
"Sama seperti bangsa kami tentu saja, kelemahannya ada pada jantung. Masalahnya jantung Strigoi ada dua jika kau hanya mengambilnya satu dia tetap akan hidup."
Nirwana mengernyit, "Dua? Apa mereka juga menghisap darah seperti kalian? Atau memakan daging segar?"
Darren melirik istrinya dengan kesal. Disaat genting seperti ini Nirwana terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang membuat kepalanya pusing karena harus berbagi fokus dengan vampir lawan.
Salah satu Strigoi menyerang ksatria keluarga Constantin, giginya yang berderet runcing dan tajam bak silet serta dua taring mencuat terlihat mengerikan. Vampir malang itu tak berdaya, ia pasrah dengan kematian mengenaskan dirinya ditangan Strigoi.
Kedua tangan Strigoi yang dulunya bagian tim Nirwana mematahkan tubuh vampir malang itu menjadi dua bagian, dan mengoyak salah satu bagian tubuh dengan deretan gigi tajam.
"Wow, itu sangat menjijikkan!" Nirwana menggerutu, perutnya terasa diaduk aduk saat melihat Strigoi mengunyah daging mangsanya tanpa ragu.
Strigoi itu kini menatapnya, mengendus aroma manis darah Nirwana yang masih merembes keluar dari luka. Arkeolog cantik itu menyadari ia menjadi sasaran selanjutnya.
"Oh tidak, schlechte situation," (situasi yang buruk)
Strigoi itu melompat dengan satu pijakan bersiap menerkam Nirwana dan menghisap habis darahnya. Tapi belum juga makhluk itu mencapai Nirwana, ia menggelepar. Nirwana membelalakkan mata saat Darren dengan sukses melesakkan jemari tangannya di dada Strigoi. Darren mencabut dua jantung Strigoi yang masih berdetak dan membuangnya jauh.
Makhluk serupa zombie itu melengking, menatap Darren untuk yang terakhir sebelum akhirnya mati. Tubuhnya menyusut dan hanya menyisakan tulang berbalut kulit.
"Danke Schatz!" ( Terimakasih sayang!) Nirwana menyeringai dengan ekspresi menggemaskan. Jika saja tidak dalam situasi seperti ini sudah dipastikan Darren akan menghampiri dan melu-mat bibir seksi Nirwana.
"Sebaiknya kau belajar melawan sayang karena aku sangat sibuk!" Darren kembali menghunuskan pedang membabat habis semua lawan yang hendak menyentuh Nirwana.
Nirwana pun bersemangat, ia tak ingin kalah. Nirwana melawan beberapa vampir dan berhasil membunuh satu. Saat sibuk melayani seorang vampir muda, matanya menangkap Maxim yang berkelebat menuju lorong gelap disisi barat ruangan. Ia terlihat membawa relik kuno. Nirwana pun segera memburunya.
__ADS_1
Lorong gelap hanya diterangi beberapa obor. Nirwana terus berlari mengejar Maxim dengan menggunakan penglihatan tak biasanya, "Tunggu! Serahkan relik itu padaku Maxim!"
Sosok yang dimaksud tak menjawab ia semakin mempercepat langkah kakinya. Nirwana yang tak ingin kehilangan buruannya pun melompat dengan berpijak pada dinding dan melentingkan tubuhnya. Ia menghalangi Maxim dan berbalik kepadanya dengan pedang terhunus.
"Kembalikan benda itu padaku, Maxim!"
Sosok yang dikira Maxim itu tersenyum, lalu perlahan tertawa keras. Ia membuka tudung yang sedari tadi dikenakan. Nirwana terhenyak itu bukan Maxim, tapi seorang wanita.
"Akhirnya, kita bisa berdua disini. Nirwana Zehra kau harus mati!"
"Rachel,"
Mata Nirwana terbelalak, Rachel menyerangnya dengan cepat. Untungnya Nirwana bisa membaca gerakan Rachel. Vampir berambut merah itu terus menyerangnya dengan sabetan pedang panjang, tak memberi kesempatan sedikitpun bagi Nirwana untuk membalas.
Pedang mereka beradu, seringai bengis Rachel dengan sepasang taringnya mengintimidasi Nirwana.
"Benarkah lalu siapa yang pantas? Kau?!"
"Hanya Cezar yang pantas mendapatkan jabatan itu!" serunya lagi dengan mata semerah darah.
"Cezar, si tua itu seharusnya sudah pensiun. Waktunya memberikan pesangon kematian dan menggantinya dengan generasi Z!" ejek Nirwana memprovokasi Rachel.
Rachel menggeram kesal, ia mendorong Nirwana kasar lalu kembali menyerang membabi buta. Nirwana kewalahan hingga terpojok ke dinding.
"Dimana kekuatanmu Nirwana? Kau, penipu ulung yang sengaja disiapkan Darren untuk mengacaukan bangsa kami!"
__ADS_1
Nirwana tertantang untuk membuktikan kekuatannya. "Kau meremehkan ku Rachel!"
"Hasta lucis!"
Nirwana merapalkan mantra sihir yang terlintas begitu saja dibenaknya. Mata Rachel membulat sempurna, senyum mengejek di bibirnya memudar.
Cahaya terang menyilaukan keluar dari tangan Nirwana membuat Rachel terlempar dan membentur dinding, pedangnya terlepas. Wajahnya terbakar bara, dan perlahan terbakar bak kertas. Disela nafasnya yang tersengal, ia menatap Nirwana masih dengan senyum mengejek.
"Sial aku tak bisa melihat hal yang paling menarik," ia melirik ke satu sisi kiri menyeringai, "Nikmati kematianmu, brengsek!"
Tubuh Rachel pun terbakar menjadi abu dengan cepat, bersamaan dengan menghilangnya tubuh Rachel geraman kasar terdengar berjalan mendekati Nirwana.
"Strigoi," gumamnya lirih.
Strigoi itu melompat tinggi ke arah Nirwana, membuka mulutnya lebar dan sesaat kemudian dia sudah berada diatas tubuh Nirwana. Strigoi mengincar leher Nirwana, berusaha menggigit dan mencakar. Liurnya menetes dan melukai tubuh Nirwana. Liur Strigoi bak zat asam yang bersifat korosif, Nirwana meringis kesakitan.
BRUUGH!!
Tubuh menjijikan Strigoi tiba-tiba saja terlempar, sesuatu menghantamnya dengan keras. Sebuah pedang panjang menancap di dadanya. Darren muncul dan mendekati Strigoi yang menatapnya dengan sorot mata lemah.
"Kau makhluk paling menjijikkan dimuka bumi ini!" hanya sekali tebas, Strigoi itu mati.
"Kau baik-baik saja sayang? Harusnya kau tak mengejar Maxim, relik itu bisa kembali padamu dengan sendirinya. Kau hanya perlu memanggilnya saja." Darren mendekati istrinya dan memeluk Nirwana.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?"
__ADS_1
"Hhhm, aku kira kau tahu. Apa ada yang terluka?" Nirwana menggeleng, Darren pun mencium puncak kepalanya ia lega Nirwana bisa menjaga dirinya dengan baik. Mereka saling menatap penuh cinta.
"Wah, wah … romantis sekali! Aku turut berbahagia melihatnya!"