
"Kosong?!"
"Yup, kosong. Sepertinya informasi itu salah." sahut Darren menatap Nirwana.
"Tunggu, kau bilang apa tadi? Informasi? Kau tahu sesuatu tentang hal ini?" Nirwana bertanya menyelidik, ia berjalan memutari peti hendak menghampiri Darren.
Darren tak menjawab, dan hanya mengulas senyum tipis. "Aku hanya tahu, jika tak seorangpun bisa keluar dari sini kecuali yang terpilih."
"Yang terpilih bagaimana kita bisa memastikan siapa yang terpilih? Kau, aku, atau siapa? Tuan Darren sepertinya banyak pertanyaan yang harus kau jawab."
Darren menghindari Nirwana dengan ikut berjalan, keduanya bagaikan dua jarum jam yang berputar beriringan.
"Apa kau tahu apa yang tersimpan disini? Darimana dan siapa yang menyuruhmu datang kemari?" Nirwana mencecar Darren dengan pertanyaan, ia tak sabar menunggu jawaban dari lelaki berwajah pucat itu.
"Wow, pelan nona! Kita masih punya banyak waktu. Namaku Darren Constantin, aku kemari atas keinginanku sendiri dan bagaimana aku tahu tempat ini? Karena ini adalah wilayahku."
"Wilayah mu? Kau minta aku percaya tuan Darren, beri aku bukti jika kau adalah pemilik sah wilayah ini!" ejek Nirwana kesal.
Darren berhenti tepat di sisi lambang keluarganya, ia memberi kode pada Nirwana untuk mendekat dengan jarinya.
"Kemari dan lihat sendiri!"
Nirwana berdecak kesal, ia mendekati Darren dan ikut berjongkok.
"Lihat tanda ini, ini adalah lambang keluarga Constantin."
Nirwana menatap Darren sejenak sebelum ia melihat ukiran bintang bertumpuk yang masing-masing sudutnya memiliki simbol dari kelima klan vampir. Simbol unik yang menyerupai urutan bilangan dalam abjad Yunani.
Nirwana meraba lambang itu, ia masih tak percaya pada pengakuan Darren.
"Setiap orang bisa mengakuinya, termasuk kau tuan!" lagi-lagi Nirwana mengejek Darren membuat lelaki tampan berwajah pucat itu geram.
Sambil menatap Nirwana ia menggulung lengan kemeja nya hingga sebatas lengan. Sebuah tato persis dengan lambang pada peti terlihat jelas disana. Darren menjajarkan tato di lengannya dengan ukiran. Nirwana pun terperanjat.
"Jadi kau benar …,"
"Constantine ketujuh adalah kakek buyut ku." sambung Darren cepat. "Aku datang memastikan informasi itu, kalian mencari relik itu bukan? Aku harus memastikan sendiri jika kau tidak merusak benda milik kakek buyut ku."
Nirwana masih ragu dengan ucapan Darren. "Relik? Hhm, mungkin." Nirwana menghela nafas panjang, "Dengar Tuan Darren Constantin, lebih baik anda keluar dari sini. Kau lihat apa yang terjadi pada tim ku bukan? Biar aku yang menyelesaikan pencarian ini. Lagipula aku lebih nyaman bekerja sendirian."
__ADS_1
Darren tergelak, 'Gadis bodoh, relik itu milikku! Aku tak mungkin menyerahkannya padamu begitu saja!'
"Kenapa kau tertawa? Ini sangat berbahaya tuan?"
"Kau yakin bisa mengatasinya sendiri? Cara membaca tulisanmu saja salah, seandainya aku tidak ada disini nyawamu sudah hilang dari pertama kali menginjakkan kaki disini!"
"Kau meragukan kemampuanku tuan, itu sangat tidak sopan!"
"Benarkah? Baik kalo begitu, baca ini! Ceritakan padaku apa artinya?!"
Darren menarik tangan Nirwana, membawanya menuju dinding tempat peringatan itu dituliskan. Mata Nirwana terbelalak melihat barisan kalimat dalam bahasa yang belum pernah ia pelajari. Campuran Latin dan Slavia kuno. Nirwana tidak begitu memahami artinya. Ia berpikir keras untuk bisa membacanya, tapi sayangnya Nirwana tak juga memahaminya.
"Masih berapa lama lagi aku harus menunggu?" Darren melipat kedua tangan di depan dada menunggu reaksi Nirwana.
Sial, aku tak mengerti bahasa ini! Lelaki ini membuatku harus mengakui kepintarannya!
"Ehm, aku … baiklah, aku menyerah! Aku salah dan tidak mengerti setiap bahasa!" suara Nirwana terdengar frustasi.
Sial baginya karena kamera dan mikrofonnya rusak, Nirwana tidak bisa meminta bantuan Gery untuk membantu menerjemahkannya.
"Apa arti tulisan ini?" Nirwana menekan egonya dengan bertanya pada Darren, sayangnya Darren hanya tersenyum mengejek tanpa menjawab. Ia malah melangkah mendekati peti batu, tentu saja Nirwana dibuat kesal dengan tingkah pria pucat tapi tampan itu.
'Kurang ajar, dia mempermainkan aku! Untung dia pintar dan juga … tampan. Setidaknya mengurangi sikap menyebalkannya itu!'
Darren terdiam sejenak, "Tidak mungkin, aku sendiri yang memastikan jika makam ini tak pernah tersentuh selain oleh kau dan tim mu!"
Darren teringat sesuatu, darah Nirwana memicu terbukanya peti. Ia menarik tangan Nirwana dengan cepat membuat gadis itu terkejut. "Hei, apa yang kau lakukan!"
"Diamlah, darahmu memicu terbukanya peti. Bagaimana jika kita mencobanya sekali lagi dan lihat apa yang terjadi?"
"Kau gila, mana mungkin darahku pemicunya, bisa saja itu terbuka karena aku menyentuh patung goblin itu!" Nirwana kesal dan menarik kembali tangannya.
"Kau lupa tulisan di pintu makam? Setetes darah akan membangkitkan yang maha agung? Kita bisa mencobanya lagi!"
"Kenapa tidak kau saja yang meneteskan darahmu?!"
"Sayangnya, aku tidak bisa!" Darren menolak dengan tegas. "Berikan tanganmu! Apa kau mau kita berada disini sepanjang malam dan berdebat?"
Nirwana menghela nafas, ia kesal dengan tingkah Darren. Tapi ia juga setuju untuk tidak berlama lama di ruangan bawah tanah apalagi berdua bersama Darren.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju."
Nirwana mengulurkan tangannya, Darren tersenyum penuh kemenangan. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik pakaiannya. Melihat itu Nirwana disergap rasa takut.
"Tunggu dulu!" Ia menarik tangannya lagi.
"Apa lagi?!"
Nirwana memegang pergelangan tangan yang nyaris diiris Darren, jantungnya berdegup kencang, ia gugup.
"Apa tidak ada cara lain? Aku ngeri membayangkan pisau itu menembus kulitku."
Darren tergelak mendengarnya, "Bagaimana jika aku gigit saja, itu tidak akan menimbulkan sakit hanya sedikit gatal." Darren mengerlingkan matanya.
Menggigit? Sepertinya itu lebih baik daripada harus diiris dan juga lebih … romantis? Aah, tidak apa yang aku pikirkan?
Nirwana menimbang tawaran Darren, membayangkan tangannya digigit pria setampan itu membuat jiwa wanitanya meronta. Hatinya berdesir hanya dengan membayangkan bibir Darren menyentuh permukaan kulit tangannya.
Apa yang kau pikirkan hei otak mesum?! Nirwana mengumpat dalam hati karena tak mampu menahan gejolak hatinya. Tawaran Darren benar-benar menggiurkan, lebih tepatnya menyesatkan pikiran!
Darren berdehem keras membuyarkan lamunan Nirwana tentang gigitan romantis ala Darren. "Nona, aku menunggu jawabanmu. Mau aku gigit atau …,"
"Jangan mengambil kesempatan tuan Darren, lebih baik kau lukai tanganku saja." Nirwana kembali mengulurkan tangannya pada Darren.
"Padahal aku menawarkan sesuatu yang tidak menyakitkan, tapi kau memilih rasa sakit." Darren kembali tersenyum membuat Nirwana salah tingkah.
"Aku akan melakukannya dengan cepat, percayalah padaku."
Nirwana memejamkan mata saat Darren mengiris pergelangan tangannya. Darah segar mengalir dari tangan mulus Nirwana, menetes ke dalam peti. Darren tergoda untuk mencicipi aroma manis darah Nirwana. Ia menjilat darah yang menempel pada pisau kecil dan tetesan darah yang menempel di jemarinya, tentu saja semua dilakukan cepat tanpa sepengetahuan Nirwana.
"Aku rasa cukup nona, kita sebaiknya menjauh."
Darren mengambil kain dari saku celananya dan membalut luka Nirwana kencang. "Sakit?"
Pertanyaan Darren hanya dijawab dengan senyuman masam. Darren mengikat kencang luka Nirwana, hingga rasa nyeri tak begitu lagi dirasakan. Keduanya menunggu beberapa saat, tapi tak ada yang terjadi. Darren dan Nirwana saling memandang.
"Aku rasa, kau salah menerka tuan. Seharusnya aku tidak mengikuti saranmu!"
Darren memperhatikan sekeliling ruangan, ia yakin tidak salah menebak. Darah adalah pemicu terbukanya peti, dan seharusnya relik itu juga muncul saat darah Nirwana diteteskan.
__ADS_1
"Aku yakin dengan apa yang aku lakukan nona, sebaiknya kita menunggu sebentar lagi."
Menunggu? Berapa lama, berdua denganmu lebih lama sedikit saja bisa membuatku gila tuan Darren!