An Ancient Relique

An Ancient Relique
Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Nirwana mencoba menghubungi Gery, ia sedikit cemas karena ponsel Gery tak juga aktif. Nirwana juga mencoba menghubungi Nicole, tapi tidak berhasil.


"Ccck, dimana mereka? Apa mereka baik-baik saja setelah kejadian itu?" gumamnya sendiri sambil menatap jauh ke luar jendela.


Ia mencoba menghubungi Sebastian dan juga Maxim sebagai kepala museum dan penanggung jawab seluruh benda antik yang ditemukan lembaga penelitian tempatnya bernaung. Tapi semua nihil, tak satupun dari keempat orang itu menjawab.


"Apa sesuatu yang buruk terjadi?"


Nirwana menatap tubuh Darren yang setengah telan-jang. Ini masih terlalu pagi untuknya bangun. Vampir tampan itu memasuki fase tidurnya, Nirwana berdecak kesal. Sudah lebih dari seminggu ia menghabiskan waktu bersama Darren dan hampir setiap malam berakhir dengan pergumulan panas di ranjang. 


Arkeolog muda itu memang sudah jatuh hati pada vampir tampan bermata biru laut yang sesekali berubah menjadi semerah darah. Sayangnya ia masih ragu dengan tawaran pernikahan Darren. Apalagi jika bukan faktor restu kedua orang tuanya. Nirwana tak yakin Darren bisa diterima sebagai menantu di keluarga besarnya. 


Hati Nirwana telah tertambat pada vampir tampan bertubuh dingin yang kini tengah mendengkur halus. Situasi yang rumit menautkan hatinya pada Darren begitu juga sebaliknya. Berkali-kali Darren melamarnya berkali-kali juga Nirwana menolaknya secara halus.


Ia masih berharap ada jalan lain selain pernikahan yang bisa melindunginya. Nirwana mengusap wajah tampan Darren dengan lembut. Sisa percintaan semalam meninggalkan gigitan di leher Nirwana, hampir saja Darren menghisap darahnya jika Nirwana tidak mencegah.


Sifat alami Darren tak akan bisa berubah, lalu apakah Nirwana yang harus berubah? Hati dan pikiran Nirwana kacau. Ia mencintai Darren tapi haruskah dirinya juga menjadi vampir karena tidak mungkin jika Darren yang berubah menjadi manusia. Sistem anatomi mereka berbeda, vampir tak mungkin memaksa dirinya menjadi manusia karena kebutuhan hidupnya seratus persen adalah darah.


Meski Darren vampir campuran dan bisa memakan makanan manusia, bagaimana Nirwana akan menjelaskan tidak adanya bayangan Darren dalam cermin pada dunia. Ini tak bisa dijelaskan akal logika. Nirwana menghela nafas berat, membawa Darren ke sebuah pernikahan adalah hal yang tidak mustahil tapi sulit dilakukan.


Ia terjebak dalam situasi rumit antara mencintai atau harus merelakan, menginginkan atau harus membuangnya.


Kau menangis sayang?" Darren terbangun.


"Darren, kau bangun?"


Darren mengubah posisinya, dan menatap Nirwana, memperhatikan mata wanitanya yang basah. 


"Ada apa? Kau mengkhawatirkan sesuatu?" Tangannya terulur dan mengusap pipi Nirwana lembut.


"Tidak, aku hanya … sedikit bosan."


Darren menoleh ke arah jam digital miliknya, ia membuka laci dan menelan satu pil berwarna kebiruan. Nirwana memperhatikannya dengan heran.


"Apa yang kau lakukan Darren?"


Darren tak menjawab, ia turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya. Tangannya terulur pada Nirwana, "Ayo ikut aku!"


Nirwana meraih tangan Darren dan mengikutinya keluar kamar. Matahari masih bersinar terik diluar sana tapi Darren justru terbangun karena Nirwana, ia merasa bersalah untuk itu.

__ADS_1


"Darren, apa kau tidak mengantuk?"


"Kau lihat apa yang aku minum tadi, itu pil khusus yang dibuat tim ku. Anti ultraviolet dengan sedikit ekstra darah kualitas premium," kerlingnya nakal.


Nirwana terkekeh geli, "Kualitas premium? Aku baru tahu tentang hal itu."


"Darah segar para penyihir sayang, termasuk darahmu juga."


Nirwana menghentikan langkahnya, ia menatap tak suka pada Darren. "Apa maksudmu?"


Darren tersenyum dan menarik Nirwana untuk ikut dengannya ke kebun belakang. Kebun dengan taman bunga indah. Para pelayan dan asisten Darren yang lain sibuk menata kebun, meletakkan karangan bunga di satu tempat menatanya rapi membentuk hati. Kursi-kursi juga diatur dan dihiasi rangkaian bunga kecil.


Nirwana bingung, "Apa akan ada pesta digelar malam ini?"


Darren lagi-lagi tersenyum dan tak menjawab. Darren dan Nirwana kini duduk di kursi berhias bunga, vampir tampan itu menghadap ke arah Nirwana dengan wajah serius. 


"Dengar sayang, aku tahu kau bingung dengan perkataan ku tadi. Aku hanya bercanda, aku tidak menggigit dan mengambil darahmu diam-diam."


Darren menatap lekat mata kecoklatan Nirwana, "Aku memiliki darah seorang penyihir begitu juga dengan kau. Aku tahu orang tuamu bukan orang biasa, terutama ibumu."


"Kau …,"


"Lelucon apalagi ini Darren? Immortal? Ibuku manusia biasa dia hanya … sedikit aneh, mungkin." Nirwana tiba-tiba saja menyadari ibunya yang misterius.


"Dia menyembunyikannya dari mu sayang, bukan salah mereka. Itu karena mereka tak ingin kau celaka."


"Benarkah? Kau jangan membual Darren!" Nirwana kesal dan hendak pergi saat Darren menarik tangannya lagi.


"Dengarkan aku sebentar saja!"


Nirwana mengurungkan niatnya dan memberikan Darren kesempatan untuk bicara. "Kau lihat ini semua, sore ini kita akan menikah Nirwana. Aku terpaksa melakukannya, untuk melindungimu."


Nirwana tercengang, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Pernikahan? Darren kau tahu kita …,"


"Aku tak ingin kita berdebat panjang sayang, sudah cukup perdebatan kita masalah pernikahan! Bulan darah akan segera muncul dan itu hanya tiga hari dari sekarang!"


Nirwana diam dan mendengarkan, Darren kembali melanjutkan. "Cezar mengundang kita ke pertemuan umum. Aku harus menikahi mu sekarang agar tak ada yang bisa merebut dari ku dan juga klan kita."


"Tapi Darren kita bahkan belum meminta restu?!" Nirwana kesal karena Darren bertindak sendiri tanpa meminta pertimbangan darinya.

__ADS_1


"Aku sedang mengurusnya. Abraham mengirimkan utusan terbaiknya untuk memberi kabar pada orang tuamu. Kita akan pulang saat semua masalah yang ada disini selesai." 


Darren kembali meyakinkan Nirwana agar mau menjalani pernikahan dadakan sore ini. Sedikit bernegosiasi tentu saja, Nirwana tak ingin dirinya dijadikan vampir seperti Darren. Nirwana bukan tidak mencintai Darren tapi ia hanya ingin menjaga kewarasannya saat meminta restu pada ayah dan ibunya nanti. Darren pun setuju, pernikahan sakral ala bangsa Vampire akan digelar.


Nirwana kembali ke kamarnya semangat Darren memilih pergi ke ruang kerjanya. Ada yang harus diurus Darren sebelum pelaksanaan pernikahan mereka. 


"Nona, kami membawakan gaunnya untukmu." 


Nirwana tertegun, lima orang pelayan wanita membawa dua baju indah berwarna kehijauan bukan putih seperti pengantin pada umumnya. Tentu saja Nirwana sedikit heran hingga ia pun bertanya,


"Gaun pengantin ini … hijau?"


Salah satu pelayan wanita menjawab, "Iya nona seperti liontin yang nona kenakan, tuan Darren memesannya khusus dari perancang kenalannya begitu juga dengan perhiasan yang lain."


Nirwana menyentuh liontin pemberian ibunya, warnanya memang hijau kekuningan senada dengan dua gaun simpel tapi mewah di depannya. Bertabur kristal Swarovski cantik, potongan dada rendah dan hal penting yang paling disukai Nirwana, tidak berekor. Entah darimana Darren tahu semua kesukaannya, Nirwana menyukainya.


Waktu terus berjalan, Nirwana menjalani perawatan layaknya seorang putri. Kelima pelayan Darren membuat tubuh Nirwana tampak bersih dan semakin halus dengan treatment yang diberikan. Hairstylist datang, Nirwana disulap menjadi wanita tercantik di dunia.


Rambut bergelung disemat bunga mawar putih, mahkota dari jalinan bunga tampak indah berada di rambut kecoklatan miliknya. Nirwana takjub memandang dirinya sendiri dalam cermin.


"Sempurna, kau cantik sekali nona!" Abraham datang menghampiri, "Apa semua sudah siap?" tanyanya pada pelayan dan mereka pun mengangguk.


"Hhm, baiklah! Tinggalkan kami berdua!" titah Abraham dituruti kelima pelayan.


Hati Nirwana berdebar tak karuan, ia akan menikah dan itu tidak ada dalam rencana lima tahunannya. Abraham mendekatinya dengan senyuman, ia menatap Nirwana, menangkup wajah Nirwana dengan tangannya yang dingin.


Matanya menatap sendu Nirwana, "Nona, aku sangat bahagia hari ini. Akhirnya tuan Darren menemukan cintanya. Aku sangat berharap kau dan tuan Darren akan berbahagia selamanya." mata Abraham terlihat basah, suaranya tersendat.


"Abraham, terimakasih. Tapi kau tahu bukan pernikahan ini …,"


"Aku tahu nona, tapi tetap saja aku bersyukur untuk ini. Selama ratusan tahun aku mendampingi tuan Darren, baru kali ini aku melihat binar kehidupan di matanya. Kau adalah cahaya baginya."


Abraham memeluk Nirwana erat layaknya seorang ayah yang hendak melepas anak perempuannya menikah. Nirwana pun terharu. "Berbahagialah selamanya bersama tuan Darren."


"Terimakasih Abraham." 


Mereka mengurai pelukan, Abraham melepas kacamatanya dan menyeka airmata kebahagiaan yang menggantung di sudut matanya. "Aku memiliki kejutan untukmu nona."


"Kejutan? Apa itu?"

__ADS_1


Abraham tersenyum dan berseru, "Bawa masuk mereka ke dalam!"


__ADS_2