An Ancient Relique

An Ancient Relique
Kematian yang Sia-sia


__ADS_3

Sebagai makhluk dengan kemampuan diatas rata-rata, Darren merasakan bahaya yang sedang mengintai. Ia sangat memahami jika makam kuno bangsa vampir selalu istimewa dan tidak mudah ditembus. 


Terbukanya peti mati disambut gembira Nirwana dan timnya. Mereka tidak tahu jika hawa kematian menguar bersamaan dengan terbukanya peti batu. Suara batu yang terus bergerak membuat Darren curiga, belum lagi peringatan yang jelas terpahat di dinding.


Cahaya kuning kehijauan yang muncul saat peti terbuka terasa menyakiti tubuh Nirwana. Senyum yang tadinya mengembang menghiasi bibir berubah menjadi kengerian yang terjadi dalam hitungan detik. Nirwana menyadari bahaya mengancam timnya, tapi belum sempat ia berteriak untuk memperingatkan anggotanya, energi besar menghempas tubuhnya hingga jatuh terjerembab menghantam dinding ruangan.


Tubuh Nirwana seperti dirajam ribuan jarum, rasa nyeri di seluruh tubuhnya membuat Nirwana memejamkan mata. Ia bagai tenggelam dalam lautan samudera dengan tekanan udara tinggi yang siap melu-mat tubuhnya menjadi serpihan kecil.


'Kali ini aku pasti mati! Sakit sekali! Ibu, ayah, tolong aku!' 


Nirwana menjerit dalam hati, matanya terpejam dan tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Liontinnya bercahaya, energi tipis kehijauan itu bak perisai yang melindungi Nirwana. Rasa hangat dan nyaman perlahan menjalar dalam tubuh Nirwana mengobati rasa sakit pada tubuhnya sedikit demi sedikit.


Darren terkejut dengan besarnya energi yang melindungi Nirwana. Energinya bahkan setara dengan milik para tetua vampir.


 "Gadis ini!" matanya terbelalak, "Apakah dia yang terpilih?"


Diluar perisai pelindung, anggota tim Nirwana yang tak sempat menyelamatkan diri harus tewas dengan cara mengenaskan. Tubuh mereka melepuh, cairan merah kental mengalir dari hidung dan mulut, hampir seluruh pembuluh darah di tubuh mereka pecah. 


Energi aneh itu memenuhi ruangan makam kuno dalam hitungan detik dan menghilang setelah darah membanjir di lantai. Perisai energi yang terbentuk dari energi Darren dan Nirwana perlahan menghilang seiring meredanya ancaman kematian.


Nirwana membuka mata perlahan, keringat membanjiri tubuhnya, dan rasa sakit tidak lagi ia rasakan. Saat ia membuka mata, wajah Darren tepat berada di depannya. 


"Tuan Darren? Apa yang terjadi?" Nirwana menatap mata Darren yang berubah merah.


"Kau?" Nirwana tak sempat melanjutkan perkataannya karena Darren memotongnya cepat.


"Maaf, aku tak bisa melindungi semua."


Nirwana menyadari sesuatu, "Tim ku!"


Ia mendorong tubuh Darren kasar, lalu segera berdiri. Betapa terkejutnya Nirwana saat melihat mayat timnya tergeletak mengenaskan di depan mata.


"Oh tidak, apa yang terjadi!" ia berteriak histeris, matanya menyapu ruangan menatap nanar tubuh-tubuh tak bernyawa yang bermandikan darah.

__ADS_1


Bau darah yang menggenangi lantai membuat Darren tersiksa. Ingin rasanya ia meminum semuanya sampai habis tapi ia harus menahan diri. Karena darah itu adalah darah terkutuk yang harus dipersembahkan untuk leluhurnya. 


"Tak ada yang bisa lolos selain yang terpilih." Darren menatap Nirwana yang masih meratapi kematian timnya. "Mungkinkah gadis ini yang terpilih?"


"Nicole, Nicole?" Nirwana mencari sosok Nicole, asistennya.


"Asisten mu disini, aku rasa dia selamat dan hanya pingsan." ujar Darren menunjukkan posisi Nicole tak jauh dari dirinya berdiri.


Nirwana segera menghampiri dan mengecek tanda kehidupan Nicole, "Ya Tuhan syukurlah! Nicole, bangun … Nicole!"


Nirwana dengan panik segera menghubungi Gery yang rupanya bertindak cepat dan kini telah tiba di ruang bawah tanah.


"Profesor Nirwana!" Gery berteriak memanggil namanya, ia menuruni anak tangga dengan tergesa. "Ya Tuhan apa yang terjadi?!" matanya menatap kengerian yang terjadi di depan mata.


"Disini Gery, cepatlah!" teriak Nirwana cemas, ia terus mencoba menyadarkan Nicole yang masih belum juga merespon dirinya.


"Hati-hati jangan melompati mayat mereka!" teriak Darren pada Gery dan anggota lainnya.


"Kenapa? Apa salahnya melompat?" sanggah Gery bingung.


Gery mengulas senyum masam, ia menatap heran pada Darren dan berusaha mengingat apakah Darren bagian dari tim atau bukan.


"Gery cepatlah!" Nirwana dengan kesal kembali berteriak.


Gery dan yang lainnya mengikuti saran Darren dengan tidak melompati para mayat. Wajah kesakitan tercetak jelas membeku dari mayat yang tergeletak sebagai ekspresi betapa mengerikannya kematian delapan orang anggota tim.


Bisikan itu kembali muncul, mantra kuno dalam bahasa latin menggema lirih memenuhi ruangan. Gery dan Nirwana saling memandang. "Kau dengar suara itu?" tanya Nirwana pada Gery diikuti anggukan asisten setianya.


"Dengar, kita harus keluar dari tempat ini secepatnya. Kau dan yang lainnya, bawa keluar mayat-mayat ini. Mereka harus dimakamkan secara layak." Nirwana memberi perintah pada Gery.


"Aku rasa juga begitu. Terlalu berbahaya jika kita berada disini. Tapi bagaimana denganmu?"


"Aku? Misi ini harus diselesaikan Gery, dan ini tanggung jawabku." sahut Nirwana tegas.

__ADS_1


Ia menoleh ke arah peti batu yang sudah terbuka. Entah mengapa dirinya sama sekali tidak takut, justru keinginan untuk mengungkap misteri relik kuno itu semakin besar. Ia juga menatap Darren yang kini sedang menatap peti batu dari jarak dekat.


"Siapa sebenarnya dia, aku merasakan energinya sangat kuat. Dia bukan orang biasa, dia melindungi ku dari hantaman energi aneh tadi. Siapa pun dirimu aku berterimakasih karena sudah menyelamatkanku berkali kali." kata Nirwana dalam hati.


Darren adalah pria misterius yang datang bak dewa pelindung untuknya. Meski begitu sikap heroik Darren tidak menyurutkan kecurigaan Nirwana padanya. Darren mendengar perkataan Nirwana, ia menoleh ke arah wanita yang memang sudah mencuri perhatiannya dan mengulas senyum.


"Dia tersenyum padaku? Jangan-jangan dia tahu apa yang aku pikirkan!" Nirwana salah tingkah dibuatnya.


Gery dan anggota tim yang tersisa segera bergerak membereskan kekacauan di ruang bawah tanah. Dengan peralatan seadanya mereka membawa mayat-mayat itu keluar kastil. Begitu juga Nicole. 


"Hubungi pihak terkait untuk membantu kita dan pastikan semua selesai sebelum aku keluar dari sini."


"Tunggu kau tidak ikut bersama kami? Kita bisa kembali besok pagi?" Gery memastikan keputusan Nirwana.


Nirwana menggelengkan kepala, "Tidak, firasatku mengatakan ini harus diselesaikan hari ini juga."


Gery menaikkan kedua bahunya lalu kembali bertanya, "Baiklah, kau bosnya disini. Hmm, boleh aku bertanya sesuatu? Siapa laki-laki itu dan kenapa dia mengingatkan kami tentang strigoi? Apa kau percaya padanya?"


Nirwana menghela nafas panjang, ia menatap Darren dari kejauhan. "Strigoi, urban legend yang dipercaya bangsa Rumania. Legenda mayat hidup dengan dua jantung yang bisa menghisap darahmu habis. Konon jika ada mayat yang dilangkahi oleh manusia atau kucing maka mayat itu dipercaya berubah menjadi Strigoi."


"Apa, jadi itu benar? Wah aku kira hanya lelucon. Lelaki itu sepertinya mengetahui sesuatu." Gery ikut menatap Darren yang masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Pergilah, dan tunggu aku di luar!" perintah Nirwana dan Gery pun segera berlalu.


"Keluarlah dengan selamat prof, dan satu lagi kamera dan mikrofon mu mati jadi berhati hatilah karena aku tidak bisa mendengar ataupun melihatmu!" teriak Gery sembari berjalan.


Nirwana lega dan juga khawatir, misi kali ini sedikit lebih rumit jika dibandingkan saat penelitian mereka di kawasan peradaban Babilonia tapi ini bukan hal yang bisa menyurutkan niatnya.


"Baiklah waktunya untuk tahu apa isi peti itu."


Nirwana mendekati Darren yang termangu di sisi kanan peti. "Sesuatu yang menarik?" 


"Lihatlah sendiri," Darren masih tak bergeming ia menatap ke dalam peti.

__ADS_1


Nirwana melongok ke dalam peti, matanya terbelalak tak percaya. "Kosong?!"


Ya Tuhan apa ini lelucon? Jika memang benar ini lelucon siapapun yang mengatur ini sangat tidak memiliki sense of humor tinggi!


__ADS_2