An Ancient Relique

An Ancient Relique
Jati Diri Nirwana


__ADS_3

Setelah memastikan Gery dan Nicole aman, Nirwana kembali melangkah, menaiki anak tangga ke lantai empat. Dengan perasaan berkecamuk, Nirwana membuka pintu darurat. Suara teriakan, umpatan dan pedang beradu masih terdengar jelas dan semakin riuh.


Nirwana memberanikan diri mengintip, ia terkejut. Darren menghadapi begitu banyak vampir disana. Rachel si vampir gila yang hampir menghisap darahnya masih terus menyerang dan belum terkalahkan.


"Aku harus membantunya, mereka mengincar ku bukan? Mereka pasti akan datang padaku jika aku mendekat!"


Ide gila melintas di pikiran Nirwana, ia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi dirinya. Sesuatu yang tajam dan panjang untuk digunakan menusuk jantung vampir-vampir yang menggila itu.


Ia teringat satu relik kuno yang tengah dipelajari bersama Gery. Belati kuno dengan ukiran aneh di tengahnya, Nirwana bergegas pergi ke ruang penyimpanan. Membuka paksa lemari kaca dengan alat seadanya. 


"Baiklah, aku yakin Sebastian --pemimpin lembaga penelitian-- tidak akan setuju dengan hal ini tapi aku harus membantu Darren!"


Tangan Nirwana gemetar, ini kali pertama ia nekat menghadapi vampir yang begitu banyak. Bukan tidak mungkin nyawanya melayang saat berhadapan dengan puluhan vampir dengan kekuatan super itu. 


"Tarik nafas Nirwana, kau bisa melakukannya!" Ia memejamkan mata sejenak, menggenggam erat belati di tangan kanan dan bersiap.


"Ibu berikan aku kekuatanmu!" teriaknya dalam hati, liontin Nirwana berkilat kehijauan.


Tubuhnya menghangat mendapat sengatan energi yang berasal dari liontin ibunya. Nirwana tersenyum, berlari menghambur ke arah kawanan vampir yang mengerubuti Darren.


"Hei Tuan tampan apa kau merindukanku?" sapanya sambil menghajar salah satu vampir yang mendekat cepat.


"Nirwana? Apa yang kau lakukan? Kau gila?! Mereka bukan tandinganmu!" Darren dibuat terkejut dengan kedatangan Nirwana.


"Jangan banyak bicara tuan Darren, lihat depanmu sayang!" Seketika Darren menoleh dan menusuk tepat di jantung vampir lawan.


Nirwana terus melawan meski sesekali tubuh manusianya terlempar karena tendangan dan pukulan tak terduga. Ia tak menyerah, memburu jantung vampir jahat yang terus berdatangan. Jumlah mereka tak sebanding meski kekuatan Darren luar biasa dan Nirwana membantunya hal itu tetap tak berpengaruh banyak.


Darren dan Nirwana berdiri saling memunggungi, melindungi satu sama lain. Mereka mengambil nafas sejenak.


"Kita kalah jumlah Darren, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


Darren melihat sekitar, Rachel menatapnya sinis dan mengejeknya. "Wah mengharukan sekali dua sejoli ini!"


"Entahlah, kau benar kita bisa mati disini." sahut Darren menghiraukan ejekan Rachel.


"Kabur?" Pilihan paling tidak tepat yang terlintas di kepala Nirwana dan terucap begitu saja.


"Satu satunya jalan kabur adalah melewati lorong kaca itu." Darren menunjuk ke arah koridor di bagian sayap kiri gedung.

__ADS_1


"Kau benar mereka tidak kuat matahari bukan? Aku perhatikan gerakan mereka selalu menghindar dari cahaya!" 


"Hmm, aku rasa kita harus memancing mereka kesana!" Darren berancang ancang hendak lari ke arah yang dimaksud.


"Tunggu, bagaimana dengan dirimu?! Kau juga bisa mati terkena cahaya!" cegah Nirwana.


"Tak ada pilihan lain sayang, kita harus mencobanya. Aku meminum pil penangkal UV pagi tadi, aku harap efeknya masih tersisa sampai kita tiba diujung sana!" 


Darren menarik nafas lalu kembali berkata "Tunggu aba-aba dariku sayang,"


Mereka kembali mendapat serangan tapi tetap saling melindungi satu sama lain hingga pada waktu yang tepat Darren berteriak, "Sekarang!"


Keduanya secepatnya kilat berlari menuju koridor kaca, para vampir pun memburu. Terlalu bernafsu mendapatkan Nirwana hingga melupakan pantangan mereka sebagai vampir. Koridor kaca itu sangat panjang hampir delapan ratus meter, menggabungkan gedung E dan G.


Nirwana dan Darren berlari secepatnya, benar saja saat para vampir melintas, beberapa dari mereka mulai terbakar. Sebagian lagi terluka dan memilih berhenti mengejar. Nirwana berhenti dan menoleh ke belakang, ia tersenyum mengejek Rachel yang juga ikut berhenti karena wajah dan tangannya terluka.


"Darren, rencana kita berhasil!" ia melonjak kegirangan tapi tawanya perlahan berhenti.


Darren kesakitan, ia susah payah berlari. Bagian wajah dan tangannya mulai terbakar. "Oh tidak, Darren!"


Nirwana meraih tangan Darren, membantunya dengan cepat agar bisa melewati koridor yang masih tersisa setengahnya. "Kau gila Darren, ini sama saja dengan bunuh diri!"


Tubuh Darren mulai melemah, luka bakarnya semakin meluas sementara jarak ke tempat aman masih cukup jauh untuk kondisi Darren sekarang. Ini sangat mengkhawatirkan. Tak ada pilihan lain bagi Nirwana. Ia membuka kemeja atasannya dengan cepat menutupi wajah Darren dari sengatan cahaya dan sedikit bagian tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Darren lemah, ia tak rela tubuh wanitanya itu terekspos jelas dan hanya menyisakan penutup dada saja.


"Diamlah tuan vampir, cepatlah bergerak sebelum kau mati!" Nirwana tak perduli dirinya kini setengah telan-jang baginya keselamatan Darren yang terpenting.


Dengan sedikit menyeret Darren, Nirwana berhasil membawa Darren ke tempat aman. Ia membawa Darren ke ruang perpustakaan. Memilih tempat yang tersembunyi di antara tumpukan buku agar cahaya matahari tidak menembus.


Darren duduk lemas di lantai, luka bakarnya cukup serius. Ditambah lubang di perutnya juga belum tertutup sempurna. Wajah Darren semakin terlihat pucat, bibir nya terkelupas. Nirwana sangat khawatir ia bingung bagaimana caranya menolong seorang vampir.


"Terimakasih Nirwana, kau menyelamatkan ku …,"


"Diamlah dan jangan banyak bicara!"


Nirwana berlari mencari kotak obat, sejujurnya ia bingung harus mengobati luka Darren dengan apa.


"Ah sial, apa yang harus aku lakukan! Apa vampir bisa diobati dengan obat-obatan seperti ini?!" gerutunya frustasi.

__ADS_1


Ia mengacak kotak obat, mengambil sebotol air mineral dingin dalam lemari dan membasahi kerongkongannya. 


"Tunggu, air?" Nirwana menatap botol mineral di tangannya. 


"Manusia delapan puluh persen tubuhnya adalah air, lalu vampir … darah! Dia butuh darah, aku yakin itu!" 


Nirwana berbinar, darah akan menyembuhkan Darren. Sumber kehidupan mereka adalah darah. Tapi masalahnya dimana ia menemukan darah. Tak ada stok darah segar selain … dirinya.


Untuk sesaat ia ragu, haruskah ia rela digigit Darren lagi dan memberikan darahnya untuk membantu Darren hidup. Vampir tampan itu banyak membantu dan juga berkali kali menyelamatkan dirinya. Rasanya tidak adil jika Nirwana tidak berkorban untuknya kali ini.


"Baiklah aku akan melakukannya!"


Nirwana bergegas kembali pada Darren dengan membawa sejumlah obat obatan yang rasanya mustahil juga digunakan untuk seorang vampir. 


"Darren," Nirwana menyentuh tubuh vampir tampan yang kesadarannya nyaris hilang.


"Aku pikir kau pergi Nirwana," sahutnya lemah dan terbata bata.


"Aku mencari obat untukmu tapi sejujurnya … aku juga tak yakin ini akan membantu."


Nirwana menatap Darren yang meneguk liurnya sendiri, ia kehausan. Arkeolog cantik itu iba.


"Aku rasa ini obat terbaikmu," Nirwana meraih belati yang terselip di pinggang.


Darren menatap ke arah Nirwana dan menggelengkan kepala, "Tidak, kau tak perlu melakukannya. Bantu aku berdiri, Abraham akan menjemput ku segera." katanya lirih tak bertenaga.


Gadis itu menggeleng, belati yang terselip di pinggang Nirwana kini siap mengiris lengannya. "Tidak ada waktu lagi Darren, aku rela melakukannya untukmu. Anggap saja ini balas budiku dan permintaan maaf ku karena melukaimu."


Nirwana mengiris pergelangan tangannya cepat. Membuat sayatan lebar dan sedikit miring agar darah semakin keluar banyak. Ia meringis kesakitan dan menjatuhkan belatinya begitu saja. Didekatkannya luka itu tepat pada mulut Darren, vampir tampan yang nyaris kehilangan kesadaran itu mencecap rasa manis yang ia butuhkan dari luka Nirwana.


Darren yang awalnya menolak, kini menangkap tangan Nirwana menyesapnya rakus, mereguk manisnya darah sang arkeolog. Kekuatannya perlahan kembali seiring dengan banyaknya darah Nirwana yang masuk ke dalam tubuhnya.


Tiba-tiba saja energi aneh menyapa Darren, kilatan peristiwa masa lalu dan masa sekarang. Suami istri yang menyambut kehadiran bayi mungil cantik. Wanita bercadar dengan dua benda antik di tangannya, lelaki berpakaian aneh yang juga memegang benda antik. Pertempuran dahsyat, iblis, vampir seperti dirinya, dan ditutup dengan seekor naga terbang yang terbang cepat ke arahnya. 


Darren tersentak kaget, ia menatap Nirwana yang tersenyum. Wajah cantiknya memucat. "Kau …,"


"Syukurlah," Nirwana terkulai lemas, Darren menghisap begitu banyak darah darinya membuat Nirwana lemas. Darren dengan sigap meraih tubuh Nirwana.


"Kini aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Kau memang yang terpilih, lahir dari keturunan setengah immortal. Takdir mempertemukan kita dengan manis." Darren memeluk Nirwana memberinya kecupan lembut sebelum mengangkat tubuh lemah Nirwana dan membawanya pergi.

__ADS_1


Aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku!


__ADS_2