
Nirwana kembali ke ruang kerjanya, tapi tak menemukan Gery dan Nicole disana. Ia berpikir mungkin mereka sedang turun ke kafetaria di lantai bawah, membeli kopi atau makanan untuknya.
Nirwana kembali mencari informasi lain tentang vampir melalui media online. Tapi ada yang aneh jaringan miliknya blackout. Sesuatu yang jarang terjadi di gedung tempatnya bekerja.
"Hhm, ada gangguan? Tidak ada peringatan sebelumnya,"
Nirwana menekan angka operator, tapi tak ada yg menjawab. Ia menghubungi bagian informasi tapi lagi-lagi tak ada yang menjawab. Nirwana pun mencoba menghubungi bagian informasi untuk kedua kalinya di lantai dasar. Dering sambungan telepon berbunyi sekali lalu terangkat.
"Hai, Miranda bisa kau sambungkan jaringan di ruangan ku? Aku butuh internet untuk akses informasi ke database sejarah."
"Tentu, tapi maaf aku lupa ruangan mu. Bisa kau sebutkan lantai dan kamar kerjamu?" jawab seorang wanita di seberang sana.
"Kau lupa?" Nirwana mendengus kesal lalu menjawab, "Nirwana Zehra, lantai empat E1409. Kau membuatku kesal Miranda, aku pastikan tidak mentraktir mu siang ini!"
"Tentu, semoga harimu menyenangkan." suara diseberang menutup sambungan line Nirwana.
Nirwana menatap gagang teleponnya sejenak, dahinya berkerut. "Ada apa dengan Miranda? Aneh sekali!"
Di lantai bawah, wanita yang menerima panggilan telepon Nirwana menyeringai bak iblis, "Je vous ai trouvé!" (Aku menemukanmu!)
Wanita dengan seringai kejam itu berlalu dengan cepat meninggalkan meja informasi dengan mayat yang tergeletak disana. Ia Melesat cepat ke ruangan Nirwana. Kekacauan yang terjadi di lantai dasar tidak diketahui Nirwana, hingga akhirnya Nicole dan Gery tiba-tiba saja masuk dengan tubuh terluka dan langsung mengunci pintu.
"Gery, Nicole? Apa yang terjadi?" Nirwana memekik keheranan.
Ia segera menghampiri kedua asistennya yang gemetar ketakutan. "Ada apa dengan wajah dan tubuh kalian? kenapa berdarah darah begini?!"
Kedua asistennya langsung menutup mulut Nirwana, "Ssst, profesor jangan keras-keras! Situasi saat ini kacau! Sekelompok orang datang dan membunuh semua yang mereka temui!" Gery menjelaskan situasi yang terjadi.
"Apa maksudmu Gery?" Nirwana ikut terserang panik.
Nicole dan Gery menarik tangan Nirwana bersembunyi diantara tumpukan buku yang menjulang disalah satu sudut ruangan.
"Aku dan Nicole tadi ke lantai dasar, kami ingin sarapan tapi tiba-tiba saja sekelompok orang berbaju hitam dan berkacamata datang!" Gery menjeda kalimatnya, melihat ke arah pintu yang terkunci dan dihalangi meja serta kursi.
"Mereka menyerang siapa pun prof dan mereka … kaum Vampire!" Nicole panik dan menangis, ia menceritakan kebrutalan sekelompok orang yang disinyalir adalah kaum vampir.
Gery dan Nicole bersembunyi saat mereka menyerang dan menghabisi siapapun yang ditemui. Beruntung letak kafetaria sedikit menjorok ke dalam, tidak langsung terlihat dari arah depan. Luka dan darah yang menempel di tubuh mereka didapat karena sempat melawan satu vampir yang memergoki keduanya bersembunyi.
"Ya Tuhan, tapi kalian bisa lolos? Bagaimana caranya?" Nirwana menjerit tertahan.
Keduanya saling memandang, lalu salah satu dari mereka menjawab. "Kami menusuk jantungnya, sedikit meleset memang itu sebabnya kami juga terluka. Tapi Gery bertindak cepat saat pintu lift hampir menutup, ia melemparkan kapak dari emergency tools dan tepat mengenai lehernya."
Mata Nirwana terbelalak, ia nyaris tak percaya dengan apa yang diceritakan kedua asistennya. "Tidak, jangan katakan jika itu memenggal lehernya?"
__ADS_1
"Yah, kami beruntung! Kau tahu prof, tubuhnya terbakar dan hancur jadi debu seketika saat kepalanya terlepas dari badan." Nicole bergidik ngeri membayangkan yang terjadi.
"Kami berhasil melarikan diri tapi aku tak yakin kita akan selamat disini! Apa yang harus kita lakukan profesor?!" Nicole histeris, suaranya tertahan saat mendengar derap langkah dan jeritan pilu di selasar ruangan.
"Ooh tidak, mereka datang!" tangis Nicole terhenti dan berganti isakan.
Nirwana menatap kedua asistennya yang pucat pasi. Ia menghela nafas panjang.
"Jika benar mereka kaum vampir, aku rasa mereka datang untukku. Relik kuno itu telah berpindah tangan, mereka pasti datang kepadaku sebagai penemu benda itu. Ada misteri yang menyelimuti benda aneh itu."
"Apa kau yakin jika mereka kaum vampir?" Nirwana bertanya sekali lagi pada keduanya.
Mereka mengangguk, "Aku tak bisa melupakan gigi tajam itu menembus kulit Julian –pemilik kafetaria– dan menghisap darahnya habis. Julian … mati didepan kami profesor!" Nicole kembali menangis.
"Hhm, baiklah aku akan menghadapinya! Kalian berdua bersembunyi disini dan jangan mengeluarkan suara!"
"Tapi profesor …,"
"Sssst, mereka datang!" Nirwana.memberi kode diam pada kedua asistennya.
Nirwana segera menumpuk buku hingga menutupi tubuh kedua asistennya. "Ingat jangan bersuara atau bernafas jika perlu! Aku akan mengatasinya sendiri!" pesannya sebelum pergi.
Dengan tenang, Nirwana menggeser meja dan kursi yang menghalangi pintu lalu duduk manis di meja kerjanya, membuka buku dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Selang lima belas menit kemudian, pintu terbuka dengan kasar dan seorang wanita berpakaian serba hitam nan ketat muncul.
Wajah pucat dan percikan darah dileher nya cukup meyakinkan Nirwana jika wanita yang ada dihadapannya benar kaum vampir. Nirwana menutup bukunya lalu berdiri, menyandarkan dirinya di meja.
"Ada yang bisa aku bantu nona?"
Si wanita berdecak kesal, ia tersenyum sinis lalu duduk di salah satu kursi dengan angkuhnya. Ia mendengar detak jantung tak beraturan disekitar ruangan tapi ia tak menemukan siapa pun selain Nirwana.
Nirwana gugup, ia takut wanita dengan taring tajam itu menemukan kedua asistennya. Ia yang mengeluarkan relik, jadi dia juga yang harus bertanggung jawab.
"Katakan apa maumu nona dan kau bisa pergi dari sini segera." ujar Nirwana lantang setengah menantang tentu saja.
"Wah, wah … ternyata kau berani juga, atau memang kau yang bodoh!"
"Ohya? Aku bodoh? Terimakasih pujiannya?!" sarkas Nirwana, tangannya diam-diam meraih tongkat baseball yang sering ia gunakan bermain bersama Nicole dan Gery kala bosan meneliti.
"Andai tetua mengijinkan ku, dengan senang hati aku menghabisi mu saat ini. Tapi sayangnya, aku tak boleh menyentuhmu."
Wanita itu berdiri, dan berjalan mendekati Nirwana. "Ikut kami, profesor Nirwana!"
"Tidak! Sebelum aku tahu apa keperluanmu hingga kau harus menyerang dan menghabisi seluruh rekanku? Kenapa kau tidak memintaku baik-baik untuk ikut bersamamu? Tidak perlu ada kehebohan massal yang terjadi bukan?"
__ADS_1
Wanita itu tertawa kemudian kembali berdecak kesal. "Kau sungguh merepotkan! Hhm, sejujurnya kami perlu perhatian dunia saat ini. Kami juga lapar dan butuh banyak sekali makanan!"
Ia kembali mendekat dan pada jarak yang aman Nirwana melayangkan pukulannya dengan keras pada kepala wanita bertaring itu. Vampir itu jatuh tersungkur dengan keras.
"Aku benci benci vampire! Kau membunuh rekanku nona vampir!"
Tindakan Nirwana tidak membuat surut vampir yang terluka di pelipisnya. Ia menggeram penuh amarah dan menyentuh darah yang mengucur dari lukanya.
"Wah, rupanya kau dan Darren bisa juga berdarah aku pikir vampir …,"
Belum sempat Nirwana menyelesaikan kalimatnya, ia terhempas keras menabrak jajaran lemari berisikan literatur kuno. Kepala Nirwana terasa pusing dan berputar, butuh sepersekian detik untuk menyadari apa yang terjadi padanya, bokongnya terasa sakit ditambah punggungnya terluka akibat terbentur lemari.
"Kau membuat kesabaranku habis!" teriak wanita vampir itu.
Nirwana terkekeh, "Kau tahu, hari ini ada dua orang yang habis kesabaran karena ku. Dan apa kau tahu juga, dia juga vampir sama seperti dirimu!"
Vampir wanita itu kembali menyerang dalam kecepatan luar biasa, ia kembali melempar tubuh Nirwana ke arah lemari kaca yang berisi beberapa koleksi kuno. Kaca yang berserak, melukai tubuh Nirwana.
"Apa kau masih bisa berkata lagi profesor? Darahmu begitu manis, aku yakin mereka tak keberatan berbagi denganku."
Wanita vampir itu menoleh ke arah pintu dan disana berdiri beberapa vampir pria dan juga wanita yang menyeringai memperlihatkan sepasang taring tajam pada Nirwana.
"Ah, sial! Aku kalah jumlah. Tapi, harus aku akui kalian hebat bisa menahan sinar matahari siang ini. Apa kalian mutan?" ejek Nirwana sambil perlahan berdiri, sedikit kepayahan karena lututnya bergetar.
Ia merutuki kelalaiannya meninggalkan pedang Hades di ruangan lain. Setidaknya pedang itu bisa membantunya memeng-gal kepala para vampir gila yang berkerumun. Kini Nirwana hanya bisa pasrah, melawan pun tak mungkin. Ia juga harus melindungi dua asistennya disana.
Wanita itu menghempaskan tubuh Nirwana ke dinding, menguncinya dengan himpitan tubuh dinginnya. Dari dekat mata semerah darah itu nampak berkilat penuh amarah.
"Dengarkan aku profesor! Ikut atau dua anak disana akan mati sia-sia!"
Sial, dia tahu tentang Gery dan Nicole!
"Baiklah, aku ikut. Bisa kau lepaskan tanganmu? Ini sakit sekali!" tanya Nirwana tanpa mengalihkan tatapan dari si mata merah.
Bau karat darah tercium dari mulut wanita itu, membuat Nirwana bergidik ngeri. Si wanita vampir dengan mudahnya melemparkan Nirwana pada kelompoknya. "Bawa dia pergi! Ada yang harus aku urus disini!" seringainya licik.
"Hei kau sudah berjanji padaku akan melepaskan mereka!" protes Nirwana sambil meronta mencoba melepaskan diri.
"Berjanji? Aku tidak berjanji pada siapapun, dasar wanita bodoh!"
Vampir wanita itu menoleh kearah tumpukan buku yang menyembunyikan Nicole dan Gery. "Aku masih lapar, dan bau mereka enak sekali!"
Oh tidak!
__ADS_1