An Ancient Relique

An Ancient Relique
Cinta Bersemi?


__ADS_3

Nirwana dibuat takjub dengan keindahan relik dalam perisai energi kuning kehijauan itu. Mantra aneh kembali dibisikkan lewat udara yang semakin menekan paru-paru. Nirwana terhipnotis, manik matanya memantulkan keindahan relik serupa jam pasir yang dihiasi patung goblin di salah satu sisinya.


Tangan Nirwana hendak meraih relik itu tapi Darren menariknya cepat. "Hei, apa yang kau lakukan! Ini berbahaya!" 


Nirwana yang terhipnotis tak mengindahkan peringatan Darren, ia melakukannya lagi. 


"Nona! Kau bisa terkena racun vampir!" seru Darren lagi, tentu saja hal itu sekedar perkiraan Darren karena sejujurnya ia tak tahu apa yang akan terjadi jika Nirwana menyentuh relik.


Nirwana tak merespon, kedua mata coklatnya bersinar hijau kekuningan sama seperti perisai energi yang melindungi relik. Kedua tangan Nirwana menembus perisai dan meraih relik itu dengan mudah. Darren terperanjat melihatnya. Tak berapa lama kemudian Nirwana terkulai lemas.


"Gadis ini … aku sendiri yang memiliki kekuatan saja tak sanggup mendekat. Dia memang yang terpilih."


Nirwana masuk ke dalam dimensi ruang yang diciptakan relik kuno, mantra yang terus berbisik itu rupanya sengaja dibacakan untuk memindahkan kekuatan pemegang terdahulu ke tubuh Nirwana.


Setiap kejadian berputar cepat di sekeliling Nirwana. Gadis cantik itu bingung, ia kembali ke masa lalu jaman Victoria dimana para gadis masih memakai gaun-gaun besar dengan dada terikat korset bertali yang sangat ketat membuat bukit-bukit kembar mereka menonjol atau bahkan tumpah sebagian menyembul sempurna menghiasi dada.


Slide bergerak cepat, para gadis menikmati perjamuan dan berdansa dengan para lelaki dengan rambut pirang panjang nan tampan. Tapi setelahnya kengerian terjadi, mereka menjadi santapan malam para vampir. Tak ada yang bisa selamat, darah terhisap habis dan hanya menyisakan beberapa orang saja untuk dijadikan penerus klan.


Kejadian terus berulang hingga akhirnya para pemburu vampir datang dan mendesak mereka untuk bersembunyi di antara para manusia.


Slide kembali berpindah sepuluh orang tampak berdiri di tengah ruangan mengelilingi sesuatu. Satu persatu dari mereka mengarahkan tangan ke tengah secara bergantian. Dari kedua telapak tangan mereka muncul sinar tipis putih kebiruan yang terpusat pada sesuatu.


Slide kembali berpindah menampakkan relik itu dalam kondisi terbalik, semua bayangan yang ada di sekeliling Nirwana kembali tersedot masuk dalam relik hancur perlahan bak termakan rayap dan berubah menjadi debu.


"Nona, hei nona! Sadarlah!" Darren berusaha menyadarkan Nirwana.


Ruangan itu bergetar, bangunan akan runtuh seiring dengan mantra yang semakin keras terdengar. Darren khawatir dengan kondisi Nirwana.


"Gadis ini merepotkan saja! Cepatlah sadar bodoh!"


Atap ruang bawah tanah mulai runtuh, tak ada pilihan lain Darren menggendong tubuh Nirwana. Membawanya cepat keluar ruangan makam. Bukan perkara mudah karena beberapa kali ia nyaris terjatuh ke dalam rekahan tanah yang kembali muncul. 


"Nirwana, sadarlah nona!" serunya seraya terus bergerak.


Nirwana sama sekali tak merespon teriakan Darren, ia terjebak dalam dimensi ruang jam pasir. Mendapatkan kilas balik sejarah dan juga mantra penyihir waktu.


Darren terus berlari sambil menggendong Nirwana yang memegang erat relik itu di tangannya. Lantai kastil perlahan runtuh dan terus mengejar Darren. Untunglah dirinya mampu menembus waktu dan berlari dengan sangat cepat.


Dalam hitungan menit, kastil itu roboh dan hanya menyisakan debu yang berterbangan. Darren terengah-engah dan meletakkan tubuh Nirwana yang masih terjebak dalam dimensi lain. Ia membawa Nirwana cukup jauh dari kastil. 

__ADS_1


"Sial! Kau membuatku repot saja!"


Darren berteriak frustasi, ia juga mengumpat ketelitian kakek buyutnya membuat jebakan dan self destruction (penghancuran diri) saat relik diambil. "Aku tak habis pikir kenapa yang terpilih adalah manusia bukan klan vampir sendiri!"


Lelaki tampan berwajah pucat itu menghela nafas panjang mengatur emosinya. Ia lalu menatap Nirwana yang masih belum juga sadar. Amarahnya yang meletup mereda melihat wajah cantik Nirwana yang kini terlihat jelas saat berada diluar kastil. Ia mengusap lembut pipi wanita yang sempat terlibat ciuman liar dengannya.


"Cantik sekali, dia seperti putri tidur."


Bibir kemerahan Nirwana mengundang Darren untuk kembali mendaratkan kecupan ringan disana. "Manis,"


Sekali, dua kali, dan …,


"Kau mencuri ciuman lagi, tuan Darren?" suara serak dan parau Nirwana terdengar saat Darren akan mencium gadis itu lagi. Entah bagaimana tangan Nirwana sudah ada di leher Darren, menariknya kembali dalam ciuman yang dalam dan menuntut.


Darren tersenyum, "Selamat datang kembali putri tidur."


Nirwana membuka mata perlahan, menyudahi ciuman gilanya bersama lelaki tampan nan dingin itu. Bibir beku Darren bagai candu untuknya meski terasa sedikit aneh dengan aroma karat yang mengganggu.


"Terima kasih sudah membawaku keluar tuan darren." keduanya saling menatap. Mata indah Nirwana membuat Darren jatuh hati.


Mungkin ini yang disebut cinta kilat, cinta karena ciuman atau efek ciuman dalam gelap? Entahlah, yang jelas Darren dan Nirwana kini terikat sesuatu tanpa mereka sadari. Takdir menyatukan mereka, dan benang merah itu mulai terjalin.


"Selamat nona, kau menemukan relik milik keluargaku." Darren berkata tanpa menjauhkan wajahnya dari Nirwana, tangannya pun masih enggan pergi dari pinggang sang arkeolog.


Darren melepaskan pelukannya, ia memperhatikan relik dan Nirwana bergantian. "Apa?"


"Entahlah, bayangan masa lalu, kaum vampir, orang-orang berjubah hitam dan pucat, lalu relik ini dan …,"


"Dan apa?"


"Mantra! Aku melihat penyihir dengan wajah pucat sepertimu, sangat cantik dengan rambut merahnya. Ia mengajarkan sesuatu padaku."


Darren mengernyit, "Louise? Apa namanya Louise?"


"Entahlah, aku tak tahu. Aku juga bingung dengan bahasanya. Mungkin itu hanya sebuah ilusi?"


Darren kembali mengerutkan dahinya, ia menatap relik yang ada ditangan Nirwana. "Boleh aku memegangnya? Hanya memastikan keaslian benda ini."


Tanpa menaruh curiga Nirwana memberikannya pada Darren. Tapi baru saja jari Darren menyentuh ujung relik, ia terlempar jauh ke belakang. Relik itu menolak Darren.

__ADS_1


"Darren!" Nirwana berteriak, ia bingung dengan apa yang terjadi.


"Ugh, sial! Apa itu tadi?" Darren mencoba berdiri, dadanya nyeri dan bokongnya pun sakit karena mendarat keras di tanah. Ia kembali mendekati Nirwana.


"Kau baik-baik saja?" Nirwana dibuat khawatir dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ya, aku baik." Darren kembali menyentuh relik, benturan energi kembali terjadi. Pemimpin klan vampir terbesar kedua itu terhempas keras menghantam pohon.


"Darren!" kali ini Nirwana segera menghampiri Darren tapi sebelum mendekat Darren berteriak, "Stop Nirwana, buang relik itu! Jika tidak aku mungkin bisa terbang ke atas pohon!"


Nirwana menghentikan langkahnya, ia meletakkan benda itu di tanah dan bergegas mendekati Darren. "Kau terluka?"


Nirwana memeriksa tubuh Darren, ia tampak sangat khawatir. "Syukurlah tidak ada yang terluka parah, mungkin ini akan sedikit memar nantinya." 


Nirwana menyentuh tangan Darren, ia juga memeriksa punggung dan perutnya dengan sedikit memberikan tekanan. Darren mengaduh membuat Nirwana semakin panik.


"Ayo aku bantu berdiri, mungkin Gery bisa membantu disana."


Darren sebenarnya tidak terlalu merasakan sakit, dia makhluk yang tak bisa mati hanya dengan masalah sepele begitu. Tapi demi mendapatkan perhatian Nirwana, Darren rela berpura-pura kesakitan. Tinggi Darren 185 centimeter sedikit menyulitkan Nirwana yang berpostur Asia pada umumnya.


Darren mengulas senyum tipis saat Nirwana mengalungkan tangannya ke bahu gadis itu. Aroma vanilla tercium dari tubuh Nirwana.


"Aku suka baumu, manis seperti bibirmu."


"Darren!" Nirwana memprotesnya, wajahnya merona seketika.


"Jangan menggodaku Nirwana, aku bisa menggigit mu lagi disini." bisiknya ditelinga Nirwana.


"Ugh, kau menakutkan sekali!" ejeknya dengan wajah menggemaskan.


Keduanya saling menatap, bunga cinta sepertinya mulai menunjukkan kuncup nya dengan malu-malu. 


"Profesor Nirwana! Ya Tuhan, syukurlah kau selamat!" suara Gery terdengar dari kejauhan, ia berlari mendekati Nirwana diikuti beberapa kru. 


Nirwana tak merespon, ia masih menatap Darren. Nirwana tak peduli dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan Gery padanya. Saat ini dimata Nirwana, hanya ada Darren yang tampan mempesona, Darren sang malaikat penolong dan juga Darren si pencium handal dengan bibir kemerahan yang seksi ups …,


"Gery, bawa relik itu! Jaga benda itu dengan nyawamu!" 


"Eehm, aku? Baiklah." Gery membungkus relik dengan hati-hati menggunakan kain halus, setelah itu ia kembali memperhatikan sepasang makhluk yang berjalan didepannya.

__ADS_1


"Aku tidak salah lihat kan? Profesor Nirwana menatap pria itu dengan penuh cinta! Waaah, berita besar!" Ia melonjak gembira, Nirwana yang terkenal tegas dan serius akhirnya menemukan cinta.


Cinta? Ehm, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas Darren dan Nirwana akan menghadapi takdir terbesar dalam hidup mereka. Ini baru permulaan saja.


__ADS_2