An Ancient Relique

An Ancient Relique
Kegelisahan Nirwana


__ADS_3

Klan vampir menyongsong era baru setelah keluarga Vasile berhasil disingkirkan. Waktu seolah berputar balik ke masa dimana Edward Constantin memimpin. Klan vampir mengalami masa keemasan, kesepakatan pun terjalin apik antara kaum vampir dan manusia. 


Meski tak tertulis dalam sejarah masa damai antara dua ras itu memang terjadi dan terjaga selama hampir seratus dua puluh lima tahun lamanya. Keserakahan Cezar membuat kesepakatan terkoyak dan kembali memantik perseteruan hingga berabad-abad setelahnya.


Kini putra satu satunya Edward Constantin, Darren Constantin berhasil menduduki jabatan sebagai pemimpin vampir. Tak ada lagi yang menganggapnya sebagai makhluk menjijikkan, aib kaum vampir. Darren membuat beberapa aturan baru yang berkaitan dengan kaum minoritas seperti dirinya.


Pengangkatan Darren sebagai pemimpin kaum vampir dilakukan satu bulan setelah geger besar super blood moon. Nirwana yang seharusnya mengambil peran sebagai tetua, menyerahkan sepenuhnya pada para tetua lama yang masih hidup. Ia juga mengangkat empat tetua baru untuk melengkapi posisi yang ada. 


Nirwana sendiri memilih menjadi penjaga relik daripada harus menjadi salah satu dari dewan tetua. Ia ingin bersama Darren dan tidak ingin kehidupan rumah tangga mereka terganggu. Darren juga menghormati keputusan Nirwana untuk tetap menjadi manusia. Ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. 


Tapi ada satu hal mengganjal hati Nirwana yang hingga kini belum terselesaikan dengan baik. Restu dari ayah dan ibunya. Ia dan Darren telah menjalani pernikahan selama tiga bulan tapi tanda-tanda kedua orang tua Nirwana memberikan restu.


Abraham memang telah mengirimkan utusan ke Indonesia untuk memberitahukan pernikahan Nirwana, tapi itu bukan perkara mudah. Sebagai orang tua, Sari dan Doni dibuat cukup terkejut dengan keputusan putrinya. Apalagi ketika mereka mengetahui siapa Darren sesungguhnya. 


Nirwana menatap jauh ke batas horison, ia merindukan tanah airnya, ia juga merindukan kedua orang tuanya. Darren tak ada disampingnya malam ini, pertemuan antar keluarga vampir mengharuskan Darren hadir. 


"Nyonya, apa makan malam harus saya antar ke kamar?" suara Abraham mengagetkannya.


"Oh, ya makan malam, aku hampir melewatkannya." Nirwana membalikkan tubuhnya lalu, "Abraham, bagaimana kabar ibuku? Apa masih belum ada informasi kapan mereka datang ke sini?"


Abraham tersenyum, ia memahami kegundahan Nirwana. "Nyonya jangan khawatir, semuanya sudah terkendali."


"Maksudmu? Apa ibu menerima Darren sebagai menantunya?"


"Hhm, bisa dikatakan begitu. Tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya bersedih bukan? Begitu juga dengan ibunda nyonya." Abraham terlihat sedikit menarik nafas dan menurunkan garis bibirnya, sebelum melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Meski harus saya akui tidak mudah untuk menaklukan tuan besar."


Nirwana sedikit terkejut, "Maksudmu ayah?"


"Ya, begitulah. Tuan besar bersikeras untuk membatalkan pernikahan, dan dengan sangat menyesal Nyonya … aku rasa nyonya harus kembali ke Indonesia untuk menjelaskan semuanya secara langsung."


Nirwana menghela nafas berat, ia sadar tak semudah itu orang tuanya bisa menerima keputusan Nirwana. Apalagi Darren berasal dari ras berbeda. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat putrinya bersanding dengan makhluk penghisap darah.


"Bagaimana dengan Darren, Abraham? Apa dia sudah mengetahui semuanya?"


Abraham tersenyum, "Ya nyonya, tuan Darren sudah mengetahuinya dan tuan memiliki rencana."


Nirwana mengernyit, tapi belum sempat ia bertanya Darren datang.


"Bagaimana dengan pertemuan tadi?"


"Hhm, seperti biasa." Darren menoleh pada Abraham lalu bertanya, "Apa semua siap untuk besok?"


"Tentu tuan, semua sudah dipersiapkan dengan baik." Abraham pun undur diri, "Makan malam segera datang nyonya, dan sebaiknya anda tidur cepat malam ini."


"Kenapa harus tidur cepat, aku bosan dan ingin menghabiskan malam sampai pagi." Nirwana berkata lirih dan malas.


Darren dan Abraham saling memandang dengan senyuman tanpa diketahui Nirwana yang kembali menatap ke arah lautan.


"Sepertinya anda harus sedikit merayunya tuan. Hati nyonya sedikit gelisah." pesan Abraham sebelum pergi.

__ADS_1


Darren menatap istrinya, Abraham benar Nirwana memang sedang gelisah. Sangat gelisah, pikirannya jauh melayang pada kedua orang tuanya.


"Memikirkan sesuatu?" 


Darren memeluk Nirwana dari belakang dan menyandarkan kepala di bahu Nirwana.


"Entahlah, Darren. Aku merindukan rumah, aku merindukan pekerjaan ku, dan aku merindukan Nicole dan juga Gery." 


"Kau bisa menemui Gery dan Nicole kapanpun, kau juga masih berstatus sebagai peneliti di museum, lalu apalagi?"


Darren membalik tubuh Nirwana agar menghadapnya. Wajah cantik Nirwana terlihat begitu sedih.


"Kau ingin pulang? Bertemu dengan ayah ibu?"


"Aku merindukan ibuku, bisakah kita pulang Darren?"


Darren tak bergeming, ia merapikan rambut Nirwana yang tertiup angin. Darren merapatkan tubuhnya pada wanita yang sangat ia cintai. 


"Ayo tidur, kau dengar Abraham berkata apa? Kita tidak boleh terlambat besok."


"Tapi, aku lapar Darren!" protes Nirwana 


"Baiklah Nyonya Darren, aku akan menemanimu makan malam dan setelah itu kita tidur."


Nirwana bingung dengan sikap aneh Darren tapi ia mengabaikannya. Makan malam yang tersaji tak terlalu menarik selera Nirwana. Ia merindukan selat solo buatan ibundanya, ia rindu rasa masakan Indonesia yang sudah tiga tahun tak dirasakan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2