalu dengan cepat membalik keadaan. Tubuh Cezar sudah terangkat dan melayang ke udara. Cezar jatuh berdebum di lantai dengan keras. Ia dipermalukan dengan telak oleh seorang manusia.
"Kurang ajar!" Ryan berteriak tak terima, "Keluarkan Strigoi!" titahnya lagi pada anak buahnya.
Suara geraman dan langkah kaki berat terdengar dari lorong gelap. Nirwana, Darren dan klan pendukungnya bersiap.
"Sayang, apa dia bilang Strigoi?" bisik Nirwana pada Darren.
"Yup, Jangan takut sayang kami akan melindungimu!"
Suara geraman kasar mulai mendekat, menggaung dan menyeramkan. Hingga akhirnya gerombolan Strigoi datang, menatap dengan mata merah dan gigi tajam mengerikan, lidahnya menjulur panjang, hidung mereka mengendus aroma manis darah dari tubuh Nirwana.
Nirwana terbelalak melihat delapan makhluk legenda yang berdiri di depannya. Mereka mengepung dan bersiap menerkam Nirwana.
"Dasar pak tua sialan! Jadi dia yang mencuri mayat timku?!"
"Dan menjadikannya Strigoi! Mereka mencium darahmu sayang, layaknya anjing pelacak!"
"Heilige Scheiße!" (H*ly s**it!)
__ADS_1