
"Aku memiliki kejutan untukmu nona."
"Kejutan? Apa itu?"
Abraham tersenyum dan berseru, "Bawa masuk mereka ke dalam!"
Pintu terbuka dan, "Profesor!" teriakan suara itu mengagetkan Nirwana.
Dua wajah yang ditunggu kabarnya oleh Nirwana masuk dengan wajah bahagia. Nirwana cukup terkejut, ia menatap Abraham tak percaya. "Mereka, disini?"
"Hmm, sebenarnya saya juga mengundang kedua orang tua nona tapi … ada sedikit masalah, jadi mungkin penerbangan mereka akan tertunda sedikit lebih lama."
Mata Nirwana membulat seketika, wajahnya memucat. "Oh tidak, ayah dan ibu? Kesini?"
Jantungnya berdebar tak karuan, membayangkan reaksi sang ibu saat bertemu dengan Darren nanti.
"Ehm, maaf nona tidak sekarang tepatnya. Ada … beberapa hal yang harus kami selesaikan terlebih dahulu."
Nirwana menatap Abraham yang sedikit salah tingkah dibuatnya, "Beberapa hal? Berkaitan dengan pernikahan ini?"
"Hhhm begitulah kira-kira." Abraham beralih menatap Gery dan Nicole yang sudah berdiri di sebelah Nirwana. "Aku harap kalian bisa menemaninya sebagai pendamping pengantin."
"Saya permisi dulu nona," Abraham pun berlalu pergi dan menutup pintu.
Nicole menatap Nirwana dari ujung rambut hingga kaki. "Kau, cantik sekali profesor!"
Sementara Gery sibuk mengabadikan Nirwana dengan kameranya. "Yup, tak diragukan lagi kaulah ratunya profesor Nirwana!"
Nirwana tersipu lalu bertanya pada keduanya, "Darimana saja kalian, pagi tadi aku menghubungi ponsel kalian!"
__ADS_1
Nicole dan Gery saling menatap. "Kami sudah tiba disini seminggu lalu. Abraham meminta kami untuk bersembunyi dan tidak keluar dari rumah kecil disana."
"Apa, tidak mungkin!"
"Itu benar, Abraham mencurigai ada mata-mata yang menyusup disini dan sedang mengawasi kau profesor. Itu sebabnya kami bersembunyi dan baru hari ini kami bisa keluar." Gery menambahkan.
"Lalu bagaimana kalian bisa kesini?" tanya Nirwana penasaran.
Nicole menghela nafas, "Kami hampir tidak bisa lolos saat pergi meninggalkanmu Professor. Kawanan vampir itu tahu kami melarikan diri dan mereka mencegat kami dijalan."
"Kamu hampir dijadikan vampir saat Abraham datang bersama yang lain." sambung Gery.
"Dan saat Darren keluar gedung dengan membawamu yang pingsan, ia langsung meminta kami ikut. Untuk keselamatan kami dan juga dirimu."
Keduanya menceritakan kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka secara bergantian. Nirwana tak menduga jika Darren juga melindungi dua asistennya. Darren bahkan merencanakan pernikahan dadakan mereka dengan bantuan kedua asistennya. Ini menjawab rasa penasaran Nirwana, tak ada yang tahu warna kesukaan Nirwana dan bagaimana ia menginginkan sebuah pernikahan selain Nicole.
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu kembali terbuka dan Abraham berkata, "Nona, waktunya telah tiba."
"Hhm, begitu juga aku Nicole. Setidaknya aku menikah dikelilingi orang-orang terdekat selain kedua orang tuaku."
"Apa kau gugup profesor?" tanya Gery dengan senyuman meledek.
"Well, Gery siapa yang tidak gugup jika kau akan menikah? Terutama jika pengantin lelakimu adalah seorang vampir dan keturunan Count Dracula!" jawab Nirwana setengah berbisik karena tak ingin Abraham mendengarnya.
"Hhm, aku memahami perasaanmu prof tapi aku rasa Darren sangat mencintaimu. Aku yakin kalian akan hidup bahagia." Gery menenangkan.
"Ya, aku harap begitu. Happily ever after seperti dalam sebuah dongeng." gumam Nirwana dengan senyuman tipis.
Langit orange menghiasi senja yang indah sore itu. Nirwana dan Darren mengikat janji suci di depan teman, dan kerabat dekat Darren. Tak banyak undangan yang hadir karena Darren sengaja merahasiakan pernikahan dadakan ini. Tapi kesakralannya tetap terjaga. Nirwana terharu, saat lelaki yang berdiri di hadapannya menyatakan Nirwana sebagai istri sah Darren.
__ADS_1
Meski dilakukan sederhana dan tanpa persiapan tapi menurut aturan bangsa vampir pernikahan mereka sah.
"Saatnya bertukar darah,"
Abraham mengulurkan nampan berisi dua gelas berisi cairan merah kental. Nirwana hendak melayangkan protes saat Abraham berbisik kepadanya.
"Ritual ini sangat penting nona, tapi tenang saja gelas untukmu hanya berisi anggur merah berbeda dengan gelas milik tuan Darren."
Nirwana menatap Abraham tanpa bicara, ia masih ragu tapi Abraham mengangguk dan mengerling sebelah mata. "Minumlah,"
"Tenanglah sayang, Abraham tidak akan menipumu." bisik Darren.
Dengan ragu Nirwana meminum cairan dalam gelas hingga habis seperti yang dilakukan Darren dan Abraham benar itu hanya anggur merah. Semua yang hadir bertepuk tangan riuh.
"Kini kalian resmi sebagai pasangan baru dari keluarga Constantin." seru Abraham dengan bahagia.
Darren meraih tangan Nirwana dan mengecup lembut, "Aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku, Nirwana Zehra."
Nirwana kehilangan kata-kata, bulir bening menetes di sudut matanya. Sedikit pun ia tak menyangka akan secepat ini melepas masa lajangnya dengan seorang vampir dan tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
"Waktunya berdansa sayang,"
Darren membawa Nirwana ke tempat yang lebih lapang. Alunan musik merdu terdengar dari pianis yang sengaja Darren datangkan khusus dari Bukares. Darren melingkarkan tangan ke pinggang ramping Nirwana yang baru beberapa menit menjadi Nyonya Darren.
Keduanya berdansa di bawah langit senja yang indah, penuh cinta.
"Gery lihat keduanya, mereka begitu serasi. Aku sungguh iri pada profesor!" Nicole mengusap matanya yang basah.
"Kau benar, profesor kita bisa ditaklukkan seorang vampir tampan seperti Darren. Aku sama sekali tak menyangka."
__ADS_1
Gery memeluk pinggang Nicole dan membiarkan gadis itu menangis di bahunya. "Ini romantis sekali Gery, aku tak tahan!" ujar Nicole penuh haru.