
Darren terkekeh geli, ia mendengar suara Nirwana yang mengumpat dan memanggil namanya. "Dia pasti sangat kesal padaku sekarang, maaf Nirwana tapi aku harus mengambilnya untuk kejayaan masa lalu klan vampir. Aku hanya meminjamnya sebentar untuk sebuah drama kecil."
"Kita pergi sekarang tuan?" tanya Abraham mengacaukan kesenangan Darren.
"Para tetua sudah berkumpul?"
"Ya tuan, mereka menunggu di aula utama bersama pemimpin klan yang lain."
Darren tersenyum licik, ia berdiri dari duduknya dan segera menuju aula utama. Dua pelayan setianya Abraham dan Lynch mengikutinya. Di dalam aula lima tetua vampir telah menunggunya. Empat pemimpin klan vampir mulai tak sabar dan gelisah, mereka ingin memastikan kabar jika Darren telah mendapatkan relik itu.
Mereka mulai berdebat tentang keaslian relik kuno dan siapa yang pantas memilikinya. Relik kuno adalah syarat kepemimpinan sah yang harus dimiliki calon pemimpin vampir. Ratusan tahun yang lalu relik itu disimpan dan dijaga oleh Constantine ketujuh yang memiliki darah asli sang Count, tapi relik itu hilang setelah Constantine dijatuhi hukuman mati oleh Cezar Ferdinand.
Dengung gumaman para pemimpin klan terdengar hingga keluar aula, Darren tersenyum sinis. "Ciiih, mereka bahkan tak sabar untuk merebutnya dariku! Dasar orang tua!"
Pintu aula terbuka lebar, semua mata memandang ke arah Darren, dan gumaman pun mereda. Yang terdengar hanya suara langkah kaki Darren dan para asisten setianya. Mereka menunggu.
Darren berdiri ditengah ruangan dan matanya menatap satu persatu para pemimpin klan yang usianya jauh diatas Darren.
"Maaf membuat kalian menunggu."
"Darren, apakah benar yang mereka katakan jika kau memiliki relik itu?" salah satu tetua bertanya pada Darren tanpa membuang waktu.
Darren tersenyum, ia memberikan kode pada Abraham untuk meletakkan peti kayu pada meja kecil di hadapan para tetua. Abraham meletakkannya perlahan dan membuka penutupnya.
Mata para tetua dan juga pemimpin klan terbelalak mereka kembali berbisik. Para tetua saling pandang tak percaya. Salah satu tetua yang berdiri di pojok kanan bertanya pada Darren.
"Darimana kau mendapatkannya? Setahuku benda ini menghilang bersama dengan kematian Constantine ketujuh."
Darren menyeringai, ia berjalan perlahan mengitari para pemimpin klan. "Tentu saja kakek buyutku yang memberikannya padaku."
Darren berhenti dan berkata lagi dengan lantang. "Aku Darren Constantin, keturunan Count Dracula keempat belas, putra dari Edward Constantin, cucu sah dari Constantine ketujuh mempersembahkan relik kuno ini pada kalian. Dengan relik ini aku menyatakan diriku sebagai pemimpin kalian!"
__ADS_1
Para perwakilan dan pemimpin klan bergumam tak setuju. Mereka menolak klaim Darren sebagai pemimpin klan vampir terbaru. Interupsi dan selaan terdengar riuh memenuhi ruangan. Mereka juga merasa berhak untuk memiliki relik itu dan menjadi pemimpin.
Darren terkekeh geli melihat tingkah para ketua klan. Ia berhasil menciptakan kekacauan, salah satu rencana yang ia susun agar mereka saling membunuh dan membenci satu sama lain. Hingga ia bisa dengan mudah menghancurkan klan vampir lainnya dan membuat keluarga Constantin kembali berjaya.
"Diam!" suara serak dan berat terdengar dari arah pintu.
Seorang lelaki memakai jubah hitam bersulam emas memasuki ruangan. Kepala plontos, mata dihiasi dengan eyeliner hitam, wajah pucat dan tanpa ekspresi memperlihatkan keangkuhan.
"Lama tidak bertemu Darren?"
Lelaki itu berdiri dihadapan Darren dengan angkuh, ia menatap tajam Darren sejenak lalu melirik ke arah relik.
"Ya, kau benar. Lama tidak bertemu tetua Cesar!"
Darren mengingat saat terakhir pertemuannya dengan Cesar Ferdinand, peristiwa tak menyenangkan yang membuat dirinya dan keluarga harus menyingkir dan menghilang. Kebencian yang membuncah pada Cesar Ferdinand membuatnya rela menunggu hingga ratusan tahun demi membalas dendam.
Penemuan relik kuno ini adalah bagian dari misi balas dendamnya pada Cesar.
"Bagaimana bisa benda itu ada padamu?"
"Takdir?" Cesar tertawa terbahak-bahak, yang lainnya terdiam. Tawa Cesar terdengar begitu menakutkan bagi mereka tapi, tidak bagi Darren.
"Menggelikan sekali? Takdir katamu? Jadi kau merasa ditakdirkan sebagai pemimpin hanya karena berhasil menemukan relik?"
"Tentu, katakan tetua Cesar yang agung dimana letak kesalahanku!" Darren menatap Cesar tajam, wajah mereka hanya berjarak sejengkal. Darren menantang Cesar.
Cesar terlihat kesal dengan sikap Darren yang sama sekali tak menghormatinya. Ia tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangan kepada pemimpin klan lain.
"Siapa pun yang bisa memegang dan mengambil relik ini maka dialah yang akan menjadi pemimpin baru!"
Darren menatap tak percaya ke arah Cesar, ia terkekeh geli. "Pak tua brengsek!"
__ADS_1
Cesar yang mendengar umpatan Darren menyeringai licik padanya, "Kau ingin jadi pemimpin rebut benda itu dari mereka!"
Titah Cesar membuat pemimpin klan berebut meraih relik, mereka saling serang dan bunuh tak peduli kawan dan lawan. Darren menyingkir dan kembali terkekeh geli melihat kekacauan yang terjadi.
"Bodoh! Kalian pikir bisa menyentuh benda itu? Kita lihat siapa yang tersisa."
Selain Darren tak ada yang mengetahui jika relik itu telah memilih pemilik nya yang baru. Relik kuno itu tidak akan pernah jatuh ke tangan para vampir. Ia akan kembali ke pemilik yang terpilih. Abraham menemukan catatan kuno yang ditulis Constantin.
Relik itu tidak akan pernah dimiliki oleh bangsa vampir lagi. Constantin dan beberapa tetua sebelumnya yang juga dihukum mati Cesar telah mengubah fungsinya dan hanya akan bisa disentuh oleh manusia pilihan yang bukan golongan vampir. Manusia unik yang telah dinantikan selama berabad abad tahun ditunggu.
Berkali kali para anggota klan yang berebut itu mendekat, berkali kali pula mereka dihempaskan kembali oleh kekuatan dahsyat relik kuno. Hingga di suatu titik, cahaya hijau kekuningan berpendar begitu terang dan menyilaukan mata. Semua menutup mata dan menjauh, dalam hitungan sepersekian detik cahaya itu pun menghilang dengan cepat.
"Apa itu?!" Cesar terperangah, ia perlahan mendekat diikuti para tetua lain.
Darren tersenyum sinis, Abraham mendekati dan berbisik. Darren pun mengangguk.
"Baiklah semuanya, aku harus pergi. Sayang sekali padahal tadi tontonan yang sangat menarik." Darren segera pergi meninggalkan aula utama.
"Darren Constantine! Berhenti, kau harus bertanggung jawab atas kekacauan ini!" Cesar murka, tapi Darren tak mengindahkannya ia terus berjalan tanpa menoleh.
"Abraham, kau yakin benda itu kembali ke tangan Nirwana." Ia bertanya setelah dirasa cukup aman.
"Ya tuan, saya pastikan benda itu kembali pada pemiliknya."
"Awasi pergerakan mereka, aku yakin Cesar akan segera menemukan dan mengetahui siapa Nirwana."
"Baik, tuan!"
Teriakan kesal Cesar kembali terdengar ke seluruh kastil tua itu, Darren menoleh dan tersenyum puas. Rencananya membuat kesal Cesar dan tetua lain berhasil, tapi masalah baru muncul. Keselamatan Nirwana terancam. Darren harus melindungi sang arkeolog dan juga relik kuno itu agar tidak jatuh ke tangan klan vampir lain.
Sementara itu di kamar hotel, Nirwana yang kesal karena presentasi nya berantakan dikejutkan dengan pendaran cahaya dari dalam kotak kayu. Ia yang hampir tertidur mendekati perlahan dan membukanya. Matanya membulat sempurna saat relik itu kembali utuh.
__ADS_1
"Aku pasti bermimpi!" Ia menyentuh benda antik itu dan memastikan jika semuanya benar. "Benda ini kembali!"
Nirwana meraih ponselnya, dan menghubungi Gery. "Gery, kita kembali ke Zurich!"