
Bi Asri dengan cekatan menata bunga di meja makan, sementara mbak Dini dan Tono sibuk mengatur dan membersihkan setiap ruangan. Sesekali mbak Asri mengatur letak perabot dan memberi perintah pada kedua asisten yang tak lain adalah anak dan menantunya.
Sepeninggal mbak Pur, Bi Asri menjadi asisten utama menggantikan posisinya. Wanita yang kini berusia lima puluh tahunan itu terlihat antusias dengan berita kepulangan Nirwana Zehra.
"Nduk, semuanya udah diberesin? Kamar mbak Wana sama suaminya juga?" Bi Asri memastikan.
"Sampun Bu, semua sudah bersih. Sprei, selimut sama tirainya sudah diganti baru." jawab mbak Dini.
"Itu tirainya sudah mbok lapisi kan Ton? Jangan sampai kalo siang sinar matahari nembus kamar!"
"Nggih, sampun Bu." jawab Tono sambil menyapu lantai, Bi Asri pun pergi meninggalkan keduanya untuk menyiapkan makan siang.
Mbak Dini dan Tono segera mendekat, "Eh mas, ini beneran mbak Wana pulang sama suaminya?"
"Lha iya no, masa bohongan to Din?! Kalo nggak jadi masa iya kita suruh beberes!"
"Suami mbak wana kok aneh ya katanya punya alergi sinar matahari. Lha berarti dirumah terus kalo siang?"
"Lha mbuh! Wes nggak usah ngurusin mas Darren, urus aja suamimu ini! Udah sebulan kok nggak mbok jatah ki pie?!" gerutu Tono kesal.
Mbak Dini memukul tangan suaminya dengan kain lap, "Iish, ditanya malah ngeles yang lain! Wes lah tak bantuin ibu di dapur!" Ia berlalu pergi tak peduli Tono yang terus menggerutu tak karuan.
Di ruang kerjanya, Sari duduk terdiam menatap album foto didepannya. Ia mengusap foto Nirwana saat kelahirannya dulu. Memiliki Nirwana adalah anugerah terindah setelah perjalanan panjang hidupnya.
"Apa ini keputusan salah?" gumamnya lirih, ia memejamkan mata, menenangkan pikirannya.
Kedatangan Nirwana menyisakan rasa khawatir, apakah putrinya bisa bahagia bersama seorang vampir, tepatnya Raja vampir. Sungguh dirinya tak habis pikir bagaimana putrinya bisa terlibat dan menikah dengan vampir tampan bernama Darren.
__ADS_1
"Mau aku pijat?" suara Doni menyapanya lembut, berbisik mesra ditelinga Sari.
Sari terdiam merasakan tangan Doni yang perlahan memijat lembut bahu nya. "Takdir mempermainkan kita lagi, Don?!"
"Aku kira semuanya sudah berakhir saat aku membunuhnya."
"Kamu ingat perkataan Pandji? Mustika penyihir hanya mengubah satu takdir untuk berlari ke takdir yang lain." sahut Doni dengan sabar.
"Kamu benar, dan sekarang takdir lain itu menghampiri putri kita." Sari membuka mata dan menatap suaminya. "Bagaimana rupa Darren, apa dia tampan, pucat dan bertaring?"
Doni terkekeh, istrinya selalu bersikap dingin pada utusan Darren yang datang menemui mereka tiga bulan lalu. Bahkan saat sang menantu datang bertamu memohon restu Sari tetap tak bergeming untuk menemuinya. Selalu saja Doni yang menghadapi menantu vampir nya sendiri.
"Penasaran kan? Makanya temuin dia kemarin." Doni mencubit pipi Sari gemas.
"Aku belum siap ketemu sama vampir itu. Aku masih kesel sama Wana!"
Sari menatap wajah suaminya, Doni selalu bisa menenangkan hatinya. "Apa dia memang layak?"
"Well, setelah serangkaian tes yang kita berikan, aku pikir dia layak diberi kesempatan sayang. Darren sangat mencintai Wana begitu juga sebaliknya."
"Bagaimana jika aku panggil Bimasena atau Bayu untuk melakukan tes lain!"
"Sar! Udah cukup, Wana bakal sangat menderita kalo itu kamu lakuin? Mau sampai kapan? Sampai Darren menang atau Wana menua dan menyia nyiakan golden time bersama Darren? Itu nggak fair, Sari!"
Sari menarik nafas dalam, "Baiklah, kalo itu terbaik menurutmu aku ikut aja deh."
Doni memeluk Nirwana erat. "Apa pun keputusan Nirwana pasti yang terbaik untuk dia, yakinlah."
__ADS_1
*
*
Tiga mobil mewah memasuki pelataran rumah. Nirwana gelisah sedari turun dari bandara, ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya setelah pernikahan mendadaknya dengan Darren. Tangan Darren menggenggam erat Nirwana menenangkan istrinya.
"Gugup?"
"Tentu saja aku gugup Darren! Kau membuat kejutan yang sangat tidak lucu bagiku!"
Darren terkekeh, ia memang sengaja merahasiakan semua dari Nirwana. Tak lama setelah kemenangannya melawan keluarga Vasile, Darren diam-diam pergi menemui orang tua Nirwana. Tidak mudah memang, mengingat utusan pertama Abraham ditolak mentah-mentah oleh orang tua Nirwana. Bahkan mereka hampir kehilangan nyawa saat Sari geram dan mengancam para utusan dengan pusaka keluarga miliknya.
Saat Darren bertemu dengan ayah Nirwana untuk kali pertama, Doni bahkan menghunuskan pusaka tepat ke jantung Darren. Andai Darren mengikuti emosi sudah pasti Doni akan dikalahkan dengan dengan mudah, tapi ia menghormati mertuanya. Darren sangat mencintai Nirwana dan ia tak ingin melukai perasaan Nirwana dengan menyakiti atau membunuh kedua orang tuanya.
Darren pantang menyerah, Minggu berikutnya ia kembali datang dengan sejumlah mahar yang diajukan. Mahar pernikahan yang jumlahnya di luar perkiraan manusia biasa, dan lagi-lagi Darren bisa melakukannya. Vampir tampan bermata asli biru laut itu tak kenal lelah untuk mendekati mertuanya.
Berapa pun sanggup Darren berikan untuk kebahagiaan Nirwana. Akhirnya ayah Nirwana luluh dan bersedia menerima Darren dengan syarat Nirwana harus datang sendiri mengunjungi kedua orang tuanya. Permintaan itu disanggupi Darren.
Pertemuan empat keluarga vampir digelar untuk memberitahukan kepergian Darren, ia meminta bantuan keluarga Balan untuk memimpin klan sementara. Abraham juga disibukkan dengan mempersiapkan matang setiap detail yang disyaratkan pihak keluarga Nirwana termasuk mengulang lagi pernikahan sesuai adat istiadat keluarga Nirwana.
Darren menyembunyikan semua hal itu dan berniat memberi kejutan pada Nirwana. Kemarin usai permainan bercinta mereka yang cukup liar, Darren akhirnya memberitahu Nirwana. Hatinya senang sekaligus sedih, tapi Nirwana harus menerima dan bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.
Maka disinilah Nirwana, kembali ke rumahnya yang cukup luas. Hari hampir gelap saat rombongan Darren tiba. Darren membukakan pintu untuk Nirwana dan mengulurkan tangan layaknya seorang putri yang turun dari kuda besi.
"Kau siap?" Darren bertanya sambil menggenggam tangan Nirwana erat.
"Hmm, entahlah. Aku gugup, Darren. Bagaimana jika ayah mengusirku?"
__ADS_1
"Tidak, aku jamin itu tidak akan terjadi." senyum Darren mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa diterjemahkan Nirwana